Cari Blog Ini

KONSEP KOMUNITAS

KONSEP KOMUNITAS
Pengertian Komunitas/Masyarakat
Istilah masyarakat berasal dari bahasa arab yaitu “syark” yang artinya saling bergaul dan saling berperan serta. Menurut beberapa ahli, masyarakat didefinisikan sebagai berikut:
1. Menurut Maclver dan Page, masyarakat adalah suatu sistim dari kebiasaan dan tata cara dari wewenang dan kerjasama antara berbagai kelompok penggolongan dan pengawasan tingkah laku, serta kebebasan – kebebasan manusia.
2. Menurut Ralph dan Linton (ahli antropologi), masyarakat adalah sekelompok manusia yang telah hidup dan bekerja sama cukup lama, sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan dengan batas – batas tertentu.
3. Menurur Selo Sumardjan, masyarakat adalah orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.
4. Menurut Paul B. Horton & C. Hunt masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok / kumpulan manusia tersebut.

Unsur - unsur Pembentuk masyarakat/Komunitas
1. Kategori social
Kesatuan manusia yang terwujud karena adanya cirri yang objektif dikarenakan manusia – manusianya seperti: jenis kelamin, usia dan pendapatan. Masyarakat bisa disebut sebagai kategori apabila memiliki criteria: tidak ada interaksi antar anggota, tidak ada ikatan moral bersama yang dimiliki, tidak ada harapan – harapan peran.
2. Golongan social
Suatu kesatuan manusia yang ditanda dengan cirri – cirri tertentu yang sering kali cirri – cirri itu dikenakan pada mereka dari kalangan pihak luar mereka sendiri, namun golongan social terikat sistim nilai, moral dan adat istiadat tertentu.
3. Komunitas
Suatu kesatuan hidup yang menempati wilayah nyata dan berinteraksi menurut suatu system adat istiadat serta terikat atau dibatasi wilayah geografis.
4. Kelompok
Sekumpulan manusia yang berinteraksi antar anggotanya, mempunyai adat istiadat tertentu, norma – norma yang berkesinambungan dan adanya rasa identitasnya yang sama serta punya organisasi dan sistem pimpinan.
5. Perhimpunan
Kesatuan manusia yang berdasarkan sifat, tugas dan/atau guna yang sifat hubungannya berdasarkan kontrak serta pimpinan berdasarkan wewenang dan kontrak.

Ciri – ciri masyarakat
1. Adanya interaksi antar sesame anggota.
2. Saling bergantung.
3. Menempati wilayah dengan batas tertentu.
4. Adanya adat istiadat, norma, hokum serta aturan yang mengatur pola tingkah laku anggotanya.
5. Adanya rasa identitas yang kuat dan mengikat semua warganya seperti: bahasa, pakaian, symbol – symbol tertentu(perumahan), benda – benda tertentu(mata uang, alat pertanian) dan lain – lain.
6. Adanya kesinambuangan dalam waktu.

Masyarakat terdiri dari dua jenis.
1. Masyarakat Desa, dengan cirri:
- Hubungan keluarga dan masyarakat sangat kuat.
- Adat istiadat masih dipegang kuat sekali.
- Sebagian besar memiliki kepercayaan terhadap hal – hal gaib.
- Tingkat buta huruf masih tinggi.
- Masih berlaku hokum taktertulis.
- Jarang bahkan tad ada lembaga pendidikan khusus dibidang teknologi dan keterampilan.
- System ekonomi sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sebagian kecil dijual.
- Gotong royong sangat kuat
2. Masyarakat kota, dengan cirri:
- Hubungan didasarkan atas kepentingan pribadi.
- Hubungan antar masyarakat dilakukan secara terbuka dan saling mempengaruhi.
- Kepercayaan masyarakat yang kuat akan manfaat ilmu pengetahuan dan tegnologi.
- Strata masyarakat digolongkan menurut profesi dan keahlian.
- Tingkat pendidikan formal tinggi dan merata.
- Hokum yang berlaku adalah hokum tertulis.
- Ekonomi hampir seluruhnya ekonomi pasar.

Syarat – syarat terbentuknya masyarakat
- Setiap anggota kelompok harus sadar bahwa dia merupakan bagian dari kelompok yang bersangkutan.
- Adanya hubungan timbal balik antar anggota yang satu dengan anggota yang lainnya.
- Adanya suatu factor yang dimilki bersama, sehingga hubungan antara mereka bertambah erat.
- Berstruktur, berkaidah dan mempunyai pola perilaku.
- Bersistem dan berproses.

Tipe – tipe masyarakat
1. Tipe paguyuban.
Suatu kelompok yang didalamnya terdiri atas anggota – anggota yang hidup bersama dan masing – masing diikat oleh hubungan batin yang murni, yang bersifat alamiah, serta kekal. Oleh karena itu hubungan bersifat intim, privasi, serta eksklusif.
2. Masyarakat petembangan.
Kelompok dimana antar anggotanya bersifat longgar, berjangka tertentu (tidak langgeng), serta bersifat kontraktual.
3. In – group.
Kelompok yang oleh anggota – anggotanya dijadikan tempat untuk mengidentifikasi kan jati dirinya.
4. Out – group.
Kelompok yang oleh anggota – anggotanya diartikan sebagai lawan in group.
5. Primary group.
Kelompok yang ditandai dengan adanya saling mengenal antar anggota – anggotanya adanya kerjasama yang bersifat erat dan utuh.
6. Secondary group.
Kelompok social yang terdiri atas banyak orang yang kerjasama antar anggotanya bersifat rasional dan ekonomis.

Faktor – factor yang mempengaruhi kesehatan masyarakat.
Selama ini telah diketahui suatu hubungan yang erat antara kesehatan masyarakat dengan pertumbuhan ekonominya, khususnya ketika manfaat pembangunan iti dapat tersebar secara merata. Baru – baru ini telah ditelaah pula hubungan lain yang sama eratnya antara penghargaan masyarakat terhadap hak asasi manusia dan tingkat sisial masyarakat serta pertumbuhan ekonominya.


Faktor – factor yang mempengaruhi:

1. Kemiskinan dan ketimpangan pertumbuhan.
Pengaruh globalisasi tidak memberikan keuntungan pada semua bangsa, sekitar 1,3 miliar orang mutlak hidup dalam kemiskinan dan 3 miliar orang tidak memilki air bersih, selain itu untuk memperjuangkan kebutuhan manusia yang sangat besar ini rakyat dikebanyakan negara yang miskin sumber dayanya menanggung utang yang besar sehingga dana untuk membangun fasilitas kesehatan tidak tersedia dengan cukup.
2. Perubahan demografik dan epidemiologic.
Peningkatan jumlah penduduk yang besar berakibat akan meningkatnya konsumsi sumber daya yang ada dan itu merupakan sumber masalah yang serius bagi pemenuhan kebutuhan bagi generasi yang akan dating. Penduduk dengan usia produktif yang tinggi juga akan memberikan tekanan terhadap pelayanan kesehatan. Banyak Negara miskin semakin terpuruk dengan adanya penyakit menular seperti HIV/AIDS, kolera, malaria dan TBC. Negara ini akan menghadapi tantangan ganda yang disebut transisi epidemiologic.
3. Penyakit menular, malnutrisi, kematian ibu bersalin.
Dampak kehidupan dunia global : perdagangan, perjalanan, urbanisasi, pengungsian akibat bencana yang disebabkan oleh manusia, ditambah pula oleh evolusi mikroba atau resistensi antibiotic telah menjadi masalah yang kompleks. Penyakit menular akan turut juga berkembang ditunjang dengan adanya gizi buruk yang belum mendapat penanganan serius. Pada akhir abad ke-20 hanya sekitar 55% dari wanita dinegara – Negara berkembang ditolong oleh tenaga terlatih dalam proses persalinannya dan diperkirakan 600.000 wanita meninggal setiap tahunnya karena penyakit yang berkaitan dengan kehamilannya.
4. Penyakit dalam kehidupan modern.
Penyakit – penyakit yang tidak menular banyak disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat menjadi penyumbang yang signifikan terhadap munculnya penyakit yang membebani dunia. Jika kecenderungan ini terus berlanjut, perilaku seperti penggunaan tembakau, diet tinggi lemak, kegemukan, diet tinggi lemak, kegemukan dan risiko lain yang terkait dengan gaya hidup.
5. Kekerasan, pencederaan dan kerawanan social.Ada beberapa bentuk kekerasan, dari yang sangat jelas, seperti konflik bersenjata sampaii kekerasan fisik. Diera modern ini secara cepat media – media mampu menyajikan film – film kekerasan dan game yang bertemakan “pembunuhan”. Dinegara maju kepemilikan senjata api menjadi sangat mudah, walaupun sangat sulit menetapkan hubungan sebab akibat antara jumlah senjata, kekerasan yang berasal dari dunia hiburan dikaitkan dengan kriminalitas yang dilakukan oleh para remaja dan pemuda. Selain itu saat ini juga dikhawatirkan tentang hubungan manusiayang semakin lemah (dikeluarga, antargenerasi, dan dimasyarakat) yang sering kali menghasilkan kerawanan social.


