Cari Blog Ini

Gambaran Faktor-faktor yang Mempengaruhi Mobilisasi Dini Pasca Seksio Sesarea

Saat ini, persalinan dengan bedah sesar bukan hal yang baru lagi bagi para ibu maupun pasangan suami istri. Sejak awal, tindakan operasi cesar atau c-section merupakan pilihan yang harus dijalani karena kadaan gawat darurat untuk menyelamatkan nyawa ibu maupun janinnya. Mobilisasi dini merupakan faktor yang menonjol dalam mempercepat pemulihan pasca bedah dan dapat mencegah komplikasi pasca bedah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi mobilisasi dini pada ibu pasca seksio sesarea di RSU. Dr. Pirngadi Medan tahun 2010. Pada penelitian ini digunakan desain penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang diambil dalam penelitan ini adalah ibu pasca seksio sesarea sebanyak 58 orang dengan menggunakan teknik pengambilan sampel secara accidental sampling, penelitian dilakukan pada bulan februari sampai april. Alat pengumpulan data yang dipergunakan pada penelitian ini adalah kuisioner yang berisi data tentang faktor fisiologis, faktor emosianol dan faktor perkembangan. Kusioner diisi sendiri oleh peneliti dengan cara diisi langsung oleh responden, Hasil penelitian distribusi frekuensi responden berdasarkan mobilisasi dini didapatkan hasil seluruh responden melakukan mobilisasi dini pasca seksio sesarea, dari faktor fisiologis distribusi frekuensi responden berdasarkan suhu tubuh dan perdarahan, seluruh responden dalam keadaan normal dan dilihat dari intensitas nyeri 36 responden (58,6%) berada dalam keadaan nyeri ringan, dari faktor emosional distribusi frekuensi responden berdasarkan kecemasan seluruh responden berada pada kecemasan ringan. dilihat dari faktor perkembangan Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur, dari rentang umur responden 31 – 35 tahun 25 responden (43,1%), distribusi frekuensi responden berdasarkan paritas mayoritas multigravida 31 responden (53,4%). Dapat disimpulkan seluruh responden melakukan mobilisasi dini. Bagi RS, meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di RSU khususnya di Ruang Rawat Inap Kebidanan.

Kata Kunci : Seksio sesarea, Mobilisasi dini

DAFTAR ISI
BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Manfaat Penelitian

BAB II Tinjauan Pustaka
A. Mobilisasi Dini
1. Pengertian Mobilisasi Dini
2. Konsep Mobilisasi
3. Rentang Gerak Dalam Mobilisasi
4. Manfaat Mobilisasi
5. Kerugian Bila Tidak Melakukan Mobilisasi
6. Tahap–Tahap Mobilisasi Dini
7. Faktor–Faktor yang mempengaruhi mobilisasi
B. Seksio Sesarea
1. Pengertian
Universitas Sumatera Utara
2. Istilah Seksio Sesarea 9
3. Indikasi
4. Jenis–Jenis Operasi Seksio Sesarea
5. Komplikasi
6. Anestesia Pada Seksio Sesarea
BAB III Kerangka Penelitian
A. Kerangka Konsep
B. Definisi Operasional

BAB IV Metode Penelitian
A. Desain Penelitian
B. Populasi dan Sampel
C. Tempat Penelitian
D. Waktu Penelitian
E. Etika Penelitian
F. Alat Pengumpulan Data
G. Prosedur Pengumpulan data
H. Analisa data

BAB V Hasil dan Pembahasan
A. Hasil penelitian
B. Pembahasan

BAB VI Kesimpulan dan Saran
A. Kesimpulan
B. Saran
Baca Selengkapnya - Gambaran Faktor-faktor yang Mempengaruhi Mobilisasi Dini Pasca Seksio Sesarea

