Cari Blog Ini

SAP : TEKNIK MENYUSUI YANG BAIK DAN BENAR

SAP : TEKNIK MENYUSUI YANG BAIK DAN BENAR
SATUAN ACARA PENGAJARAN

Pokok Bahasan : Teknik menyusui yang baik dan benar
Sasaran : Ibu menyusui
Tempat : Ruang Merak
Hari / tgl Pelaksanaan : Sabtu 25 April 2009

A. LATAR BELAKANG
Kehadiran seorang bayi dalam sebuah keluarga adalah merupakan dambaan setiap orang. Karena dengan kehadiran seorang bayilah mereka dapat meneruskan garis keturunan mereka. Seorang bayi tentu saja masih punya nilai ketergantungan yang tinggi kepada kedua ortunya harus ekstra cermat dan penuh perhatian dalam merawat bayi mereka.

Untuk menunjang perawatan tersebut, seorang ibu sangat dianjurkan untuk memberikan ASI (Air Susu Ibu) sebagai sumber makanan yang utama seelum meraka diperbolehkan untuk mendapatkan sumber makanan yang lainnya. Dalam prosese pemberian ASI tersebut, seorang ibu harus memperhatikan gizinya dan harus cukup pengetahuan tentang cara merawat seorang bayi dan cara/teknik menyusui bayi yang baik dan benar. Sehingga bayi mereka bisa tumbuh dengan baik dan sehat. Sehingga kelak bisa menjadi anak yang cerdas. Pengetahuan tentang teknik menyusui bayi yang baik dan benar tidak hanya berguna bagi ibu-ibu yang telah berkeluarga. Tapi juga berguna bagi remaja putri agar kelak mereka bisa menyusui anak-anak mereka dengan baik dan benar.

B. TUJUAN
 Tujuan Umum
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan tentang teknik menyusui yang baik dan benar, diharapkan ibu menyusui memahami tentang cara menyusui yang baik dan benar dari seorang ibu kepada anaknya. Dan juga sebagai persiapan untuk kelahiran putrinya kelak.
 Tujuan Khusus
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan tentang teknik menyusui yang baik dan benar diharapkan peserta didik mampu:
1. Menentukan bagaimana posisi yang baik bagi ibu menyusui
2. Menjelaskan cara memasukan puting yang baik dan benar
3. Mengetahui cara melepaskan hisapan bayi
4. Menjelaskan cara menyendawakan bayi
5. Mengetahui apakah tanda-tanda menyusui telah baik dan benar
6. Mengetahui hal-hal yang perlu diingat pada ibu menyusui.

C. TARGET
Ibu menyusui

D. SUSUNAN ACARA
Tahap Kegiatan Waktu
Pembukaan  Mengucapkan salam
 Penyampaian maksud dan tujuan pertemuan sesuai kontrak waktu 2 menit
Proses  Menentukan bagaimana posisi yang baik bagi ibu menyusui
 Menjelaskan cara memasukan puting yang baik dan benar
 Mengetahui cara melepaskan hisapan bayi
 Menjelaskan cara menyendawakan bayi
 Mengetahui apakah tanda-tanda menyusui telah baik dan benar
 Mengetahui hal-hal yang perlu diingat pada ibu menyusui. 5 menit
Penutup  Memberikan evaluasi berupa pertanyaan pada Ibu menyusui
 Menutup pertemuan dan mengucapkan salam 2 menit



E. METODE
1. Ceramah
2. Tanya jawab
3. Peragaan

F. MEDIA
1. Materi pengajaran
2. Lembar balik
3. Leaflet


MATERI TEKNIK MENYUSUI YANG BAIK DAN BENAR
A. Pengertian
Teknik menyusui adalah suatu cara pemberian ASI yang dilakukan oleh seorang ibu kepada bayinya, demi mencukupi kebutuhan nutrisi bayi tersebut.
B. Posisi yang tepat bagi ibu untuk menyusui
1. Duduklah dengan posisi yang enak atau santai, pakailah kursi yang ada sandaran punggung dan lengan
2. Gunakan bantal untuk mengganjal bayi agar bayi tidak terlalu jauh dari payudara ibu.
C. Cara memasukkan puting susu ibu kemulut bayi
 Bila dimulai dengan payudara kanan, letakkan kepaada bayi pada siku bagian dalam lengan kanan, badan bayi menghadap kebadan ibu.
 Lengan kiri bayi diletakakan diseputar pinggang ibu, tangan kanan ibu memegang pantat/paha kanan bayi.
 Sangga payudara kanan ibu dengan empat jari tangan kiri, ibu jari diatasnya tetapi tidak menutupi bagian yang berwarna hitam (areola mamae).
 Sentuhlah mulut bayi dengan puting payudara ibu
 Tunggu sampai bayi membuka mulutnya lebar
 Masukkan puting payudara secepatnya ke dalam mulut bayi sampai bagian yang berwarna hitam.
D. Teknik melepaskan hisapan bayi
Setelah selesai menyusui kurang lebih selama 10 menit, lepaskan hisapan bayi dengan cara:
1. Masukkan jari kelingking ibu yang bersih kesudut mulut bayi
2. Menekan dagu bayi ke bawah
3. Dengan menutup lubang hidung bayi agar mulutnya membuka
4. Jangan menarik putting susu untuk melepaskan.
E. Cara menyendawakan bayi setelah minum ASI
Setelah bayi melepaskan hisapannya, sendawanya bayi sebelum menyusukan dengan payudara yang lainnya dengan cara:
1. Sandarkan bayi dipundak ibu, tepuk punggungnya dengan pelan sampai bayi bersendawa
2. Bayi ditelungkupkan dipangkuan ibu sambil digosok punggungnya.
F. Tanda-tanda teknik menyusui sudah baik dan benar
 Bayi dalam keadaan tenang
 Mulut bayi terbuka lebar
 Bayi menempel betul pada ibu
 Mulut dan dagu bayi menempel pada payudara
 Sebagian besar areola mamae tertutup oleh mulut bayi
 Bayi nampak pelan-pelan menghisap dengan kuat
 Kuping dan lengan bayi berada pada satu garis.

H. Hal-hal yang perlu diingat dalam menyusui seorang bayi
 Berikan ASI pada bayi dengan kedua payudara secara bergantian.








DAFTAR PUSTAKA


Ebrahim, Gj.1984. Perawatan anak. Yayasan Esentia Medida: Yogyakarta.
Gilbert, Patricia. 1986. Payudara apa yang perlu diketahui wanita. ARCAN: Jakarta
Neilson, Joan. 1985. Cara Menyusui Yang Baik Dan Baik. ARCAN: Jakarta.
Suharyono, 1989. ASI Tinjauan Daru Berbagai Aspek. FKUI: Jakarta

"
Baca Selengkapnya - SAP : TEKNIK MENYUSUI YANG BAIK DAN BENAR

KTI KEBIDANAN : STUDI DESKRIPTIF PENGETAHUAN IBU TENTANG BIANG KERINGAT PADA BAYI 0-1 TAHUN

KTI KEBIDANAN
STUDI DESKRIPTIF PENGETAHUAN IBU TENTANG
BIANG KERINGAT PADA BAYI 0-1 TAHUN


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Bayi yang sehat dan lucu pasti menjadi dambaan setiap pasangan. Namun, tentu saja tidak semua bayi beruntung dengan kesehatan yang prima. Apalagi pada anak yang masih bayi, berbagai macam penyakit bisa menyerang dengan mudah.
Bayi sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan di sekitarnya. Tak pelak membuat banyak bayi mengalami gangguan kesehatan. Gangguan kesehatan pada bayi sangat beragam, misalnya gangguan saluran pernapasan, jantung, atau yang ringan seperti influenza yang bisa saja ditularkan dari ibu, kakak atau tamu-tamu yang berkunjung ke rumah.

Bidan harus mengetahui lebih banyak tentang penyakit kulit, karena tidak dapat disangkal bahwa penyakit kulit pada anak sering dijumpai. Walaupun belum ada angka statistik yang membandingkan frekuensi penyakit kulit pada anak, namun diberbagai poliklinik Dinas Kesehatan Kota dan Kabupaten dibuat kesimpulan bahwa sekitar 20% adalah kasus penyakit kulit pada anak. Data terpenting yang harus diperhatikan oleh seorang yang bukan ahli penyakit kulit, yaitu cara membuat diagnosis serta memahami prinsip pengobatan sebaik-baiknya, agar jangan sampai timbul komplikasi karena obat atau cara pengobatan yang salah (FKUI, 2005).
Kulit merupakan organ yang paling luas permukaannya, dengan berbagai alat didalamnya seperti lemak, otot, pembuluh darah, serabut syaraf, kelenjar keringat dan lain-lain. Alat-alat tersebut mengatur fungsi kulit yang beraneka ragam yaitu mulai dari proteksi secara fisis dan imunologis, mengatur suhu tubuh dan keseimbangan elektrolit (panas, dingin, tekanan, nyeri, gatal dan perabaan), ekskresi, pembuatan vitamin D, dan daya membersihkan diri (FKUI, 2005).
Kulit juga merupakan organ tubuh terluar yang terus menerus terpajan dengan lingkungan luar sehingga senantiasa aktif mengadakan penyesuaian diri dengan berbagai perubahan lingkungan. Keadaan makroskopis dan mikroskopis kulit mencerminkan kesehatan individu dan berbeda-beda sesuai dengan umurnya. Kulit pada neonatus (bayi < 1 bulan) dan bayi (< 1 bulan) merupakan bagian yang mengalami proses pematangan yang cepat, baik struktur anatomi, bio kimia dan fisiologik setelah tahap pembentukan in utero.
Selain itu, keadaan kulit juga merupakan 'cermin' kesehatan tubuh seseorang. Para orang tua kini semakin menyadari bahwa menjaga kesehatan kulit anak sama pentingnya dengan menjaga kesehatan anak. Dan untuk menjaga kesehatan kulit ini, diperlukan perawatan rutin sejak usia dini. Perawatan rutin kulit juga mengekspresikan rasa cinta seorang ibu pada buah hatinya. Telah dibuktikan bahwa sentuhan ibu akan sangat berpengaruh pada perkembangan fisik dan mental seorang anak (FKUI, 2002).
Prelevansi penyakit kulit di Indonesia cukup tinggi baik oleh bakteri, virus atau jamur. Selain itu bergantung pada lingkungan dan kondisi setiap individu. Trauma kecil atau ringan dapat menyebabkan tempat masuknya mikroorganise ke kulit (FKUI, 2005).
Salah satu penyakit kulit pada bayi adalah miliaria (biang keringat). Biang keringat dapat dijumpai pada bayi cukup bulan maupun premature, pada minggu-minggu pertama pasca kelahiran. Kemungkinan disebabkan oleh sel-sel pada bayi yang belum sempurna sehingga terjadi sumbatan pada kelenjar kulit yang mengakibatkan retensi keringat. Biang keringat terjadi pada sekitar 40% bayi baru lahir. Menetap beberapa minggu dan menghilang tanpa pengobatan. Penanggulangan biang keringat cukup dengan mandi memakai sabun, mengatur agar suhu lingkungan cukup sejuk, sirkulasi (ventilasi) yang baik serta memakai pakaian yang tipis dan menyerap keringat. Pemakaian bedak tabur dapat juga membantu, namun bila inflamasinya hebat, pemakaian cream hidrokortison 1% dapat mengatasinya (http://www.sitiaisyah.com).
Berdasarkan hasil presurvey pada bulan Maret 2008, terdapat 80 ibu yang mempunyai bayi berumur 0-1 tahun mengikuti imunisasi di BPS Hj. Subagyo, di ambil 25% dari 80 orang ibu tersebut untuk dibagikan kuisioner. Dari hasil kuisioner ada 9 (40%) orang ibu yang memiliki pengetahuan baik, 8 (35%) orang ibu memiliki pengetahuan cukup dan 7(25%) orang ibu yang memiliki pengetahuan kurang mengenai biang keringat.
Berdasarkan hal tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Pengetahuan Ibu tentang Biang Keringat pada Bayi 0-1 tahun pada bulan April-Mei di BPS Hj. Subagyo ”.

B. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas, maka penulis membuat rumusan masalah tentang “Bagaimana Pengetahuan Ibu tentang Biang Keringat pada Bayi 0-1 tahun di BPS Hj. Subagyo Tahun 2008?”.

C. Ruang Lingkup Penelitian
Jenis Penelitian : Deskriptif
Subjek Penelitian : Ibu yang memiliki Bayi 0-1 tahun.
Objek Penelitian : Pengetahuan tentang biang keringat
Lokasi Penelitian : BPS Hj. Subagyo
Waktu : Penelitian dilaksanakan pada bulan April
Alasan : Dari hasil pre survey pada bulan Maret 2008, terdapat 80ibu yang mempunyai bayi berumur 0-1 tahun mengikuti imunisasi di BPS Hj. Subagyo, di ambil 25% dari 80 orang ibu tersebut untuk dibagikan kuisioner. Dari hasil kuisioner ada 9 (40%) orang ibu yang memiliki pengetahuan baik, 8 (35%) orang ibu memiliki pengetahuan cukup dan 7(25%) orang ibu yang memiliki pengetahuan kurang mengenai biang keringat.

D. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang biang keringat pada bayi 0-1 tahun di BPS Hj. Subagyo tahun 2008.

