Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Protap-SOP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Protap-SOP. Tampilkan semua postingan

PEMASANGAN DAN PENCABUTAN AKDR CT 380A

PEMASANGAN DAN PENCABUTAN AKDR CT 380A

Masalah-masalah yang berkaitan dengan AKDR seperti ekspulsi, infeksi dan perforasi sebagian besar disebabkan karena pemasangan yang kurang tepat. Oleh sebab itu hanya provider terlatih yang diperbolehkan memasang dan mencabut AKDR. Untuk mengurangi masalah-masalah yang timbul setelah pemasangan, maka semua tahap proses pemasangan harus dilakukan dengan baik dan hati-hati, menggunakan upaya pencegahan infeksi yang dianjurkan. Berikut ini dijelaskan tentang tahapan proses pemasangan AKDR.

1. Pelaksanaan Pelayanan

a. Persyaratan khusus ruangan

Sebagian besar klinik yang memberikan pelayanan kesehatan primer dapat memberikan pelayanan AKDR dengan fasilitas yang dimilikinya. Ada beberapa persyaratan khusus untuk ruanagan agar dapat memberikan pelayanan berkualitas, yaitu:

· Tersedianya ruang tunggu yang nyaman

· Tersedianya toilet/kamar kecil bagi klien dan petugas klinik

· Tersedianya ruang untuk konseling, lebih disukai yang tertutup

· Tersedia ruang untuk pemeriksaan umum dan panggul maupun tindakan dengan pencahayaan cukup dan tersedia wastafel

b. Peralatan dan instrument

Pemasangan dan pencabutan AKDR tidak memerlukan ruang operasi besar, tetapi wajib menggunakan peralatan yang disterilisasi atau DTT dan dilakukan di ruangan yang bersih. Bahan-bahan yang diperlukan dibagi dalam tiga kategori, yaitu:

· Alat dan instrument dasar yang biasanya ditemukan di klinik KB

· Alat khusus untuk pemasangan dan pencabutan AKDR

· Bahan dan peralatan untuk pencegahan infeksi

2. Pencegahan infeksi

a. Pemasangan

Untuk mengurangi risiko infeksi pasca pemasangan yang dapat terjadi pada klien, provider harus berupaya untuk menjaga lingkungan yang bebas dari infeksi dengan cara :

· Tidak melakukan pemasangan bagi klien dengan riwayat kesehatan maupun hasil pemeriksaan fisik menunjukkan adanya IMS

· Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum dan sesudah tindakan.

· Minta klien untuk membersihkan alat genitalnya sebelum melakukan pemeriksaan panggul.

· Gunakan instrument dan pakai sepasang sarung tangan DTT/steril atau dapat menggunakan sarung tangan disposable.

· Setelah memasukan speculum dan memeriksa serviks, usapkan larutan antiseptic beberapa kali secara merata pada serviks dan vagina sebelum memulai tindakan.

· Masukan AKDR dalam kemasan sterilnya

· Gunakan teknik “tanpa sentuh” pada saat pemasangan AKDR untuk mengurangi kontaminasi kavum uteri.

· Buang bahan-bahan terkontaminsi dengan benar

· Segera lakukan dekontaminasi peralatan dan bahan pakai ulang dalam larutan klorin 0,5% setelah digunakan.

b. Pencabutan

Walaupun jarang dikaitkan dengan infeksi panggul, pencabutan AKDR harus dilaksanakan dengan hati-hati. Untk mengurangi risiko pada provider selama pencabutan, tindakan pencegahan infeksi perlu dilakukan sebagai berikut:

· Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum dan sesudah tindakan.

· Minta klien untuk membersihkan alat genitalnya sebelum melakukan pemeriksaan panggul.

· Gunakan instrument dan pakai sepasang sarung tangan DTT/steril atau dapat menggunakan sarung tangan disposable.

· Usapkan larutan antiseptic beberapa kali secara merata pada serviks dan vagina sebelum memulai tindakan.

· Segera lakukan dekontaminasi peralatan dn bahan pakai ulang dalam larutan klorin 0,5% setelah digunakan.

3. Persiapan

a. Pemasangan

Peralatan dan instrument

Sebelum melakukan tindakan, siapkan peralatan dan instrument yang diperlukan. Bila alat-alat dalam paket yang telah di steril/DTT, jangan membuka paket sebelum pemeriksaan panggul selesai dan keputusan akhir untuk pemasangan dilakukan.

Peralatan dan instrument untuk pemasangan yaitu:

· Bivalve speculum 2 buah

· Tenakulum 1 buah

· Sonde Uterus 1 buah

· Korentang 1 set

· Forsep/Tampon tang 1 buah

· Gunting panjang (siebold) 1 buah

· Kom kecil 1 buag

· Sarung tangan DTT 2 pasang

· IUD Copper T 380 A dalam kemasan steril

· Model

· Kain kassa/kapas

· Larutan antiseptik (mis:povidom iodin)

· Lampu sorot/senter

· Bak berisi larutan klorin 0,5%

· Tempat dan alat cuci tangan

· Tempat sampah

b. Pencabutan

Peralatan dan instrument untuk pemasangan yaitu:

· Korentang 1 set

· Bivalve Spekulum 1 buah

· Ekstraktor AKDR / tampon tang 1 buah

· Kom kecil

· Sarung tangan DTT 1 pasang

· Kain kassa/kapas

· Wadah berisi larutan klorin 0,5%

· Cairan antiseptik (mis:povidon iondin)

· Model

· Lampu sorot/senter

4. Langkah-langkah kerja

· Cara melakukan Loading

No

Langkah Kerja

1

Pastikan batang AKDR seluruhnya berada di dalam tabung inserter.

2

Letakkan kemasan di atas permukaan yang datar, keras dan bersih dengan kertas penutup transparan berada di atas. Buka penutup di bagian yang berlawanan dari tempat AKDR kira-kira ½ jarak dengan leher biru.

3

Angkat kemasan yang sudah dibuka, kedua bagian kertas penutup dilipat ke setiap sisi, masukkan pendorong ke dalam tabung inserter sampai menyentuh ujung batang AKDR.

4

Letakkan kembali kemasan pada tempat datar dengan bagian transparan menghadap ke atas.

5

Pegang dan tahan kedua ujung lengan AKDR dari atas penutup transparan dengan jari telunjuk dan ibu jari tanagan kiri. Tangan kanan mendorong kertas pengukur sehingga lengan AKDR berada di atasnya. Dorong tabung inserter sampai kedua lengan terlipat mendekati tabung inserter.

6

Tahan kedua lengan yang sudah terlipat, tarik tabung inserter melewati kedua ujung lengan AKDR, kemudian dorong dan putar sehingga kedua lengan AKDR masuk ke dalam tabung inserter.

7

Leher biru pada tabung digunakan sebagai tanda kedalaman kavum uteri dan petunjuk arah lengan akan membuka saat dikeluarkan dari tabung inserter.

Pegang leher biru di atas penutup transparan, dorong tabung inserter sampai ujung lengan AKDR yang terlipat dan leher biru jaraknya sama dengan kedalaman kavum uteri. Leher biru dalam posisi horizontal.

8

AKDR siap untuk dipasang pada uterus. Buka seluruh penutup AKDR, pegang tabung inserter dalam posisi horizontal.

· Cara pemasangan AKDR

No

Langkah Kerja

Rasionalisasi

1

· Jelaskan kepada klien apa yang akan dilakukan dan mempersilakan klien mengajukan pertanyaan.

· Sampaikan pada klien kemungkinan sedikit rasa sakit pada beberapa langkah saat pemasangan dan sebelumnya akan diberitahu.

· Pastikan klien telah mengosongkan kandung kemihnya.

Hal ini akan membantu klien tenang dan memudahkan pemasangan serta mengurangi rasa sakit

Hal ini untuk menambah kepercayaan dan percaya diri

Hal ini akan membantu klien tenang dan memudahkan pemeriksaan panggul

2

· Periksa genitalia eksterna

· Lakukan pemeriksaan spekulum

· Lakukan pemeriksaan panggul

Untuk memeriksa adanya ulkus,pembengkakan kel. getah bening.