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ibu Tidak Memberikan ASI Ekslusif Kepada Bayi-nya

sampai bayi berusia 6 bulan. Ketidak berhasilan pemberian ASI Ekslusif disebabkan banyak faktor. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi responden tidak memberikan ASI Ekslusif kepada bayinya di Di Dusun IX Desa Sei Rotan Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang Tahun 2010. Desain penelitian adalah deskriptif dengan besar sampel sebanyak 49 orang. Penelitian dilakukan tanggal 5 s.d. 23 April 2010.Hasil penelitian menunjukkan mayoritas dari segi demografi yaitu berdasarkan umur 26-30 tahun 30 orang (61,2%), pendidikan SMP 38 orang (77,6%), paritas melahirkan 2-4 kali 34 orang (69,45), sumber informasi secara langsung 26 orang (53,1%). Dari segi faktor-faktor yang mempengaruhi tidak memberikan ASI Ekslusif yaitu berdasarkan faktor pengetahuan 31 orang (63,3%) tahu tentang ASI Ekslusif, dipengaruhi oleh faktor mitos-mitos adalah 23 orang (46,9%), dipengaruhi oleh faktor sosial budaya adalah 24 orang (49%), dipengaruhi oleh faktor lingkungan adalah 17 orang (34,7%), dipengaruhi oleh faktor dukungan keluarga adalah 21 orang (42,9%), dipengaruhi oleh faktor pengalaman adalah 19 orang (38,8%), dipengaruhi oleh faktor pandangan ibu terhadap payudaranya adalah 10 orang (20,4%). Diharapkan kader atau petugas kesehatan melaksanakan penyuluhan tentang faktor-faktor penghambat ibu tidak memberikan ASI Ekslusif dan mengungkap kesalahan dari setiap faktor sehingga ibu mengetahui kebenarannya dan paradigma atau pandangan ibu yang salah tentang ASI Ekslusif dapat berubah

Kata Kunci : faktor – faktor yang mempengaruhi, tidak memberikan ASI Ekslusif

DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Manfaat Penelitian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. ASI Ekslusif
B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ibu Tidak Memberikan ASI Ekslusif

BAB III KERANGKA KONSEP
A.Kerangka Konsep
B. Defenisi Operasional

BAB IV METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
B. Populasi dan Sampel
1. Populasi
2. Sampel
C. Lokasi Dan Waktu Penelitian
D. Pertimbangan Etik Penelitian
E. Instrumen Penelitian
F. Pengumpulan Data
G. Analisa data

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
B. Pembahasan

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
B. Saran
Baca Selengkapnya - Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ibu Tidak Memberikan ASI Ekslusif Kepada Bayi-nya

Efektivitas Metode Kanguru Mengurangi Rasa Nyeri Pada Penyuntingan Intramuskuler Pada Bayi Baru Lahir di RS

Nyeri adalah suatu mekanisme produktif bagi tubuh yang timbul apabila ada jaringan tubuh yang rusak yang akan menyebabkan seseorang bereaksi, bayi baru lahir memiliki rangsangan nyeri lebih kuat dibanding orang dewasa, dikarenakan bayi baru lahir masih memiliki sensitifitas nyeri yang tinggi pada bayi baru lahir sering mengalami berbagai prosedur invasif salah satunya adalah penyuntikan intra muskuler untuk pemberian imunisasi hepatitis B sebagai pencegahan penyakit hepatitis. Metode kanguru memegang peranan penting dalam memberikan asuhan kebidanan untuk memberikan rasa nyaman, mengurangi stres dan nyeri pada bayi. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi efektifitas metode kanguru untuk mengurangi nyeri pada penyuntikan intra muskuler pada bayi baru lahir di RS. St. Elisabeth Medan. Desain penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan besar sampel sebanyak 35 orang pada kelompok intervensi dan 35 orang kelompok kontrol dengan metode pengambilan sampel cara random sampling. Penelitian dilakukan Januari – Mei 2010. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata rasa nyeri pada kelompok intervensi 0,94 dengan SD 0,416 dari pada kelompok kontrol mean 1.46 dengan SD 0.505. Dari hasil uji statistik nilai P = 0,00 dapat disimpulkan bahwa, terdapat perbedaan yang signifikan pada rasa nyeri antara kelompok intrvensi dengan kelompok kontrol. Bagi petugas kesehatan metode kanguru dapat sebagai intervensi dalam memberikan pelayanan kesehatan pada bayi baru lahir.

