Dua garis pada alat uji kehamilan, t= entunya membuat pasangan yang sudah menanti-nantikan hadirnya sang buah = cinta kontan melonjak gembira. Sebuah metoda tes = kehamilan yang mudah, murah dan praktis. Test pack yang bisa dibeli di hampir setiap apotek ini di= dalamnya memiliki zat yang bereaksi dengan hormon kehamilan, human Chorionic Gonadotropin (hCG), dan berubah warna jika hCG ini terdeteksi dalam air seni.
Hormon Kehamilan
Kira-kira sepuluh hari setelah sel telur dibuahi sel sperma di salura= n Tuba fallopii, telur yang telah dibuahi itu bergerak menuju r= ahim dan melekat pada dindingnya. Sejak saat itulah plasenta mulai berke= mbang dan memproduksi hCG yang dapat ditemukan dalam darah serta air sen= i. Keberadaan hormon protein ini sudah dapat dideteksi dalam darah sejak= hari pertama keterlambatan haid, yang kira-kira merupakah hari keenam s= ejak pelekatan janin pada dinding rahim. Kadar hormon ini terus bertamba= h hingga minggu ke 14-16 kehamilan, terhit= ung sejak hari terakhir menstruasi. Sebagian besar ibu hamil mengalami p= enambahan kadar hormon hCG sebanyak dua kali lipat setiap 3 hari. Pening= katan kadar hormon ini biasanya ditandai dengan mual dan pusing yang ser= ing dirasakan para ibu hamil. Setelah itu kadarnya menurun terus secara = perlahan, dan hampir mencapai kadar normal beberapa saat setelah persali= nan. Tetapi adakalanya kadar hormon ini masih di atas normal sampai 4 mi= nggu setelah persalinan atau keguguran.
Perkiraan Kadar hCG dalam Darahkehamilan trimester kedua
Perempuan yang tidak hamil dan laki-laki
Kurang dari 5 IU/l (international units per liter)
Ibu hamil:
24-28 hari setelah haid terakhir
5=E2=80=93100 IU/L
4-5 minggu (1 bulan) setelah haid terakhir
50=E2=80=93500 IU/L
5-6 minggu setelah haid terakhir
100=E2=80=9310.000 IU/L
14-16 minggu (4 bulan) setelah haid terakhir
12.000=E2=80=93270.000 IU/L
3.000-50.000 IU/L
kehamilan trimester ketiga
1.000-50.000 IU/L
Perempuan pasca menopause
Kurang dari 10 IU/l
Kadar hCG yang lebih tinggi pada ibu hamil biasa ditemui pada kehamilan kembar dan kasus hamil anggur (mola= ). Sementara pada perempuan yang tidak hamil dan juga laki-laki, ka= dar hCG di atas normal bisa mengindikasikan adanya tumor pada alat repro= duksi. Tak hanya itu, kadar hCG yang terlalu rendah pada ibu hamil pun p= atut diwaspadai, karena dapat berarti kehamilan terjadi di luar rahim (ektopik) atau kematian janin yang = biasa disebut aborsi spontan.
Uji Kehamilan
Alat uji kehamilan untuk dipakai di rum= ah (home pregnancy test, HPT) yan= g biasa dikenal dengan test pack = merupakan alat praktis yang cukup akurat untuk mendeteksi kehamilan pada tahap awal. Cara penggunaannya relatif mu= dah, yaitu mencelupkan ujung alat ke dalam air seni yang ditampung atau = menyentuhkan pada aliran air seni ketika buang air kecil. Biasanya dianj= urkan penggunaan air seni pertama setelah bangun pagi, karena konsentras= i hormon hCG yang tinggi pada saat itu.
Alat uji kehamilan semacam ini biasanya= memiliki dua buah =E2=80=9Cjendela=E2=80=9D atau garis. Garis yang pert= ama mengisyaratkan bahwa tes dilakukan dengan benar, yang biasa disebut = dengan garis kontrol. Garis kontrol akan tampak bila test packmendapatkan cukup air seni untuk diuji. Sem= entara garis kedua menunjukkan hasil tes, yang merupakan bagian alat yan= g memiliki =E2=80=9Cantibodi=E2=80=9D yang bereaksi dengan hCG dan dapat= berubah warna bila hormon ini terdeteksi. Setipis apapun garis ini, kem= unculannya tetap menunjukkan adanya kehamilan.
Sebagian besar merk test pack = yang beredar di pasaran sudah dapat mendeteksi hCG dengan kadar 25 IU/L-= 50 IU/L, sehingga cukup akurat untuk menentukan ada atau tidaknya kehamilan pada hari pertama keterlambatan menstr= uasi (sekitar 28 hari setelah menstruasi terakhir).
Uji kehamilan yang lebih akurat tentuny= a adalah tes kuantitatif hormon hCG dalam darah. Biasanya yang diukur ad= alah jumlah subunit beta hormon hCG (=C3=9F-hCG).
Apakah yang dimaksud Ibu hamil dengan risiko tinggi ?
Yaitu Ibu Hamil yang mengalami risiko atau bahaya yang lebih besar pada waktu kehamilan maupun persalinan, bila dibandingkan dengan Ibu Hamil yang normal.
Siapakah yang termasuk Ibu Hamil dengan Risiko Tinggi ?
- Ibu dengan tinggi badan kurang dari 145 cm.
- Bentuk panggul ibu yang tidak normal.
- Badan Ibu kurus pucat.
- Umur Ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
- Jumlah anak lebih dari 4 orang.
- Jarak kelahiran anak kurang dari 2 tahun.
- Adanya kesulitan pada kehamilan atau persalinan yang lalu.
- Sering terjadi keguguran sebelumnya.
- Kepala pusing hebat.
- Kaki bengkak.
- Perdarahan pada waktu hamil.