Untuk memeriksa adanya pembengkakan kel. bartolini & skene.

Untuk memeriksa adanya cairan vagina, servisitis dan pemeriksaan mikroskopis bila diperlukan, menentukan besar,posisi,konsistensi dan mobilitas uterus,serta memeriksa adanya nyeri goyang serviks dan tumor pada adneksa/cavum douglas.

3

Lakukan pemeriksaan mikroskopik bila tersedia dan ada indikasi

Untuk memeriksa adanaya jamur, trikomonas,bakteri vaginosis, gonore atau klamedia.

4

Masukan lengan AKDR CT 380A di dalam kemasan sterilnya (LOADING)

Tidak memerlukan sarung tangan DTT pada saat loading

5

· Masukan spekulum dan usap vagina dan serviks dengan larutan antiseptik

· Gunakan tenakulum untuk menjepit serviks

Larutan antiseptik mencegah infeksi.

Tenakulum untuk stabilisasi uterus dan mengurangi risiko perforasi

6

Masukan sonde uterus

Untuk mementukan kedalam uterus dengan tehnik tanpa sentuh untuk mengurangi risiko infeksi

7

Pasang AKDR CT 380A

· Atur letak leher biru pada tabung inserter sesuai dengan kedalaman cavum uteri. Masukan tabung inserter dengan hati-hati sampai menyentuh fundus atau sampai terasa ada tahanan

· Lepas lengan AKDR dengan menggunakan tehnik menarik (with drawal technique). Tarik keluar pendorong.

· Setelah lengan AKDR lepas, dorong secar perlahan-lahan tabung inserter ke dalam cavum uteri sampai leher biru menyentuh serviks

· Tarik keluar sebagian tabung inserter, potong benang AKDR kira-kira 3-4 cm panjangnya.

· Cara lain, tarik keluar seluruh tabung inserter, jepit benang AKDR dengan menggunakan forsef kira-kira 3-4 cm dari serviks dan potong benag tersebut pada tempat tersebut.

8

· Buang bahan-bahan habis pakai yang terkontaminasi sebelum melepas sarung tangan.

· Bersihkan permukaan yang terkontaminasi

Memperkecil risiko penularan Hepatitis B dan HIV/AIDS pada petugas

9

Lakukan dekontaminasi alat-alat dan sarung tangan dengan segera setelah selesai dipakai

Memperkecil risiko penularan Hepatitis B dan HIV/AIDS pada petugas

10

· Ajarkan pada klien bagaimana memeriksa benang AKDR

· Minta klien menunggu di klinik selama 15-30 menit setelah pemasangan AKDR

Untuk mengurangi risiko kehamilan akibat AKDR yang hilang.

Untuk mengamati bila terjadi rasa sakit yang amat sangat pada perut,mual atau muntah sehingga mungkin AKDR perlu di cabut bila dengan analgesik ringan rasa sakit tidak hilang

· Cara Pencabutan AKDR

No

Langkah Kerja

1

Menjelaskan kepada klien apa yang akan dilakukan dan persilahkan klien untuk bertanya

2

Masukan spekulum untuk melihat serviks dan benang AKDR

3

Mengusap serviks dan vagina dengan larutan antiseptik 2-3 kali

4

Mengatakan pada klien bahwa sekarang akan dilakukan pencabutan. Meminta klien untuk tenang dan menarik napas panjang

5

Pasang AKDR baru bila klien menginginkan dan kondisinya memungkinkan

TERIMAKASIH

Referensi

1. Saifuddin (2003), Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, YBPSP, Jakarta

2. Mochtar (1998), Sinopsis Obstetri, EGC, Jakarta

Baca Selengkapnya - PEMASANGAN DAN PENCABUTAN AKDR CT 380A

Cara Pakai Diafragma

Cara Pakai Diafragma

Diafragma dirancang aman dan disesuaikan vagina untuk menutupi serviks. Diafragma merupakan kap berbentuk bulat, cembung, terbuat dari lateks (karet) yang dapat dibengkokkan. Alat kontrasepsi metode barier yang berupa diafragma ini mempunyai cara kerja sebagai berikut:



  1. Mencegah masuknya sperma melalui kanalis servikalis ke uterus dan saluran telur (tuba falopi).

  2. Sebagai alat untuk menempatkan spermisida.


Efektifitas diafragma untuk mencegah kehamilan sekitar 94% bila wanita selalu menggunakannya dan 84% bila wanita tidak selalu menggunakannya. Selain itu, diafragma akan efektif apabila cara menggunakannya benar dan tepat.


Dibawah ini merupakan cara pemakaian alat kontrasepsi metode barier diafragma.



Pemasangan Diafragma



  • Tahap 1


Gambar pemasangan diafgragma 1Kosongkan kandung kemih dan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Pastikan diafragma tidak berlubang. Oleskan spemisida pada kap diafragma secara merata.



  • Tahap 2


Gambar pemasangan diafgragma 2Cari posisi yang nyaman pada saat pemasangan diafragma. Posisi dapat dengan mengangkat satu kaki ke atas kursi, duduk di tepi kursi, berbaring ataupun sambil jongkok. Pisahkan bibir vulva. Tepi diafragma melipat menjadi dua dengan sisi yang lain. Letakkan jari telunjuk di tengah kap untuk pegangan yang kuat. Spermisida harus berada di dalam kap.



  • Tahap 3


Gambar pemasangan diafgragma 3

Masukkan diafragma ke dalam vagina jauh ke belakang, dorong bagian depan pinggiran ke atas di balik tulang pubis. Masukkan jari ke dalam vagina sampai menyentuh serviks. Sarungkan karetnya dan pastikan serviks telah terlindungi.


Perhatian

Diafragma masih terpasang dalam vagina sampai 6 jam setelah berakhir hubungan seksual. Jika hubungan seksual berlangsung di atas 6 jam setelah pemasangan, tambahkan spermisida ke dalam vagina. Jangan meninggalkan diafragma di dalam vagina lebih dari 24 jam.


Pelepasan Diafragma



  • Tahap 1


Gambar pelepasan diafgragma 1Sebelum melepas diafragma, cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Kait bagian ujung diafragma dengan jari telunjuk dan tengah untuk memecah penampung.



  • Tahap 2


Gambar pelepasan diafgragma 2

Tarik diafragma turun dan tarik keluar. Cuci dengan sabun dan air, kemudian keringkan sebelum disimpan kembali di tempatnya.


Referensi

plannedparenthood.org/health-topics/birth-control/diaphragm-4244.htm

Saifuddin, BA. 2008. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka. (Bagian Kedua MK 21- MK 24).

Baca Selengkapnya - Cara Pakai Diafragma

Melakukan Injeksi Sub kutan

Melakukan Injeksi Sub kutan

TINJAUAN UMUM

Menyuntikan obat dibawah kulit

A. PERSIAPAN

I. Persiapan Klien

- Cek perencanaan Keperawatan klien ( dosis, nama klien, obat, waktu pelaksanaan, tempat injeksi )

- Kaji riwayat alergi dan siapkan klien

- Klien diberi penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan

II. Persiapan Alat

- Spuit seteril dengan obat injeksi pada tempatnya yang sudah disiapkan

- Kapas alkohol 70 %

- Alat tulis

- Bengkok

- Kartu obat dan etiket

- Sarung tangan kalau perlu

B. PELAKSANAAN

- Perawat cuci tangan

- Mengidentifikasi klien, menyiapkan klien dan menjelaskan tentang prosedur yang akan dilakukan dan pasang sampiran

- Jika perlu menggunakan sarung tangan bila ada klien yang menderita penyakit menular

- Bersihkan / desinfeksi lokasi injeksi dengan alkohol dengan tekhnik sirkuler atau dari atas ke bawah sekali hapus

- Membuang kapas alkohol kedalam bengkok

- Memasukan jarum dengan sudut 45-90 O

- Lakukan aspirasi

- Memasukan obat secara perlahan – lahan

- Mencabut jarum

- Alat-alat dibereskan dan lihat reaksi obat terhadap klien

- Perawat cuci tangan

- Catat tindakan yang dilakukan

C. EVALUASI

- Perhatikan dosisi obat, nama obat, nama klien sesuai dengan order dari dokter dan perhatikian juga respon klien terhadap obat