Kata Kunci : Metode kanguru dapat mengurangi nyeri
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Permusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Manfaat Penelitian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Nyeri
1. Defenisi Nyeri
2. Psiologi Nyeri
3. Sumber Nyeri
4. Klasifikasi Nyeri
5. Respon Terhadap Nyeri
6. Jenis-jenis Pengukuran Nyeri
7. Skala Penilaian Nyeri
B.Bayi Baru Lahir
1. Defenisi Bayi Baru Lahir
2. Bayi Baru Lahir
C. Metode Kanguru
1. Defenisi Metode Kanguru
2. Manfaat Metode Kanguru
3. Manfaat Pada Bayi
D. Injeksi Intra Muskular (IM)
1. Defenisi
2. Tujuan
3. Prosedur Pemberian

BAB III KERANGKA KONSEPTUAL
A. Kerangka Konsep
B. Defenisi Operasional
C. Hipotesa

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian
B. Populasi dan Sampel
C. Lokasi Penelitian
D. Waktu Penelitian
E. Pertimbangan Etika
F. Instrumen Penelitian
G. Pengumpulan Data
H. Analisa Data

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
B. Pembahasan

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
B. Saran
Baca Selengkapnya - Efektivitas Metode Kanguru Mengurangi Rasa Nyeri Pada Penyuntingan Intramuskuler Pada Bayi Baru Lahir di RS

Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pemberian Kolostrum pada Bayi Baru Lahir

memiliki standardisasi pelayanan dalam menolong persalinan, yaitu pelaksanaan inisiasi dini dan ASI eksklusif 6 bulan. Kolostrum yaitu ASI yang dihasilkan selama beberapa hari pertama setelah kelahiran. Kolostrum sangat besar manfaatnya sehingga pemberian ASI pada minggu-minggu pertama mempunyai arti yang sangat penting bagi perkembangan bayi selanjutnya. Menurut penelitian tentang pemberian kolostrum yang di lakukan Krista, SM. Masih banyaknya ibu yang kurang ataupun cukup mengetahui tentang pentingnya pemberian kolostrum pada bayi baru lahir. Pengetahuan yang kurang dan faktor tingkat pendidikan yang mempengaruhi sehingga informasi ini tidak tersampaikan dengan baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah hubungan antara pengetahuan, pendidikan dan sumber informasi ibu dengan pemberian kolostrum. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah secara analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Jumlah sampel sebanyak 41 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan Total Sampling. Penelitian ini dilakukan di klinik Sari Medan. Analisis data dengan Chi Square. Hasil penelitian ini diketahui bahwa sebagian besar responden pada rentang usia 20-35 tahun sebesar 37 orang (90,3%). Sebagian besar IRT sebanyak 38 orang (92,8%), tingkat pendidikan responden sebagian besar berpendidikan tinggi sebanyak 26 orang (63,4%), sebagian besar pengetahuan responden tentang pemberian kolostrum adalah baik sebanyak 28 orang (68,3 %), sebagian besar mendapat informasi secara langsung sebanyak 28 orang (68,3%), sebagian besar responden melaksanakan pemberian kolostrum sebanyak 22 orang (53,7%) dan ada hubungan pengetahuan dengan pemberian kolostrum pada bayi baru lahir (nilai p=0,0001). Disarankan pada petugas tenaga kesehatan di Klinik Sari Medan hendaknya meningkatkan pemberian informasi atau penyuluhan kepada ibu-ibu tentang pemberian kolostrum.

Kata Kunci : Pengetahuan, pendidikan, sumber informasi, dan pemberian kolostrum

DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Manfaat Penelitian

BAB II: TINJAUAN PUSTAKA
A. ASI
B. Kolostrum
C. Faktor-faktor yang Mempengerahi Pemberian Kolostrum
1. Pengetahuan
2. Pendidikan
3. Sumber Informasi

BAB III: KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS, DEFENISI OPERASIONAL
A. Kerangka Konsep
B. Hipotesis
C. Definisi Operasional
BAB IV: METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
B. Populasi dan Sampel
Universitas Sumatera Utara
1. Populasi
2. Sampel
C. Tempat dan Waktu Penelitian
D. Etika Penelitian
E. Instrumen Penelitian
F. Prosedur Pengumpulan Data
G. Pengolahan dan Analisis data

BAB V: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Analisis Univariat
2. Analisis Bivariat
B. Pembahasan
1. Interpretasi dan Diskusi Hasil
2. Keterbatasana Peneliti
3. Implikasi Untuk Asuhan Kebidanan/ Pendidikan Kebidanan

BAB VI: KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
B. Saran
Baca Selengkapnya - Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pemberian Kolostrum pada Bayi Baru Lahir