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Ibu yang Memiliki Balita
Dapat menambah pengetahuan dan pemahaman ibu tentang biang keringat sehingga dapat mengatasinya dengan benar.
2. Bagi Rumah Bersalin
Diharapkan hasil penelitian ini bermanfaat bagi BPS sebagai bahan masukan untuk penanganan biang keringat.
3. Bagi Instansi Pendidikan
Sebagai dokumentasi akademik maupun bacaan bagi mahasiswa ataupun pihak lain yang membutuhkan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Studi Pustaka
1. Biang Keringat
a. Pengertian
Biang keringat adalah kelainan kulit yang sering muncul pada bayi dan balita akibat tersumbatnya kelenjar keringat, sehingga keringat yang keluar berkumpul di bawah kulit dan mengakibatkan timbulnya bintik-bintik merah (Pasaribu, 2007).
Biang keringat disebut juga keringat buntet timbul di daerah dahi, leher dan bagian tubuh yang tertutup pakaian, disertai gatal, kulit kemerahan dan gelembung berair kecil-kecil (http///www.ikatandokter anakindonesia.co.id).
Biang keringat adalah kelainan kulit yang disebabkan oleh keluarnya keringat berlebihan disertai tersumbatnya saluran kelenjar keringat dan biasanya terjadi pada daerah dahi, leher, punggung dan dada (http://www.republika.com).

b. Jenis-jenis Biang Keringat
Ada tiga macam biang keringat yaitu :
1) Miliaria kristalina
Biang keringat yang terjadi pada bayi baru lahir (neonatus) sumbatan terjadi pada permukaan kulit sehingga terlihat gelembung-gelembung kecil berukuran 1-2 mm berisi cairan jernih, namun tidak terdapat kemerahan pada kulit (hhtp:\\www.republika.com).
2) Miliaria rubra
Biang keringat ini terjadi pada anak yang biasa tinggal di daerah atau lingkungan panas dan lembab. Terdapat bintik-bintik kecil (1-2 mm) berwarna merah, biasanya disertai keluhan gatal dan perih (hhtp:\\www.republika.com).
3) Miliaria profunda
Pada biang keringat jenis ini terdapat bintik-bintik putih, keras dan berukuran (1-3 mm). Kulit tidak berwarna merah, namun kasus ini jarang terjadi (hhtp:\\www.republika.com)

c. Penyebab Biang Keringat
Penyebab biang keringat menurut Pasaribu (2007) yaitu:
1) Ventilasi ruangan kurang baik sehingga udara di dalam ruangan panas atau lembab.
2) Pakaian bayi terlalu tebal dan ketat, pakaian yang tebal dan ketat menyebabkan suhu tubuh bayi meningkat.
3) Bayi mengalami panas atau demam.
4) Bayi terlalu banyak beraktivitas sehingga banyak mengeluarkan keringat.



Faktor yang menyebabkan keringat keluar berlebihan dan tersumbatnya saluran keringat yaitu udara panas dan lembab disertai ventilasi ruangan yang kurang baik, pakaian terlalu tebal dan ketat, aktivitas yang berlebihan, juga setelah mengalami demam (http://www.republika.com)
Faktor penyebab timbulnya keringat berlebihan yaitu :
1) Udara panas dan lembab dengan ventilasi udara yang kurang baik
2) Pakaian yang terlalu lembab dan ketat
Pakaian banyak memberikan pengaruh pada kulit, misalnya menimbulkan pergeseran, tekanan yang berpengaruh terhadap terjadinya peningkatan suhu tubuh.
3) Aktivitas yang berlebihan, misalnya berolahraga
4) Setelah menderita sakit panas
(FKUI, 2002)

Penyebab lain berupa penyumbatan pori-pori yang berasal dari kelenjar keringat. Sumbatan ini dapat diakibatkan debu atau radang pada kulit anak. Butiran-butiran keringat yang terperangkap dibawah kulit akan mendesak ke permukaan kulit dan menimbulkan bintik-bintik kecil yang terasa gatal (http://www.conectique.com).

d. Pencegahan
1) Bayi atau anak tetap dianjurkan mandi secara teratur paling sedikit 2 kali sehari menggunakan air dingin dan sabun.
2) Bila berkeringat, sesering mungkin dibasuh dengan menggunakan handuk (lap) basah, kemudian dikeringkan dengan handuk atau kain yang lembut. Setelah itu dapat diberikan bedak tabur.
3) Jangan sekali-kali memberikan bedak tanpa membasuh keringat terlebih dahulu, karena akan memperparah penyumbatan sehingga mempermudah terjadinya infeksi baik oleh jamur maupun bakteri.
4) Hindari penggunaan pakaian tebal, bahan nilon, atau wol yang tidak menyerap keringat (FKUI, 2002).

Pencegahan dapat dilakukan dengan:
Memandikan bayi atau anak secara teratur minimal 2 kali sehari dengan air dingin dan sabun. Orang tua sebaiknya juga sering membasuh keringat anak dengan handuk basah lalu dikeringkan dan ditaburi bedak. Ruangan juga harus diperhatikan, usahakan agar suhu ruangan tidak terlalu panas dan lembab dengan cara membuat ventilasi yang baik, jika perlu pasang kipas angin. Hindari pakaian yang tebal, ketat atau yang terbuat dari bahan yang tidak menyerap keringat seperti wol dan nilon (http://www.republika.com).
Biang keringat bisa tidak dialami bayi asalkan orang tua rajin menghindari penghalang penguapan keringat yang menutup pori-pori bayi dengan cara:
1) Bayi harus dimandikan secara teratur pada pagi dan sore hari.
2) Setelah selesai mandi pastikan semua lipatan kulit bayi seperti ketiak, leher, paha dan lutut harus benar-benar kering kemudian oleskan bedak keseluruhan tubuh dengan tipis.
3) Jaga tubuh bayi agar tetap kering.
4) Jika bayi berkeringat jangan keringkan dengan menggunakan bedak. Sebaiknya dengan waslap basah, lalu dikeringkan, dan diolesi dengan bedak tipis.
5) Gunakan pakaian bayi dari bahan katun yang menyerap keringat bayi.
6) Biasanya 70% biang keringat timbul pada bayi karena sirkulasi udara kamar yang tidak baik. Untuk itu usahakan udara di dalam kamar bayi mengalir dengan baik sehingga kamar selalu sejuk.
7) Pada saat memandikan bayi yang menderita biang keringat, sebaiknya gunakan sabun bayi yang cair, sebab sabun cair tidak meninggalkan partikel. Jika menggunakan sabun padat bisa meninggalkan partikel yang dapat menghambat penyembuhan (Pasaribu, 2007).

e. Pengobatan
Sebenarnya pengobatan khusus tidak diperlukan, cukup pencegahan dan perawatan kulit yang benar. Bila biang keringat berupa gelembung kecil tidak disertai berupa gelembung kecil tidak disertai kemerahan, kering dan tanpa keluhan dapat diberi bedak setelah mandi. Bila kelainan kulit membasah tidak boleh ditaburkan bedak, karena akan terbentuk gumpalan yang memperparah sumbatan kelenjar sehingga menjadi tempat pertumbuhan kuman. Bila keluhan sangat gatal, luka dan lecet dapat diatasi dengan pemberian antibiotik (FKUI, 2002).

2. Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2005) Pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan itu terjadi melalui panca indera manusia yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar penginderaan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). Dalam hal ini pengetahuan ibu tentang biang keringat.
Pengetahuan dibagi menjadi enam tingkatan yang tercakup dalam domain kognitif yaitu :
1) Tahu (know)
Dapat diartikan sebagai mengingat materi yang telah dipelajari sebelumnya termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Tahu (know) ini merupakan tingkatan pengetahuan yang paling rendah.


2) Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Seseorang yang telah faham terhadap objek atau materi tersebut harus dapat menyimpulkan dan menyebutkan contoh, menjelaskan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
3) Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus-rumus dan metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
4) Analisis (analysis)
Arti dari analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.
5) Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian kepada suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis itu adalah kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada, misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkas, dapat menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.
6) Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini didasarkan pada suatu criteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada misalnya dapat membandingkan antara anak yang cukup gizi dengan anak yang kekurangan gizi, dapat menanggapi terjadinya diare di suatu tempat, dapat menafsirkan sebab-sebab ibu-ibu tidak mau ikut KB dan sebagainya.

B. Kerangka Konsep
Kerangka konsep merupakan bagian penelitian yang menyajikan konsep atau teori dalam bentuk kerangka yang mengacu pada masalah-masalah (bagian-bagian) yang akan diteliti atau berhubungan dengan penelitian dan dibuat dalam bentuk diagram (Hidayat, 2007). Masalah yang ingin diteliti dalam penelitian ini adalah pengetahuan ibu tentang biang keringat pada bayi 0-1 tahun di BPS Sri Wahyuningsih Punggur Lampung Tengah.



Untuk lebih jelasnya, kerangka konsep digambarkan sebagai berikut:




Gambar 1. Kerangka Konsep

C. Definisi Operasional
Definisi operasional mendefinisikan variabel secara operasional berdasarkan karakteristik yang diamati ketika melakukan pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena dengan menggunakan parameter yang jelas (Hidayat, 2007).
Definisi operasional juga bermanfaat untuk mengarahkan kepada pengukuran atau pengamatan terhadap variabel-variabel yang bersangkutan serta pengembangan instrumen (alat ukur) (Hidayat, 2007). Adapun dalam penelitian ini variabel yang akan didefinisikan secara operasional dapat dijelaskan sebagai berikut:

Tabel 1. Definisi Operasional
No. Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala
Kriteria Nilai
1 Ibu yang memiliki bayi 0-1 tahun Seorang wanita yang telah melahirkan bayi dan sudah berumur 0-1 tahun.
- - - - -
2 Pengetahuan
tentang biang keringat Hasil dari tahu, dan terjadi setelah melakukan penginderaan terhadap biang keringat Angket Kuisioner Baik
Cukup
Kurang
Kurang sekali 76-100%
51-75%
26-51%
0-25 % Interval


Baca Selengkapnya - KTI KEBIDANAN : STUDI DESKRIPTIF PENGETAHUAN IBU TENTANG BIANG KERINGAT PADA BAYI 0-1 TAHUN

KTI KEBIDANAN : STUDI KORELASI BERAT BADAN LAHIR DENGAN RUPTURE PERINEUM PERSALINAN NORMAL PADA PRIMIGRAVIDA DI BPS NY.ENDANG

KTI KEBIDANAN :
STUDI KORELASI BERAT BADAN LAHIR DENGAN RUPTURE PERINEUM
PERSALINAN NORMAL PADA PRIMIGRAVIDA DI BPS


BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Angka Kematian Bayi (Infant Mortality Rate) merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam mendeskripsikan tingkat pembangunan manusia di sebuah negara dari sisi kesehatan masyarakatnya. Angka Kematian Bayi Indonesia dan beberapa negara di Asia Pasifik dapat dilihat pada kartogram berikut ini (sumber: UNDP, 2004)

Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masing-masing adalah 373/100.000 kelahiran hidup (SKRT, 2005) serta 60/1000 kelahiran hidup (Susenas 2005), maka pada tahun 2003 AKI turun menjadi 307/100.000 kelahiran hidup (SDKI, 2003), sedangkan AKB turun menjadi 37/1000 kelahiran hidup (SDKI, 2003). Sementara itu, umur harapan hidup rata-rata meningkat dari 63,20 tahun pada tahun 2005 menjadi 66,2 tahun pada tahun 2003 (SDKI, 2003).
Indonesia membuat rencana strategi nasional Making Pregnancy Safer (MPS) untuk tahun 2001 - 2010, dalam konteks rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010 adalah dengan visi 'Kehamilan dan Persalinan di Indonesia Berlangsung Aman, serta yang Dilahirkan Hidup dan Sehat,' dengan misinya adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian maternal dan neonatal melalui pemantapan sistem kesehatan. Salah satu sasaran yang ditetapkan untuk tahun 2010 adalah menurunkan angka kematian maternal menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup (Saiffudin : 2002).

Perdarahan postpartum menjadi penyebab utama 40% kematian ibu di Indonesia. Jalan lahir merupakan penyebab kedua perdarahan setelah atonia uteri yang terjadi pada hampir persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Pada seorang primipara atau orang yang baru pertama kali melahirkan ketika terjadi peristiwa 'kepala keluar pintu'. Pada saat ini seorang primipara biasanya tidak dapat tegangan yang kuat ini sehingga robek pada pinggir depannya. Luka-luka biasanya ringan tetapi kadang-kadang terjadi juga luka yang luas dan berbahaya. Sebagai akibat persalinan terutama pada seorang primipara, biasa timbul luka pada vulva di sekitar introitus vagina yang biasanya tidak dalam akan tetapi kadang-kadang bisa timbul perdarahan banyak (Prawirohardjo, 2009).
Ruptur Perineum dapat terjadi karena adanya ruptur spontan maupun episiotomi. perineum yang dilakukan dengan episiotomi itu sendiri harus dilakukan atas indikasi antara lain: bayi besar, perineum kaku, persalinan yang kelainan letak, persalinan dengan menggunakan alat baik forceps maupun vacum. Karena apabila episiotomi itu tidak dilakukan atas indikasi dalam keadaan yang tidak perlu dilakukan dengan indikasi di atas, maka menyebabkan peningkatan kejadian dan beratnya kerusakan pada daerah perineum yang lebih berat. Sedangkan luka perineum itu sendiri akan mempunyai dampak tersendiri bagi ibu yaitu gangguan ketidaknyamanan.