D. DOKUMENTASI

Mencatat tindakan yang telah dilakukan (waktu pelaksanaan, hasil tindakan, reaksi / respon klien terhadap obat, perawat yang melakukan ) pada catatan keperawatan

Baca Selengkapnya - Melakukan Injeksi Sub kutan

Melakukan Injeksi Intrakutan

Melakukan Injeksi Intrakutan

TINJAUAN UMUM

Memasukan obat kedalam jaringan kulit, intracutan biasa digunakan untuk mengetahui sensitivitas tubuh terhadap obat yang disuntikan

A. PERSIAPAN

I. Persiapan Klien

- Cek perencanaan Keperawatan klien ( dosis, nama klien, obat, waktu pelaksanaan, tempat injeksi )

- Kaji riwayat alergi dan siapkan klien

- Klien diberi penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan

II. Persiapan Alat

- Spuit seteril dengan obat injeksi pada tempatnya yang sudah disiapkan

- Kapas alkohol 70 %

- Alat tulis

- Bengkok

- Kartu obat dan etiket

- Sarung tangan kalau perlu

B. PELAKSANAAN

- Perawat cuci tangan

- Mengidentifikasi klien dan menjelaskan tentang prosedur yang akan dilakukan dan pasang sampiran

- Jika perlu menggunakan sarung tangan bila ada klien yang menderita penyakit menular

- Memilih dan menentukan lokasi injeksi

- Bersihkan / desinfeksi lokasi injeksi dengan alkohol dengan tekhnik sirkuler atau dari atas ke bawah sekali hapus

- Membuang kapas alkohol kedalam bengkok

- Menyuntik obat dengan sudut jarum injeksi dengan sudut 5-15 O

- Masukan obat secara perlahan – lahan

- Mencabut jarum dan lingkari batas pinggir gelembung dengan pena

- Tunggu hasil / reaksi dari obat selama + 10 – 15 menit

- Obat-obat dibereskan dan hasil catat hasil tindakan

- Perawat cuci tangan

C. EVALUASI

- Perhatikan dosisi obat, nama obat, nama klien sesuai dengan order dari dokter dan perhatikian juga respon klien terhadap obat

D. DOKUMENTASI

Mencatat tindakan yang telah dilakukan (waktu pelaksanaan, hasil tindakan, reaksi / respon klien terhadap obat, perawat yang melakukan ) pada catatan keperawatan

Baca Selengkapnya - Melakukan Injeksi Intrakutan

Sampel Darah Melalui Vena

Sampel Darah Melalui Vena

TINJAUAN UMUM

Suatu tindakan pengambilan darah untuk pemeriksaan laboratrium guna menunjang diagnosa pasien dalam mempertimbangkan pengobatan yang tepat

A. PERSIAPAN

I. Persiapan Klien

- Cek perencanaan Keperawatan klien

- Klien diberi penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan

II. Persiapan Alat

- Spuit dan jarum steril

- Kapas alkohol 70 %

- Plester dan gunting

- Tabung darah

- Perlak dan torniquet

- Bengkok

B. PELAKSANAAN

- Perawat cuci tangan

- Menentukan lokasi

- Meletakan perlak kecil dibawah tangan yang akan diambil darah

- Melakukan pembendungan / fiksasi

- Menghapus lokasi tusukan / desinfeksi

- Memasukan jarum dengan sudut 5-30 0

- Menghisap darah sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan

- Torniquet / pembendung dilepas

- Jarum dicabut dan tekan bekas punksi / tusukan

- Memasukan darah ke dalam tabung darah dan beri etiket / nama

- Membereskan alat-alat dan rapihkan klien

- Perawat cuci tangan

- Perhatikan dan catat reaksi klien setelah melakukan tindakan

C. EVALUASI

- Perhatikan respon klien dan hasil tindakan

D. DOKUMENTASI

catat tindakan yang telah dilakukan (waktu pelaksanaan, respon klien, hasil tindakan, perawat yang melakukan ) pada catatan keperawatan

Baca Selengkapnya - Sampel Darah Melalui Vena

Sampel Urine untuk Pemeriksaan Laboratorium

Sampel Urine untuk Pemeriksaan Laboratorium

TINJAUAN UMUM

Suatu tindakan pengambilan darah untuk pemeriksaan laboratrium guna menunjang diagnosa pasien dalam mempertimbangkan pengobatan yang tepat

A. PERSIAPAN

I. Persiapan Klien

- Cek perencanaan Keperawatan klien

- Klien diberi penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan

II. Persiapan Alat

- Pot / urinal / bengkok

- Botol urine yang sudah diberi etiket

B. PELAKSANAAN

- Perawat cuci tangan

- Memberitahu tindakan yang akan dilakukan

- Pasang sampiran disekitar tempat tidur

- Menyuruh klien untuk berkemih dalam pot / urinal dan memasukan kedalam botol urine

- Urin sisa yang ada pada pot urinal dibuang

- Membereskan alat-alat dan mengmbalikan ketempatnya

- Perawat cuci tangan

- Perhatikan dan catat reaksi klien setelah melakukan tindakan

C. EVALUASI

- Perhatikan respon klien dan hasil tindakan

D. DOKUMENTASI

- Mencatat tindakan yang telah dilakukan (waktu pelaksanaan, respon klien, hasil tindakan, perawat yang melakukan ) pada catatan keperawatan

Baca Selengkapnya - Sampel Urine untuk Pemeriksaan Laboratorium

Melakukan Skin Test

Melakukan Skin Test

TINJAUAN UMUM

Skin test adalah melakukan test antibiotik melalui sub cutan untuk mengetahui ketahanan terhadap salah satu jenis antibiotik

A. PERSIAPAN

a. Persiapan Alat

i. Spuit 1 cc dan jarum seteril dalam tempatnya

ii. Obat-obatan yang diperlukan

iii. Kapas alkohol dalam tempatnya

iv. Gergaji ampul

v. NaCl 0,9 % /aquadest

vi. Bengkok, ball point/ spidol

b. Persiapan Klien

i. Pasien diberi penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan

B. PELAKSANAAN

1. Perawat cuci tangan

2. Menggulung lengan baju pasien bila perlu

3. Mengisi spuit dengan obat yang akan ditest sejumlah 0,1 cc dilarutkan dengan NaCl 0,9 atau aquadest menjadi 1 cc

4. Mendesinfeksi kulit yang akan di suntik dengan menggunakan kapas alkohol kemudian diregangkan dengan tangan kiri perawat

5. Menyuntikan obat sampai permukaan kulit menjadi gembung dengan cara lubang jarum menghadap ke atas dan membuat sudut antara 15 – 30 derajat dengan permukaan kulit

6. Beri tanda pada area suntikan

7. Menilai reaksi obat setelah 10-15 menit dari waktu penyuntikan, hasil (+) bila terdapat tanda kemerahan pada daerah penusukan dengan diameter minimal 1 cm, hasil (-) bila tidak terdapat tanda tersebut diatas

8. Perawat cuci tangan

C. EVALUASI

Mencatat tindakan dan hasil skin test pada dokumen perawatan

Baca Selengkapnya - Melakukan Skin Test

Menyiapkan Injeksi dari Vial / Flacon

Menyiapkan Injeksi dari Vial / Flacon

TINJAUAN UMUM

Suatu kegiatan pelayanan keperawatan menyiapkan injeksi untuk pengobatan / therapi kepada pasien yang sedang dirawat

A. PERSIAPAN

I. Persiapan Klien

- Cek perencanaan Keperawatan klien

- Klien diberi penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan

II. Persiapan Alat

- Jarum seteril dan spuit

- Kapas alkohol 70 %

- Alat tulis

- Obat injeksi ( vial / flacon ) sesuai order dokter

- Bengkok

- Kartu obat dan etiket

B. PELAKSANAAN

- Perawat cuci tangan

- Buka tutup dan bersihkan / desinfektan bagian atas botol ( karet ) dengan kapas alkohol