Efektifitas Pemijatan Perineum Terhadap Ruptur Perineum

Pijat perineum adalah salah satu cara yang paling kuno dan paling pasti untuk meningkatkan kesehatan, aliran darah, elastisitas, dan relaksasi otot-otot dasar panggul. Pijat perineum ini akan membantu melunakkan jaringan perineum sehingga jaringan tersebut akan membuka tanpa resistensi saat persalinan, untuk mempermudah lewatnya bayi. Menurut Danuatmaja bahwa pemijatan perineum ini mengurangi robekan perineum, mengurangi episiotomi dan mengurangi penggunaan alat bantu persalinan lainnya. Penelitian di Rumah Sakit Benin Teaching, Kota Benin, Nigeria, mengemukakan bahwa prevalensi ruptur perineum kurang lebih 46.6%, terlebih pada ibu primigravida 90% mengalami ruptur perineum Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi efektifitas pemijatan perineum terhadap ruptur perineum. Penelitian ini menggunakan quasi eksperimen. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 26 orang pada kelompok intervensi dan 26 orang pada kelompok kontrol.. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan porposive sampling. Penelitian ini dilakukan di Klinik Bersalin Fatimah Ali I dan Klinik Bersalin Fatimah Ali II Marindal Medan. Analisis data digunakan uji chi square. Dari hasil uji chi square disimpulkan ada perbedaan proporsi atau hubungan pemijatan perineum yang signifikan terhadap rutur perineum antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (nilai p= 0.005). Berdasarkan hasil analisis diperoleh pula nilai OR=6.72, yang artinya ibu hamil primipara yang tidak dilakukan pemijatan perineum mempunyai peluang 6.72 kali terjadinya ruptur perineum dibandingkan dengan ibu hamil primipara yang dilakukan pemijatan perineum. Dari hasil penelitian ini diketahui pemijatan perineum sangat efektif terhadap kejadian ruptur perineum. Penting untuk diinformasikan dan diterapkan bahwa pemijatan adalah salah satu intervensi nonfarmakologik untuk mencegah terjadinya ruptur perineum di berbagai tatanan pelayanan kesehatan baik di rumah sakit, klinik, puskesmas maupun di masyarakat.

Kata Kunci : Pijat perineum, Ruptur perineum

DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan penelitian
D. Manfaat penelitian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Bayi Prematur
1. Pengertian bayi prematur
2. Etiologi
3. Diagnosis dan gejala klinik
4. Perawatan bayi prematur
5. Prognosis bayi prematur
B. Pijat Bayi
1. Pengertian pijat bayi
2. Manfaat pijat bayi
3. Kapan bayi dipijat
4. Teknik memijat bayi prematur
5. Efek samping pemijatan


BAB III KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS, DEFENISI OPERASIONAL
A. Kerangka Konsep
B. Hipotesis
C. Definisi Operasional

BAB IV METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
B. Populasi dan sampel
C. Tempat Penelitian
D. Waktu Penelitian
E. Etika Penelitian.
F. Alat Pengumpulan Data.
G. Prosedur Pengumpulan Data
H. Analisis Data

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Analisa Univariat
2. Analisa Bivariat
B. Pembahasan
1. Interpretasi dan Diskusi Hasil
2. Keterbatasan Penelitian
3. Implikasi Untuk Asuhan Kebidanan/ Pendidikan Kebidanan..

BAB VI KESIMPULAN DAB SARAN
A. Kesimpulan
B. Saran
Baca Selengkapnya - Efektifitas Pemijatan Perineum Terhadap Ruptur Perineum