- Keluar air ketuban pada waktu hamil.
- Batuk-batuk lama.
Bahaya apa saja yang dapat ditimbulkan akibat Ibu hamil dengan risiko tinggi ?
- Bayi lahir belum cukup bulan.
- Bayi lahir dengan berat kahir rendah (BBLR).
- Keguguran (abortus).
- Persalinan tidak lancar / macet.
- Perdarahan sebelum dan sesudah persalinan.
- Janin mati dalam kandungan.
- Ibu hamil / bersalin meninggal dunia.
- Keracunan kehamilan/kejang-kejang.
Apakah kehamilan risiko tinggi dapat dicegah ?
Kehamilan risiko tinggi dapat dicegah bila gejalanya ditemukan sedini mungkin sehingga dapat dilakukan tindakan perbaikinya.
Bagaimana pencegahan kehamilan risiko tinggi dapat dilakukan ?
- Dengan memeriksakan kehamilan sedini mungkin dan teratur ke Posyandu, Puskesmas, Rumah Sakit, paling sedikit 4 kali selama masa kehamilan.
- Dengan mendapatkan imunisasi TT 2X.
- Bila ditemukan kelainan risiko tinggi pemeriksaan harus lebih sering dan lebih intensif.
- Makan makanan yang bergizi yaitu memenuhi 4 sehat 5 sempurna.
Apa yang dapat dilakukan seorang Ibu untuk menghindari bahaya kehamilan risiko tinggi ?
- Dengan mengenal tanda-tanda kehamilan risiko tinggi.
- Segera ke Posyandu, Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat bila ditemukan tanda-tanda kehamilan risiko tinggi.
Ada teori yang menghitung berapa jam sebelum in partu, misalnya 2 atau 4 atau 6 jam sebelum in partu. Ada juga yang menyatakan dalam ukuran pembukaan serviks pada kala I, misalnya ketuban yang pecah sebelum pembukaan serviks 3 cm atau 5 cm, dan sebagainya.
Prinsipnya adalah ketuban yang pecah “sebelum waktunya”.
Masalahnya : Kapan selaput ketuban pecah (spontan) pada persalinan normal ?
Normal selaput ketuban pecah pada akhir kala I atau awal kala II persalinan. Bisa juga belum pecah sampai saat mengedan, sehingga kadang perlu dipecahkan (amniotomi).
KETUBAN PECAH DINI BERHUBUNGAN ERAT DENGAN PERSALINAN PRETERM DAN INFEKSI INTRAPARTUM
Patofisiologi
Banyak teori, mulai dari defek kromosom, kelainan kolagen, sampai infeksi. Pada sebagian besar kasus ternyata berhubungan dengan infeksi (sampai 65%). High virulence : bacteroides. Low virulence : lactobacillus.
Kolagen terdapat pada lapisan kompakta amnion, fibroblas, jaringan retikuler korion dan trofoblas. Sintesis maupun degradasi jaringan kolagen dikontrol oleh sistem aktifitas dan inhibisi interleukin-1 (IL-1) dan prostaglandin. Jika ada infeksi dan inflamasi, terjadi peningkatan aktifitas IL-1 dan prostaglandin, menghasilkan kolagenase jaringan, sehingga terjadi depolimerisasi kolagen pada selaput korion / amnion, menyebabkan selaput ketuban tipis, lemah dan mudah pecah spontan.
Faktor risiko / predisposisi ketuban pecah dini / persalinan preterm
1. kehamilan multipel : kembar dua (50%), kembar tiga (90%) 2. riwayat persalinan preterm sebelumnya : risiko 2 – 4x 3. tindakan sanggama : TIDAK berpengaruh kepada risiko, KECUALI jika higiene buruk, predisposisi terhadap infeksi 4. perdarahan pervaginam : trimester pertama (risiko 2x), trimester kedua/ketiga (20x) 5. bakteriuria : risiko 2x (prevalensi 7%) 6. pH vagina di atas 4.5 : risiko 32% (vs. 16%) 7. servix tipis / kurang dari 39 mm : risiko 25% (vs. 7%) 8. flora vagina abnormal : risiko 2-3x 9. fibronectin > 50 ng/ml : risiko 83% (vs. 19%) 10. kadar CRH (corticotropin releasing hormone) maternal tinggi misalnya pada stress psikologis, dsb, dapat menjadi stimulasi persalinan preterm
Strategi pada perawatan antenatal
- deteksi faktor risiko - deteksi infeksi secara dini - USG : biometri dan funelisasi Trimester pertama : deteksi faktor risiko, aktifitas seksual, pH vagina, USG, pemeriksaan Gram, darah rutin, urine. Trimester kedua dan ketiga : hati-hati bila ada keluhan nyeri abdomen, punggung, kram di daerah pelvis seperti sedang haid, perdarahan per vaginam, lendir merah muda, discharge vagina, poliuria, diare, rasa menekan di pelvis.
Jika ketuban pecah : jangan sering periksa dalam !! Awasi tanda-tanda komplikasi.
Komplikasi ketuban pecah dini
1. infeksi intra partum (korioamnionitis) ascendens dari vagina ke intrauterin. 2. persalinan preterm, jika terjadi pada usia kehamilan preterm. 3. prolaps tali pusat, bisa sampai gawat janin dan kematian janin akibat hipoksia (sering terjadi pada presentasi bokong atau letak lintang). 4. oligohidramnion, bahkan sering partus kering (dry labor) karena air ketuban habis.