- Buang kapas alkohol ke bengkok

- Menarik udara secukupnya kedalam spuit

- Tusuk jarum tegak lurus ketengah karet penutup

- Mendorong udarah dalam spuit kadalam botol, membalikan vial dan tarik obat seumlah yang diperlukan

- Tarik jarum dengan menarik boto, keluarkan udara yang ada dalam spuit

- Jarum ditutup dan vial /’ flacon dibuang ke bengkok / tempatnya ( jika sudah habis )

- Beri etiket nama pada spuit dan masukan ketampat injeksi

- Perawat cuci tangan

C. EVALUASI

- Perhatikan dosisi obat, nama obat dan nama klien sesuai dengan order dari dokter

D. DOKUMENTASI

Mencatat tindakan yang telah dilakukan (waktu pelaksanaan, hasil tindakan, perawat yang melakukan ) pada catatan keperawatan

Baca Selengkapnya - Menyiapkan Injeksi dari Vial / Flacon

Pemberian Oksigen Melalui Nasal Kanul

Pemberian Oksigen Melalui Nasal Kanul

TINJAUAN UMUM

Suatu kegiatan untuk memenuhi kebutuhan oksigen dalam tubuh pada pasien yang mengalami kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan oksigen

PERSIAPAN

Persiapan Klien

- Cek perencanaan Keperawatan klien

- Klien diberi penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan

Persiapan Alat

- Tabung / central oksigen yang sudah dilengkapi dengan socket dan manometer / flowmeter

- Humedifier yang sudah di isi dengan aquadest sampai pembatas yang sudah ditentukan

- Nasal kanul

PELAKSANAAN

- Perawat cuci tangan

- Atur posisi yang nyaman

- Periksa manometer central O 2 / tabung O 2, humedifier dan flowmeter

- Hubungkan kanul dengan O 2 / alirkan O 2 yang rendah

- Masukan kedua ujung kanul ke dalam lubang hidung

- Mengatur aliran O 2 yang sesuai dengan terapi

- Membersihkan nasal kanul setiap 8 jam sekali

- Perawat cuci tangan

- Perhatikan dan catat reaksi klien setelah melakukan tindakan

EVALUASI

- Perhatikan respon klien dan hasil tindakan

DOKUMENTASI

Mencatat tindakan yang telah dilakukan (waktu pelaksanaan, respon klien, hasil tindakan, perawat yang melakukan ) pada catatan keperawatan

Baca Selengkapnya - Pemberian Oksigen Melalui Nasal Kanul

Mengganti Balutan Pada Pasien Luka Bakar

Mengganti Balutan Pada Pasien Luka Bakar

TINJAUAN UMUM

Menukar balutan/penutup luka yang sudah kotor atau yang lama dengan penutup/pembalutan luka yang baru

Gunanya untuk

- Mencegah terjadinya infeksi

- Mencegah masuknya kuman dan kotoran kedalam luka

- Mencegah infeksi silang

- Memberi rasa nyaman dan aman pada pasien

Operasional dilakukan pada :

Pasien Combustie ( luka bakar )

PERSIAPAN

Persiapan Alat

a. Alat Seteril

- 1 Pinset anatomi

- 2 pinset chirurgis

- 2 klem arteri

- 1 gunting lurus

- 2 kapas lidi

- 10-15 lembar kassa seteril

- 5 buah deppers

- mangkok seteril

- 1 tong sampak

a. Alat Tidak Seteril

- Gunting pembalut

- Plester kecil

- Botol berisi bensin cuci

- Mercurohroom

- Bengkok

- NaCl 1 ml, 500 cc

- Zalf Dermazia

- Kantong Plastik

- Obat-obatan desinfektan ( Savlon, bethadine, dll )

Persiapan Pasien

Pasien diberi penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan

PELAKSANAAN

1. Perawat cuci tangan

2. Balutan lama dibuka dan dibuang pada tempatnya

3. Bekas plester dibersihkan dengan kapas bensin

4. Luka dibersihkan dengan cairan NaCl ka satu arah dengan menggunakan deppers

5. Deppers kotor dibuang pada tempatnya

6. Pinset yang sudah dipakai disimpan pada bengkok yang bersisi desinfektan

7. Kemudian luka diobati dengan mercurohroom, setelah itu luka diberi zalf Dermazim dengan menggunakan tongspatel

8. Luka ditutup dengan kasa seteril secukupnya

9. Luka dibalut/diplester dengan rapih

10. Setelah selesai pasien dirapihkan dan alat-alat dibereskan ketempat semula

11. Perawat cuci tangan

EVALUASI

Mencatat hasil tindakan dan respon pasien pada dokumen keperawatan

Baca Selengkapnya - Mengganti Balutan Pada Pasien Luka Bakar

PEMERIKSAAN HEMOGLOBIN ( Hb )

PEMERIKSAAN HEMOGLOBIN ( Hb )

Dasar Teori

Hemoglobin merupakan protein sel darah merah ( SDM ) yang funsinya antara lain :

1. Mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan dan CO2 dan jaringan ke paru-paru

2. Memberi warna merah pada darah

3. Mempertahan kan keseimbangan asam basa dalam tubuh


Hemoglobin mengandung protein globin yang berkaitan dengan hem ( senyawa besi protein ), mempunyai berat molekul 64450 dalton. Di dalam darah mengandung Hb antara 7,8 – 12,2 mM/l atau 12,6 – 18,4 gr/dl, tergantung pada jenis kelamin dan umur individu.

Pada setiap tetramer Hb mampu mengikat 4 atom oksigen yang terikat pada atom ferro ( Fe 2+ ) dalam hem. Hemoglobin yang berikatan dengan oksigen disebut oksihemoglobin ( HbO2 ) sedang yang telah melepaskan oksigen disebut deoksihemoglobin ( HbCO ) jika Hb mengikat gas CO hasil pembakaran yang tidak sempurna. Ikatan Hb dengan CO, 200 kali lebih kuat disbanding ikatan Hb dengan oksigen. Dalam keadaan tertentu, Hb juga dapat berikatan sehingga besi teroksidasi ( Fe3+ ) membentuk methemoglobin ( Met Hb atau Hb ( Fe3+ ). Hb dalam bentuk MetHb akan menyebabkan kemampuan mengikat oksigennya menjadi hilang. Beberapa derivate hemoglobin satu sama lain dapat dibedakan dengan cara pengenceran. HbO2 pada pengenceran terlihat berwarna merah kekuningan, HbCO berwarna merah terang ( carmine tint ) sedang deoksihemoglobin ( Hb ) berwarna kecoklatan.


Metode

Hemoglobin Sianida ( Sianomethemoglobin )


Prinsip

Hemoglobin dengan larutan K2Fe ( CN )6 berubah menjadi methemoglobin kemudian menjadi hemoglobin sianida ( HiCN ) oleh KCN dengan absorbansi maksimum pada 540 nm. Pengaturan pH dilakukan dengan menambah KH2FO4, untuk mempercepat lisis eritrosit dan mengurangi kekeruhan HiCN ditambah non ionic detergent. Absorbansi warna berbanding lurus dengan konsentrasi Hb.


Persiapan Reagen

Larutan isi satu botol reagen dengan 500 nm akuabides, simpan dalam botol warna gelap. Reagen stabil bila disimpan dalam gelap pada suhu 15 – 25 oC selama 4 bulan.


Bahan dan Alat

Bahan : darah kapilerm darah vena-EDTA, akuabides dan reagen sianmethemoglobin

Alat : Erlenmeyer, tabung reaksi, spektrofotometer.