Daftar Pustaka:
American Nurses Association.2004. Scope and Standard of Nurse Administrator. Edisi 2. Woshington: Nursesbooks.org
Anderson, Elzabeth T. 2007. Buku Ajar Keperawatan: Teori dan Praktik. Alih Bahasa, Agus Sutarna, Suharyati Samba, Novayantie. Jakarta: EGC
Efendi, Ferry dan Makhfudli.2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan Praktek Dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika .
Mubarak, Wahit Iqbal dan Chayatin, Nurul.2009. Ilmu Keperawatan Komunitas I: Pengantar dan Teori. Jakarta: Salemba Medika
http://askep-askeb.cz.cc/
Baca Selengkapnya - KONSEP KOMUNITAS

KONSEP KEPERAWATAN KESEHATAN KOMUNITAS

Rata PenuhKONSEP KEPERAWATAN KESEHATAN KOMUNITAS

Pengertian Keperawatan Kesehatan Komunitas
- Menurut American Nurses Association (ANA) mendefinisikan keperawatan kesehatan komunitas sebagai tindakan untuk meningkatkan dan mempertahankan kesehatan dari populasi dengan mengintegrasikan ketrampilan dan pengetahuan yang sesuai dengan keperawatan dan kesehatan masyarakat.
- Menurut American Public Health Association, yaitu sintesis dari ilmu kesehatan masyarakat dan teori keperawatan professional yang bertujuan meningkatkan derajat kesehatan pada keseluruhan komunitas.
- Rapat kerja keperawatan kesehatan masyarakat mendefinisikan keperawatan komunitas sebagai suatu bidang perawatan yang merupakan perpaduan antara keperawatan dan kesehatan dengan dukungan peran serta masyarakat secara aktif serta mengutamakan pelayanan promotif dan preventif secara berkesinambungan tanpa mengabaikan pelayanan kuratif dan rehabilitative secara menyeluruh dan terpadu yang ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, serta masyarakat sebagai kesatuan utuh melalui proses keperawatan untuk meningkatkan fungus kehidupan manusia secara optimal, sehingga mampu mandiri dalam upaya kesehatan.

Perbedaan Keperawatan Komunitas dengan Disiplin Keperawatan yang lain.
Keperawatan kesehatan komunitas dibedakan dari spesialis keperawatan lainnya berdasarkan delapan prinsip dibawah ini:
- Klien atau unit keperawatan merupakan suatu populasi.
Selain memberikan asuhan pada individu, keluarga dan kelompok tetapi tanggung jawab tetap lebih dominan pada populasi.

- Tugas utama adalah meraih yang terbaik bagi sejumlah orang atau populasi keseluruhan.
Perawat kesehatan komunitas mengidentifikasi kemungkinan menemukan individu yang kebutuhannya tidak sesuai dengan prioritas kesehatan yang menguntungkan bagi populasi secara keseluruhan.

- Proses yang digunakan oleh perawat komunitas termasuk bekerja dengan klien sebagai mitra yang sejajar.
Perawat kesehatan komunitas harus menggambarkan kesadaran mengenai kebutuhan yang komprehensif dari kesehatan dalam kemitraan dengan komunitas.

- Pencegahan primer merupakan hal yang prioritas dalam memilih tindakan yang sesuai.
Pencegahan primer meliputi promosi strategi kesehatan dan proteksi kesehatan.

- Memilih strategi untuk menciptakan lingkungan sehat, kondisi social dan ekonomi pada populasi yang berkembang merupakan focus utama.
Intervensi keperawatan kesehatan komunitas meliputi pendidikan, pengembangan masyarakat, perencanaan social, kebijakan pengembangan serta enforcement. Advokasi pada komunitas untuk menciptakan kondisi sehat merupakan hal yang penting.

- Tanggung jawab mencakup keseluruhan populasi yang memerlukan intervensi atau pelayanan spesifik.
Keperawatan kesehatan komunitas berfokus pada keseluruhan populasi dan tidak hanya pada masyarakat yang dating ke pelayanan.

- Penggunaan sumber – sumber kesehatan yang optimal untuk mendapatkan perbaikan yang terbaik dari populasi merupakan kunci pokok dari kegiatan praktik.
Perawat kesehatan komunitas harus terlibat dalam koordinasi dan organisasi tindakan dalam merespon isu – isu yang berhubungan denagn kesehatan. Perawat komunitas harus memberikan masukan pada pembuat kebijakan berdasarkan bukti – bukti otentik.

- Kolaborasi dengan berbagai jenis profesi, organisasi, dan perkumpulan merupakan cara paling efektif untuk mempromosikan dan melindungi kesehatan populasi.
Perawat kesehatan komunitas diharapkan bekerja sama dengan berbagai professi dan disiplin ilmu dalam upaya peningkatan kesehatan populasi.



Area Praktik Keperawatan Kesehatan Komunitas.

Keperawatan kesehatan komunitas merupakan praktik promotif dan proteksi kesehatan populasi yang menggunakan pengetahuan atau ilmu keperawatan, social dan kesehatan masyarakat (American Publik Health Association, 1996). Praktik yang dilakukan berfokus pada populasi dengan tujuan utama promosi kesehatan dan mencegah penyakit serta kecacatan untuk semua melalui kondisi yang diciptakan dimana orang bisa menjadi sehat.

Perawat kesehatan komunitas bisa bekerja sama dengan komunitas dan populasi untuk mengurangi risiko angka kesakitan serta meningkatkan, mempertahankan dan memperbaiki kembali kesehatan.

Perawat kesehatan komunitas melakukan advokasi pada tingkat system untuk mengubah kesehatan serta harus mengaplikasikan konsep pengorganisasian dan pengembangan komunitas, koordinasi perawatan, pendidikan kesehatan, kesehatan lingkungan dan ilmu kesehatan masyarakat.

Perawat kesehatan komunitas bekerja sama dengan populasi dan berbagai kelompok meliputi:
· Anggota dari tim kesehatan masyarakat seperti epidemiologi, pekerja social, nutrisionis dan pendidik kesehatan.
· Organisasi kesehatan pemerintah.
· Penyedia layanan kesehatan.
· Organisasi dan koalisi masyarakat.
· Unit pelayanan komunitas seperti sekolah, lembaga bantuan hokum dan unit gawat darurat.
· Industry dan bisnis.
· Institusi penelitian dan pendidikan.

Menurut Depkes RI (2006), pelayanan keperawatan komunitas dapat diberkan langsung pada semua tatanan pelayanan kesehatan seperti:
· Unit pelayanan kesehatan yang mempinyai pelayanan rawat jalan dan rawat inap(RS, puskesmas, dll)

· Rumah.
Perawat home care memberikan pelayanan pada keluarga dirumah yang menderita penyakit akut maupun kronis. Peran home care adalah untuk meningkatkan fungsi keluarga dalam perawatan anggota keluarga yang sakit ataupun yang berisiko.

· Sekolah.
Perawat sekolah dapat melakukan perawat day care, selain itu dapat juga melakukan pemeriksaan secara keseluruhan (screening), mempertahankan kesehatan dan memberikan pendidikan kesehatan.