Berdasarkan hasil data prasurvey, angka kejadian rupture perineum spontan yang dialami ibu primigravida di BPS Ny. Endang tahun 2007 masih sangat tinggi yaitu sebanyak 41 orang (65%) dari 63 persalinan normal. Sedangkan yang tidak mengalami rupture perineum berjumlah 22 orang. Jumlah berat badan bayi > 3100 gr yaitu 32 bayi sedangkan yang < 3.100 gr sebanyak 31 bayi. Dari 32 orang ibu yang melahirkan dengan berat badan bayi > 3.100 gr yang mengalami rupture berjumlah 30 orang dan yang tidak mengalami rupture 2 orang. Sedangkan dari 31 orang ibu yang melahirkan bayi dengan berat badan < 3.100 gr yang mengalami rupture sebanyak 11 orang dan yang tidak sebanyak 20 orang.
Berdasarkan data tersebut penulis tertarik untuk meneliti hubungan berat badan lahir dengan ruptur perineum persalinan normal pada primigravida di BPS Ny. Endang tahun 2007.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini yaitu adakah hubungan berat badan lahir dengan ruptur perineum persalinan normal pada primigravida di BPS Ny. Endang tahun 2007.

C. Ruang Lingkup
Penelitian ini akan mengkaji hubungan berat badan lahir dengan ruptur perineum persalinan normal pada primigravida di BPS Ny. Endang. Dengan desain penelitian korelasi. Subjek penelitian yaitu ibu primigravida pada persalinan normal pada bulan Januari - Desember tahun 2007. Objek penelitian yaitu berat badan lahir di atas 3100 gram dan berat badan lahir kurang dari 3100 gram pada bulan Januari-Desember 2007 pada primigravida. Alasan dilakukannya penelitian karena masih banyak ditemukannya angka kejadian ruptur perineum pada primigravida di BPS Ny. Endang yaitu 41 dari 63 persalinan normal pada primigravida. Penelitian ini akan menggunakan metode cross sectional yang akan dilaksanakan pada bulan Mei 2007 di BPS Ny. Endang yang beralamat di Purwogondo Timur Cianjur.

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara berat badan lahir dengan ruptur perineum persalinan normal pada primigravida di BPS Ny. Endang tahun 2007.

2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengidentifikasi jumlah berat badan lahir di atas 3100 gram dan berat badan lahir kurang dari 3100 gram yang dilahirkan ibu yang menyebabkan ruptur atau tidak ruptur perineum persalinan normal pada primigravida di BPS Ny. Endang tahun 2007.
b. Untuk mengetahui adakah hubungan berat badan lahir dengan ruptur perineum persalinan normal pada primigravida di BPS Ny. Endang tahun 2007.
c. Untuk mengetahui keeratan hubungan berat badan lahir dengan ruptur perineum persalinan normal pada primigravida di BPS Ny. Endang tahun 2007.
E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan untuk:
1. Manfaat bagi tempat penelitian
Sebagai masukan dalam meningkatkan pelayanan kesehatan dan memberikan masukan dalam memberikan penyuluhan.
2. Manfaat bagi institusi pendidikan
Untuk mendapatkan perbendaharaan perpustakaan/referensi bagi Kebidanan Wira Buana Metro.
3. Manfaat bagi peneliti
Untuk penerapan ilmu pengetahuan dalam membuat karya tulis dan sebagai salah satu pengalaman belajar di Akademi Kebidanan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. TELAAH PUSTAKA
1. Ruptur Perineum
a. Pengertian
Ruptur adalah : robekan atau koyaknya jaringan secara paksa (Dorland, 1994)
Perineum adalah : bagian yang terletak antara vulva dan anus panjangnya rata-rata 4 cm (Wiknjosastro, 1999).
Persalinan normal : proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung 18 jam, tanpa komplikasi pada ibu maupun janin (Prawirohardjo, 2002).
b. Klasifikasi Ruptur Perineum
1) Ruptur Perineum Spontan
Yaitu luka pada perineum yang terjadi karena sebab-sebab tertentu tanpa dilakukan tindakan perobekan atau disengaja. Luka ini terjadi pada saat persalinan dan biasanya tidak teratur.
2) Ruptur perineum yang disengaja (Episiotomi)
Yaitu luka perineum yang terjadi karena dilakukan pengguntingan atau perobekan pada perineum: Episiotomi adalah torehan yang dibuat pada perineum untuk memperbesar saluran keluar vagina (Prawirohardjo, 2002).

Tingkat robekan perineum dapat dibagi atas 4 tingkatan :
1. Tingkat I
Robekan hanya terjadi pada selaput lendir vagina dengan atau mengenai kulit perineum sedikit.
2. Tingkat II
Robekan yang terjadi lebih dalam, yaitu selain mengenai selaput lendir vagina, juga mengenai musculus perinei tranversalis, tapi tidak mengenai sfingter ani.
3. Tingkat III
Robekan yang terjadi mengenai seluruh perineum sampai mengenai otot-otot sfingter ani.
4. Tingkat IV
Robekan mengenai perineum sampai otot sfingter ani dan mukosa rektum (Prawirohardjo, 2002).

2. Penyebab Terjadinya Ruptur Perineum
Persalinan seringkali menyebabkan perlukaan pada jalan lahir. Perlukaan pada jalan lahir tersebut terjadi pada : Dasar panggul/perineum, vulva dan vagina, servik uteri, uterus sedangkan ruptur pada perineum spontan disebabkan oleh : Perineum kaku, kepala janin terlalu cepat melewati dasar panggul, bayi besar, lebar perineum, paritas. (Suwito, 1999).
3. Berat Badan lahir
Berat badan lahir adalah berat badan bayi yang ditimbang 24 jam pertama kelahiran. Semakin besar bayi yang dilahirkan meningkatkan resiko terjadinya ruptur perineum pada normalnya berat badan bayi sekitar 2.500-3.800 gr. (dr. Rini Sekartini, Sp. A, 2007).
Bayi besar (giant baby) adalah bayi yang begitu lahir memiliki bobot lebih dari 3.900 gram. Padahal pada normalnya, berat bayi baru lahir adalah sekitar 2.500-3.800 gram (www.wikimu.com).
a. Janin Kelebihan Berat Badan
Janin kelebihan berat badan dapat disebabkan oleh beberapa hal antara lain:
 Ibu yang menderita kencing manis (Diabetes Melitus/DM)
 Ibu yang memiliki riwayat melahirkan bayi besar
 Faktor Genetik
 Pengaruh kecukupan gizi
 Bukan kehamilan pertama

silahkan download dalam bentuk dokumen word KTI KEBIDANAN
STUDI KORELASI BERAT BADAN LAHIR DENGAN RUPTURE PERINEUM PERSALINAN NORMAL PADA PRIMIGRAVIDA DI BPS
(isi: Pendahuluan; Tinjauan Pustaka,Metodelogi Penelitian;
Hasil Penelitan dan Pembahasan; Kesimpulan dan Saran)

Baca Selengkapnya - KTI KEBIDANAN : STUDI KORELASI BERAT BADAN LAHIR DENGAN RUPTURE PERINEUM PERSALINAN NORMAL PADA PRIMIGRAVIDA DI BPS NY.ENDANG

STUDY KORELASI TINGKAT PENGTAHUAN IBU TENTANG ASI TERHADAP PEMBERIAN PASI PADA BAYI 0-6 BULAN DI PUSKESMAS

KTI KEBIDANAN
STUDY KORELASI TNGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG ASI TERHADAP PEMBERIAN PASI PADA BAYI 0-6 BULAN DI PUSKESMAS

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian
IQ sangat dipengaruhi oleh pemberian ASI. Anak-anak dengan pemberian ASI yang cukup, mempunyai IQ yang lebih tinggi (sekitar 3 – 8 point) dibandingkan dengan anak-anak yang tidak diberikan ASI atau diberikan ASI dalam waktu yang singkat. Faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain adalah kandungan gizi dalam ASI yang berpengaruh terhadap otak bayi yang juga turut mempengaruhi perkembangan inteligensi bayi.

Manfaat ASI bahkan telah dikampanyekan oleh UNICEF (United Nations Children's Fund) melalui Pekan Menyusui Sedunia atau World Breastfeeding Week yang diselenggarakan setiap tanggal 1-7 Agustus. Kampanye itu antara lain mengajak masyarakat di seluruh dunia, terutama kaum ibu, untuk memberikan manfaat ASI kepada bayi serta mengenal manfaat pemberian ASI bagi dirinya sendiri.
Pemberian ASI dari awal kelahiran sampai 4-6 bulan akan menjadikan sendi-sendi kehidupan yang terbaik baginya kelak. ASI juga menjamin bayi tetap sehat dan memulai kehidupannya dalam cara yang paling sehat. Karena ASI adalah makanan terbaik diawal kehidupan bayi (Soetjiningsih, 1997).
Para ahli menemukan bahwa manfaat ASI akan sangat meningkat bila gizi hanya diberi ASI saja selama 6 bulan pertama kehidupannya. Peningkatan ini sesuai dengan lamanya pemberian ASI eksklusif serta lamanya pemberian ASI bersama-sama dengan makanan padat setelah bayi berumur 6 bulan. Melalui ASI eksklusif akan lahir generasi baru yang sehat secara mental emosional dan sosial (Soetjiningsih, 1997).
Namun, menurut para ahli saat ini banyak ibu-ibu baru yang memberikan bayi mareka PASI, tetapi mereka menghentikannya lebih awal. Hal tersebut terjadi karena banyak sekali hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian PASI.
Seiring dengan perkembangan zaman, terjadi pula peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat. Ironinya, pengetahuan lama yang mendasar seperti pemberian ASI justru kadang terlupakan. Padahal kehilangan pengetahuan dalam pemberian ASI merupakan kehilangan yang besar, karena pemberian ASI adalah suatu pengetahuan yang berjuta-juta tahun mempunyai peran penting dalam mempertahankan kehidupan manusia. Pengaruh kemajuan tehnologi dan perubahan sosial budaya juga mengakibatkan ibu-ibu diperkotaan umumnya bekerja diluar rumah dan makin meningkat. Ibu-ibu golongan ini menganggap lebih praktis membeli dan memberikan susu botol daripada menyusui, semakin meningkatnya jumlah angkatan kerja wanita diberbagai sektor, sehingga semakin banyak ibu harus meninggalkan bayinya sebelum berusia 4 bulan, setelah habis cuti bersalin. Hal ini menjadi kendala tersendiri bagi kelangsungan pemberian ASI eksklusif dan adanya mitos-mitos yang menyesatkan juga sering menghambat dalam pemberian ASI (Ebrahim, 1986).
Tingkat pengetahuan ibu yang kurang tentang pemberian PASI mengakibatkan kita lebih sering melihat bayi diberi susu botol dari pada disusui ibunya, bahkan kita juga sering melihat bayi yang baru berusia 1 bulan sudah diberi pisang atau nasi lembut sebagai tambahan ASI. Pemberian susu formula, makanan padat / tambahan yang terlalu dini dapat mengganggu. Pemberian ASI eksklusif serta meningkatkan angka kesakitan pada bayi. Selain itu tidak ditemukan bukti yang menyokong bahwa pemberian susu formula, makanan padat / tambahan pada usia 4 atau 5 bulan lebih menguntungkan. Bahkan sebaliknya, hal ini akan mempunyai dampak yang negatif terhadap kesehatan bayi dan tidak ada dampak positif untuk perkembangan pertumbuhannya (I Gde Manuaba, 1998).
Program peningkatan penggunaan ASI (PP-ASI) khususnya ASI eksklusif merupakan program prioritas, karena dampaknya luas terhadap status gizi dan kesehatan balita. Program prioritas ini berkaitan dengan kesepakatan global antara lain, deklarasi Incocenty (Italia) pada tahun 1990 tentang perlindungan, promosi dan dukungan terhadap penggunaan ASI, disepakati pula untuk pencapaian pemberian ASI eksklusif sebesar 80% pada tahun 2000 (Anwar, Harian Pelita, www.Depkes.co.id)
Pemberian ASI saja (ASI eksklusif) dianjurkan sampai bayi berumur 6 bulan kenyataannya di Indonesia hampir semua bayi mendapatkan ASI, namun hanya sekitar 52% ibu memberikan ASI eksklusif. Cakupan pemberian ASI eksklusif di Propinsi Jawa Tengah adalah 34,53% dari 57,208 (Laporan Tahunan Promkes tahun 2005). Cakupan pemberian ASI eksklusif di Tembalang Semarang adalah 13,49% dari 2,950 (Laporan tahunan Dinkes Tembalang Semarang 2004-2005. Di Puskesmas Pembantu Sambiroto hanya 20% dari 100 bayi yang diberikan PASI (Laporan Puskesmas Pembantu 2006).