Cara Kerja

1. Disiapkan 3 tabung reaksi seukuran 5 ml, masing-masing diberi label reagen blanko ( RB ), Reagen standarr ( RTD ) dan Reagen Sampel ( RPL )

2. Tabubg RB diberi 5000 µl ( 5 cc ) Reagen Hb Cyanida

3. Tabung RTD diberi 20 µl sample darah standard an ditambah dengan 5000µl Reagen Hb Cyanida dicampur hingga homogen

4. Tabung RPL diberi 20 µl sample darah dan ditambah dengan 5000 µl Reagen Hn Cyanida didiamkan selama 3 menit pada suhu kamar

5. Diukur absorbansi RTD dan abs ( RPL ) terhadap reagen blanko pada panjang gelombang 578 nm


Perhitungan

Hb = Abs RPL X 15 G/DL

Abs RTD

Nilai normal :

Wanita : 12-16 g/dl

Pria : 14-18 g/dl

Bayi : 10-15 g/dl

Balita : 11-14 g/dl

Anak-anak : 12-16 g/dl

Bayi baru lahir : 16-25 g/dl

Bayi belum lahir : masih mengandung Hb fetal dari plasenta

Baca Selengkapnya - PEMERIKSAAN HEMOGLOBIN ( Hb )

Memberikan Obat Melalui Oral

Memberikan Obat Melalui Oral

Tinjauan Umum

Menyiapkan dan memberikan obat untuk pasien sadar melalui mulut dan dilanjutkan untuk ditelan

PERSIAPAN

Persiapan Klien

- Cek perencanaan Keperawatan klien

- Klien diberi penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan

Persiapan Alat

- Obat yang sudah ditentukan

- Gelas dan daftar obat

PELAKSANAAN

- Perawat cuci tangan

- Mengambil daftar obat dan obat kemudian diteliti kembali, smambil membuka pembungkus obat

- Menuangkan obat cair kedalam gelas obat, jaga kebersihan etiket obat

- Membawa obat da daftar obat ke klien sambil mencocokan nama pada tempat tidur dengan nama pada daftar obat

- Memberi obat satu persatu ke klien sambil menunggu sampai klien selesai minum

- Perawat cuci tangan

- Catat tindakan yang telah dilakukan

EVALUASI

- Perhatikan respon klien dan hasil tindakan

DOKUMENTASI

Mencatat tindakan yang telah dilakukan (waktu pelaksanaan, respon klien, hasil tindakan,nama obat dan dosis, perawat yang melakukan ) pada catatan keperawatan

Baca Selengkapnya - Memberikan Obat Melalui Oral

Melakukan Injeksi Intravena

Melakukan Injeksi Intravena

Suatu kegiatan pelayanan perawatan dalam memberikan obat suntikan pada pasien melalui intravena

A. PERSIAPAN

I. Persiapan Klien

- Cek perencanaan Keperawatan klien ( dosis, nama klien, obat, waktu pelaksanaan, tempat injeksi )

- Kaji riwayat alergi dan siapkan klien

- Klien diberi penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan

II. Persiapan Alat

- Spuit seteril dengan obat injeksi pada tempatnya yang sudah disiapkan

- Kapas alkohol 70 %

- Alat tulis

- Bengkok

- Kartu obat dan etiket

- Sarung tangan kalau perlu

B. PELAKSANAAN

- Perawat cuci tangan

- Mengidentifikasi klien, mengkaji rowayat alergi klien dan menyiapkan klien

- Memberitahu tindakan yang akan dilakukan dan pasang sampiran

- Jika perlu menggunakan sarung tangan

- Bersihkan / desinfeksi lokasi injeksi dengan alkohol dengan tekhnik sirkuler atau dari atas ke bawah sekali hapus

- Membuang kapas alkohol kedalam bengkok

- Memasukan jarum dengan sudut 90 O

- Lakukan aspirasi

- Memasukan obat secara perlahan – lahan

- Mencabut jarum

- Alat-alat dibereskan dan awasireaksi obat terhadap klien

- Perawat cuci tangan

- Catat tindakan yang dilakukan

C. EVALUASI

- Perhatikan dosisi obat, nama obat, nama klien sesuai dengan order dari dokter dan perhatikian juga respon klien terhadap obat

D. DOKUMENTASI

Mencatat tindakan yang telah dilakukan (waktu pelaksanaan, hasil tindakan, reaksi / respon klien terhadap obat, perawat yang melakukan ) pada catatan keperawatan

Baca Selengkapnya - Melakukan Injeksi Intravena

TEKNIK MEMBALUT LUKA

TEKNIK MEMBALUT LUKA

A.Jenis Pembalut/Perban

1.Perban segi tiga (Mitella)

2.Perban pita (Zwachtel)

3.Plester


B.Tujuan Membalut/Perban

1.Menutupi bagian yang cedera dari udara, cahaya, debu dan kuman.

2.Menopang yang cedera

3.Menahan dalam suatu sikap tertentu

4.Menekan

5.Menarik


C.Bahan Untuk Perban

Bahan yang diperlukan untuk membalut, antara lain salep, bubuk luka, plester, bahan penyerap (kasa atau kapas), kertas tissue, bahan tidak mudah menyerap (kertas khusus, kain taf, sutera), bahan elastis (spons, kapas).


D.Jenis – jenis Pembalutan

1.Perban segi tiga (Mitella)

Perban segi tiga dibuat dari kain belacu atau kain muslin, perbannya dibuat segitiga sama kaki yang puncaknya bersudut 900 . Panjang dasar segitiga kira-kira 125 cm dan kedua kakinya masing-masing 90 cm. Buatlah terlebih dahulu kain segi empat dengan sisi 90 cm lalu lipat dua atau digunting pada garis diagnonalnya.

2.Balut segi tiga untuk kepala

Untuk luka kepala dapat dipakai perban segi tiga. Dasar segi tiga dilipat selebar 5 cm 2 kali. Letakkan bagian tengah lipatan itu diatas dahi. Bagian yang mengandung lipatan diletakkan sebelah luar. Ujung puncak segi tiga ditarik ke belakang kepala sehingga puncak kepala tertutup kain segi tiga. Kedua ujung lipatan tadi dililitkan ke belakang kepala lalu kembali ke dahi dan dibuat simpul di dahi.

3.Balut segi tiga untuk bahu

Guntingan ujung puncak segitiga tegak lurus pada dasar sepanjang 25 cm. Kedua ujung yang baru dibuat dililitkan secara longgar ke leher, lalu diikat ke belakang. Dasar segi tiga ditarik sehingga bagian bahu yang cedera tertutup. Lalu kedua ujung dasar segi tiga dililitkan ke lengan dan diikat.

4.Balut segi tiga untuk dada

Gunting puncak segitiga tegak lurus pada dasarnya sepanjang 25 cm. Ikatlah kedua ujung puncak itu secara longgar dibelakang leher, sehingga dasar segi tiga berada di depan dada. Lipatlah dasar segi tiga beberapa kali sesuai dengan kebutuhan lalu ujung dasar tadi diikat di punggung.

5.Balut segi tiga untuk pantat

Gunting puncak segi tiga tegak lurus pada dasar sepanjang 25 cm. Ikatlah kedua ujung puncak itu melingkari paha yang cedera. Buatlah beberapa lipatan pada dasar segi tiga, lalu kedua ujungnya diikatkan melingkar di pinggang.


6.Balut segi tiga untuk tangan

Bila seluruh telapak tangan akan dibalut, dapat dipakai perban segi tiga. Letakkan dasar segitiga pada telapak tangan. Ujung puncak segitiga di lilitkan ke punggung tangan, sehingga seluruh jari – jari tertutup, lalu kedua ujung dasar segi tiga dililitkan beberapa kali pada pergelangan tangan dan diikat. Bila segi tiga terlalu besar, buatlah beberapa lipatan pada dasar segi tiga.


E.Cara Membuka Pembalut/Perban

Buka simpul perban, bila sulit, gunting saja. Tangan kanan memegang ujung perban. Bukalah gulungan dengan memindahkan perban itu ke kiri, lalu kembali lagi ke kanan dan ke kiri lagi. Begitu seterusnya sampai seluruh pembalut terlepas. Untuk membuka perban kotor pergunakan 2 buah pinset. Bila perban itu telah kotor atau tidak ingin dipakai lagi, lebih baik digunting dengan memakai gunting perban. Dengan demikian, perban lebih cepat terlepas.


F.Jenis – Jenis Perban Menurut Bahannya

1.Perban kasa :D ibuat dari benang yang dianyam jarang – jarang, sering dipakai untuk membalut pada anggota badan.

2.Perban planel :Kain berbulu dipakai sebagai perban penekan pada pertolongan pertama.

3.Perban kambrik:Terbuat dari benang kasar pemakaian-nya sama dengan kasa.

4.Perban trikot :Sering dipakai untuk membuat perban ransel.