· Tempat kerja atau industry.
Perawat melakukan kegiatan perawatan langsung dengan kasus kesakitan atau kecelakaan minimal ditempat kerja dan industry. Selain itu perawat juga memberikan pendidikan kesehatan
· Barak penampungan.
Perawat memberikan tindakan langsung pada kasus prnyakit akut, kronis serta kecacatan fisik ganda dan mental.

· Kegiatan Pusling.
Diberikan kepada individu, kelompok masyarakat dipedesaan dan kelompok terlantar. Bentuk pelayanan seperti pengobatan sedeerhana, screening kesehatan, kasus penyakit akut dan kronis, pengelolaan dan rujukan kasus penyakit.

· Panti atau kelompok khusus lain seperti panti asuhan anak, panti wreda, panti social,Rutan.

· Pelayanan pada kelompok resiko tinggi:
- Kelompok wanita, anak dan lansia yang mendapat perlakuan kekerasan.
- Pusat pelayanan kesehatan jiwa dan penyalahgunaan obat.
- Tempat penampungan kelompok dengan HIV/AIDS dan Wanita Tuna Susila.

Sasaran Keperawatan Kesehatan Komunitas (DEPKES, 2006)
· Individu.
Sasaran prioritas individu adalah balita gizi buruk, ibu hamil resiko tinggi, usia lanjut,penderita penyakit menular (TB paru, kusta, malaria, demam berdarah, diare, ISPA atau pneumonia) dan penderita penyakit degenerative.

· Keluarga.
Keluarga yang rentan terhadap masalah kesehatan (vulnerable group) atau risiko tinggi (highrisk group) dengan prioritas sebagai berikut.
- Keluarga miskin yang belum pernah kontak dengan sarana pelayanan kesehatan dan yang belum punya kartu sehat.
- Keluarga miskin yang sudah memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan serta mempunyai masalah kesehatan terkait dengan TumBang balita, kesehatan reproduksi dan penyakit menular.
- Keluarga yang tidak termasuk miskin dan mempunyai masalah kesehatan prioritas serta belum memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan.

· Kelompok.
Kelompok yang masyarakat khusus yang rentan terhadap timbulnya masalah kesehatan baik yang terikat maupun tidak terikat dalam satu institusi.
- Kelompok tidak terikat: posyandu, kelompok balita, ibu hamil, usia lanjut, penderita peyakit tertentu dan pekerja informal.
- Kelompok terikat: sekolah, pesantren, panti asuhan, panti wreda, rutan.

· Masyarakat.
Masyarakat yang rentan atau mempunyai risiko tinggi terhadap timbulnya masalah kesehatan seperti berikut:
- Masyarakat disuatu wilayah (RT, RW, Kelurahan, desa) yang mempunyai:
Ø Jumlah bayi meninggal lebih tinggi disbanding daerah lain.
Ø Jumlah penderita penyakit tertentu lebih tinggi disbanding daerah lain.
Ø Cakupan pelayanan kesehatan lebih rendah dari daerah lain.
- Masyarakat didaerah endemis penyakit menular (malaria, diare, demam berdarah, dan lainnya.)
- Masyarakat dilokasi atau barak pengungsian akibat bencana atau akibat lainnya.
- Masyarakat didaerah dengan geografis sulit antara lain daerah terpencil dan perbatasan.
- Masyarakat di daerah baru dengan transportasi sulit seperti daerah tranmigrasi.

Strategi Intervensi Keperawatan Komunitas

Proses kelompok (Group Proces)
Seseorang dapat mengenal dan mencegah penyakit tertentu setelah belajar dari pengalaman sebelumnya dan jika masyarakat sadar bahwa penanganan masalah yang bersifat individual tidak akan mampu mencegah maka mereka telah melakukan pendekatan dengan proses berkelompok.

Pendidikan kesehatan (Health Promotion).
Tujuan utama pendidikan kesehatan adalah agar seseorang mampu:
- Menetapkan masalah dan kebutuhan mereka sendiri.
- Memahami apa yang dapat mereka lakukan terhadap masalahnya dengan sumber daya yang ada pada mereka dan ditambah dengan dukungan dari luar.
- Memutuskan kegiatan yang paling tepat guna, untuk meningkatkan taraf hidup sehat dan kesejahteraan.

Kerjasama.
Kerjasama sangat dibutuhkan dalam upaya mencapai tujuan Askep Komunitas, melalui upaya ini berbagai persoalan didalam lingkungan masyarakat akan dapat diatasi dengan lebih cepat.

Prinsip Keperawatan Komunitas
1. Kemanfaatan.
2. Otonomi.
Masyarakat diberikan kebebasan untuk melakukan atau memilih alternative yang terbaik yang disediakan.
3. Keadilan.
Tindakan yang dilakukan harus sesuai dengan kemampuan atau kapasitas komunitas.

http://askep-askeb.cz.cc/
Baca Selengkapnya - KONSEP KEPERAWATAN KESEHATAN KOMUNITAS

KONSEP KELOMPOK KHUSUS

KONSEP KELOMPOK KHUSUS

KONSEP KELOMPOK

Bentuk kehidupan bersama yang dilandasi oleh kriteria tertentu seperti usia, jenis kelamin, latar belakang pendidikan, pekerjaan dan kepentingan – kepentingan tertentu dalam bidang kesehatan atau keperawatan karena adanya kebutuhan yang sama untuk mencapai sesuatu tujuan yang diinginkan.

PROSES PEMBENTUKAN KELOMPOK
Menurut Solita Sarwono (1993) proses pembentukan kelompok melalui tahap berikut:

Ø Tahap pembentukan.
Kelompok mengatur diri sendiri dan menentukan kedudukan tiap – tiap anggotanya. Setelah mapan mulailah saling mengenal, akrab dan terbuka.

Ø Tahap perpecahan.
Keakraban membuat setiap orang dapat lebih terbuka dalam mengemukakan pendapat, hal ini dapat membuat perpecahan karena tidak semua orang dapat menerima pendapat orang lain dengan baik.

Ø Tahap penyesuaian.
Perpecahan pada kelompok umumnya bersifat sementara, makin akrabnya anggota kelompok makin mudah mereka untuk saling beradaptasi dengan sifat, kehendak, gaya dan kepribadian masing – masing anggota, sehingga perpecahan dapat dibatasi dan dihindari. Pada tahap ini masing – masing anggota kelompok dapat berfungsi secara efektif dan mau saling membantu untuk kepentingan kelompok.

Ø Tahap perubahan.
Perubahan dalam suatu kelompok merupakan sesuatu yang lumrah,seperti perubahan karena pergantian posisi yang memimpin dan yang dipimpin, perubahan lingkungan fisik dan aktifitas kelompok, dan setiap perubahan akan membawa dampak terhadap kehidupan kelompok sehingga memerlukan pengaturan kembali yang berkaitan dengan struktur organisasi, prosedur kerja, kegiatan, hubungan antara anggota dsb.

PERSYARATAN KELOMPOK
1. Setiap anggota kelompok harus sadar bahwa dia merupakan sebagian dari kelompok yang bersangkutan.
2. Adanya hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan anggota yang lain.
3. Terdapat suatu factor yang dirasa dimiliki bersama oleh anggota – anggota kelompok itu. Factor itu antara lain: nasib yang sama, kepentingan yang sama, tujuan yang sama, berstruktur berkaedah dan mempunyai pola perilaku.

Kriteria Kelompok
1. Berikut ini adalah klasifikasi criteria/ukuran kelompok social dalam masyarakat
2. Besar kecilnya jumla anggota kelompok social.
3. Derajat interaksi dalam kelompok social tersebut.
4. Kepentingan dan wilayah.
5. Berlangsungnya suatu kepentingan.
6. Derajat organisasi.
7. Kesadaran akan jenis yang sama, hubungan social dan tujuan.


http://askep-askeb.cz.cc/
Baca Selengkapnya - KONSEP KELOMPOK KHUSUS

Mengapa Wanita Lebih Tertarik Pria Petualang

Mengapa Wanita Lebih Tertarik Pria Petualang

Meski kebanyakan wanita sering mengungkapkan rasa tidak sukanya pada pria yang ‘narsis’ dan playboy, namun sebuah penelitian justru mengungkapkan mengapa kaum hawa lebih mudah terpikat pria petualang.