Keadaan / faktor-faktor yang dihubungkan dengan partus preterm
1. iatrogenik : hygiene kurang (terutama), tindakan traumatik 2. maternal : penyakit sistemik, patologi organ reproduksi atau pelvis, pre-eklampsia, trauma, konsumsi alkohol atau obat2 terlarang, infeksi intraamnion subklinik, korioamnionitis klinik, inkompetensia serviks, servisitis/vaginitis akut, KETUBAN PECAH pada usia kehamilan preterm. 3. fetal : malformasi janin, kehamilan multipel, hidrops fetalis, pertumbuhan janin terhambat, gawat janin, kematian janin. 4. cairan amnion : oligohidramnion dengan selaput ketuban utuh, ketuban pecah pada preterm, infeksi intraamnion, korioamnionitis klinik. 5. placenta : solutio placenta, placenta praevia (kehamilan 35 minggu atau lebih), sinus maginalis, chorioangioma, vasa praevia. 6. uterus : malformasi uterus, overdistensi akut, mioma besar, desiduositis, aktifitas uterus idiopatik.
Persalinan preterm (partus prematurus) : persalinan yang terjadi pada usia kehamilan antara 20-37 minggu. Tanda : kontraksi dengan interval kurang dari 5-8’, disertai dengan perubahan serviks progresif, dilatasi serviks nyata 2 cm atau lebih, serta penipisan serviks berlanjut sampai lebih dari 80%. Insidens rata-rata di rumahsakit2 besar di Indonesia : 13.3% (10-15%)
(persalinan preterm – ada kuliahnya sendiri)
INFEKSI INTRAPARTUM
Infeksi intrapartum adalah infeksi yang terjadi dalam masa persalinan / in partu.
Disebut juga korioamnionitis, karena infeksi ini melibatkan selaput janin.
Pada ketuban pecah 6 jam, risiko infeksi meningkat 1 kali. Ketuban pecah 24 jam, risiko infeksi meningkat sampai 2 kali lipat.
Protokol : paling lama 2 x 24 jam setelah ketuban pecah, harus sudah partus.
Patofisiologi
1. ascending infection, pecahnya ketuban menyebabkan ada hubungan langsung antara ruang intraamnion dengan dunia luar. 2. infeksi intraamnion bisa terjadi langsung pada ruang amnion, atau dengan penjalaran infeksi melalui dinding uterus, selaput janin, kemudian ke ruang intraamnion. 3. mungkin juga jika ibu mengalami infeksi sistemik, infeksi intrauterin menjalar melalui plasenta (sirkulasi fetomaternal). 4. tindakan iatrogenik traumatik atau higiene buruk, misalnya pemeriksaan dalam yang terlalu sering, dan sebagainya, predisposisi infeksi.
Kuman yang sering ditemukan : Streptococcus, Staphylococcus (gram positif), E.coli (gram negatif), Bacteroides, Peptococcus (anaerob).
Diagnosis infeksi intrapartum
1. febris di atas 38oC (kepustakaan lain 37.8oC) 2. ibu takikardia (>100 denyut per menit) 3. fetal takikardia (>160 denyut per menit) 4. nyeri abdomen, nyeri tekan uterus 5. cairan amnion berwarna keruh atau hijau dan berbau 6. leukositosis pada pemeriksaan darah tepi (>15000-20000/mm3) 7. pemeriksaan penunjang lain : leukosit esterase (+) (hasil degradasi leukosit, normal negatif), pemeriksaan Gram, kultur darah.
Komplikasi infeksi intrapartum
1. komplikasi ibu : endometritis, penurunan aktifitas miometrium (distonia, atonia), sepsis CEPAT (karena daerah uterus dan intramnion memiliki vaskularisasi sangat banyak), dapat terjadi syok septik sampai kematian ibu. 2. komplikasi janin : asfiksia janin, sepsis perinatal sampai kematian janin.
Prinsip penatalaksanaan
1. pada ketuban pecah, terminasi kehamilan, batas waktu 2 x 24 jam 2. jika ada tanda infeksi intrapartum, terminasi kehamilan / persalinan batas waktu 2 jam. 3. JANGAN TERLALU SERING PERIKSA DALAM 4. bila perlu, induksi persalinan 5. observasi dan optimalisasi keadaan ibu : oksigen !! 6. antibiotika spektrum luas : gentamicin iv 2 x 80 mg, ampicillin iv 4 x 1 mg, amoxicillin iv 3 x 1 mg, penicillin iv 3 x 1.2 juta IU, metronidazol drip. 7. uterotonika : methergin 3 x 1 ampul drip 8. pemberian kortikosteroid : kontroversi. Di satu pihak dapat memperburuk keadaan ibu karena menurunkan imunitas, di lain pihak dapat menstimulasi pematangan paru janin (surfaktan). Di RSCM diberikan, bersama dengan antibiotika spektrum luas. Hasil cukup baik.
Saat hamil, Anda harus memenuhi kebutuhan nutrisi untuk dua orang. Jadi ini bukan saat yang tepat untuk menghindari kalori karena ketakutan Anda untuk menjadi gemuk.
Ibu hamil membutuhkan sekitar 300 kalori ekstra per hari, khususnya di bulan-bulan terakhir kehamilan saat janin bertumbuhan dengan cepat. Jika anda sangat kurus atau malah hamil kembar, Anda membutuhkan kalori lebih banyak lagi. Namun jika Anda kelebihan berat badan, dokter mungkin akan membatasi jumlah makanan yang Anda konsumsi.
Makan sehat selalu penting, khususnya saat Anda hamil. Karena makanan sehat yang Anda konsumsi penting artinya untuk pertumbuhan bayi dan perkembangannya. Nutrisi yang dibutuhkan untuk menjaga pola makan seimbang melibatkan menu ‘empat sehat lima sempurna’ yang legendaris itu.
Nah apakah dengan makan sehat saja sudah cukup? Ternyata tidak demikian. Anda membutuhkan lebih banyak nutrisi esensial (khususnya kalsium, besi dan asam folat) saat hamil dibandingkan saat tidak hamil. Dokter biasanya akan memberikan vitamin untuk menjaga kesehatan ibu dan bayi, yang tidak didapat atau jumlahnya kurang dari makanan yang Anda makan sehari-hari.