5.Perban katun dan linen:Dipakai dalam keadaan darurat, sebagai pembalut, penekan dan penarik

6.Perban elastis:Dipakai untuk balutan penekan pada keseleo atau salah urat (luksasio dan sprain) atau untuk membalut anggota gerak yang telah diamputasi.

7.Perban cepat:Dipakai untuk pertolongan pertama pada kecelakaan, dalam peperangan pada luka tembak atau patah terbuka.

8.Perban gips


G.Cara – cara Membalut


1.Cara – cara khusus membalut perban kepala

a.Verban kepala fasela galenika

Cara memakainya adalah sebagai berikut :

Letakkan kain persegi itu diatas kepala dengan kedua ujung mengarah ke masing – masing telinga.

Ikatkanlah dengan peniti atau plester pita tengah dibawah dagu. Pita depan diikat ke belakang kepala, sedangkan pita belakang diikat ke dahi.

b.Perban pita untuk membalut kepala dengan cara mempersatukan (Fascia Union).

Perban yang dipakai dapat yang berkepala satu maupun yang berkepala dua. Dipakai untuk luka disamping kepala. Cara fascia union ini sangat merosot sehingga sekarang tidak dipakai lagi.


c.Perban kepala cara Fascia sagitalis

Perban kepala cara sagitalis memakai pembalut berkepala tiga atau disebut juga perban T. Perban ini dipakai untuk luka di kepala.

Mula – mula perban berkepala dua diletakkan pada dahi, lalu kedua ujung dililitkan ke belakang kepala. Ujung tengah perban juga diletakkan ke belakang. Setelah dihimpit dengan kedua ujung perban yang datang dari samping, kembalikan lagi ujung perban tengah ke depan. Demikian pula kedua ujung samping dililitkan kembali ke depan kepala sehingga mengimpit lagi ujung perban tengah. Demikianlah seterusnya sampai semua perban terpakai.

d.Perban kepala dengan cara pita silang (Fascia nodosa)

Dengan memakai perban berkepala dua. Bila kedua ujung perban telah sampai diatas salah satu telinga silangkanlah kedua perban itu lalu masing – masing ujung membalut dahi dan belakang kepala. Setelah kedua ujung sampai diatas telinga yang lain, dibuat pula silang, diatur menuju ke bawah dagu, bertemu kembali di atas telinga pertama, dan seterusnya.

e.Perban penutup kepala (Fascia kapitalis atau mitra hippokrates)

Sebaiknya dilakukan oleh dua orang. Dipakai sebagai perban penutup atau pelindung luka kepala yang luas.

Satu orang berulang – ulang melingkarkan perban. Mulai dari dahi terus ke belakang sambil menghimpit perban kedua yang diletakkan berulang – ulang di atas kepala oleh orang kedua dari arah depan kepala ke belakang kepala. Balutan digeser sedikit demi sedikit ke kiri dan ke kanan.


2.Cara – cara membalut mata

a.Membalut satu mata (Monokulus)

Dipakai untuk menutupi atau menekan luka pada mata dan sekitarnya. Buatlah lingkaran perban di sekitar dahi dan belakang kepala beberapa kali. Lalu secara berangsur-angsur dililitkan sedikit demi sedikit ke mata yang cedera dan belakang kepala, sehingga seluruh mata tertutup.

Usahakan agar lapisan perban terbawah tidak menutup mata yang sehat

b.Membalut kedua mata (Binoukulus)

Cara ini dipakai untuk menutupi atau menekan mata, misalnya pada operasi katarak. Caranya : Mulailah seperti membalut satu mata. Setelah melingkarkan lapisan perban terakhir disekitar depan dan belakang kepala, teruskan dengan melingkari mata yang lain dengan cara yang sama, tetapi dengan arah sebaliknya. Ujung perban terakhir dilekatkan dengan sepotong plester.


3.Perban telinga cara koroner

Balutlah perban melingkar dahi dan belakang kepala beberapa kali, lalu berangsur – angsur diarahkan ke arah telinga yang sakit. Lakukan balutan perban itu terus sampai seluruh telinga tertutup. Usahakan lapisan perban terakhir berada di lingkaran dahi lalu dilekatkan dengan plester.


4.Perban pada anggota gerak badan berbentuk bulat panjang

Untuk melakukan perban pada leher, lengan atas dan paha dapat dibalut dengan 2 cara yaitu :

a.Membalut biasa (Dolobra currens)

b.Membalut pucuk rebung (Dolobra reversa)

Setiap kali membalut harus diperhatikan agar :

a.Perban saling menutupi lapis demi lapis.

b.Gulungan perban tidak boleh bergeser, walaupun saling bekerja.

c.Lilitkan perban harus cukup kencang.


5.Membalut persendian

Untuk membalut persendian dipakai :

a.Cara balut silang (Spica)

b.Cara balut penyu (testudo)

Ad. 1 Cara balut silang pergelangan tangan

Mulailah dengan melilitkan perban beberapa kali pada pergelangan tangan, lalu arahkan perban ke distal melilit punggung tangan dan telapak tangan. Masukkan lilitan diantara ibu jari dan jari telunjuk, miring pada punggung tangan menuju pergelangan tangan. Lilitkan satu kali lalu ulangi pekerjaan itu sambil menggeser perban sedikit demi sedikit sehingga seluruh pergelangan tangan terbalut.

Ad. 2 Membalut sendi siku cara penyu keluar (Testudo cubiti Reversa)

1.)Bengkokkan sedikit siku yang akan dibalut.

2.)Balutkan perban beberapa kali pada pertengahan siku.

3.)Arahkan lilitan perban bergantian ke proksimal dan ke distal.

4.)Lanjutkan lilitan perban ke lengan atas dan ke lengan bawah berulang – ulang sampai seluruh sendi siku terbalut.

5.)Ujung lilitan perban terakhir dilekatkan dengan plester.


6.Cara-cara Membalut kaki (Membalut seluruh kaki)

a.Misalkan kaki kiri ingin dibalut, mulailah perban dari bagian punggung kaki menuju ke ujung jari – jari lalu ke telapak kaki. Peganglah dengan tangan kiri ujung perban yang ada di punggung. Dengan tangan kanan lilitkan perban untuk menutup jari – jari kaki dengan cara tadi. Bergantian ke lateral dan medial. Geserlah sedikit demi sedikit ke arah tengah jari – jari sehingga seluruh jari terbalut. Di telapak kaki, arah balutan melintang, sedangkan telapak kaki arahnya miring.

b.Kemudian lilitkan perban melintang punggung dan telapak kaki sehingga ujung – ujung perban tadi terhimpit. Buatlah lilitan perban sebanyak 3 lilitan sambil menggeser ke arah pergelangan kaki.

c.Sewaktu lilitan ke empat berada di punggung kaki, perban diarahkan di telapak kaki sekitar tumit. Kemudian dililitkan ke pergelangan kaki, terus ke punggung kaki lagi.

d.Ulangi lagi balutan seperti tadi beberapa kali, sampai seluruh kaki terbalut. Akhiri balutan pada pergelangan kaki.


H.Gips dan Pemasangannya.

Cara membuat gips spalk (Bidai gips)

Bila terjadi patah proximal, maka panjang gips spalk adalah dari pangkal jari sampai ke lengan atas kira – kira 2 jari dibawah lipatan ketiak.

Lengan harus ditekuk sampai 90 0 dengan telapak tangan agak diputar ke dalam (supinasi). Pergelangan tangan lurus dengan tulang lengan bawah.

Pada patah tulang tungkai bawah (Fraktur tibia dan fibula), gips spalk dan sirkuler harus dipasang mulai ujung jari sampai 2 – 3 cm dibawah sendi paha. Posisi kaki dan tungkai bawah dibuat sudut 900 sedangkan lutut agak ditekuk membuat sudut kira – kira 1700.

Pada patah tulang kaki dan tumit gips sirkuler dipasang mulai dari ujung jari sampai kira – kira 2 – 3 cm dibawah sendi lutut saja. Setelah diketahui panjangnya ukuran spalk, bukalah gulungan gips perban dan letakkan dimeja sepanjang ukuran yang diinginkan. Untuk anggota gerak atas, cukup dibuat 6 lapis, sedangkan untuk tungkai dibuat 8 – 10 lapis.