Sebuah studi yang diselenggarakan universitas di New Mexico State, Las-Cruses City menunjukkan, wanita kerapkali tidak dapat menolak sikap arogan dan egoisme pria :twisted: . Fakta ini dikonfirmasi oleh penelitian yang melibatkan lebih dari 200 peserta. Dalam penelitian ini dibuktikan, pria petualang yang tergolong narsis dan egois bisa menjadi magnet bagi wanita. ;)

Tes tersebut dirancang untuk menentukan, seberapa sukses karakter buruk seseorang bisa diketahui. Untuk mengukurnya dalam tes ini diamati beberapa karakter pria. Mulai dari psikopat impulsif, hasrat untuk melakukan hal menantang, kesediaan melakukan kegiatan yang mengutamakan kepentingan sendiri, dan kebiasaan membanggakan diri sendiri. :?

Selain melakukan pengamatan langsung, para peserta penelitian juga diminta menjawab kuisioner tentang sikap mereka terhadap aktivitas bercinta. Para peserta penelitian juga dimnta melaporkan berapa kali berpacaran, dan jangka waktu hubungan percintaan.

Hasilnya, para peneliti menemukan, pria yang tergolong ‘narsis’ dan egois justru yang memiliki jumlah tertinggi pasangan kencan, dan hanya bertahan pada hubungan jangka pendek.Melihat hasil penelitian tersebut, sebaiknya pikir-pikir dulu sebelum agan-agan cewek terjebak dalam hubungan dengan pria petualang. :mrgreen:
Baca Selengkapnya - Mengapa Wanita Lebih Tertarik Pria Petualang

EKG Emulator

EKG Emulator
(Klik gambar biar jelas)
Sekarang belajar EKG ndak perlu susah-susah karena dunia ini sempit. liat nie aqw dapat adri situs sebelah dunia sono. kemarin ada dosen yang ngajarin dikasih tutorial ini tapi versi jadul. akhirnya ane utek-utek sumbernya. Akhirnya dapat juga situsnya. Bingung cara downloadnya ane cari kesana-kesini ndak dapat-dapat. O iya ane ingat ada trik menyimpan versi jadul yaitu tinggal save as complete. jreng-jreng dapet dech. ehehehe :D


Karena ilmu itu untuk berbagi bagi para sobat-sobat yang pengin belajar EKG silahkan diunduh nie file. disini disediain tampilan menu-menu sinus/kelainan irama jantung ada aritmia, disritmia, Atrial Fibrilasi dan lain2. beserta ada gamenya buat ngetes kemampuan sobat-sobat. klo gambar ini termasuk sinus apa. ajib bener dah pokoknya nie aplikasi. :D
Baca Selengkapnya - EKG Emulator

Dismenore adalah nyeri

Dismenore adalah nyeri
Dismenore adalah nyeri perut yang berasal dari kram rahim dan terjadi selama menstruasi. Disebut dismenore primer jika tidak ditemukan penyebab yang mendasarinya dan dismenore sekunder jika penyebabnya adalah kelainan kandungan.

Penyebab
Dismenore sekunder lebih jarang ditemukan dan terjadi pada 25% wanita yang mengalami dismenore. Penyebab dari dismenore sekunder adalah: endometriosis, fibroid, adenomiosis, peradangan tuba falopii, perlengketan abnormal antara organ di dalam perut, dan pemakaian IUD.

Faktor Risiko
Biasanya dismenore primer timbul pada masa remaja, yaitu sekitar 2-3 tahun setelah menstruasi pertama. Sedangkan dismenore sekunder seringkali mulai timbul pada usia 20 tahun. Faktor lainnya yang bisa memperburuk dismenore adalah:
-rahim yang menghadap ke belakang (retroversi)
-kurang berolah raga
-stres psikis atau stres sosial.

Gejala dan Tanda
Nyeri pada perut bagian bawah, yang bisa menjalar ke punggung bagian bawah dan tungkai. Nyeri dirasakan sebagai kram yang hilang-timbul atau sebagai nyeri tumpul yang terus menerus ada.

Biasanya nyeri mulai timbul sesaat sebelum atau selama menstruasi, mencapai puncaknya dalam waktu 24 jam dan setelah 2 hari akan menghilang. Dismenore juga sering disertai oleh sakit kepala, mual, sembelit atau diare dan sering berkemih. Kadang sampai terjadi muntah.

Penatalaksanaan
Pertambahan umur dan kehamilan akan menyebabkan menghilangnya dismenore primer. Hal ini diduga terjadi karena adanya kemunduran saraf rahim akibat penuaan dan hilangnya sebagian saraf pada akhir kehamilan.

Untuk mengurangi rasa nyeri bisa diberikan obat anti peradangan non-steroid (misalnya ibuprofen, naproksen dan asam mefenamat). Obat ini akan sangat efektif jika mulai diminum 2 hari sebelum menstruasi dan dilanjutkan sampai hari 1-2 menstruasi.

Selain dengan obat-obatan, rasa nyeri juga bisa dikurangi dengan:
– istirahat yang cukup
– olah raga yang teratur (terutama berjalan)
– pemijatan
– yoga
– orgasme pada aktivitas seksual
– kompres hangat di daerah perut.

Untuk mengatasi mual dan muntah bisa diberikan obat anti mual, tetapi mual dan muntah biasanya menghilang jika kramnya telah teratasi.

Gejala juga bisa dikurangi dengan istirahat yang cukup serta olah raga secara teratur. Jika nyeri terus dirasakan dan mengganggu kegiatan sehari-hari, maka diberikan pil KB dosis rendah yang mengandung estrogen dan progesteron atau diberikan medroksiprogesteron.

Pemberian kedua obat tersebut dimaksudkan untuk mencegah ovulasi (pelepasan sel telur) dan mengurangi pembentukan prostaglandin, yang selanjutnya akan mengurangi beratnya dismenore. Jika obat ini juga tidak efektif, maka dilakukan pemeriksaan tambahan (misalnya laparoskopi).

Jika dismenore sangat berat bisa dilakukan ablasio endometrium, yaitu suatu prosedur dimana lapisan rahim dibakar atau diuapkan dengan alat pemanas.

Pengobatan untuk dismenore sekunder tergantung kepada penyebabnya.
Baca Selengkapnya - Dismenore adalah nyeri

Pengertian "Mutu" Dalam Pelayanan Kesehatan

Pengertian "Mutu" Dalam Pelayanan Kesehatan
"Mutu' adalah tingkat dimana pelayanan kesehatan pasen ditingkatkan mendekati hasil yang diharapkan dan mengurangi faktor-faktor yang tidak diinginkan (JCAHO 1993). Definisi tersebut semula melahirkan 12 faktor-faktor yang menentukan mutu pelayanan kesehatan, belakangan dikonversi menjadi dimensi 'mutu kinerja' (performance) yang dituangkan dengan spesifikasi seperti dibawah ini :

1. Kelayakan  adalah tingkat dimana perawatan atau tindakan yang dilakukan relevan terhadap kebutuhan klinis pasen dan memperoleh pengetahuan yang berhubungan dengan keadaannya.
2. Kesiapan  adalah tingkat dimana kesiapan perawatan atau tindakan yang layak dapat memenuhi kebutuhan pasen sesuai keperluannya.
3. Kesinambungan  adalah tingkat dimana perawatan atau tindakan bagi pasen terkoordinasi dengan baik setiap saat, diantara tim kesehatan dalam organisasi .
4. Efektifitas  adalah tingkat dimana perawatan atau tindakan terhadap pasen dilakukan dengan benar, serta mendapat penjelasan dan pengetahuan sesuai dengan keadaannya, dalam rangka memenuhi harapan pasen.