Suplemen apa yang biasanya diberikan dokter untuk ibu hamil?
1. Kalsium
Sebagian besar wanita di atas usia 19 tahun atau lebih, termasuk yang hamil, seringkali tak cukup mendapat 1.000 mg kalsium per hari seperti yang drekomendasikan. Karena saat bertumbuh di perut janin membutuhkan kalsium yang tinggi, maka konsumsi kalsium perlu ditingkatkan untuk mencegah kehilangan kalsium dari tulang. Jadi saat hamil penting untuk mengonsumsi ekstra kalsium agar tulang tetap kuat. Jika bayi kekurangan kalsium, dia akan menyerap dari kalsium ibu. Akibatnya Anda akan mudah mengalami keropos tulang atau gigi rapuh jika hamil namun kekurangan kalsium. Sumber makanan yang kaya kalsium antara lain susu, keju dan yogurt, produk yang diperkaya kalsium seperti jus jeruk, susu kedelai dan sereal, sayuran hijau seperti bayam, kale dan brokoli, tofu, kacang yang dikeringkan dan almond.
2. Besi
Ibu hamil membutuhkan 27 hingga 30 mg besi per hari. Kenapa? Karena besi dibutuhkan untuk membuat hemoglobin, komponen pembawa oksigen dari sel darah merah. Sel darah merah diedarkan ke seluruh tubuh dengan membawa oksigen ke semua sel. Tanpa zat besi yang cukup, tubuh tidak dapat membuat sel-sel darah merah dan jaringan tubuh serta organ tidak akan mendapat oksigen yang dibutuhkan untuk berfungsi dengan baik. Jadi ibu hamil harus cukup mendapat besi pada makanan sehari-hari, untuknya dan untk janinnya.
Meskipun nutrsi dapat ditemukan di berbagai jenis makanan, besi dari sumber daging (hewani) dapat lebih mudah diserap oleh tubuh dibandingkan besi yang ditemukan di tumbuh-tumbuhan.Contoh makanan yang kaya zat besi misalnya daging merah, unggas, salmon, telur, tofu, buah yang dikeringkan, sayuran berwarna hijau, sereal yang difortifikasi besi serta asam folat.
The U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan wanita pada usia produktif, khususnya yang merencanakan kehamilan, mendapatkan 400 mikrogram (0,4 mg) suplemen asam folat setiap harinya. Sumbernya bisa berasal dari multivitamin atau suplemen asam folat, selain yang didapat dari makanan.
Jadi, kenapa asam folat begitu penting? Sejumlah studi menunjukkan bahwa mengonsumsi suplemen asam folat satu bulan sebelum dan selama tiga bulan pertama kehamilan akan menurunkan risiko cacat otak pada bayi mencapai 70 persen.
Nah, sudah cukupkah folat dan besi dalam menu harian Anda?
HUBUNGAN PERILAKU MAKAN DENGAN KEJADIAN APENDISITIS
PADA PASIEN APENDIKS DI RUANG BEDAH RSUD.....
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Manusia demi kebutuhannya sangat ditentukan oleh berlangsungnya atau bergeraknya proses-proses dalam tubuhnya, seperti berlangsungnya proses peredaran darah/sirkulasi darah, denyut jantung, pernafasan, pencernaan, proses-proses fisiologis lainnya, selanjutnya bergerak melakukan berbagai kegiatan pekerjaan fisik, untuk itu semua diperlukan energi (Kartasapoetra & Marsetyo, 2005).
Seperti diketahui bahwa tubuh manusia memiliki kebutuhan esensial terhadap nutrisi, walaupun tubuh dapat bertahan tanpa makanan lebih lama daripada tanpa cairan.Seperti kebutuhan fisiologis lainnya, kebutuhan nutrisi mungkin tidak terpenuhi pada manusia dengan berbagai usia. Proses metabolik tubuh mengontrol pencernaan, penyimpanan zat makanan, dan mengeluarkan produk sampah.Mencerna dan menyimpan zat makanan adalah hal yang penting dalam memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh (Potter & Perry, 2005).
Pada umumnya perilaku makan yang sering menjadi masalah adalah kebiasaan makan yang kurang higienis, di warung, sekitar pinggiran jalan, bahkan di tempat-tempat mewah sekalipun yang menawarkan makanan cepat saji atau kebiasaan makan fast food. Makanan jajanan yang dijual oleh pedagang kaki lima atau street food menurut FAO didefisinikan sebagai makanan dan minuman yang dipersiapkan dan dijual oleh pedagang kaki lima di jalanan dan di tempat-tempat keramaian umum lain yang langsung dimakan atau dikonsumsi tanpa pengolahan atau persiapan lebih lanjut. Jajanan kaki lima dapat mejawab tantangan masyarakat terhadap makanan yang murah, mudah, menarik dan bervariasi.(http://www.persi.or.id, 2006).
Tiap tahunnya baik di negara maju maupun negara berkembang terjadi peningkatan kasus yang berhubungan dengan pencernaan maupun pola makan serta kebiasaan makan-makanan di sembarang tempat yang berdampak pada terjadinya penyumbatan makanan pada usus karena terbentuknya benda padat (massa) di ujung umbai cacing sehingga menyebabkan aliran keluar kotoran terhambat pada daerah tersebut. Sumbatan ini bisa terbentuk dari sisa makanan yang mengeras, lendir dalam usus yang mengental, bekuan darah, ataupun tumor kecil pada saluran usus. Dengan adanya sumbatan ini, ditambah dengan terjadinya infeksi yang mungkin terjadi pada daerah tersebut, maka terjadilah radang pada umbai cacing tersebut atau disebut juga usus buntu (appendisitis).