Berdasarkan hasil pra survey yang telah dilakukan oleh penulis di Wilayah Puskesmas Pembantu Sambiroto Tembalang Semarang 2006, didapatkan dari 100 bayi terdapat 20 bayi (20 %) yang tidak diberikan ASI eksklusif. Dilihat dari tingkat pendidikan ibu di wilayah Puskesmas Pembantu Sambiroto rata-rata pendidikan ibu SMP, sehingga ibu memberikan bermacam-macam makanan seperti susu formula, air teh, nasi lembut, pisang.
Melihat hal tersebut diatas, penulis tertarik untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian makanan atau minuman pendamping ASI pada ibu menyusui di Wilayah Puskesmas Pembantu Sambiroto Tembalang Semarang.

1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, di Indonesia terdapat 52% ibu menyusui yang memberikan ASI eksklusif di Jawa Tengah; 34,53% ibu-ibu menyusui yang memberikan ASI eksklusif di Tembalang Semarang 13,49%; ibu-ibu menyusui yang memberikan ASI eksklusif. Desa Sambiroto terdapat 20% ibu-ibu menyusui yang memberikan PASI pada usia 0-6 bulan. Dari hasil pra survey, ternyata masih banyak bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif di Wilayah Puskesmas Pembantu Sambiroto Tembalang Semarang.

1.3 Rumusan Masalah
Masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Pembantu Sambiroto Tembalang Semarang.
1.4 Pertanyaan Penelitian
Bagaimana hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Sambiroto Tembalang Semarang.

1.5 Tujuan Penelitian
1.5.1 Tujuan Umum
Mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang ASI terhadap pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Pembantu Sambiroto Tembalang Semarang.

1.5.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui karateristik responden yang memberikan PASI pada bayi 0 – 6 bulan (Umur, Paritas, Pendidikan, Pekerjaan, Wilayah Puskesmas Pembantu Sambiroto Tembalang Semarang 2006.
2. Mengetahui hubungan pengetahuan ibu terhadap pemberian PASI pada bayi 0-6 bulan di Wilayah Puskesmas Pembantu Sambiroto Tembalang Semarang 2006.

1.6 Manfaat Penelitian
1.6.1 Bagi Institusi Akademi Kebidanan.
Sebagai salah satu bahan pustaka bagai peneliti selanjutnya.
1.6.2 Bagi Puskesmas Pembantu Sambiroto
Diharapkan akan memberi manfaat sebagai bahan masukan atau tambahan dalam memberikan pengetahuan pada ibu menyusui.
1.6.3 Bagi Ibu
Khususnya ibu menyusui diharapkan dapat menambah dan meningkatkan pengetahuan ibu tentang cara pemberian PASI
1.6.4 Bagi Penulis
Dapat menambah wawasan keilmuan dan pengalaman dalam memberikan Asuhan Kebidanan kepada ibu.

1.7 Ruang Lingkup Penelitian
1.7.1 Jenis penelitian : Deskriptif
1.7.2 Objek penelitian :
a. Variabel Terikat : PASI
b. Variabel Bebas : 1. Karakteristik Responden
2. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang ASI
terhadap Pemberian PASI
1.7.3 Subjek Penelitian : Ibu menyusui yang mempunyai bayi 0-6 bulan
1.7.4 Lokasi Penelitian : Di Wilayah Puskesmas Pembantu Sambiroto Tembalang Semarang.
1.7.5 Waktu Penelitian : Januari s/d Mei 2006


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian ASI
Air Susu Ibu (ASI) adalah bahan makanan alami, ideal, dan fisiologis, mengandung nutriet lengkap dengan komposisi yang sesuai bagi bayi yang lahir dengan cukup umur dalam bulan-bulan pertama kehidupan mereka. ASI adalah bahan makanan alamiah bagi bayi yang lahir dengan cukup umur dalam bulan-bulan pertama kehidupannya (Nelson, 1987:267). ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein dan garam-garam organik yang disekresi kedua belah kelenjar payudara ibu sebagai makanan utama bagi bayi (Soetjiningsih, 1997:20).

2.1.1 Mengukur Kecukupan ASI pada Bayi
Untuk melihat apakah bayi cukup mendapat ASI atau tidak, dapat dilakukan suatu cara yaitu dengan uji kebasahan. Ibu perlu memperhatikan berapa kali bayi kencing dalam satu hari. Dalam satu hari bayi harus kencing 1 x atau lebih, dan air seni biasanya tidak berwarna atau berwarna kuning pucat. Bila bayi hanya menyusu dan ia kencing 6x sehari, berarti ia cukup mendapatkan ASI. Bila ibu memberikan bayi air atau minuman lain, uji ini tidak ada manfaatnya (F. Savage King, 1993). Timbang bayi untuk memeriksa kenaikan berat badan yang tertera pada Kartu Menuju Sehat (KMS, dapat menjadi barometer apakah bayi cukup mendapat ASI atau tidak. Bayi yang sehat pertambahan berat badannya antara setengah sampai satu kilogram per bulan atau paling sedikit 125 g dalam seminggu (F. Savage King, 1993).

2.1.2 Cara Meningkatkan Asupan ASI
a. Ibu harus diberi kepercayaan dan dibuat merasa bahwa ia akan menghasilkan ASI yang cukup.
b. Ibu harus diusahakan untuk beristirahat lebih banyak dan mencoba bersantai saat menyusui bayinya.
c. Ibu harus makan – makanan yang bergizi dan minum yang banyak
d. Bayi harus dekat dengan ibu dan ditangani ibu sesering mungkin
e. Menyusui bayi lebih sering
f. Ibu harus menyusui bayinya walaupun pada malam hari
g. Bila diketahui ada perangsang ASI setempat yang bermanfaat, ibu dianjurkan untuk menggunakannya.

2.2 Pengertian PASI
Makanan pendamping ASI adalah makanan yang diberikan kepada bayi. Setelah cukup bulan untuk melengkapi kebutuhan zat gizi yang diperlukan bagi bayi karena produksi ASI mulai menurun, dimana bayi secara perlahan-lahan dibiasakan dengan makanan orang dewasa. Makanan pendamping ASI adalah makanan pengganti air susu ibu yang berupa susu sapi atau sering disebut susu formula (Hendrawan Nadesol, 1999).
PASI adalah makanan yang diberikan pada bayi apabila ASI tidak tersedia, yang secara tunggal dapat memenuhi kebutuhan gizi dan pertumbuhan serta pertimbangan bayi sampai berumur antara 0-6 bulan.
PASI adalah susu sapi yang diformulasikan sedemikian rupa sehingga komposisinya mendekati ASI (Muchtadi, 2002:59).
Indikasi pemberian PASI :
1. Ibu Menderita Demam Tinggi.
2. Buah dada Ibu bengkak dan bernanah.
3. Ibu menderita penyakit gondok toksik yang mendapat pengobatan anti tiroid
4. Penyakit menahun yang sangat melemahkan keadaan Ibu.

2.2.1 Kapan PASI dapat digunakan?
PASI dapat diberikan kepada bayi bilamana ibu tidak dapat memberikan ASI, untuk seluruh atau sebagian karena berbagai sebab seperti :
- Produksi ASI tidak cukup atau tidak ada
- Ibu meninggal dunia
- Ibu menderita penyakit berat seperti septisemia tuberkulosis paru-paru yang aktif, kelainan jantung berat
- Ibu meninggalkan rumah karena bekerja atau sebab-sebab lain
- Anak sakit dan dirawat dirumah sakit.

Ada beberapa masalah yang berdampak negatif dalam pemberian PASI antara lain :
1. Terjadi kontaminasi, terutama bila dalam penyiapan dan pemberiannya kurang memperhatikan segi-segi kesehatan.
2. Dapat terjadi kegagalan tumbuh kembang, misalnya pemberian PASI terlalu encer, sebaliknya dapat terjadi kegemukan (Obesitas), karena pemberian PASI yang terlalu kental dan diberikan secara bebas.
3. Adanya perubahan perilaku terutama yang menyangkut hubungan bathin antara bayi dan ibu.
4. PASI juga harus dibeli sekalipun harganya mahal

2.2.2 Bahaya Pemberian Susu Botol
1. Adanya pengadaan air yang baik (untuk membuat susu dan membersihkan alat).
2. Pendidikan ibu cukup, yang sangat penting dalam penakaran susu dan sterilisasi alat-alat.
3. Sosial ekonomi lebih baik sehingga memungkinkan membeli susu sesuai dengan kebutuhan.

Pemberian PASI yang tepat yaitu setelah bayi berusia + 6 bulan, karena dengan pemberian makanan tambahan kepada bayi yang belum berusia 6 bulan dapat menyebabkan sukar tidur dimalam hari, juga dapat menyebabkan penyakit-penyakit seperti: sakit perut, mencret atau sembelit (sukar BAB), infeksi, kurang darah danm alergi. Hal ini disebabkan adanya kelemahan PASI yang telah disebutkan diatas. Tetapi disisi lain ada juga kelebihan PASI yaitu mengandung gizi yang cukup, apabila si ibu dalam keadaan sakit atau kurang gizi, PASI dapat diberikan tanpa takut menularkan penyakit pada bayinya. Namun walaupun ada kelebihan dan kekurangan, ASI tetaplah yang terbaik bagi bayi. (Brinch, 1996, 73).
Beberapa jenis susu pengganti ASI untuk bayi
1. Susu Penuh Cair (Liquid Whole Milk)
a. Susu sapi
b. Susu kerbau
2. Tepung Susu Penuh (Whole Milk Powder)
3. Tepung Susu Skim (Tanpa lemak/kadar lemak rendah)
4. Susu Kental Penuh (Condensed Whole Milk)
5. Susu Asam (Yoghurt)
6. Susu Formula (Adapted)

Jenis susu formula ini yang banyak digunakan sebagai susu pengganti ASI karena berasal dari susu sapi yang diformulasi sedemikian rupa sehingga komposisinya mendekati ASI sehingga cocok bagi bayi baru lahir, sampai berumur 4 bulan atau sebagai susu lanjutan yang diperuntukkan bagi bayi berumur 6 bulan keatas. (Muchtadi, 2002, 43).

2.3 Faktor Pengetahuan
2.3.1 Pengertian Pengetahuan
Menurut Bloom (bloom, 1975), pengetahuan adalah pemberian bukti oleh seseorang melalui proses pengikat atau pengenalan informasi, ide yang sudah diperoleh sebelumnya. Bloom mengelompokan pengetahuan ke dalam ranah kognitif dan menempatkan sebagai urutan pertama dari ranah kognitif, karena pengetahuan merupakan unsur dasar untuk membentuk tingkat-tingkat ranah sebelumnya yang meliputi pemahaman, penerapan, analisis, sinetesis dan penelitian.
Menurut Skiner, seperti diikuti oleh Notoatmodjo (Notoatmodjo, 1993), bila seseorang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai satu bidang tertentu dengan lancar dan baik secara lisan dan tulisan, maka dikatakan mengetahui bidang itu. Sekumpulan jawaban verbal yang diberikan orang tersebut dinamakan pengetahuan.
Sementara itu Notoatmodjo (2003) membagi tingkat pengetahuan sebagai berikut :
1. Tahu (Know)
Diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.

2. Memahami (Comprehension)
Diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menyelesaikan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
3. Aplikasi (Aplication)
Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya)
4. Analisis (Analysis)
Suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5. Sintesis (Synthesis)
Suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi-formulasi yang ada.
6. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkat-tingkatan di atas.
2.3.2 Pengetahuan yang Salah tentang Alasan Ibu Memberikan PASI
Sehubungan dengan faktor pengetahuan di atas, ASI yang tidak cukup merupakan alasan paling sering bagi ibu yang ingin cepat memberikan bayi mereka susu sapi atau bubur dari tepung biji-bijian. Alasan tersebut juga sering disertai dengan keluhan seperti :
- Payudara terasa kosong atau telah berhenti mengeluarkan ASI
- Bayi menangis terlalu sering
- Bayi sering ingin menyusu (F. Savage King, 1993).

Pada dasarnya, banyak hal yang menyebabkan bayi menangis selain karena lapar, seperti takut, kesepian, merasa bosan, kapanasan, atau tidak nyaman (Utami Roesly, 2000).
Harus diketahui bahwa Tuhan telah menciptakan tubuh manusia yang cerdas. Umumnya, tidak ada ibu yang tidak dapat menyusui (2 – 5%) yang secara biologis memang kurang produksi ASI nya. Selebihnya 95-98% ibu menyusui dapat menghasilkan ASI yang cukup untuk bayinya (Utami Roesly, 2000).
Posisi ibu dalam menyusui dapat mempengaruhi ketidaknyamanan bayi dalam mendapatkan ASI, yang dapat mengakibatkan asupan ASI bagi bayi berkurang. Adapun cara menyusui yang baik adalah sebagai berikut (Utami Roesly, 2000).
a. Duduklah yang enak dan nyaman dikursi atau ditempat yang mempunyai sandaran punggung dan lengan. Pakailah bantal untuk mengganjal bayi supaya tidak terlalu jauh dari payudara.
b. Bila mulai menyusui dengan payudara kiri, letakkan kepala bayi pada siku bagian dalam lengan kiri anda dan badan bayi didekatkan dengan badan ibu, sehingga badan bayi ke badan ibu. Letakkan tangan kiri ibu memegang pantat atau paha kiri bayi.
c. Sanggalah payudara kiri ibu dengan ke 4 jari tangan dibawahnya dan ibu jari di atasnya.
d. Sentuhlah mulut bayi dengan puting susu bayi.
e. Tunggulah sampai bayi membuka mulutnya lebar-lebar.
f. Tengadahkan sedikit kepala bayi dan masukkan secepatnya seluruh puting susu dan areola kedalam mulut bayi, sehingga terletak diantara lidah dan langit-langit mulutnya. Lalu dekap bayi ketubuh ibu dan ujung hidung menyentuh payudara ibu. Dengan ibu jari tekanlah sedikit payudara kiri ibu supaya bayi dapat bernafas dengan baik.
g. Setelah selesai menyusui, untuk melepas hisapan bayi tekanlah dagunya atau pijatlah hidungnya.
h. Setelah itu sebelum menyusui dengan payudara yang satu lagi, sandawakan dulu bayi anda agar ia tidak muntah.
Pengeluaran ASI dapat diikuti dengan merangsang aliran ASI, dengan cara :
a. Urutlah payudara dengan cara mengurut payudara bagian atas, tekan jari-jari tangan sambil melakukan gerakan memutar.
b. Setelah beberapa detik lakukan gerakan memutar ini disekeliling payudara kearah puting susu.
c. Usaplah payudara mulai dari bagian atas menuju ke daerah puting susu dengan menggunakan ujung-ujung jari. Gerakan ini dapat memberikan rasa tenang dan merangsang reflek pengeluaran ASI.
d. Guncanglah payudara ketika anda membungkuk ke depan. Posisi ini akan membantu mengalirkan ASI keluar.