5. Kemanjuran  adalah tingkat dimana perawatan atau tindakan yang diterima pasen dapat diwujudkan atau ditunjukkan untuk menyempurnakan hasil sesuai harapan pasen.
6. Efisiensi  adalah ratio hasil pelayanan atau tindakan bagi pasen terhadap sumber-sumber yang dipergunakan dalam memberikan layanan bagi pasen..
7. Penghormatan dan perhatian  adalah tingkat dimana pasen dilibatkan dalam pengambilan keputusan tentang perawatan dirinya. Berkaitan dengan hal tersebut perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan pasen serta harapan-harapannya dihargai.
8. Keamanan  adalah tingkat dimana bahaya lingkungan perawatan diminimalisasi untuk melindungi pasen dan orang lain, termasuk petugas kesehatan.
9. Ketepatan waktu  adalah tingkat dimana perawatan atau tindakan diberikan kepada pasen tepat waktu sangat penting dan bermanfaat.

Upaya pencarian terhadap hal-hal penting yang dicakup dalam definisi tentang 'MUTU” telah banyak dibahas dalam literatur. Donabedian menyatakan bahwa, tidak satupun definisi dapat memenuhi persyaratan dengan tepat tentang arti 'mutu', dan untuk mengatasi hal tersebut ada tiga pengertian yang diberikan yaitu:
(1) Definisi absolutis  mutu adalah pertimbangan atas kemungkinan adanya keuntungan dan kerugian terhadap kesehatan sebagai dasar tata nilai praktisi kesehatan tanpa memperhatikan biaya.
(2) Definisi individualistis  berfokus pada keuntungan dan kerugian dari harapan pasen dan konsekwensi lain yang tidak diharapkan.
(3) Definisi sosial  mutu meliputi beaya pelayanan, kontinum dari keuntungan atau kerugian, serta distribusi pelayanan sebagai rata nilai masyarakat secara umum.

Tantangan yang dihadapi oleh praktisi adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara nilai-¬nilai kemanusiaan, sumber-sumber teknologi, kualitas hidup, inovasi dan kenyataan ekonomi, yang memungkinkan untuk memberikan pelayanan terbaik. Hal tersebut tidak berarti menghilangkan pengertian universal dari mutu untuk memperoleh pengakuan. Ketiadaan definisi formal tentang mutu, bukan berarti pasen atau provider tidak akan dapat mengidentifikasi ketiadaan mutu itu sendiri, atau mutu yang berada dibawah standar, misalnya: makanan disajikan dingin, penusukan vena dalam kondisi normal 3-4 kali, terjadi decubitus atau infeksi post operatif, pasen jatuh, salah pemberian obat semua itu menunjukkan mutu yang rendah. Pengertian mutu kinerja diukur melalui dimensi pengukuran yang tegas yaitu standar tertulis yang jelas. Standar menentukan mutu atau kinerja dan diberikan secara langsung serta hasilnya dapat dilihat dari pelayanan tersebut. Standar adalah patokan untuk menentukan tingkat mutu. Standar merupakan pernyataan tertulis dari tata nilai peraturan-¬peraturan, kondisi dan tindakan pada pasen, staf, atau sistem yang disahkan oleh pihak berwenang

Dari Jaminan Mutu (Quality Assurance) Menuju Peningkatan Mutu (Quality Improvement)

Pengertian :
1. Jaminan mutu (QA) adalah suatu proses untuk mengevaluasi perawatan pada suasana khusus, dengan mengembangkan standar pelayanan dan menerapkan mekanisme untuk menjamin bahwa standar dapat terpenuhi (Coyne and Killien).

2. Jaminan mutu (QA) adalah suatu proses yang obyektif dan sistematis dalam memonitor dan mengevaluasi mutu dan kesiapan dalam pelayanan terhadap pasen dalam meningkatkan pelayanan, dan memecahkan masalah yang telah diidentifikasi (JCAHO). Kesiapan merujuk pada pengertian lebih luas dimana prosedur khusus, kesesuaian dalam suasana khusus dan pelayanan yang efisien, mengindikasikan kelebihan maupun kekurangannya.

Dalam kaitan diatas belakangan Lexiton (JCAHO), mendefinisikan QA dalam tiga kegiatan yang tidak terpisahkan;
a. Merencanakan suatu produk atau pelayanan dan pengendalian produknya yang tidak dapat dilepaskan dari mutu. Dalam pelayanan kesehatan, aktifitas dan program dimaksudkan menjamin atau memberi garansi terhadap mutu.

b. Pengendalian mutu: adalah suatu proses dimana kinerja aktual dinilai atau diukur, dan dibandingkan dengan tujuan, serta perbedaan atau penyimpangan ditindak lanjuti dengan menggunakan metoda statistik.
c. Peningkatan mutu: proses pencapaian snatu tingkat kinerja atau mutu barn yang lebih tinggi dari sebelunmya. Pencapaian tingkat mutu bam. adalah yang terbaik dari pads tingkat mutu sebelumnya.

3. Jaminan Mutu (QA) adalah suatu proses yang dilaksanakan secara berkesinambungan, sistematis, obyektif dan terpadu untuk; Menetapkan masalah dan penyebabnya berdasarkan standar yang telah ditetapkan, menetapkan upaya penyelesaian masalah dan melaksanakan sesuai kemampuan menilai pencapaian hasil dengan menggunakan indikator yang ditetapkan, menetapkan dan menyusun tindak lanjut untuk meningkatkan mutu pelayanan.
Walaupun mutu tidak selalu dapat dijamin tetapi dapat diukur. Jika bisa diukur, berarti bisa ditingkatkan dan dapat disempurnakan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengidentifikasi indikator kunci mutu dalam pelayanan, memonitor indikator tersebut dan mengukur mutu hasilnya. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah mengidentifikasi proses - proses kunci yang mengarah pada hasil tersebut (outcome). Dengan berfokus pada upaya peningkatan proses, tingkat mutu dari hasil yang dicapai akan meningkat. Jadi, upaya pendekatan yang dilakukan diawali dari jaminan mutu (QA), mengarah pada peningkatan mutu yang proaktif (QI). Bila ada yang berpikir 'mutu dibawah standar, jangan ikut terlibar“, mentalitas seperti itu seharusnya dirubah menjadi 'walaupun mutu dibawah standar, tapi masih dapat ditingkatkan'. Bila mutu diartikan seberapa baik suatu organisasi ditampilkan, usaha untuk meningkatkan mutu akan dapat diperbaiki melalui peningkatan kinerja.

Tujuan dan Manfaat QA

1. Pemahaman staf terhadap tingkat mutu pelayanan yang ingin dicapai
2. Meningkatkan efektifitas pelayanan yang diberikan.
3. Mendorong serta meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan pelayanan kesehatan.
4. Melindungi pelaksana pelayanan kesehatan dari gugatan hukum.
5. Tujuan akhir adalah semakin meningkatnya mutu pelayanan

Kerangka Konseptual

Pendekatan dalam pelaksanaan evaluasi menggunakan pendekatan yang lazim dipakai yaitu: pendekatan struktur, proses dan hasil. (1) Pendekatan struktur adalah berfokus pada sistem yang dipersiapkan dalam organisasi & manajemen termasuk komitmen pimpinan dan stakeholder lainnya, prosedur & kebijakan, sarana & prasarana, fasilitas dimana pelayanan diberikan, (2) Pendekatan proses: adalah semua kegiatan dan interaksi profesional (bertumpu pada kemampuan, sikap dan ketrampilan) serta metoda dengan cara bagaimana pelayanan dilaksanakan. (3) Hasil (Output): hasil pelaksanaan kegiatan. Perlu diperjelas perbedaan istilah output dan outcome seperti yang sering didengar. Output adalah hasil yang dicapai dalam jangka pendek misalnya: tidak terjadi pleibitis setelah 3 x 24 jam pemasangan infus, sedangkan outcome adalah hasil akhir dari pelaksanaan kegiatan-kegiatan jangka panjang seperti perubahan status kesehatan pasen/masyarakat. Komponen hasil sangat tergantung dari kedua komponen struktur dan proses. Para pakar menekankan fokus pada komponen "proses" adalah yang paling kritikal, karena menyangkut manusianya, seberapa besar tingkat komitment dan akontabilitas seseorang untuk melakukan kegiatannya agar dapat menghasilkan pelayanan yang bermutu tinggi.