Appendisitis merupakan peradangan dari appendiks vermiformis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering terjadi (Mansjoer, dkk, 2000).Untuk mencegah terjadinya appendisitis sebenarnya adalah dengan menjaga perilaku makan atau pola makan yang baik dan tepat yaitu\tiga kali sehari, seperti mengkonsumsi serat yang cukup yang berasal dari sayur-sayuran.
Secara umum di Indonesia appendiks masih merupakan penyokong terbesar untuk pasien operasi setiap tahunnya, hasil laporan dari Rumah Sakit Gatot Soebroto, Jakarta pada tahun 2006 setidaknya appendiks menempati urutan keenam dari sepuluh penyakit terbesar yang ada dan sebagian besar disebabkan pola makan pasien yang kurang tepat dan kurangnya mengkonsumsi makanan yang mengandung cukup serat setiap harinya (Depkes RI, 2007).
Hasil penelitian yang dilakukan Faisal (2000) menyebutkan bahwa dari 146 kasus terdapat 121 kasus (82.87%) apendikogram negatif, 20 kasus 113.70%) pengisian parsial dan 5 kasus (3,43%) apendikogram positif. Penilaian makros kopis durante operatif didapatkan tanda-tanda apendisitis kronis pada semua kasus. Pemeriksaan patologi anatomi (PA) pada 32 kasus menunjukkan 100% apendisitis kronis dengan berbagai variasi, termasuk 1 kasus dengan apendikogram positif. Berdasarkan jumlah kasus yang terbatas (32 kasus) dengan pemeriksaan PA, didapatkan sensitivitas 96.87% tingkat akurasi 96,87% sedangkan spesifisitas tidak dapat ditentukan.
Berdasarkan hasil survey data di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu yang dilakukan pada akhir bulan November 2008 diketahui bahwa pada tahun 2007 terdapat 322 kasus pasien rawat inap dengan appendiks.Sementara pada tahun 2008 (Januari-Juli) menurun menjadi 101 kasus.Pada minggu pertama bulan Desember 2008 peneliti menanyakan kepada 9 orang pasien appendiks yang mengalami keluhan pada bagian perutnya.Dari hasil wawancara diketahui bahwa 3 orang diantaranya (33,33%) mengatakan pernah mengalami keluhan yang sama dan dirawat di rumah sakit dan sakitnya berkurang setelah diberikan terapi diet selama menjalani pengobatan, 6 orang lainnya (66,67%) mengatakan bahwa akan menjalani operasi appendiks dengan alasan peradangan yang terjadi semakin buruk.Dari keseluruhan pasien yang ada tersebut 7 orang (77,78%) kurang memperhatikan pola makan sehari-hari dan 2 orang (22,22%) memiliki perilaku makan yang salah serta adanya kebiasaan tertentu yang dapat merespon terjadinya peradangan pada usus.
Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Perilaku Makan Dengan Kejadian Apendisitis Di Ruang Bedah RSUD ............................................... Tahun 2009”.
1.2Identifikasi Masalah
1.2.1Di Indonesia appendiks masih merupakan penyokong terbesar untuk pasien operasi setiap tahunnya, di Rumah Sakit Gatot Soebroto, Jakarta pada tahun 2006 setidaknya appendiks menempati urutan keenam dari sepuluh penyakit terbesar yang ada dan sebagian besar disebabkan pola makan pasien yang kurang tepat dan kurangnya mengkonsumsi makanan yang mengandung cukup serat setiap harinya
1.2.2Diketahui bahwa pemeriksaan patologi anatomi (PA) pada 32 kasus menunjukkan 100% apendisitis kronis dengan berbagai variasi, termasuk 1 kasus dengan apendikogram positif
1.2.3Diketahui bahwa pada tahun 2007 terdapat 322 kasus pasien rawat inap dengan appendiks di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu dan pada tahun 2008 (Januari-Juli) menurun menjadi 101 kasus.
1.3Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah yaitu: apakah terdapat hubungan antara perilaku makan dengan kejadian apendisitis di Ruang Bedah RSUD ............................................... Tahun 2009?”
1.4Tujuan Penelitian
1.4.1Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan perilaku makan dengan kejadian apendisitis pendiks di Ruang Bedah RSUD ............................................... Tahun 2009.
1.4.2Tujuan Khusus
1.Untuk mengidentifikasi perilaku makan di Ruang Bedah RSUD ............................................... Tahun 2009.
2.Diketahuinya kejadian apendisitis di Ruang Bedah RSUD ............................................... Tahun 2009
3.Diketahuinya hubungan perilaku makan dengan kejadian apendisitis di Ruang Bedah RSUD ............................................... Tahun 2009.
1.5Manfaat Penelitian
1.5.1Bagi Institusi Pelayanan Kesehatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, khususnya bagi keluarga dan pasien dengan apendiks.
1.5.2Bagi Institusi Pendidikan
Dapat dijadikan referensi tambahan khususnya mengenai hubungan antara perilaku makan dengan kejadian apendisitis khususnya pada pasien Apendiks.
1.5.3Bagi Subjek Penelitian
Menambah bahan informasi tentang perilaku makan dengan kejadian apendisitis.
1.5.4Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini sangat bermanfaat bagi penulis dalam menambah wawasan, menerapkan dan mengembangkan ilmu yang didapat dari bangku kuliah ke dalam situasi yang nyata yaitu rumah sakit.
silahkan download dalam bentuk dokumen word KTI KEPERAWATAN
HUBUNGAN PERILAKU MAKAN DENGAN KEJADIAN APENDISITIS PADA PASIEN APENDIKS DI RUANG BEDAH RSUD.....