2.3.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan PASI
Faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan PASI antara lain:
1. Perubahan sosial budaya
- Ibu – ibu bekerja atau kesibukan sosial lainnya.
- Meniru teman, tetangga atau orang terkemuka yang memberikan susu botol.
- Merasa ketinggalan zaman jika menyusui bayinya.
2. Faktor Psikologis
- Takut kehilangan daya tarik sebagai seorang wanita.
- Tekanan batin.
3. Faktor Fisik Ibu
- Ibu sakit, misalnya mastitis, panas dan sebagainya.
4. Faktor kurangnya petugas kesehatan, sehingga masyarakat kurang mendapat penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI.
5. Meningkatkan promosi susu kaleng sebagai pengganti ASI.
6. Penerangan yang salah justru datangnya dari petugas kesehatan sendiri yang menganjurkan penggantian ASI dengan susu kaleng. (Soetjiningsih,2002)

silahkan download dalam bentuk dokumen word KTI KEBIDANAN
STUDY KORELASI TNGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG ASI TERHADAP
PEMBERIAN PASI PADA BAYI 0-6 BULAN DI PUSKESMAS.....
(isi: Pendahuluan; Tinjauan Pustaka; Metodelogi Penelitian;
Hasil Penelitan dan Pembahasan; Kesimpulan dan Saran)


Baca Selengkapnya - STUDY KORELASI TINGKAT PENGTAHUAN IBU TENTANG ASI TERHADAP PEMBERIAN PASI PADA BAYI 0-6 BULAN DI PUSKESMAS

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU DAN POLA PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI DENGAN STATUS GIZI BALITA USIA 4-24 BULAN

KTI KEBIDANAN LENGKAP
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU DAN POLA PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI DENGAN STATUS GIZI BALITA USIA 4-24 BULAN



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
ASI (Air Susu Ibu) adalah makanan tunggal terbaik yang bisa memenuhi seluruh kebutuhan gizi bayi normal untuk tumbuh kembang di bulan-bulan pertama kehidupannya. Itu sebabnya, Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Dana PBB untuk Anak-anak (UNICEF) menetapkan pemberian ASI eksklusif pada bayi selama 6 bulan. Ini berarti, si kecil hanya mendapat ASI, tanpa makanan tambahan lain selama masa itu. Penelitian menunjukkan, banyak manfaat diperoleh bayi yang mendapat ASI. Tidak ada yang bisa menggantikan ASI yang memang di'desain' khusus untuk bayi. Dan jangan lupa, proses pemberian ASI akan menumbuhkan kelekatan emosi yang dalam dan kuat antara mama dan bayi.

Dalam tumbuh kembang anak, makanan merupakan kebutuhan yang terpenting. Kebutuhan anak berbeda dengan kebutuhan orang dewasa, karena makanan dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan (Soetjiningsih, 1995:6). Pada masa balita, anak sedang mengalami proses pertumbuhan yang sangat pesat sehingga memerlukan zat- zat makanan yang relatif lebih banyak dengan kualitas yang lebih tinggi. Hasil pertumbuhan menjadi dewasa, sangat tergantung dari kondisi gizi dan kesehatan sewaktu masa balita. Gizi kurang atau gizi buruk pada bayi dan anak- anak terutama pada umur kurang dari 5 tahun dapat berakibat terganggunya pertumbuhan jasmani dan kecerdasan otak (Ahmad Djaeni,2000:239).
Di masa bayi ASI merupakan makanan terbaik dan utama karena mempunyai kandungan zat kekebalan yang sangat diperlukan untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit terutama penyakit infeksi. Namun seiring pertumbuhan bayi, maka bertambah pula kebutuhan gizinya, sebab itu sejak usia 4-6 bulan, bayi mulai diberi makanan pendamping ASI (MP-ASI) (Jihat Santoso,2005).
Makanan pendamping ASI diberikan mulai umur 4 bulan sampai 24 bulan. Semakin meningkat umur bayi/ anak, kebutuhan zat gizi semakin bertambah untuk tumbuh kembang anak, sedangkan ASI yang dihasilkan kurang memenuhi kebutuhan gizi (Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI, 2000:5).
Masalah gizi di Indonesia yang terbanyak meliputi gizi kurang atau yang mencakup susunan hidangan yang tidak seimbang maupun konsumsi keseluruhan yang tidak mencukupi kebutuhan badan. Prevalensi kurang gizi di Jawa Tengah, terutama pada bayi dibawah 5 tahun dinilai masih tinggi. Pada tahun 2002, tercatat sebanyak 4.378 balita atau 1,51 % balita di Jawa Tengah bergizi buruk. Sebanyak 40.255 balita atau 13,88% balita bergizi kurang (Profil Kesehatan Jawa Tengah, 2003).
Upaya peningkatan status kesehatan dan gizi bayi atau anak melalui perbaikan perilaku masyarakat dalam pemberian makanan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari upaya perbaikan gizi secara menyeluruh (Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan RI, 2000: 1).
Dari hasil beberapa penelitian menyatakan bahwa keadaan kurang gizi pada bayi dan anak disebabkan karena kebiasaan pemberian makanan pendamping ASI yang tidak tepat. Ketidaktahuan tentang cara pemberian makanan bayi dan anak serta adanya kebiasaan yang merugikan kesehatan, secara langsung dan tidak langsung menjadi penyebab utama terjadinya masalah kurang gizi pada anak, khususnya pada anak usia dibawah 2 tahun ( Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan RI, 2000: 1).
Kekurangan Energi Protein (KEP) dapat terjadi baik pada bayi, anak- anak maupun orang dewasa. Anak- anak serta ibu yang sedang mengandung dan sedang menyusui merupakan golongan yang sangat rawan. Usia 2-3 tahun merupakan usia yang sangat rawan karena pada usia ini merupakan masa peralihan dari ASI ke pengganti ASI atau ke makanan sapihan dan paparan terhadap infeksi mulai meningkat karena anak mulai aktif sehingga energi yang dibutuhkan relatif tinggi karena kecepatan pertumbuhannya. Makanan sapihan pada umumnya mengandung karbohidrat dalam jumlah besar tetapi sangat sedikit kandungan proteinnya atau sangat rendah mutu proteinnya, justru pada usia tersebut protein sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan anak (Winarno, 2002: 46).
Dalam periode pemberian Makanan Pendamping ASI, bayi tergantung sepenuhnya pada perawatan dan pemberian makanan oleh ibunya. Oleh karena itu pengetahuan dan sikap ibu sangat berperanan, sebab pengetahuan tentang Makanan Pendamping ASI dan sikap yang baik terhadap pemberian Makanan Pendamping ASI akan menyebabkan seseorang mampu menyusun menu yang baik untuk dikonsumsi oleh bayinya. Semakin baik pengetahuan gizi seseorang maka ia akan semakin memperhitungkan jenis dan jumlah makanan yang diperolehnya untuk dikonsumsi (Ahmad Djaeni, 2000:12-13). Pada keluarga dengan pengetahuan tentang Makanan Pendamping ASI yang rendah seringkali anaknya harus puas dengan makanan seadanya yang tidak memenuhi kebutuhan gizi balita karena ketidaktahuan.
Pada umumnya anak-anak yang masih kecil (balita) mendapat makanannya secara dijatah oeh ibunya dan tidak memilih serta mengambil sendiri mana yang disukainya (Ahmad Djaeni, 2000:12). Untuk dapat menyusun menu yang adekuat, seseorang perlu memiliki pengetahuan mengenai bahan makanan dan zat gizi, kebutuhan gizi seseorang serta pengetahuan hidangan dan pengolahannya. Umumnya menu disusun oleh ibu (Soegeng Santoso dan Anna Lies Ranti, 1999:123).
Persentase status gizi balita khususnya kabupaten Banyumas pada tahun 2003/2004 tercatat sebesar 4,28 % balita berstatus gizi buruk, 18,09% balita berstatus gizi kurang, dan 71,41% balita berstatus gizi baik serta 6,22 % balita dengan gizi lebih. Kabupaten ini merupakan kabupaten dengan jumlah balita gizi buruk terbanyak dibandingkan dengan kabupaten lain (Pradipta, 2005). Jumlah balita yang dinyatakan gizi buruk di kabupaten Banyumas pada bulan Juli tahun 2005 mencapai 801 bayi, sehingga perlu diadakan perbaikan status gizi, salah satunya yaitu dengan memperhatikan pemberian makanan bayi atau balita dengan tepat dan sesuai kebutuhan mereka.
Berdasarkan hasil laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas tahun 2006, menyebutkan bahwa di seluruh kabupaten Banyumas termasuk daerah yang rawan gizi. Di setiap kecamatan terdapat balita dengan status gizi kurang maupun gizi buruk. Dari laporan tersebut, jumlah balita dengan status gizi buruk sebesar 2,1 %, sedangkan status gizi kurang sebesar 12,5% (Profil Dinkes Banyumas, 2006).
Desa Bulakamba merupakan salah satu desa yang termasuk dalam kecamatan Banyumas kabupaten Banyumas, desa Bulakamba termasuk desa yang rawan gizi. Dengan status gizi kurang sebesar 4,7 % sebanyak 8 anak dan gizi buruk sebesar 1,2 % sebanyak 2 anak untuk tahun 2006. Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya status gizi kurang dan gizi buruk di desa Bulakamba mengalami penurunan yaitu pada tahun 2004 gizi kurang sebesar 6,7 % dan tahun 2005 sebesar 5,3 %. Sedangkan gizi buruk pada tahun 2004 2,2 % untuk tahun 2005 turun menjadi 1,3 %.
18


Berorientasi dari hal tersebut, tingkat pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI,dan pola pemberian makanan pendamping ASI serta status gizi balita merupakan masalah yang penting untuk dikaji lebih dalam, untuk itu perlu diadakan suatu penelitian yang mengkaji tentang masalah tersebut dengan judul “ Hubungan antara Pengetahuan Ibu dan Pola Pemberian Makanan Pendamping ASI dengan Status Gizi Balita Usia 4-24 Bulan di Desa Bulakamba Kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas Tahun 2007”.
1.2 Rumusan Masalah
Dengan memperhatikan latar belakang masalah diatas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1.2.1 Umum
Adakah hubungan antara pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI dan pola pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita usia 4-24 bulan di desa Bulakamba kecamatan Banyumas kabupaten Banyumas.
1.2.2 Khusus
1.2.2.1 Adakah hubungan antara pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI dengan status gizi balita usia 4-24 bulan di desa Bulakamba kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas?
1.2.2.2 Adakah hubungan antara pola pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita usia 4-24 bulan di desa Bulakamba kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas?