Setelah lapisan gips spalk selesai dibuat, basahkan lalu letakkan ke anggota gerak yang akan di gips. Sebelum di gips anggota gerak harus di reposisi dengan kain trikot atau kapas berlemak.

Setelah dipasang gips spalk, dibalut dengan perban kasa.

Gips sirkuler

Bila melakukan balutan secara gips sirkuler, setelah tulang yang patah direposisi, dilapisi dengan kapas berlemaj dan dipasang gips spalk langsung dibalut dengan perban gips dengan cara balut biasa. Gips yang telah dibalut itu diratakan dengan kedua telapak tangan agar perban gips melekat betul. Jari – jari tangan dan kaki bila tidak patah jangan di gips.

Bila dilakukan reposisi sanguinea, maka luka operasi ditutup dahulu dengan kasa steril yang telah dioles dengan antiseptik. Kemudian dipasang gips sirkuler. Luka operasi dibiarkan tertutup dengan gips, jahitan baru dilepas setelah gips dibuka.

Biasanya gips baru dibuka setelah terjadi kalus, untuk lengan memerlukan waktu 4 – 6 minggu, sedangkan untuk tungkai memerlukan 6 – 10 minggu. Makin muda usia seseorang, makin cepat sembuhnya.


Sumber :


E. Oswari. Bedah dan Perawatannya

Baca Selengkapnya - TEKNIK MEMBALUT LUKA

Pedoman Asuhan Persalinan Normal

Tingginya kasus kesakitan dan kematian ibu di banyak negara berkembang, terutama disebabkan oleh perdarahan pascapersalinan, eklampsia, sepsis dan komplikasi keguguran. Sebagian besar penyebab utama kesakitan dan kematian ibu tersebut sebenarnya dapat dicegah. Melalui upaya pencegahan yang efektif, beberapa negara berkembang dan hampir semua negara maju, berhasil menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu ke tingkat yang sangat rendah.

Asuhan Kesehatan Ibu selama dua dasawarsa terakhir terfokus pada:

a) Keluarga Berencana untuk membantu para ibu dan suaminya merencanakan kehamilan yang diinginkan

b) Asuhan Antenatal Terfokus untuk memantau perkembangan kehamilan, mengenali gejala dan tanda bahaya, menyiapkan persalinan dan kesediaan menghadapi komplikasi

c) Asuhan Pascakeguguran untuk menatalaksana gawat-darurat keguguran dan komplikasinya serta tanggap terhadap kebutuhan pelayanan kesehatan reproduksi lainnya.

d) Persalinan yang Bersih dan Aman serta Pencegahan Komplikasi

Kajian dan bukti ilmiah menunjukkan bahwa asuhan persalinan bersih, aman dan tepat waktu merupakan salah satu upaya efektif untuk mencegah terjadinya kesakitan dan kematian

e) Penatalaksanaan Komplikasi yang terjadi sebelum, selama dan setelah persalinan.

Dalam upaya menurunkan kesakitan dan kematian ibu, perlu diantisipasi adanya keterbatasan kemampuan untuk menatalaksana komplikasi pada jenjang pelayanan tertentu. Kompetensi petugas, pengenalan jenis komplikasi, dan ketersediaan sarana pertolongan menjadi penentu bagi keberhasilan penatalaksanaan komplikasi yang umumnya akan selalu berbeda menurut derajat, keadaan dan tempat terjadinya

Pergeseran Paradigma

Fokus asuhan persalinan normal adalah persalinan bersih dan aman serta mencegah terjadinya komplikasi. Hal ini merupakan pergeseran paradigma dari menunggu terjadinya dan kemudian menangani komplikasi, menjadi pencegahan komplikasi. Persalinan bersih dan aman serta pencegahan komplikasi selama dan pascapersalinan terbukti mampu mengurangi kesakitan atau kematian ibu dan bayi baru lahir.

Beberapa contoh dibawah ini, menunjukkan adanya pergeseran paradigma tersebut diatas:

=C2=B7 Mencegah Perdarahan Pascapersalinan yang disebabkan oleh Atonia Uteri

Upaya pencegahan perdarahan pascapersalinan dimulai pada tahap yang paling dini. Setiap pertolongan persalinan harus menerapkan upaya pencegahan perdarahan pascapersalinan, diantaranya manipulasi minimal proses persalinan, penatalaksanaan aktif kala III, pengamatan melekat kontraksi uterus pascapersalinan. Upaya rujukan obstetrik dimulai dari pengenalan dini terhadap persalinan patologis dan dilakukan saat ibu masih dalam kondisi yang optimal.

=C2=B7 Laserasi/episiotomi

Dengan paradigma pencegahan, episiotomi tidak lagi dilakukan secara rutin karena dengan perasat khusus, penolong persalinan akan mengatur ekspulsi kepala, bahu, dan seluruh tubuh bayi untuk mencegah laserasi atau hanya terjadi robekan minimal pada perineum.

=C2=B7 Retensio plasenta

Penatalaksanaan aktif kala tiga dilakukan untuk mencegah perdarahan, mempercepat proses separasi dan melahirkan plasenta dengan pemberian uterotonika segera setelah bayi lahir dan melakukan penegangan tali pusat terkendali.

=C2=B7 Partus Lama

Untuk mencegah partus lama, asuhan persalinan normal mengandalkan penggunaan partograf untuk memantau kondisi ibu dan janin serta kemajuan proses persalinan. Dukungan suami atau kerabat, diharapkan dapat memberikan rasa tenang dan aman selama proses persalinan berlangsung. Pendampingan ini diharapkan dapat mendukung kelancaran proses persalinan, menjalin kebersamaan, berbagi tanggung jawab diantara penolong dan keluarga klien.

=C2=B7 Asfiksia Bayi Baru Lahir

Pencegahan asfiksia pada bayi baru lahir dilakukan melalui upaya pengenalan/penanganan sedini mungkin, misalnya dengan memantau secara baik dan teratur denyut jantung bayi selama proses persalinan, mengatur posisi tubuh untuk memberi rasa nyaman bagi ibu dan mencegah gangguan sirkulasi utero-plasenter terhadap bayi, teknik meneran dan bernapas yang menguntungkan bagi ibu dan bayi. Bila terjadi asfiksia, dilakukan upaya untuk menjaga agar tubuh bayi tetap hangat, menempatkan bayi dalam posisi yang tepat, penghisapan lendir secara benar, memberikan rangsangan taktil dan melakukan pernapasan buatan (bila perlu). Berbagai upaya tersebut dilakukan untuk mencegah asfiksia, memberikan pertolongan secara tepat dan adekuat bila terjadi asfiksia dan mencegah hipotermia.

Paradigma baru (aktif) yang disebutkan sebelumnya, terbukti dapat mencegah atau mengurangi komplikasi yang sering terjadi. Hal ini memberi manfaat yang nyata dan mampu membantu upaya penurunan angka kematian ibu dan bayi baru lahir. Karena sebagian besar persalinan di Indonesia terjadi di desa atau di fasilitas pelayanan kesehatan dasar dimana tingkat keterampilan petugas dan sarana kesehatan sangat terbatas maka paradigma aktif menjadi sangat strategis bila dapat diterapkan pada tingkat tersebut. Jika semua penolong persalinan dilatih agar kompeten untuk melakukan upaya pencegahan atau deteksi dini secara aktif terhadap berbagai komplikasi yang mungkin terjadi, memberikan pertolongan secara adekuat dan tepat waktu, dan melakukan upaya rujukan segera dimana ibu masih dalam kondisi yang optimal maka semua upaya tersebut dapat secara bermakna menurunkan jumlah kesakitan atau kematian ibu dan bayi baru lahir.