Langkah - Langkah Penerapan QA

1. Menentukan aspek pelayanan yang akan dimonitor.
2. Mengembangkan indikator yang sesuai untuk mengukur mutu pada aspek pelayanan yang telah ditentukan
3. Mengumpulkan data untuk indikator yang terpilih dengan interval dan waktu tertentu
4. Menetapkan standar hasil yang dapat dicapai untuk setiap indikator

5. Mengenali area yang tidak dapat mencapai standar
6. Meneliti faktor yang mempunyai kontribusi terhadap berkurangnya mutu tersebut.
7. Mengembangkan dan melaksanakan perbaikan mutu dengan tepat.
8. Setelah jangka waktu tertentu, melakukan pemeriksaan ulang terhadap data pada suatu area, apakah pada area tersebut telah terjadi perbaikan.

Tugas Dalam Kelompok.

1. Peserta dibagi dalam kelompok bidan dan kelompok perawat rumah sakit atau puskesmas.
2. Tiap kelompok mengidentifikasi masing-masing 10 kegiatan dari fungsi – fungsi keperawatan/kebidanan yang kritikal, dimana dalarn pelaksanaan aktual saat ini yang dinilai bermutu tinggi dan yang tidak bermutu.
3. Setiap kegiatan yang bermutu tinggi atau yang tidak bermutu diberikan alasannya.
4. Masing- masing kelompok menyajikan hasil diskusinya.

Kesimpulan

Pelayanan yang baik adalah pelayanan berorientasi terhadap upaya peningkatan mutu untuk memenuhi harapan atau kepuasan pelanggan. Mutu sulit didefinisikan, namun esensi mutu
dan aplikasinya dalam pelayanan kesehatan dapat diukur, dimonitor dan dinilai hasilnya. Mutu dalam pelayanan kesehatan adalah kontroversial dan relatif. Oleh karena itu spesifikasi dalam dimensi mutu atau kinerja yang diterapkan dalam proses yang benar dan dikerjakan dengan baik akan dapat memberikan kepuasan pelanggan. Mutu itu dinamis, upaya peningkatan mutu tidak pernah berhenti tetapi selalu berkelanjutan sesuai dengan perkembangan iptek, tatanan nilai dan tuntutan masyarakat serta lingkungannya, agar dapat tetap eksis dalam persaingan global. Peningkatan mutu berarti peningkatan kinerja. Dapat dimulai dari jaminan mutu dan berlanjut pada peningkatan mutu untuk memperoleh kepuasan pelanggan dan kepuasan karyawan dengan mempertimbangkan efisiensi (beaya) itu sendiri. Meningkatkan kinerja berarti meningkatkan mutu pelayanan telah dimulai agar dapat eksis dalam persaingan global.

Referensi

1. Gde Muninjaya, A.A. dr. MPH, 'Manajemen Kesehatan
Baca Selengkapnya - Pengertian "Mutu" Dalam Pelayanan Kesehatan

STANDARD PELAYANA MINIMAL

STANDARD PELAYANA MINIMAL
- STANDARD PELAYANA MINIMAL (e-SPM)
e-SPM menyajikan informasi tentang standar pelayanan minimal (SPM) Propinsi DIY seusai dengan indikator sehat 2010. Sistem ini di desain untuk :
• Dapat melakukan pemasukan data informasi kesehatan unit kerja lain yang tidak on-line.
• Dapat melakukan pemasukan data Indikator SPM secara dinamis sesuai dengan kebutuhan DINKES Kota/Kab/Propinsi.
• Ditampilkannya informasi dalam bentuk grafik dan tabular.
• Menyediakan fasilitas import data dari EXCEL, XML, dan dapat melakukan restore database. Menu ini digunakan untuk mengupdate database di Dinkes Kota/Kab. dengan memasukkan laporan dari unit kerja dibawahnya tanpa harus mengetik ulang.
• Menyediakan fasilitas data entri surveillance penyakit menular dan tidak menular
• Laporan-laporan disajikan dengan memilih rentang tanggal dan unit kerja tertentu sehingga menghasilkan informasi :
o SPM per propinsi,
o SPM per Kabupaten,
o SPM per Unit Kerja,
o Grafik SPM per unit kerja.
e-SPM akan diinstal pada Dinas Kesehatan Kota/Kab.

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang.
Standar Pelayanan Minimal (SPM) adalah ketentuan tentang jenis dan mutu pelayanan dasar, dengan menggunakan indikator tertentu yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap warga secara minimal.
Eksistensi SPM sangat penting bagi Pemerintah Daerah (Pemda) kabupaten/ kota karena menjadi salah satu acuan bagi Pemda untuk menyusun perencanaan dan penganggaran Pemda dan diterapkannya sistem penyusunan APBD berbasis kinerja begitupun untuk menilai kinerja.
SPM bidang kesehatan meliputi 4 jenis pelayanan, yaitu pelayanan kesehatan dasar, pelayanan kesehatan rujukan, penyelidikan epidemiologi dan penaggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB), serta Promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat. Sebagai alat penilaian kinerja program pelayanan, ditetapkan indikator kinerja dan standarnya.
Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi setiap tahunnya menyusun program dan rencana kegiatan dengan berdasarkan pada SPM. Evaluasi program pelayanan kesehatan bagi masyarakat merupaka upaya untuk melihat lebih jauh bagaimana program tersebut memenuhi ukuran-ukuran/indikator kinerja, pemahaman, relevansi, efisiensi, efektifitas program terhadap masyarakat. Oleh karena itu perlu dilaksanakan evaluasi pula pertahun dengan menggunakan SPM sebagai indikator penilaian.
Baca Selengkapnya - STANDARD PELAYANA MINIMAL

Dismenore Nyeri pada saat Menstruasi

Dismenore Nyeri pada saat Menstruasi

Dismenore adalah nyeri perut yang berasal dari kram rahim dan terjadi selama menstruasi.

Disebut dismenore primer jika tidak ditemukan penyebab yang mendasarinya dan dismenore sekunder jika penyebabnya adalah kelainan kandungan.

Dismenore primer sering terjadi, kemungkinan lebih dari 50% wanita mengalaminya dan 15% diantaranya mengalami nyeri pada saat menstruasi yang hebat.
Biasanya dismenore primer timbul pada masa remaja, yaitu sekitar 2-3 tahun setelah menstruasi pertama.

Nyeri pada dismenore primer diduga berasal dari kontraksi rahim yang dirangsang oleh prostaglandin.
Nyeri dirasakan semakin hebat ketika bekuan atau potongan jaringan dari lapisan rahim melewati serviks (leher rahim), terutama jika saluran serviksnya sempit. Faktor lainnya yang bisa memperburuk dismenore adalah:

  • rahim yang menghadap ke belakang (retroversi)
  • kurang berolah raga
  • stres psikis atau stres sosial.

Pertambahan umur dan kehamilan akan menyebabkan menghilangnya dismenore primer. Hal ini diduga terjadi karena adanya kemunduran saraf rahim akibat penuaan dan hilangnya sebagian saraf pada akhir kehamilan

Perbedaan beratnya nyeri saat menstruasi tergantung kepada kadar prostaglandin. Wanita yang mengalami dismenore/nyeri menstruasi memiliki kadar prostaglandin yang 5-13 kali lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang tidak mengalami dismenore. Dismenore sangat mirip dengan nyeri yang dirasakan oleh wanita hamil yang mendapatkan suntikan prostaglandin untuk merangsang persalinan.

Dismenore sekunder lebih jarang ditemukan dan terjadi pada 25% wanita yang mengalami dismenore. Dismenore sekunder seringkali mulai timbul pada usia 20 tahun.

Penyebab dari dismenore sekunder adalah:

Endometriosis
• Fibroid
• Adenomiosis
• Peradangan tuba falopii
• Perlengketan abnormal antara organ di dalam perut.
• Pemakaian IUD.