1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.3.1 Tujuan umum

Mengetahui adanya hubungan antara pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI dan pola pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita usia 4-24 bulan di desa Bulakamba kecamatan Banyumas kabupaten Banyumas.
1.3.2 Tujuan khusus
1.3.2.1 Mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI dengan status gizi balita usia 4-24 bulan di desa Bulakamba kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas.
1.3.2.2 Mengetahui hubungan antara pola pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita usia 4-24 bulan di desa Bulakamba kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Ibu Balita
Untuk menambah pengetahuan ibu tentang pemberian makanan pendamping ASI secara tepat dan memenuhi kebutuhan balita mereka.
1.4.2 Bagi Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat
Penelitian ini bisa dijadikan referensi untuk penelitian selanjutnya tentang pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI, pola pemberian makanan pendamping ASI dan status gizi balita.
20

1.4.3 Bagi Puskesmas
Memberikan informasi tentang mengenai hubungan pengetahuan ibu dan pola pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi balita.
1.4.4 Bagi Peneliti
Untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman dalam melakukan penelitian khususnya pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI, pola pemberian makanan pendamping ASI dan tingkat status gizi balita di desa Bulakamba kecamatan Banyumas kabupaten Banyumas
1.5 Keaslian Penelitian
Keaslian dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
Tabel 1
Keaslian Penelitian
No Judul Penelitian Nama Peneliti Tahun dan Tempat Penelitian Rancangan Penelitian Variabel Penelitian Hasil Penelitian
1. Hubungan antara Pengetahuan dan Praktek Ibu dalam Pemberian MP- ASI dengan Status Gizi Anak Pada 4-24 Bulan di Desa Batuan Kecamatan Sukawati Kabupaten Bali Dwi Jata 2000, desa Batuan Explanatory dengan pendekatan cross sectional Variabel bebas: pengetahuan ibu
Variabel antara: praktik MP-ASI
Variabel terikat :status gizi Ada hubungan antara pengetahuan ibu dan praktik MP-ASI dengan status gizi balita
2. Hubungan antara Pola Pemberian Makanan Pendamping ASI dengan Status Gizi Bayi umur 4-12 bulan didesa Gunan kecamatan Slogohimi kabupaten Wonogiri Carnoto SM 2000, desa Gunan Explanatory dengan metode survey dan pendekatan cross sectional Variabel bebas: pola pemberian MP-ASI pada bayi 4-12 bulan (bentuk makanan), tingkat konsumsi energi dan protein
Variabel terikat : status gizi Ada hubungan yang signifikan antara pola pemberian MP-ASI, tingkat konsumsi energi dan protein dengan status gizi

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Pengetahuan Ibu tentang Makanan Pendamping ASI (MP-ASI)
2.1.1.1 Pengertian Pengetahuan
Menurut Maman Rachman (2003:93), pengetahuan adalah hasil dari kegiatan mengetahui, sedangkan mengetahui artinya mempunyai bayangan tentang sesuatu. Sedangkan menurut Soekidjo Notoatmodjo (2003:122-123), pengetahuan yang mencakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu:
1) Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan, tingkatan ini adalah mengingat kembali (recall) suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.
2) Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai mengingat suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
3) Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya.

4) Analisis (analysis) Aplikasi adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen, tetapi masih didalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5) Sintesis (synthetis)
Sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru di formulasi-formulasi yang ada.
6) Evaluasi
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi/ penilaian terhadap suatu materi/objek.

2.1.1.2 Pengertian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI)
Makanan pendamping ASI adalah makanan atau minuman yang mengandung gizi diberikan pada bayi/ anak untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Makanan pendamping ASI diberikan mulai umur 4 bulan sampai 24 bulan. Semakin meningkat umur bayi/ anak, kebutuhan zat gizi semakin bertambah untuk tumbuh kembang anak, sedangkan ASI yang dihasilkan kurang memenuhi kebutuhan gizi (Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI, 2000:5).
Makanan pendamping ASI merupakan makanan peralihan dari ASI ke makanan keluarga. Pengenalan dan pemberian makanan pendamping ASI harus dilakukan secara bertahap baik bentuk maupun jumlahnya, sesuai dengan kemampuan pencernaan bagi bayi/ anak. Pemberian makanan pendamping ASI yang cukup kualitas dan kuantitasnya penting untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan anak yang sangat pesat pada periode ini (Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI, 2000:5). 24
Tujuan pemberian makanan tambahan adalah sebagai komplemen terhadap ASI agar anak memperoleh cukup energi, protein dan zat-zat gizi lainnya (vitamin dan mineral) untuk tumbuh dan berkembang. Penting untuk diperhatikan agar pemberian ASI dilanjutkan terus selama mungkin, karena ASI memberikan sejumlah energi dan protein yang bermutu tinggi. Untuk mengajarkan anak mengunyah dan terbiasa dengan makanan baru, pertama-tama berikan satu atau dua sendok teh makanan tmbahan (weaning foods).
2.1.2 Pola Pemberian Makanan Pendamping ASI
Pola makan adalah cara yang ditempuh seseorang/sekelompok orang untuk memilih makanan dan mengkonsumsinya sebagai reaksi terhadap pengaruh fisiologis, psikologis, budaya dan sosial (Suhardjo, 1986: 35). Pengertian pola makan menurut Lie Goan Hong dalam Sri Karjati (1985) adalah berbagai informasi yang memberikan gambaran mengenai macam dan jumlah bahan makanan yang di makan tiap hari oleh satu orang dan merupakan ciri khas untuk suatu kelompok masyarakat tertentu (Soegeng Santoso dan Anne Lies Ranti, 1999: 89).
Sedangkan menurut Yayuk Farida (2004: 69), pola konsumsi pangan adalah susunan jenis dan jumlah pangan yang dikonsumsi seseorang atau kelompok orang pada waktu tertentu.
2.1.2.1 Macam Zat Gizi
Menurut Deddy Muchtadi (19994:11-18) zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh bayi mengenai beberapa zat gizi, tetapi direkomendasikan untuk dikonsumsi yang dapat mendukung pertumbuhan seorang bayi yang sehat.

1) Energi Konsumsi energi sebanyak 115 Kkal per kgberat badan (sekitar 95-145 Kkal/kg) nampaknya mencukupi kebutuhan bayi untuk bulan pertama kehidupannya. Dari jumlah energi yang dikonsumsi bayi, 50% digunakan untuk energi basal (energi yang dibutuhkan untuk bekerjanya organ-organ di dalam tubuh, peredaran darah, dan sebagainya), 25% untuk aktivitasnya, 25% lainnya untuk pertumbuhan badan yang berkisar antara 5 sampai 7 gr per hari.untuk umur 6 bulan energi yang dibutuhkan turun menjadi 95 Kkal/kg berat badan. Bayi yang pendiam membutuhkan energi sebesar 71 Kkal/kg BB, sedangkan bayi yang aktif membutuhkan sampai 133 Kkal/kg BB.
2) Protein
Protein dalam tubuh merupakan zat pembengun yang sangat dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan tubuh, menggantikan sel-sel yang rusak, memelihara keseimbangan metabolisme tubuh. Kebutuhan protein bagi bayi relatif lebih besar dari orang dewasa, karena bayi mengalami pertumbuhan yang pesat (Departemen Kesehatan, 1995:5)
Kebutuhan akan protein selama periode pertumbuhan tulang rangka dan otot yang cepat pada masa bayi, relatif tinggi. Konsumsi sebanyak 2,2 gr protein bernilai gizi tinggi per kg BB per hari menghasilkan retensi nitrogen sekitar 45%, jumlah ini cukup unuk pertumbuhan bayi yang normal. Pada minggu ketiga, sekitar 60%-75% dari jumlah protein yang dikonsumsi digunakan untuk pertumbuhan dan sisanya digunakan untuk pemeliharaan. Pada umur 4 bulan, proporsinya adalah 45% dan 55%. Pada umur 5 bulan, kebutuhan proteinnya turun menjadi 2 gr/kg BB perhari.

3) Vitamin Larut Air Kebutuhan bayi akan vitamin yang larut dalam air sangat dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi ibu. Bayi harus memperoleh 0,5 mg ribovlavin per 1000 Kkal energi yang dikonsumsi untuk memelihara kejenuhan jaringan, berarti bahwa bayi yang berumur 3-6 bulan membutuhkan 0,4 mg tiamin dan pada umur 6-12 bulan membutuhkan 0,6 mg tiamin perhari. Konsumsi sebanyak 5-6 NE (niacin equivalent) dapat dibutuhkan oleh ASI yang menyediakan 0,15 mg niasin dan 21 mg triptofan per 100 ml.bayi membutuhkan 0,005 mg folasin/kg BB. Untuk vitamin C, bayi memperolehnya dari ASI.
4) Vitamin Larut Lemak
Jumlah vitamin A yang dibutuhkan bayi sebanyak 375ug RE. perhari.konsumsi vitamin D pada bayi akan meningkat pada waktu terjadinya kalsifikasi tulang dan gigi yang cepat. Konsumsi vitamin D dianjurkan sebanyak 400 IU/ hari. Disarankan untuk memberikan vitamin E pada bayi sebanyak 2-4 mg TE (tocopherol equivalent) per hari. Untuk vitamin K, defisiensi vitamin K dapat terjadi pada beberapa hari pertama.
5) Mineral
Karena terjadinya kalsifikasi yang cepat pada tulang untuk menunjang berat badan pada waktu bayi mulai belajar berjalan, kalsium sangat dibutuhkan. ASI mengandung 280 mg kalsium per liter, yang berarti dapat mensuplai sekitar 210 mg kalsium perhari. Kebutuhan bayi akan zat besi sangat ditentukan oleh umur kehamilan. Bayi yang dikandung cukup umur akan menerima sejumlah zat besi dari ibunya selama kandungan. Tingginya kadar seng dalam kolostrum (4 mg
27


per liter yang menurun jumlahnya menjadi 2 mg/liter pada air susu putih setelah 6 bulan, dan menjadi 0,5 mg/liter setelah 1 tahun) dapat mengkompensasi kebutuhan bayi yang diberi ASI akan seng.
2.1.2.2 Kebutuhan Gizi Balita
Pengaturan makanan anak usia dibawah lima tahun mencakup dua aspek pokok, yaitu pemanfaatan ASI secara tepat dan benar dan pemberian makanan pendamping ASI dan makanan sapihan serta makanan setelah usia setahun. Penelitian Oomen terhadap 415 usia balita dibawah lima tahun di Jakarta tahun 1957 menunjukkan bahwa anak-anak yang disusui ibunya, keadaan gizinya tidak lebih baik dari gizi anak yang tidak diberi ASI. Masalahnya bukan dikarenakan mutu gizi ASI, akan tetapi karena penggunaan ASI yang tidak tepat dan salah.
Adapun kebutuhan balita terhadap energi dan protein adalah sebagai berikut :
Tabel 2
Kebutuhan Energi dan Protein Bagi Anak
Usia (bulan) Berat badan (Kg) Kebutuhan Energi (Kal) Kebutuhan Protein (Gr)
0 – 3
4 – 6
7 – 9
10 – 12
13 – 24
25 - 36 4,1
6,4
7,7
9,2
11,0
13,5 492
735
850
970
1135
1350 10
15
18
19
23
28
2.1.2.3 Penilaian Konsumsi Makanan
Penilaian konsumsi makanan dimaksudkan untuk mengetahui kebiasaan makan dan gambaran tingkat kecukupan bahan makanan dan zat gizi pada tinkat kelompok, rumah tangga dan perorangan, serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap konsumsi makanan tersebut. Menurut I Nyoman Supariasa (2001:88), beberapa metode pengukuran konsumsi makanan untuk individu anatara lain :
1) Metode food recall 24 jam
Metode ini dilakukan dengan menanyakan jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi responden pada periode 24 jam yang lalu. Dimulai sejak ia bangun pagi sampai istirahat malam hari. Metode ini cenderung bersifat kualitatif sehingga jumlah konsumsi makanan individu ditanyakan secara teliti. Metode ini digunakan untuk mengatur rata-rata konsumsi pangan dan zat gizi pada kelompok besar. Daya ingat responden dan kesungguhan serta kesabaran dari pewawancara sangat menentukan keberhasilan metode recall 24 jam ini.
2) Metode estimated food records
Metode ini digunakan untuk mencatat jumlah yang dikonsumsi. Responden diminta mencatat semua yang ia makan dan minum setiap kali sebelum makan. Menimbang dalam ukuran berat pada periode tertentu, termasuk cara persiapan dan pengelolaan makanan. Metode ini dapat memberikan informasi konsumsi yang mendekati sebenarnya tentang jumlah energi dan zat gizi yang dikonsumsi oleh individu.
3) Metode Penimbangan Makanan (food Weighing)
Responden atau petugas menimbang dan mencatat seluruh makanan yang dikonsumsi selama 1 hari. Penimbangan makanan ini biasanya berlangsung beberapa hari tergantung dati tujuan, dana penelitian, dan tenaga yang tersedia.
29


Terdapatnya sisa makanan setelah makan juga perlu ditimbang sisa tersebut untuk mengetahui jumlah sesungguhnya makanan yang dikonsumsi.
4) Metode Riwayat Makanan
Metode ini bersifat kualitatif karena memberikan gambaran pola kunsumsi berdasarkan pengamatan dalam waktu yang cukup lama (bias 1 minggu, 1 bulan, 1 tahun). Metode ini terdiri dari 3 komponen yaitu : wawancara, frekuensi jumlah bahan makanan, pencatatan konsumsi.
5) Metode Frekuensi Makanan (food frequensi)
Metode ini untuk memperoleh data tentang frekuensi konsumsi sejumlah bahan makanan atau makanan jadi selama periode tertentu. Meliputi hari, minggu, bulan, atau tahun, sehingga diperoleh gambaran pola konsumsi makanan secara kualitatif. Kuesioner frekuensi makanan memuat tentang daftar bahan makanan dan frekuensi penggunaan makanan tersebut pada periode tertentu.