Karakteristik Pasangan Usia Subur yang tidak Mengikuti KB

Keluarga Berencana merupakan upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera. Saat ini baru 66% pasangan usia subur (PUS) di Indonesia yang mengikuti program keluarga berencana (KB). Pemerintah telah menetapkan tiga skenario untuk menekan pertambahan jumlah penduduk hingga 2015. Pertama, jika peserta KB meningkat 1% setiap tahun, penduduk Indonesia hanya akan menjadi 237,8 juta jiwa. Kedua, bila peserta KB tetap konstan 60%, penduduk Indonesia akan bertambah menjadi 255,5 juta jiwa. Ketiga, jika peserta KB menurun menjadi 0,5% per tahun, jumlah penduduk Indonesia akan menjadi 264,4 juta jiwa (http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional).
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Karakteristik Pasangan Usia Subur yang tidak Mengikuti Program Keluarga Berencana di Desa Sukoharjo Kecamatan Sekampung Lampung Timur tahun 2008. Subjek dalam penelitian ini adalah semua Pasangan Usia Subur yang tidak Mengikuti Program Keluarga Berencana di Desa Sukoharjo, sedangkan objek penelitiannya adalah Karakteristik Pasangan Usia Subur yang tidak Mengikuti Program Keluarga Berencana.
Populasi yang diteliti adalah 884 pasangan usia subur yang tidak mengikuti KB dan yang dijadikan sampel penelitian sebanyak 10% atau sebanyak 88 pasangan usia subur yang diambil secara acak (random sampling).
Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yaitu menggambarkan tentang karakterisitik yang tidak mengikuti KB di di Desa Sukoharjo Kecamatan Sekampung Kab. Lampung Timur. Pengumpulan data dilakukan dengan format pengumpulan data menggunakan instrumen pengumpulan data berupa checklist.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteritik umur pasangan usia subur yang tidak mengikuti KB di Desa Sukoharjo yang terbanyak berumur < 20 tahun dengan jumlah 45 responden (51,4%), karakteristik tingkat pendidikan yang terbesar adalah tingkat pendidikan rendah dengan jumlah 63 responden (71,6%), karakteristik tingkat ekonomi yang terbesar adalah tingkat ekonomi rendah dengan jumlah 72 responden (81,8%), dan karakteristik paritas yang terbesar adalah primipara dengan jumlah 79 responden (89,7%).
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa karakteristik dari PUS yang tidak mengikuti KB di Desa Sukoharjo Kecamatan Sekampung Kab. Lampung Timur adalah berumur < 20 tahun, dengan tingkat pendidikan dan ekonomi rendah, dan sebagian besar adalah ibu primigravida.

Kata kunci : Pasangan Usia Subur, Keluarga Berencana.

DAFTAR ISI
BAB I .PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
C. Ruang Lingkup Penelitian
D. Tujuan Penelitian
E. Manfaat Penelitian

BAB II.TINJAUAN PUSTAKA
A. Telaah Pustaka
1. Pasangan Usia Subur
2. Keluarga Berencana
3. Sasaran Program Keluarga Berencana
4. Pelayanan Keluarga Berencana Terpadu
5. Kontrasepsi
6. Jenis Kontra Sepsi
B. Variabel Karakteristik
C. Kerangka Konsep
D. Definisi Operasional


BAB III.METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
B. Populasi dan Sampel
C. Waktu dan Tempat Penelitian
D. Variabel Penelitian
E. Instrumen dan Cara Pengumpulan Data
F. Analisa Data

BAB IV.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Profil Desa Sukoharjo Kecamatan Sekampung Kab. Lampung Tengah
2. Karakteristik Pasangan Usia Subur yang Tidak Mengikuti KB
B. Pembahasan

BAB V.KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
B. Saran
Baca Selengkapnya - Karakteristik Pasangan Usia Subur yang tidak Mengikuti KB

Pengetahuan Remaja Putri Masa Pubertas Tentang Seks Sekunder

Masa remaja merupakan salah satu tahap dalam kehidupan manusia yang sering disebut sebagai masa pubertas yaitu masa peralihan dari anak-anak ke masa dewasa. Pada tahap ini remaja akan mengalami suatu perubahan fisik, emosional dan sosial sebagai ciri dalam masa pubertas. Dilihat dari segi penduduk 73,4% sebagian penduduk di dunia adalah remaja. Indonesia menempati urutan nomor 5 di dunia dalam hal jumlah penduduk, dengan remaja sebagai bagian dari penduduk yang ada. Propinsi Lampung pada tahun 2000 dihuni oleh 6,654 juta jiwa dengan jumlah remaja usia 10-15 tahun sebanyak 652.322 jiwa.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan remaja putri masa pubertas tentang seks sekunder di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah.
Subjek dari penelitian ini adalah Remaja putri siswi di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah, sedangkan objek penelitian yang diambil adalah Pengetahuan remaja putri masa pubertas tentang seks sekunder.
Populasi yang diteliti remaja putri (umur 12-15 tahun) di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah sebanyak 89 orang dan keseluruhan populasi tersebut diambil sebagai sampel penelitian (penelitian populasi).
Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yaitu untuk menggambarkan pengetahuan masa pubertas remaja putri tentang seks sekunder di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen penelitian berupa kuisioner, dimana hasil jawaban kuisioner kemudian diolah menggunakan tabel distribusi frekuensi.
Hasil penelitian yang diperoleh yaitu ada 50 responden yang berpengetahuan baik (56,18%), 26 responden yang berpengetahuan cukup (29,21), 11 responden yang berpengetahuan kurang (12,36%) dan yang berpengetahuan tidak baik ada 2 responden (2,25%).