Imunisasi adalah suatu usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak terhadap penyakit tertentu. Sedangkan vaksin adalah kuman atau racun kuman yang dimasukkan ke dalam tubuh bayi atau anak yang disebut antigen. Di dalam tubuh antigen akan bereaksi dengan antibodi, sehingga akan terjadi kekebalan. Juga pada vaksin yang dapat langsung menjadi racun terhadap kuman yang disebut antitoksin (Depkes RI, 1993).
Pada tahun 2005 Departemen Kesehatan Republik Indonesia menyatakan bahwa lebih dari 10 juta balita meninggal tiap tahun, dengan perkiraan 2,5 juta meninggal (25%) akibat penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin yang kini ada maupun yang terbaru. Oleh karena itu sangat jelas bahwa imunisasi sangat penting untuk mengurangi seluruh kematian anak. Dalam era globalisasi dan komunikasi tanpa batas, yang berdampak pada peningkatan kerentanan dalam penyebaran penyakit, membuat peran imunisasi semakin vital (Depkes RI, 2007).
Penyakit campak atau juga disebut morbili adalah penyakit morbili pada waktu yang lampau dianggap penyakit anak biasa saja bahkan dikatakan lebih baik anak mendapatkannya ketika masih anak-anak daripada sudah dewasa.Tetapi sekarang termasuk penyakit yang harus dicegah karena tidak jarang menimbulkan kematian yang disebabkan komplikasinya (Ngastiyah, 1997).
Campak merupakan penyakit menular dan menjadi salah satu penyebab kematian anak di negara berkembang, termasuk Indonesia. Penyakit ini disebabkan virus campak yang dapat dicegah dengan imunisasi. Meskipun sedikit jumlah kematian akibat kasus ini yaitu 1:1000 kasus dan sebagian dari kasus tersebut terjadi pada saat anak berusia 6 bulan sampai 3 tahun atau setidaknya 15-20% sering terjadi saat anak berusia 36 bulan. Tanpa imunisasi, penyakit ini akan menyerang hampir setiap anak dan dapat mengakibatkan kematian karena komplikasi, seperti radang paru (pneumonia), diare, radang telinga, dan radang otak, terutama pada anak bergizi buruk.
Biasanya penyakit ini timbul pada masa anak dan kemudian menyebabkan kekebalan seumur hidup.Bayi yang dilahirkan oleh seorang ibu yang pernah menderita morbili akan mendapat kekebalan secara pasif melalui plasenta sampai umur 4-6 bulan dan setelah umur tersebut kekebalan akan mengurang sehingga bayi dapat morbili.Bila ibu belum pernah menderita morbili maka bayi yang akan dilahirkannya tidak mempunyai kekebalan terhadap morbili dan dapat menderita morbili setelah dilahirkan.Bila seorang wanita hamil menderita morbili ketika umur kehamilan 1 atau 2 bulan, maka 50% kemungkinan akan mengalami keguguran; bila ia menderita morbili pada trimester pertama, kedua atau ketiga maka kemungkinan bayi yang lahir menderita cacat/kelainan bawaan atau seorang bayi dengan berat lahir rendah mati, atau bayi kemudian meninggal sebelum usia 1 tahun.
Untuk mendukung upaya peningkatan kesehatan (preventif) petugas kesehatan sangat diperlukan dalam pelaksanaannya, namun cakupan yang diharapkan tidak dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan tanpa adanya dukungan dari masyarakat, kelompok masyarakat yang ditunjuk sebagai media penyampai langsung dalam pemberian imunisasi adalah kader atau orang yang ditunjuk untuk membantu pelaksanaan pemberian imunisasi pada bayi dan balita (Azwar, 1998).Selain itu kader memiliki peranan yang sangat penting dalam mengupayakan cakupan pemberian imunisasi, dimana salah satunya adalah memberitahukan kapan waktu pelaksanaan imunisasi pada orang tua balita.
Seperti diketahui bahwa di dalam kegiatan posyandu kader sangat berperan terutama saat pelaksanaan posyandu yakni dari mulai pendaftaran bayi/balita di meja 1, penimbangan bayi di meja 2, pengisian KMS di meja 3 dan memberikan penyuluhan pada ibu balita hingga pelayanan imunisasi pada bayi balita di meja 5 (Depkes RI, 2005).
Propinsi Lampung merupakan salah satu propinsi dengan cakupan imunisasi di atas target nasional (>80%) dan angka drop out di bawah angka nasional (<10%),>rjadi meskipun hanya sekitar 1-2/10.000 balita setidaknya dari 100-200 balita yang meninggal tiap tahunnya 10% diantaranya disebabkan oleh campak. Cakupan imunisasi yang tinggi dan merata sampai di tingkat desa serta sistem surveilans yang baik diharapkan dapat menekan angka kejadian luar biasa kasus-kasus PD3I termasuk kasus Campak. Oleh karena itu pelaksanaan kegiatan surveilans Campak harus dilakukan untuk mempercepat tercapainya reduksi campak di Indonesia mengingat hal tersebut telah menjadi salah satu kesepakatan global (Dinkes Provinsi Lampung, 2007).
Berdasarkan data yang didapat dari Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Tengah (2006) diketahui pada tahun 2005 jumlah cakupan balita yang diimunisasi sebanyak 291.725 balita dengan jumlah sasaran sebanyak 27.198 bayi (9,33%). Ini berarti masih rendahnya cakupan imunisasi di Kabupaten Lampung Tengah dari target yang diharapkan sebesar 90% (Dinkes Kab. Lampung Tengah, 2007).