2.1.2.4 Faktor yang Mempengaruhi Pola Pemberian Makanan Pendamping ASI
1) Pendapatan
Pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak karena orang tua dapat menyediakan semua kebutuhan anak baik yang primer maupun yang sekunder (Soetjiningsih, 1998:10).
2) Besar Keluarga
Laju kelahiran yang tinggi berkaitan dengan kejadian kurang gizi, karena jumlah pangan yang tersedia untuk suatu keluarga yang besar mungkin cukup untuk keluarga yang besarnya setengah dari keluarga tersebut. Akan tetapi tidak cukup untuk mencegah gangguan gizi pada keluarga yang besar tersebut (Suhardjo, 2003:23).
2.1.2.3 Penilaian Konsumsi Makanan
Penilaian konsumsi makanan dimaksudkan untuk mengetahui kebiasaan makan dan gambaran tingkat kecukupan bahan makanan dan zat gizi pada tinkat kelompok, rumah tangga dan perorangan, serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap konsumsi makanan tersebut. Menurut I Nyoman Supariasa (2001:88), beberapa metode pengukuran konsumsi makanan untuk individu anatara lain :
1) Metode food recall 24 jam
Metode ini dilakukan dengan menanyakan jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi responden pada periode 24 jam yang lalu. Dimulai sejak ia bangun pagi sampai istirahat malam hari. Metode ini cenderung bersifat kualitatif sehingga jumlah konsumsi makanan individu ditanyakan secara teliti. Metode ini digunakan untuk mengatur rata-rata konsumsi pangan dan zat gizi pada kelompok besar. Daya ingat responden dan kesungguhan serta kesabaran dari pewawancara sangat menentukan keberhasilan metode recall 24 jam ini.
2) Metode estimated food records
Metode ini digunakan untuk mencatat jumlah yang dikonsumsi. Responden diminta mencatat semua yang ia makan dan minum setiap kali sebelum makan. Menimbang dalam ukuran berat pada periode tertentu, termasuk cara persiapan dan pengelolaan makanan. Metode ini dapat memberikan informasi konsumsi yang mendekati sebenarnya tentang jumlah energi dan zat gizi yang dikonsumsi oleh individu.
3) Metode Penimbangan Makanan (food Weighing)
Responden atau petugas menimbang dan mencatat seluruh makanan yang dikonsumsi selama 1 hari. Penimbangan makanan ini biasanya berlangsung beberapa hari tergantung dati tujuan, dana penelitian, dan tenaga yang tersedia.
29


Terdapatnya sisa makanan setelah makan juga perlu ditimbang sisa tersebut untuk mengetahui jumlah sesungguhnya makanan yang dikonsumsi.
4) Metode Riwayat Makanan
Metode ini bersifat kualitatif karena memberikan gambaran pola kunsumsi berdasarkan pengamatan dalam waktu yang cukup lama (bias 1 minggu, 1 bulan, 1 tahun). Metode ini terdiri dari 3 komponen yaitu : wawancara, frekuensi jumlah bahan makanan, pencatatan konsumsi.
5) Metode Frekuensi Makanan (food frequensi)
Metode ini untuk memperoleh data tentang frekuensi konsumsi sejumlah bahan makanan atau makanan jadi selama periode tertentu. Meliputi hari, minggu, bulan, atau tahun, sehingga diperoleh gambaran pola konsumsi makanan secara kualitatif. Kuesioner frekuensi makanan memuat tentang daftar bahan makanan dan frekuensi penggunaan makanan tersebut pada periode tertentu.

2.1.2.4 Faktor yang Mempengaruhi Pola Pemberian Makanan Pendamping ASI
1) Pendapatan
Pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak karena orang tua dapat menyediakan semua kebutuhan anak baik yang primer maupun yang sekunder (Soetjiningsih, 1998:10).
2) Besar Keluarga
Laju kelahiran yang tinggi berkaitan dengan kejadian kurang gizi, karena jumlah pangan yang tersedia untuk suatu keluarga yang besar mungkin cukup untuk keluarga yang besarnya setengah dari keluarga tersebut. Akan tetapi tidak cukup untuk mencegah gangguan gizi pada keluarga yang besar tersebut (Suhardjo, 2003:23).

Sehubungan dengan pangan yang biasa dipandang untuk dimakan, dijumpai banyak pola pantangan, takhayul, dan larangan pada beragam kebudayaan dan daerah yang berlainan di dunia. Bila pola pantangan makanan berlaku bagi seluruh penduduk sepanjang hidupnya, kekurangan zat gizi cenderung tidak akan berkembang seperti jika pantangan itu hanya berlaku bagi sekelompok masyarakat tertentu selama satu tahap dalam siklus hidupnya (Suharjo, 1996:22).
4) Pendidikan
Tingkat pendidikan formal membentuk nilai-nilai progresif bagi seseorang terutama dalam menerima hal-hal baru. Tingkat pendidikan formal merupakan faktor yang ikut menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan menekuni pengetahuan yang diperoleh.
5) Pengetahuan gizi
Kurangnya pengetahuan dan salah persepsi tentang kebutuhan pangan dan nilai pangan adalah umum disetiap negara di dunia. Penduduk dimanapun akan berutung dengan bertambahnya pengetahuan mengenai gizi dan cara menerapkan informasi tersebut untuk orang yang berbeda tingkat usia dan keadaan fisiologis (Agus Krisno, 2004:13).
6) Pelayanan Kesehatan
Penyebab kurang gizi yang merupakan faktor penyebab tidak langsung yang lain adalah akses atau keterjangkauan anak dan keluarga terhadap air bersih dan pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan ini meliputi imunisasi,
39


pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, penimbangan anak, dan saran lain seperti keberadaan posyandu, puskesmas, praktek bidan, dokter dan rumah sakit (Soekirman, 2000:85).
2.1.4 Hubungan antara Pengetahuan Ibu tentang Makanan Pendamping ASI dan Pola Pemberian Makanan Pendamping ASI dengan Status Gizi Balita
Kurangnya pengetahuan dan salah persepsi tentang kebutuhan pangan dan nilai pangan adalah umum di setiap negara di dunia. Penduduk dimanapun akan beruntung dengan bertambahnya pengetahuan mengenai gizi dan cara menerapkan informasi tersebut untuk orang yang berbeda tingkat usianya dan keadaan fisiologisnya (Agus Krisno, 2004:13-14).
Ketidaktahuan tentang cara pemberian makanan bayi dan anak serta adanya kebiasaan yang merugikan kesehatan, secara langsung dan tidak langsung menjadi penyebab utama terjadinya masalah kurang gizi pada anak, khususnya pada umur dibawah 2 tahun (Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan RI, 2000:1).
Pengetahuan ibu dapat diperoleh dari beberapa faktor baik formal seperti pendidikan yang didapat di sekolah-sekolah maupun non formal yang diantaranya dapat diperoleh bila ibu aktif dalam kegiatan posyandu, PKK maupun kegiatan penyuluhan kesehatan masyarakat. Pengetahuan merupakan faktor yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang, dimana hal itu dikuatkan dengan penelitian yang dilakukan Roger (1974) yang mengungkapkan bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan (Soekidjo Notoatmojo, 1997: 128).
Pengetahuan seorang ibu dibutuhkan dalam perawatan anaknya, dalam hal pemberian dan penyediaan makanannya, sehingga seorang anak tidak menderita
40


kekurangan gizi. Kekurangan gizi dapat disebabkan karena pemilihan bahan makanan yang tidak benar. Pemilihan makanan ini dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan ibu tentang bahan makanan. Ketidaktahuan dapat menyebabkan kesalahan pemilihan dan pengolahan makanan, meskipun bahan makanan tersedia (Suharjo, 2003:25).
Menurut Suhardjo (1986:31), suatu hal yang menyakinkan tentang pentingnya gizi didasari pada 3 kenyataan yaitu : 1) status gizi seseorang yang cukup adalah penting bagi kesehatan dan kesejahteraan, 2) setiap orang hanya akan cukup gizi jika makanan yang dimakannya mampu menyediakan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan tubuh yang optimal, pemeliharaan dan energi, 3) ilmu gizi memberikan fakta-fakta yang perlu sehingga penduduk dapat belajar menggunakan pangan dengan baik bagi kesejahteraan gizi.
Kualitas hidangan menunjukkan adanya semua zat gizi yang diperlukan tubuh didalam susunan hidangan dan perbandingannya yang satu terhadap yang lain. Kuantitas menunjukan kuantum masing-masing zat gizi terhadap kebutuhan tubuh (Soegeng Santoso dan Anne Lies Ranti, 1999: 70).
Konsumsi pangan yang tidak cukup energi biasanya juga kurang dalam satu atau lebih zat gizi esensial lainnya. Konsumsi energi dan protein yang kurang selama jangka waktu tertentu akan menyebabkan gizi kurang, sehingga untuk menjamin pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan balita maka perlu asupan gizi yang cukup (Agus Krisno, 2004:15).
41


2.2 Kerangka Teori
Gambar 1
Kerangka Teori
(Sumber: Modifikasi Soegeng Santoso dan Anne Lies Ranti, 1999:82, Yayuk Farida, 2004:20, Supariasa, 2002:33)


Pendidikan Pendapatan Daya beli Konsumsi makanan Penyakit Infeksi Pola pemberian MP-ASI Pengetahuan Status Gizi Balita Pelayanan kesehatan Sosial budaya Jumlah Keluarga



silahkan download dalam bentuk dokumen word KTI KEBIDANAN
PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG PEMBERIAN MAKANAN
PENDAMPING ASI PADA BAYI 6 – 24 BULAN DI BPS.....
(isi: Pendahuluan; Tinjauan Pustaka; Metodelogi Penelitian;
Hasil Penelitan dan Pembahasan; Kesimpulan dan Saran)
Baca Selengkapnya - HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU DAN POLA PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI DENGAN STATUS GIZI BALITA USIA 4-24 BULAN

STUDY DESKRIPTIF USIA MENARCHE SISWI SMP....

KTI KEBIDANAN
STUDY DESKRIPTIF USIA MENARCHE SISWI SMP....

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Peristiwa yang paling penting pada remaja putri adalah menarche yaitu perdarahan pertama dari uterus yang terjadi pada seorang wanita (Wiknjosastro, 2005 : 92). Hal ini menjadi tanda biologis dari kematangan seksual yang dapat timbul bermacam-macam peristiwa hormonal, reaksi biologis dan reaksi psikis, proses somatis yang berlangsung secara siklik dan terjadi pengulangan secara periodik peristiwa menstruasi (Kartono, 1992 : 111).
Timbulnya menstruasi ini karena berfungsinya organ hipotalamus, hipofise, ovarium dan uterus secara terkoordinasi. Pada awal menstruasi sering tidak teratur bahkan bisa berlangsung 1-2 tahun (Dep Kes RI, 1992 : 30). Peristiwa ini bisa berproses dalam suasana hati yang normal pada anak gadis tetapi kadang kala juga bisa berjalan tidak lancar dan bisa menimbulkan masalah psikosomatis (Kartono, 1992 : 111).
Dalam dasawarsa terakhir ini usia menarche telah bergeser ke usia yang lebih muda. Semmel weiis dalam Winkjosastro (2005) menyatakan bahwa 100 tahun yang lampau usia gadis-gadis Vienna pada waktu menarche berkisar antara 15-19 tahun. Sekarang usia gadis remaja pada waktu menarche bervariasi lebar, yaitu antara 10-16 tahun tetapi rata-rata 12,5 tahun. Hal ini disebabkan oleh makin baiknya nutrisi dan kesehatan sekarang (Wiknjosastro, 2005 : 92). Statistik menunjukkan bahwa usia menarche dipengaruhi oleh faktor keturunan, keadaan gizi, dan kesehatan umum. Menurut Brown dalam Winkjosastro (2005) menurunnya waktu usia menarche itu sekarang disebabkan oleh keadaan gizi dan kesehatan umum yang membaik, dan berkurangnya penyakit menahun.
Cepat atau lambatnya kematangan seksual selain dipengaruhi oleh konstitusi fisik individual juga dipengaruhi oleh faktor ras atau suku bangsa, faktor iklim, cara hidup dan lingkungan anak. Badan yang lemah atau penyakit yang mendera seorang anak gadis bisa memperlambat timbulnya menstruasi (Kartono, 1992 : 112).
Di SMP XXX jumlah keseluruhan murid perempuan kelas I adalah 150 orang. Dari sekian jumlah murid perempuan kelas I, yang sudah mengalami haid adalah 95%. Menarchenya terjadi rata-rata usia 11-13 tahun.
Beberapa ahli mengatakan bahwa anak perempuan dengan jaringan lemak yang lebih banyak, lebih cepat mengalami menarche. Latihan atletik yang berat dapat memperlambat menarche dan atau mengganggu fungsi menstruasi. Saat timbulnya menarche juga kebanyakan ditentukan oleh pola dalam keluarga. Hubungan antara usia menarche sesama saudara kandung lebih erat dari pada antar ibu dan anak perempuannya. Selain itu juga terdapat perbedaan etnis dalam usia saat menarche, misalnya lebih lambat pada kulit hitam. Menarche lebih lambat timbul di daerah pedesaan dibandingkan dengan perkotaan dan lebih cepat didaerah dataran rendah. Faktor lain seperti penyakit kronis terutama yang mempengaruhi masukan makanan dan oksigenasi jaringan dapat memperlambat menarche (Pardede, 2002 : 154).
Sekitar 1/3 dari jumlah penduduk Indonesia terdiri dari kelompok usia remaja yang perlu mendapat bimbingan dan perhatian, karena pada usia tersebut merupakan periode transisi dalam siklus hidup dari masa anak ke masa dewasa yang penuh dengan masalah dan tantangan kehidupan (Dep Kes RI dan WHO, 2003 : 1). Fase tibanya haid ini merupakan suatu peristiwa dimana remaja telah siap secara biologis menjalani fungsi kewanitaannya. Semakin muda usia remaja dan semakin belum siap menerima peristiwa haid akan semakin terasa kejam dan mengancam pengalaman menstruasi tersebut. Pengamatan secara psikoanalitis menunjukkan bahwa ada reaksi psikis pada saat haid pertama lalu timbul proses yang disebut sebagai komplek kastrasi atau trauma genetalia (Kartono, 1992 : 112-113).
Menstruasi yang datangnya sangat awal, dalam artian anak gadis tersebut masih sangat muda usianya, dan kurang mendisiplinkan diri dalam hal kebersihan badan menyebabkan menstruasi itu dialami oleh anak sebagai suatu beban baru atau sebagai satu tugas baru yang tidak menyenangkan. Kadang muncul anggapan yang keliru yang sesuai dengan teori cloaca yang menyatakan segala sesuatu yang keluar dari rongga tubuh itu adalah kotor, najis, menjijikkan, serta merupakan tanda noda dan tidak suci. Dalam situasi yang demikian menarche dihayati anak sebagai satu proses mengeluarkan sejumlah darah kotor dari tubuhnya dimana ia harus menyingkir, menyendiri, atau harus diisolir. Maka kelak ketika ia telah menjadi dewasa, ia selalu cenderung untuk menghindari setiap kontak dengan orang lain, jika ia tengah mendapatkan haidnya. Reaksi individual anak gadis pada saat menarche berbeda-beda atau bervariasi. Pada umumnya mereka diliputi kecemasan berupa fobia atau berwujud minat yang sangat berlebihan terhadap badan sendiri dalam bentuk hypochondria. Bisa juga berwujud rasa bersalah atau berdosa yang sangat ekstrim yang kemudian menjadi reaksi paranoid (Kartono, 1992 : 114-118). Beberapa perubahan mental lain yang terjadi adalah berkurangnya kepercayaan diri (malu, sedih, khawatir dan bingung) (BKKBN, 2001 :5). Dengan demikian perlu diberikan pendidikan tentang menarche kepada remaja putri sebelum mereka menghadapi menarche.