Gejala Dismenore (nyeri menstruasi)
Dismenore menyebabkan nyeri pada perut bagian bawah, yang bisa menjalar ke punggung bagian bawah dan tungkai. Nyeri dirasakan sebagai kram yang hilang-timbul atau sebagai nyeri tumpul yang terus menerus ada.
Biasanya nyeri mulai timbul sesaat sebelum atau selama menstruasi, mencapai puncaknya dalam waktu 24 jam dan setelah 2 hari akan menghilang.
Dismenore juga sering disertai oleh sakit kepala, mual, sembelit atau diare dan sering berkemih. Kadang sampai terjadi muntah.

Pengobatan Dismenore (nyeri menstruasi)
Untuk mengurangi rasa nyeri saat menstruasi bisa diberikan obat anti peradangan non-steroid (misalnya ibuprofen, naproxen dan asam mefenamat). Obat ini akan sangat efektif jika mulai diminum 2 hari sebelum menstruasi dan dilanjutkan sampai hari 1-2 menstruasi.
Selain dengan obat-obatan, rasa nyeri juga bisa dikurangi dengan:

  • istirahat yang cukup
  • olah raga yang teratur
  • pemijatan
  • kompres hangat di daerah perut

Untuk mengatasi mual dan muntah bisa diberikan obat anti mual, tetapi mual dan muntah biasanya menghilang jika kramnya telah teratasi. Gejala juga bisa dikurangi dengan istirahat yang cukup serta olah raga secara teratur Jika nyeri terus dirasakan dan mengganggu kegiatan sehari-hari, maka diberikan pil KB dosis rendah yang mengandung estrogen dan progesteron atau diberikan medroxiprogesteron. Pemberian kedua obat tersebut dimaksudkan untuk mencegah ovulasi (pelepasan sel telur) dan mengurangi pembentukan prostaglandin, yang selanjutnya akan mengurangi beratnya dismenore/nyeri pada saat menstruasi. Jika obat ini juga tidak efektif, maka dilakukan pemeriksaan tambahan (misalnya laparoskopi). Jika dismenore sangat berat bisa dilakukan ablasio endometrium, yaitu suatu prosedur dimana lapisan rahim dibakar atau diuapkan dengan alat pemanas.

Pengobatan untuk dismenore/nyeri pada saat menstruasi sekunder tergantung kepada penyebabnya

Baca Selengkapnya - Dismenore Nyeri pada saat Menstruasi

Remaja dan Kesehatan Reproduksi

Remaja dan Kesehatan Reproduksi

(whandi.net) Remaja
adalah golongan yang cukup banyak terdapat dalam susunan penduduk
Indonesia dimana dari 200 juta penduduk, sekitar 20 % adalah golongan
yang berusia 10 - 14 tahun. Kelak mereka akan menjadi orang tua dan
mempunyai anak

Remaja pun mempunyai kedudukan yang unik karena
dalam ilmu kedokteran digolongkan dalam usia peralihan ( pubertas) dan
masa anak-anak ke masa dewasa. Peralihan yang terjadi bukan saja fisik
dan mental, tetapi juga terjadi perubahan secara berangsur-angsur pada
sistim reproduksinya menjadi matang dan berfungsi seperti orang dewasa.
Setiap perubahan bagaimana pun juga akan menyebabkan timbulriya
goncangan bagi individu yang mengalami.

Kesehatan reproduksi
secara singkat dapat digambarkan sebagai suatu keadaan dimana fisik
mental dan sosial dinyatakan sehat supaya dapat menjalankan fungsi
reproduksi. Hal ini berarti mencakup
1. Kemampuan ber-reproduksi
2. Berhasil mempunyai anak yang sehat, dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa
3.
Aman menjalankan proses reproduksi termasuk melakukan hubungan seks,
hamil, melahirkan, memilih jumlah anak dan menetapkan pemakaian KB.
Dan
yang terpenting disini adalah hak laki-laki atau perempuan untuk
mendapatkan informasi dun pelayanan serta menentukan keinginannya dalam
kehidupan reproduksi.

Seperti yang telah disebut di atas, usia
remaja berdasar antara 12 - 24 th (12 - 21 th) Pada awal usia remaja
teqadi perkembangan dan pemasangan alat dan fungsi reproduksi secara
berangsur-angsur sampai mereka memasuki usia dewasa muda. Hal ini
ditandai dengan adanya perubahan fisik seperti tubuh menjadi lebih
tinggi dan otot tubuh menjadi lebih membesar, timbulnya jerawat wajah,
tumbuh bulu diketiak dan kemaluan, tumbuhnya payudara, tejadi perubahan
suara dan tumbuh kumis pada remaja pria. Dan yang terpenting adalah
datangnya haid pada remaja putri dan hadirnya mimpi basah pada remaja
putra, sebagai tanda bahwa organ reproduksinya mulai berfungsi.
Perubahan ini kadang-kadang menimbulkan rasa cemas, takut, malu, merasa
dirinya menjadi lain dan remaja pun bingung, karena mereka tidak
mempunyai pengetahuan yang cukup dan tidak mendapat informasi yang
memadai.

Selain itu terjadi pula perubahan minat dan perilaku pada remaja seperti:
• mereka mulai memperhatikan penampilannya
• mulai tertarik pada lawan jenisnya
• melakukan usaha untuk menarik perhatian lawan jenis, bertingkah laku lebih genit.

Dikota
besar, gejala-gejala seperti ini dapat kita lihat dengan banyak-nya
remaja yang mangkal dan 'ngeceng' di pusat-pusat perbelanjaan (mal),
tempat-tempat pertunjukan, atau kalau remaja tinggal di pinggiran kota
atau desa, terlihat gerombolan remaja yang memadati tontonan layar
tancap, pertunjukan dangdut di perayaan-perayaan.. Mereka terlihat
berdandan habis-habisan memakai pakaian yang sedang 'ngetrend' dan
terutama perilaku remaja banyak diarahkan untuk menarik perhatian.

Salahkah
sepenuhnya remaja melakukan hal tersebut?, sulit bagi kita untuk
menghakimi mereka, semata-mata dari tingkahnya yang genit, bebas dan
kadang beriebihan. Seiring dengan matangnya alat reproduksi, maka pada
tubuh remaja juga teqadi peningkatan hormon seks (estrogen, progestron,
ondmgen, antosteron) yang mempunyai libido (dorongan/gairah seks).

Libido
ini adalah karunia Tuhan, untuk menimbulkan keinginan yang berhubungan
dengan aktivftas seks yang diperlukan dalam reproduksi manusia. Rasa
ingin tahu, sulitnya meredam dan mengendalikan dorongan seks ditambah
tidak adanya pengetahuan dan informasi yang memadai mengenai kesehatan
reproduksi, dapat menyebabkan remaja terjerumus pada kesulitan 'besae”.

Seperti
yang disebut di atas bahwa hak untuk mendapatkan informasi dan
pelayanan reproduksi adalah hak setiap orang. Sementara pada orang
dewasa saja agaknya sulit diriapat karena sifat 'tabu' membicarakan
masalah seks. Apalagi pada remaja, dimana seharusnya mereka lebih baik
mendapat informasi dari orang tua. Tetapi karena sebagian orang tua
adalah produk diriikan generasi lama yang merasa tidak pantas, malu dan
mengelak untuk membicarakan seks dengan anaknya. Bahkan mereka sendiri
sebenarnya tidak mempunyai pengetahuan kesehatan reproduksi yang lebih
dibanding anaknya, walaupun orang tua adalah pelaku seks yang aktif.

Memang
sudah ada beberapa LSM dan pusat pelayanan remaja yang menyediakan
pelayanan reproduksi dalam bentuk ceramah, konsultasi melalui
telpon/surat dan ada beberapa buku saku yang pernah diterbitkan, tetapi
belum banyak, menjangkau masyarakat remaja dan belum dimasyarakatkan
secara maksimal. Sementara banyak pihak termasuk remaja, orang tua,
guru, pendiriik pemuka agama dan tokoh, masyarakat yang merasa takut
apabila informasi dan pendiriikan seks diberikan kepada remaja akan
disalah gunakan oleh remaja. Maka remaja pun lebih senang bertanya pada
teman sebaya yang tidak lebih baik pengetahuannya atau melihat dari
film di TV , bioskop dan membaca dari buku, majalah yang lebih banyak
menyajikan seks secara vulgar ketimbang pengetahuan pendiriikan seks
yang benar.