Dari data yang ada di Puskesmas Payung Rejo Kabupaten Lampung Tengah tahun 2007 diketahui bahwa cakupan imunisasi campak baru mencapai 73,5% yang berarti belum memenuhi target yang diharapkan yaitu 80%. Hasil pre survey yang peneliti lakukan pada bulan Oktober 2009 di Wilayah Kerja Puskesmas Payung Rejo Kecamatan Pubian diketahui bahwa belum tercapainya cakupan imunisasi campak dikarenakan masih rendahnya kesadaran dari masyarakat dan kerjasama antara petugas kesehatan dengan kader kesehatan yang ada. Hasil pre survey juga menemukan bahwa 3 dari 5 orang kader (60%) belum melaksanakan pekerjaannya secara maksimal seperti memberitahukan kapan waktu pemberian imunisasi campak pada bayi dan balita, meskipun petugas kesehatan yang ada sudah memberikan informasi tersebut.Sementara 2 orang lainnya (40%) sudah melaksanakan namun masih mengalami hambatan seperti medan yang ditempuh dan orangtua balita yang sedang bekerja.
Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Hubungan peran kader dengan upaya peningkatan cakupan imunisasi campak di Puskesmas ............................................. Tahun 2009”.
1.2Identifikasi Masalah
1.2.1Di Indonesia penyakit campak merupakan penyebab kematian nomor 5 sepanjang tahun 1992-1995 dengan proporsi masing-masing 3,3% dan 4,1% atau 1:1000 kasus dan sebagian dari kasus tersebut terjadi pada saat anak berusia 6 bulan sampai 3 tahun atau setidaknya 15-20% sering terjadi saat anak berusia 36 bulan.
1.2.2Di Provinsi Lampung campak masih sering terjadi meskipun hanya sekitar 1-2/10.000 balita setidaknya dari 100-200 balita yang meninggal tiap tahunnya 10% diantaranya disebabkan oleh campak.
1.2.3Pada tahun 2005 jumlah cakupan balita yang diimunisasi di Kabupaten Lampung Tengah masih rendah yaitu 291.725 balita dari target 27.198 bayi (9,33%).
1.2.4Diketahui bahwa 3 dari 5 orang kader (60%) belum melaksanakan pekerjaannya secara maksimal seperti memberitahukan kapan waktu pemberian imunisasi campak pada bayi dan balita, dengan alasan jarak dan waktu yang ditempuh. Sementara 2 orang lainnya (40%) sudah melaksanakan namun masih mengalami hambatan seperti orangtua balita yang di berada di tempat.
1.3Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah yaitu: Apakah ada hubungan antara peran kader dengan upaya peningkatan cakupan imunisasi campak di Puskesmas ............................................. Tahun 2009?
1.4Tujuan Penelitian
1.4.1Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan peran kader dengan upaya peningkatan cakupan imunisasi campak di Puskesmas ............................................. Tahun 2009
1.4.2Tujuan Khusus
1.Untuk mengetahui peran kader dalam upaya peningkatan cakupan imunisasi campak di Puskesmas ............................................. Tahun 2009.
2.Untuk mengetahui cakupan imunisasi campak di Puskesmas ............................................. Tahun 2009.
3.Untuk mengetahui hubungan antara peran kader dengan upaya peningkatan cakupan imunisasi campak di Puskesmas ............................................. Tahun 2009.
1.5Manfaat Penelitian
Bagi Institusi Pelayanan Kesehatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan sebagai pertimbangan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
2Bagi Institusi Pendidikan
Memberikan sumbangan dalam bidang ilmu pengetahuan di bidang kesehatan khususnya dalam konteks keperawatan komunitas.
3Bagi Objek Penelitian
Menambah bahan informasi tentang peran kader hubungannya dengan upaya peningkatan cakupan imunisasi campak.
4Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini sangat bermanfaat bagi penulis dalam menambah wawasan, menerapkan dan mengembangkan ilmu yang didapat dari bangku kuliah ke dalam situasi yang nyata yaitu masyarakat.
silahkan download dalam bentuk dokumen word KTI KEPERAWATAN
KTI KEPERAWATAN HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN PENDIDIKAN IBU DENGAN PENINGKATAN STATUS GIZI ANAK USIA SEKOLAH 6-12 TAHUN
ABSTRAK “HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN PENDIDIKAN IBU DENGAN PENINGKATAN STATUS GIZI ANAK USIA SEKOLAH 6-12 TAHUN DI ……………………….. TAHUN 2009”
(xii + 37 halaman + 6 tabel + 8 lampiran)
Jauh sebelum krisis ekonomi dan politik melanda bangsa ini, persoalan gizi sudah berlangsung dengan 4 ,masalah klasik, diantaranya Kurang Energi Protein (KEP), masalah anemia besi, masalah Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), masalah kekurangan vitamin A (KVA). Banyak penduduk karena keterbatasan pengetahuan dan ekonomi tidak menyadarinya dan kalaupun tahu tidak punya kemampuan untuk mengintervensinya. Berdasarkan atas hal tersebut maka diperoleh data dari Direktorat Bina Gizi Masyarakat pada tahun 1995 sekitar 35,4% anak balita di Indonesia menderita KEP, pada tahun 1997 turun menjadi 23,1%, pada tahun 1998 prevalensi KEP meningkat kembali menjadi 39,8%. Oleh karena itu maka peneliti ingin meneliti hubungan pengetahuan dan pendidikan ibu terhadap peningktan status gizi anak usia sekolah 6-12 tahun di Kelurahan Batang Kaluku Kecamatan Somba Opukabupaten Gowa. Penelitian yang dilakukan bersifat Survey Analitik dengan menggunakan desain Cross Sectional dengan teknik pengambilan sample secara Purposive Sampling. Data diperoleh Melalui Observasi dan questioner yang diolah dengan menggunakan program computer SPSS for Windows versi 12.00 Dengan penelitian yang dilakukan jumlah sampel 35 orang maka dapat di katakan ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan status gizi anak dimana X2 hitung =14,776> X2 tabel 9.488, sedangkan hubungan antara pendidikan dengan status gizi didapatkan ada hubungan karena X2 hitung = 10,694 > X2 tabel = 5,99. Dengan penilaian X² hitung > dari X² tabel maka dapat dikatakan ada hubungan pengetahuan dan pendidikan ibu dengan status gizi anak usia sekolah dimana hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi instansi, responden, profesi keperawatan, instansi dan peneliti sendiri.