Pelatihan Asuhan Persalinan Normal

Kajian kinerja petugas pelaksana pertolongan persalinan di jenjang pelayanan dasar yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia, bekerjasama dengan Perkumpulan Obstetri Ginekologi Indonesia (POGI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Jaringan Nasional Pelatihan Klinik Kesehatan Reproduksi (JNPK-KR) dengan bantuan teknis dari JHPIEGO dan PRIME menunjukkan adanya kesenjangan kinerja yang dapat mempengaruhi kualitas pelayanan bagi ibu hamil dan bersalin. Temuan ini berlanjut menjadi kerjasama untuk merancang pelatihan klinik yang diharapkan mampu untuk memperbaiki kinerja penolong persalinan. Dasar pelatihan klinik asuhan persalinan normal ini adalah asuhan yang bersih dan aman dari setiap tahapan persalinan dan upaya pencegahan komplikasi terutama perdarahan pascapersalinan dan hipotermia serta asfiksia bayi baru lahir.

Asuhan Persalinan Normal

Tujuan asuhan persalinan normal adalah menjaga kelangsungan hidup dan memberikan derajat kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayinya, melalui upaya yang terintegrasi dan lengkap tetapi dengan intervensi yang seminimal mungkin agar prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada tingkat yang diinginkan (optimal). Dengan pendekatan seperti ini, berarti bahwa:

Setiap intervensi yang akan diaplikasikan dalam asuhan persalinan normal harus mempunyai alasan dan bukti ilmiah yang kuat tentang manfaat intervensi tersebut bagi kemajuan dan keberhasilan proses persalinan

Keterampilan yang diajarkan dalam pelatihan asuhan persalinan normal harus diterapkan sesuai dengan standar asuhan bagi semua ibu bersalin di setiap tahapan persalinan oleh setiap penolong persalinan dimanapun hal tersebut terjadi. Persalinan dan kelahiran bayi dapat terjadi di rumah, puskesmas atau rumah sakit. Penolong persalinan mungkin saja seorang bidan, perawat, dokter umum atau spesialis obstetri. Jenis asuhan yang akan diberikan, dapat disesuaikan dengan kondisi dan tempat persalinan sepanjang dapat memenuhi kebutuhan spesifik ibu dan bayi baru lahir.

Praktik-praktik pencegahan yang akan dijelaskan dalam buku acuan ini adalah:

a. Secara konsisten dan sistematis menggunaka= n praktik pencegahan infeksi seperti cuci tangan, penggunaan sarung tang= an, menjaga sanitasi lingkungan yang sesuai bagi proses persalinan, kebutuhan bayi dan proses ulang peralatan bekas pakai.

b. Memberikan asuhan yang diperlukan, memantau kemajuan dan menolong proses persalinan serta kelahiran bayi. Menggunakan partograf untuk membuat keputusan klinik, sebagai upaya pengenalan adanya gangguan proses persalinan atau komplikasi dini agar dapat memberikan tindakan yang paling tepat dan memadai.

c. Memberikan asuhan sayang ibu di setiap tahapan persalinan, kelahiran bayi dan masa nifas, termasuk memberikan penjelasan bagi ibu dan keluarganya tentang proses persalinan dan kelahiran bayi serta menganjurkan suami atau anggota keluarga untuk berpartisipasi dalam proses persalinan dan kelahiran bayi.

d. Merencanakan persiapan dan melakukan rujukan tepat waktu dan optimal bagi ibu di setiap tahapan persalinan dan tahapan waktu bayi baru lahir.

e. Menghindarkan berbagai tindakan yang tidak perlu dan/atau berbahaya seperti misalnya kateterisasi urin atau episiotomi secara rutin, amniotomi sebelum terjadi pembukaan lengkap, meminta ibu meneran secara terus-menerus, penghisapan lendir secara rutin pada bayi baru lahir.

f. Melaksanakan penatalaksanaan aktif kala tiga untuk mencegah perdarahan pascapersalinan.

g. Memberikan asuhan segera pada bayi baru lahir termasuk mengeringkan dan menghangatkan bayi, pemberian ASI sedini mungkin dan eksklusif, mengenali tanda-tanda komplikasi dan mengambil tindakan-tindakan yang sesuai untuk menyelamatkan ibu dan bayi baru lahir.

h. Memberikan asuhan dan pemantauan pada masa awal nifas untuk memastikan kesehatan, keamanan dan kenyamana ibu dan bayi baru lahir, mengenali secara dini gejala dan tanda bahaya atau komplikasi pascapersalinan/bayi baru lahir dan mengambil tindakan yang sesuai.

i. Mengajarkan pada ibu dan keluarganya untuk mengenali gejala dan tanda bahaya pada masa nifas pada ibu dan bayi baru lahir

j. Mendokumentasikan semua asuhan yang telah diberikan.

Pada akhir pelatihan, peserta latih harus menguasai pengetahuan dan keterampilan yang telah ditetapkan sehingga mampu untuk memberikan asuhan persalinan yang aman dan bersih serta mencegah terjadinya komplikasi pada ibu dan bayi baru lahir, baik di setiap tahapan persalinan, kelahiran bayi maupun pada awal masa nifas. Peserta latih adalah petugas kesehatan yang akan menjadi pelaksana pertolongan persalinan, juga harus mampu untuk mengenali (sejak dini) setiap komplikasi yang mungkin terjadi dan mengambil tindakan yang diperlukan dan sesuai dengan standar yang diinginkan. Praktik terbaik asuhan persalinan normal terbukti mampu mencegah terjadinya berbagai penyulit atau komplikasi yang dapat mengancam keselamatan jiwa ibu dan bayi baru lahir sehingga upaya perbaikan status kesehatan dan kualitas hidup kelompok rentan risiko ini dapat diwujudkan.

UNTUK LEBIH JELASKAN SILAHKAN DOWNLOAD MATERI BERIKUT

1. PENDAHULUAN

2. DAFTAR ISI

3. BAB I, BAB 2, BAB3, BAB4, BAB5, BAB6, DAN BAB6B
Baca Selengkapnya - Pedoman Asuhan Persalinan Normal

Arsip

0-Asuhan Kebidanan (Dokumen Word-doc) 0-KTI Full Keperawatan (Dokumen Word-doc) Anak Anatomi dan Fisiologi aneh lucu unik menarik Antenatal Care (ANC) Artikel Bahasa Inggris Asuhan Kebidanan Asuhan Keperawatan Komunitas Asuransi Kesehatan Berita Hiburan Berita Terkini Kesehatan Berita Tips Twitter Celeb contoh Daftar Pustaka Contoh KTI Contoh KTI Kebidanan Farmakologi (Farmasi) Gadar-kegawatdaruratan Gizi Handphone Hirschsprung Hukum Kesehatan Humor Segar (Selingan) Imunisasi Info Lowongan Kerja Kesehatan Intranatal Care (INC) Jiwa-Psikiatri kamus medis kesehatan online Kebidanan Fisiologis Kebidanan Patologis Keluarga Berencana (KB) Keperawatan Gerontology Kesehatan Anak (UMUM) Kesehatan Bayi (untuk UMUM) Kesehatan Haji Kesehatan Ibu Hamil (untuk UMUM) Kesehatan Ibu Menyusui (untuk UMUM) Kesehatan Pria (untuk UMUM) Kesehatan Remaja Kesehatan Reproduksi (Kespro) Kesehatan Wanita (untuk UMUM) Koleksi Skripsi Umum Konsep Dasar KTI D-3 Kebidanan KTI Skripsi Keperawatan kumpulan askep Laboratorium Lain-lain Makalah Keperawatan Kebidanan Managemen Kesehatan Mikrobiologi Motivasi Diri Napza dan zat Adiktif Neonatus dan Bayi News Penyakit Menular potensi KLB Penyakit Menular Seksual (PMS) Postnatal Care (PNC) Protap-SOP Psikologi-Psikiater (UMUM) Reformasi Kesehatan Sanitasi (Penyehatan Lingkungan) Satuan Acara Penyuluhan (SAP) Sistem Endokrin Sistem Immunologi Sistem Indera Sistem Integumen Sistem Kardiovaskuler Sistem Muskuloskeletal Sistem Neurologis Sistem Pencernaan Sistem Perkemihan Sistem Pernafasan Surveilans Penyakit Teknologi Tips dan Tricks Seks Tips Facebook Tips Karya Tulis Ilmiah (KTI) Tips Kecantikan Tips Kesehatan Umum Tokoh Kesehatan Tutorial Blogging Youtuber