Beberapa contoh 'masalah' kesehatan reproduksi remaja yang sedng muncul pada saat seminar/ceramah

1. Masturbasi
Dari
ceramah yang diadakan, selalu timbul pertanyaan mengenai masturbasi
Amankah? berdosakah? bisa menyebabkan kemandulan? bisakah menghilangkan
keperawanan?. Pertanyaan tersebut mungkin dapat mencerminkan adanya
hasrat seks yang timbul pada remaja.

2. Jerawat dan bau bodan
Bisa
jadi hal ini adalah sepele bagi orang dewasa, tetapi bagi remaja yang
mengalami merupakan malapetaka, dapat menghilangkan percaya diri,
menyebabkan rasa rendah diri dalam pergaulan. Padahal jerawat adalah
keadaan normal pada saat puber yang akan hilang sendiri setelah
menginjak masa dewasa. Bau badan dapat terjadi karena kelenjar keringat
mulai aktif saat puber dan dapat diatasi dengan menjaga kebersihan
diri. Dokter pun sering tidak menolong dengan memberikan penjelasan
pada remaja, cukup memeriksa dan memberi resep.

3. Keputihan pada remja putri
Sebagian
besar remaja putd mengalami keputihan, keluarnya cairan bedebih dari
vagina. Walaupun keputihan bisa terjadi secara fisiologis dan normal,
tetapi bisa juga disebabkan karena jamur atau kuman. Keadaan ini
membuat remaja putri merasa tidak nyaman dan umumnya mereka enggan
berkonsultasi dengan dokter kerena harus membicarakan dan diperiksa
alat kelaminnya.

4. Keperawanan
Ternyata baik di kota
besar dan kecil, topik ini banyak dipertanyakan baik oleh remaja putra
maupun putri; karena walaupun zaman sudah maju, sebagian orang
menganggap bahwa virgin/perawan adalah tanda pada seorang perempuan
baik-baik Remaja putri sering takut bila keperawanannya dapat hilang
akibat olah raga, terjatuh, terobek oleh jarinya sendiri, saat
membersihkan daerah vagina ketika buang air kecil, buang air besar.
Remaja putra pun sering mempertanyakan tanda fisik yang dapat dilihat
dari seorang perempuan apakah dia masih perawan atau tidak Mengapa
masalah keperawanan masih saja dipertanyakan dan mengapa keperjakaan
tidak menjadi isu moral.

Beberapa hal yang harus menjadi perhatian utama bagi remaja dalam kaitan dengan kesehatan reproduksi:

1. Penundaan Usia Nikah
Karena
harus menyelesaikan sekolah dan meniti kalir, maka banyak remaja yang
harus menunda usia nikah. Sementara pematangan organ reproduksi dan
gairah/libido semakin mendesak Perlu ada jalan keluar untuk
mengatasinya.

2. lnformosi seks yang aman.
Banyak
penelitian yang mengungkapkan remaja sudah melakukan hubungan seks di
beberapa tempat dengan pacarnya atau berganti-ganti pasangan. Apabila
hubungan seks sudah menjadi kebutuhan biologisnya, apakah bisa kita
menyuruh begitu saja menghentikan? Ada baiknya bila terdapat informasi
yang baik dan lengkap untuk remaja yang 'sudah terlanjur agar mereka
dapat melakukan hubungan seks yang aman sehingga dapat terhindar dari
PMS/AIDS dan kehamilan yang tidak diinginkan.

3. Parnikahan pada usia muda.
Hal
ini dapat terjadi pasangan remaja yang mengalami 'kecelakaan'.
Bagaimana dengan masa depan mereka yang harus putus sekolah, bagaimana
dengan proses kehamilan dan persalinan pada remaja putri yang beresiko
tinggi, dan dimana pasangan muda bisa memperoleh kontrasepsi supaya
tidak terlanjur punya bayi berikut?

Pada keluarga yang mengalami
kesulitan ekonomi, anak gadisnya adalah tambang emas untuk mengentaskan
kemiskinan keluarga. Bahkan sebelum alat reproduksiriya matang, remaja
putri sudah dikawinkan dengan laki-laki yang lebih tua, lebih matang,
dan jam terbang pengalaman seks nya sudah banyak, dengan demikian
potensi untuk tertular PMS lebih besar dan juga karena semaidn muda la
memulai hubungan seks dan berpotensi melahirkan anak banyak dalam
keadaan gizi kurang, remaja putri juga beresiko untuk mendapat penyakit
kanker leher rahim.

4. Remaja yang menjual dirinya untuk kebutuhan hidup atau kesenangan semata.
Tingginya
angka standar aborsi dikalangan remaja, sering dikaitkan dengan pola
hidupnya yang tidak lepas dari pengaruh lingkungan, keinginan untuk
hidup mewah, mencoba bertualang dalam cinta, ajakan teman sering
membuat remaja tidak mampu mempertahankan norma-norma yang sudah
diajarkan oleh agama, orang tua dan sekolah. Gemedap kehidupan sering
menggoda pada remaja untuk lebih mudah melakukan hubungan seks dengan
siapa saja.

Dari pembahasan di atas kita dapati bahwa ternyata
tidak mudah untuk mempersiapkan remaja memasuki tahap reproduksi sehat
kaitan antara remaja, orang tua, guru, tokoh masyarakat tokoh agama,
pihak pemerhati dan tenaga kesehatan harus lebih terbuka dalam hal
pembedan informasi dan pelajaran kesehatan reproduksi. (dr. Ramona Sari/hqweb01.bkkbn.go.id)
Baca Selengkapnya - Remaja dan Kesehatan Reproduksi

Arsip

0-Asuhan Kebidanan (Dokumen Word-doc) 0-KTI Full Keperawatan (Dokumen Word-doc) Anak Anatomi dan Fisiologi aneh lucu unik menarik Antenatal Care (ANC) Artikel Bahasa Inggris Asuhan Kebidanan Asuhan Keperawatan Komunitas Asuransi Kesehatan Berita Hiburan Berita Terkini Kesehatan Berita Tips Twitter Celeb contoh Daftar Pustaka Contoh KTI Contoh KTI Kebidanan Farmakologi (Farmasi) Gadar-kegawatdaruratan Gizi Handphone Hirschsprung Hukum Kesehatan Humor Segar (Selingan) Imunisasi Info Lowongan Kerja Kesehatan Intranatal Care (INC) Jiwa-Psikiatri kamus medis kesehatan online Kebidanan Fisiologis Kebidanan Patologis Keluarga Berencana (KB) Keperawatan Gerontology Kesehatan Anak (UMUM) Kesehatan Bayi (untuk UMUM) Kesehatan Haji Kesehatan Ibu Hamil (untuk UMUM) Kesehatan Ibu Menyusui (untuk UMUM) Kesehatan Pria (untuk UMUM) Kesehatan Remaja Kesehatan Reproduksi (Kespro) Kesehatan Wanita (untuk UMUM) Koleksi Skripsi Umum Konsep Dasar KTI D-3 Kebidanan KTI Skripsi Keperawatan kumpulan askep Laboratorium Lain-lain Makalah Keperawatan Kebidanan Managemen Kesehatan Mikrobiologi Motivasi Diri Napza dan zat Adiktif Neonatus dan Bayi News Penyakit Menular potensi KLB Penyakit Menular Seksual (PMS) Postnatal Care (PNC) Protap-SOP Psikologi-Psikiater (UMUM) Reformasi Kesehatan Sanitasi (Penyehatan Lingkungan) Satuan Acara Penyuluhan (SAP) Sistem Endokrin Sistem Immunologi Sistem Indera Sistem Integumen Sistem Kardiovaskuler Sistem Muskuloskeletal Sistem Neurologis Sistem Pencernaan Sistem Perkemihan Sistem Pernafasan Surveilans Penyakit Teknologi Tips dan Tricks Seks Tips Facebook Tips Karya Tulis Ilmiah (KTI) Tips Kecantikan Tips Kesehatan Umum Tokoh Kesehatan Tutorial Blogging Youtuber