Kata Kunci : Pengetahuan Gizi, Pendidikan Gizi, Status Gizi Pustaka : 16 (1994-2004)
silahkan download dalam bentuk dokumen word KTI KEPERAWATAN HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN PENDIDIKAN IBU DENGAN PENINGKATAN STATUS GIZI ANAK USIA SEKOLAH 6-12 TAHUN (isi: Pendahuluan; Tinjauan Pustaka; Metodelogi Penelitian; Hasil Penelitan dan Pembahasan; Kesimpulan dan Saran)
Untuk dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, banyak hal yang perlu diperhatikan. Salah satu diantaranya yang dipandang mempunyai peranan penting ialah menyelenggarakan pelayanan kesehatan.
Penyakit Gastritis yang dikenal dengan Gastritis saluran pencernaan bagian atas yang banyak dikeluhkan masyarakat dan paling banyak dibagian gastroenterologi (Mustakim, 2009). Menurut Herlan (2001), menyatakan Gastritis bukanlah penyakit tunggal, tetapi beberapa kondisi yang mengacu pada peradangan lambung. Biasanya peradangan tersebut merupakan akibat dari infeksi bakteri yang dapat mengakibatkan borok lambung yaitu Helicobacter Pylory.
Keluhan Gastritis merupakan suatu keadaan yang sering dan banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Tidak jarang kita jumpai penderita Gastritis kronis selama bertahun-tahun pindah dari satu dokter ke dokter yang lain untuk mengobati keluhan Gastritis tersebut. Berbagai obat-obatan penekan asam lambung sudah pernah diminum seperti antasid, namun keluhan selalu datang silih berganti. Keluhan yang berkepanjangan dalam menyembuhkan Gastritis ini dapat menimbulkan stress, gara-gara Gastritis sekitar 10% dan biaya yang tidak sedikit. Bagi stress ini bukan tidak mungkin justru menambah berat Gastritis penderita yang sudah ada (Budiana, 2006).
Budiana (2006), mengatakan bahwa Gastritis ini terbesar di seluruh dunia dan bahkan diperkirakan diderita lebih dari 1,7 milyar. Pada negara yang sedang berkembang infeksi diperoleh pada usia dini dan pada negara maju sebagian besar dijumpai pada usia tua.
Angka kejadian infeksi Gastritis Helicobacter Pylory pada beberapa daerah di Indonesia menunjukkan data yang cukup tinggi. Menurut Maulidiyah dan Unun (2006), di Kota Surabaya angka kejadian Gastritis sebesar 31,2%, Denpasar 46%, sedangkan di Medan angka kejadian infeksi cukup tinggi sebesar 91,6%. Adanya penemuan infeksi Helicobacter Pylory ini mungkin berdampak pada tingginya kejadian Gastritis. Faktor etiologi Gastritis lainnya adalah asupan alkohol berlebihan (20%), merokok (5%), makanan berbumbu (15%), obat-obatan (18%) dan terapi radiasi (2%) (Herlan, 2001).
Dari hasil penelitian para pakar, didapatkan jumlah penderita Gastritis antara pria dan wanita, ternyata Gastritis lebih banyak pada wanita dan dapat menyerang sejak usia dewasa muda hingga lanjut usia. Di Inggris 6-20% menderita Gastritis pada usia 55 tahun dengan prevelensi 22% insiden total untuk segala umur pada tahun 1988 adalah 16 kasus/1000 pada kelompok umur 45-64 tahun. Insiden sepanjang usia untuk Gastritis adalah 10% (Harun Riyanto, 2008).
Berdasarkan hasil survey awal dilokasi penelitian yaitu di RSU. .......................... tahun 2008 ditemukan rata-rata perbulannya penderita Gastritis yang berobat selama tahun 2008 masih cukup banyak yaitu setiap bulannya ± 40 orang (Profil RSU. .........................., 2008).
Dari latar belakang di atas maka penulis merasa tertarik untuk penelitian dengan judul “Gambaran Pengetahuan Klien Tentang Gastritis di RSU. Dr. Fl. Tobing Sibolga Tahun 2009”.
B.Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka yang menjadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “Bagaimanakah Gambaran Pengetahuan Klien Tentang Gastritis di RSU. .......................... Tahun 2009?”.
C.Tujuan Penelitian
C.1.Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan klien tentang gastritis di RSU. .......................... Tahun 2009
C.2.Tujuan Khusus
a.Untuk mengetahui disrtibusi pengetahuan klien tentang gastritis di RSU. .......................... Tahun 2009 berdasarkan umur.
b.Untuk mengetahui distribusi pengetahuan klien tentang gastritis di RSU. .......................... Tahun 2009 berdasarkan pendidikan.
c.Untuk mengetahui distribus pengetahuan klien tentang gastritis di RSU. .......................... Tahun 2009 berdasarkan sumber informasi.
D.Manfaat Penelitian
D.1.Bagi Peneliti
Sebagai bahan pengetahuan dan menambah wawasan peneliti tentang penyakit Gastritis dan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan Ahli Madya Keperawatan.
D.2.Bagi Pendidikan
Sebagai referensi bagi perpustakaan dan sebagai bahan acuan bagi penelitian berikutnya di masa yang akan datang khususnya tentang penyakit Gastritis.
D.3.Bagi Rumah Sakit
Sebagai bahan informasi tentang gambaran tingkat pengetahuan klien Gastritis yang berobat di RSU. ...........................
silahkan download dalam bentuk dokumen word KTI KEPERAWATAN
GAMBARAN PENGETAHUAN KLIEN TENTANG GASTRITIS DI RSU ...... TAHUN 2009