1.2 Identifikasi faktor penyebab masalah
Peristiwa menarche yang sifatnya sangat komplek meliputi unsur-unsur hormonal dan psikososial. Menarche dipengaruhi oleh faktor keturunan, keadaan gizi dan kesehatan umum, faktor ras atau suku bangsa, faktor iklim, cara hidup dan lingkungan. Pada waktu yang lampau menarche berkisar antara usia 15-19 tahun tetapi terakhir ini usia menarche telah bergeser ke usia yang lebih muda yaitu antara usia 11-13 tahun.
1.3 Rumusan masalah
Berdasarkan fenomena permasalahan pada latar belakang di atas maka penulis merumuskan masalah yaitu “Bagaimanakah gambaran usia menarche siswi kelas 1 SMP XXX ?”
1.4 Tujuan penelitian
1.4.1 Tujuan umum
Menggambarkan usia menarche siswi kelas 1 SMP XXX.
1.4.2 Tujuan khusus
1. Mengidentifikasi usia siswi kelas 1 SMP XXX.
2. Mengidentifikasi jumlah siswi kelas 1 yang sudah mengalami haid.
3. Mengidentifikasi usia menarche siswi kelas 1 yang sudah mengalami haid.
1.5 Manfaat penelitian
1.5.1 Manfaat teoritis
Berdasarkan penelitian ini dapat digambarkan usia menarche siswi kelas 1 SMP XXX sehingga dapat mengetahui apakah usia menarchenya awal, normal, atau lambat.
1.5.2 Manfaat praktis
1. Bagi institusi sekolah
Sebagai masukan bagi kebijaksanaan program dalam rangka pengawasan, pengendalian, dan pembinaan bagi remaja putri.
2. Bagi institusi pendidikan
Penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan sumbangsih bagi institusi pendidikan, khususnya dalam bidang perpustakaan dan diharapkan menjadi masukan yang bermanfaat bagi penelitian selanjutnya.
3. Bagi peneliti
Merupakan pengalaman yang berharga dan merupakan proses belajar guna meningkatkan dan menambah pengetahuan dan kemampuan untuk melakukan penelitian.
4. Bagi peneliti lain
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi peneliti lain dan dapat digunakan sebagai dasar untuk penelitian berikutnya.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kajian teori tentang menarche
2.1.1 Pengertian
Menarche adalah perdarahan pertama dari uterus yang terjadi pada seorang wanita (Wiknjosastro, 2005 : 92).
Menarche adalah peristiwa ketika seorang anak perempuan mengalami haid atau datang bulan yang pertama kali (BKKBN, 1997 : 27)
2.1.2 Karakteristik usia menarche
Usia remaja yang mendapat menarche bervariasi yaitu : antara usia 10-16 tahun, tetapi rata-rata 12,5 tahun (Wiknjosastro, 2005 : 104), antara 11-15 tahun, rata-rata 13 tahun (Pardede, 2002 : 154).
2.1.3 Macam- macam menarche
Menurut Wiknjosastro (2005) macam-macam menarche ada 2 yaitu :
1. Menarche prekoks
Menarche prekoks yaitu sudah ada haid sebelum umur 10 tahun.
2. Menarche tarda
Menarche tarda yaitu menarche yang baru datang umur 14-16 tahun.
2.1.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi menarche
Menurut Wiknjosastro (2005) faktor-faktor yang mempengaruhi menarche ada 3 yaitu sebagai berikut :

1. Faktor keturunan
Saat timbulnya menarche juga kebanyakan ditentukan oleh pola dalam keluarga. Hubungan antara usia menarche sesama saudara kandung lebih erat dari pada antara ibu dan anak perempuannya.
2. Keadaan gizi
Makin baiknya nutrisi mempercepat usia menarche. Beberapa ahli mengatakan anak perempuan dengan jaringan lemak yang lebih banyak, lebih cepat mengalami menarche dari pada anak yang kurus.
3. Kesehatan umum
Badan yang lemah atau penyakit yang mendera seorang anak gadis seperti penyakit kronis, terutama yang mempengaruhi masukkan makanan dan oksigenasi jaringan dapat memperlambat menarche. Demikian pula obat-obatan.
Menurut Kartono (1992) faktor-faktor yang mempengaruhi menarche ada 4 yaitu sebagai berikut :
1. Faktor ras atau suku bangsa
Perbedaan etnis dalam usia saat menarche, misalnya di Amerika Serikat paling cepat pada Hispanics, lebih lambat pada kulit hitam dan paling lambat pada Caucasian.
2. Faktor iklim
Menarche lebih lambat timbul di daerah pedesaan dibandingkan dengan perkotaan dan lebih cepat di daerah dataran rendah.
3. Cara hidup
Latihan atletik yang berat dapat memperlambat menarche dan atau mengganggu fungsi menstruasi.
4. Lingkungan
Rangsangan-rangsangan yang kuat dari luar, misalnya berupa film-flim seks (blue flims), buku-buku bacaan dan majalah-majalah bergambar seks, godaan dan rangsangan dari kaum pria, pengamatan secara langsung terhadap perbuatan seksual atau coitus masuk ke pusat pancaindera diteruskan melalui striae terminalis menuju pusat yang disebut pubertas inhibitor. Rangsangan yang terus menerus, kemudian menuju hipotalamus dan selanjutnya menuju hipofise pars anterior, melalui sistem portal. Hipofise anterior mengeluarkan hormon yang merangsang kelenjar untuk mengeluarkan hormon spesifik. Kelenjar indung telur memproduksi hormon estrogen dan progesteron. Hormon spesifik yang dikeluarkan kelenjar indung telur memberikan umpan balik ke pusat pancaindera dan otak serta kelenjar induk hipotalamus dan hipofise, sehingga mengeluarkan hormon berfluktuasi. Dengan dikeluarkannya hormon tersebut mempengaruhi kematangan organ-organ reproduksi.
2.1.5 Fisiologi menstruasi
Pada masa kanak-kanak indung telur (ovarium) dikatakan masih berisirahat dan baru bekerja pada masa pubertas (Wiknjosastro, 2005 : 110). Pada siklus hiad endometrium dipersiapkan secara teratur untuk menerima ovum setelah terjadi ovulasi, di bawah pengaruh secara ritmik hormon-hormon ovarium : estrogen dan progesteron. Proses ovulasi harus ada suatu kerja sama yang harmonis antara korteks serebri, hipotalamus, hipofise, dan ovarium selain itu juga dipengaruhi oleh glandula tireodea, korteks adrenal, dan kelenjar endokrin lain. Pada tiap siklus haid FSH (follicle stimulating hormone) dikeluarkan oleh lobus anterior hipofise yang menimbulkan beberapa folikel primer yang dapat berkembang dalam ovarium. Folikel ini akan berkembang menjadi folikel de Graaf yang membuat estrogen. Estrogen ini menekan produksi FSH, sehingga lobus anterior hipofise dapat mengeluarkan hormon gonadotropin yang kedua, yakni LH (luteinising hormone). Produksi kedua hormon gonadotropin (FSH dan LH) adalah dibawah pengaruh releasing hormones (RH) yang disalurkan dari hipotalamus ke hipofise. Penyaluran RH ini sangat dipengaruhi oleh mekanisme umpan balik estrogen terhadap hipotalamus. Selain itu juga mendapat pengaruh dari luar, seperti cahaya, bau-bauan melalui bulbus olfaktorius, dan hal-hal psikologik. Bila penyaluran releasing hormones berjalan baik maka produksi gonadotropin akan baik pula, sehingga folikel de Graaf selanjutnya makin lama makin menjadi matang dan makin banyak berisi likuor follikuli yang mengandung estrogen. Estrogen mempunyai pengaruh terhadap endometrium yang menyebabkan endometrium tumbuh dan berproliferasi disebut masa proliferasi. Di bawah pengaruh LH folikel de Graaf menjadi lebih matang, mendekati permukaan ovarium, dan kemudian terjadilah ovulasi. Setelah ovulasi terjadi, dibentuklah korpus rubrum, yang akan menjadi korpus luteum di bawah pengaruh hormon LH dan LTH (luteotrophic hormones). Korpus luteum menghasilkan hormon progesteron. Progesteron ini mempunyai pengaruh terhadap endometrium yang telah berproliferasi dan menyebabkan kelenjar-kelenjarnya berkeluk-keluk dan bersekresi (masa sekresi). Bila tidak ada pembuahan, korpus luteum berdegenerasi dan mengakibatkan kadar estrogen dan progesteron menurun. Menurunnya kadar estrogen dan progesteron menimbulkan efek pada arteri yang berkeluk-keluk di endometrium. Tampak dilatasi dan statis dengan hiperemia yang diikuti oleh spasme dan iskemia. Setelah itu terjadi degenerasi serta perdarahan dan pelepasan endometrium yang nekrotik. Proses ini disebut haid atau mensis (Wiknjosastro, 2002 : 48).

DAFTAR KTI LENGKAP KEBIDANAN dalam DOKUMEN WORD (.doc)
KLIK DISINI
Baca Selengkapnya - STUDY DESKRIPTIF USIA MENARCHE SISWI SMP....

Arsip

0-Asuhan Kebidanan (Dokumen Word-doc) 0-KTI Full Keperawatan (Dokumen Word-doc) Anak Anatomi dan Fisiologi aneh lucu unik menarik Antenatal Care (ANC) Artikel Bahasa Inggris Asuhan Kebidanan Asuhan Keperawatan Komunitas Asuransi Kesehatan Berita Hiburan Berita Terkini Kesehatan Berita Tips Twitter Celeb contoh Daftar Pustaka Contoh KTI Contoh KTI Kebidanan Farmakologi (Farmasi) Gadar-kegawatdaruratan Gizi Handphone Hirschsprung Hukum Kesehatan Humor Segar (Selingan) Imunisasi Info Lowongan Kerja Kesehatan Intranatal Care (INC) Jiwa-Psikiatri kamus medis kesehatan online Kebidanan Fisiologis Kebidanan Patologis Keluarga Berencana (KB) Keperawatan Gerontology Kesehatan Anak (UMUM) Kesehatan Bayi (untuk UMUM) Kesehatan Haji Kesehatan Ibu Hamil (untuk UMUM) Kesehatan Ibu Menyusui (untuk UMUM) Kesehatan Pria (untuk UMUM) Kesehatan Remaja Kesehatan Reproduksi (Kespro) Kesehatan Wanita (untuk UMUM) Koleksi Skripsi Umum Konsep Dasar KTI D-3 Kebidanan KTI Skripsi Keperawatan kumpulan askep Laboratorium Lain-lain Makalah Keperawatan Kebidanan Managemen Kesehatan Mikrobiologi Motivasi Diri Napza dan zat Adiktif Neonatus dan Bayi News Penyakit Menular potensi KLB Penyakit Menular Seksual (PMS) Postnatal Care (PNC) Protap-SOP Psikologi-Psikiater (UMUM) Reformasi Kesehatan Sanitasi (Penyehatan Lingkungan) Satuan Acara Penyuluhan (SAP) Sistem Endokrin Sistem Immunologi Sistem Indera Sistem Integumen Sistem Kardiovaskuler Sistem Muskuloskeletal Sistem Neurologis Sistem Pencernaan Sistem Perkemihan Sistem Pernafasan Surveilans Penyakit Teknologi Tips dan Tricks Seks Tips Facebook Tips Karya Tulis Ilmiah (KTI) Tips Kecantikan Tips Kesehatan Umum Tokoh Kesehatan Tutorial Blogging Youtuber