Kata kunci : Pengetahuan seks sekunder, remaja putri masa pubertas.

DAFTAR ISI
BAB I.PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
C. Ruang Lingkup Penelitian
D. Tujuan Penelitian
E. Manfaat Penelitian

BAB II.TINJAUAN PUSTAKA
A. Telaah Pustaka
1. Pengetahuan
2. Remaja
3. Pubertas
B. Kerangka Konsep
C. Definisi Operasional

BAB III.METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
B. Populasi dan Sampel
C. Waktu dan Tempat Penelitian
D. Instrumen Penelitian
E. Variabel Penelitian
F. Analisa Data

BAB IV.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Profil Lokasi Penelitian
1. Lokasi SMP Bina Bhakti Bajar Kerta Rahayu
2. Sejarah Berdirinya SMP Bina Bhakti Bajar Kerta Rahayu
3. Ketenagaan SMP Bina Bhakti Bajar Kerta Rahayu
4. Pelaksanaan Penelitian
B. Hasil Penelitian
C. Pembahasan

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
B. Saran

Baca Selengkapnya - Pengetahuan Remaja Putri Masa Pubertas Tentang Seks Sekunder

Pengetahuan Ibu Menyusui Tentang Pemberian Makanan Pendamping ASI Pada Bayi 6 – 24 Bulan

Makanan pendamping ASI adalah makanan tambahan yang diberikan pada bayi setelah berusia 6 bulan sampai bayi berusia 24 bulan. Makanan pendamping ASI bukan untuk mengganti ASI, melainkan hanya untuk melengkapi ASI. Dalam hal ini makanan pendamping ASI berbeda dengan makanan sapihan karena makanan sapihan diberikan ketika bayi tidak lagi mengkonsumsi ASI.
Tujuan pemberian makanan pendamping ASI adalah untuk menambah energi dan zat-zat besi yang diperlukan bayi karena ASI tidak dapat memenuhi kebutuhan bayi secara terus-menerus.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu menyusui tentang pemberian makanan pendamping ASI pada bayi 6 – 24 bulan di BPS Nur Asiyah Sekampung Lampung Timur Tahun 2008.
Jenis penelitian yang digunakan dalam Karya Tulis ini adalah penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu menyusui tentang pemberian makanan pendamping ASI pada bayi 6 – 24 bulan di BPS Nur Aisyah Sekampung Lampung Timur Tahun 2008. populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu menyusui yang mempunyai balita usia 6 – 24 bulan di BPS Nur Aisyah Sekampung yang berjumlah 108 ibu, dengan jumlah sampel 26 ibu dan pengumpulan data dilakukan dengan alat bantu kuesioner berupa pertanyaan bentuk multiple choice.
Hasil penelitian didapatkan sebagian besar responden di BPS Nur Aisyah Sekampung Lampung Timur Tahun 2008 berpengetahuan kurang yaitu yang berjumlah 76 orang (70,37%).
Kesimpulan dan penelitian ini bahwa pengetahuan ibu yang mempunyai bayi 6 – 24 bulan tentang pemberian makanan pendamping ASI bagi bayi yang terbanyak adalah dalam kategori kurang yaitu 76 orang (70,37%).

Kata Kunci : Pengetahuan, makanan pendamping ASI

DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
C. Ruang Lingkup
D. Tujuan Penelitian
E. Metode Penelitian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengetahuan
B. Makanan Pendamping ASI (MP-ASI)
C. Bayi
D. Kerangka Konsep
E. Definisi Operasional

BAB III METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
B. Populasi dan Sampel
1. Populasi
2. Sampel
C. Waktu dan Tempat Penelitian
D. Variabel Penelitian
E. Instrumen dan Cara Pengumpulan Data
F. Analisa Data

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Profil BPS Nur Aisyah Sekampung Lampung Timur
B. Hasil Penelitian
1. Lokasi BPS Nur Aisyah Sekampung Lampung Timur
2. Sejarah Singkat
3. Sarana dan Prasarana BPS Nur Aisyah Sekampung Lampung Timur
4. Ketenagaan BPS Nur Aisyah Sekampung Lampung Timur
5. Persiapan dan Pelaksanaan Penelitian
C. Pembahasan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
B. Saran

Baca Selengkapnya - Pengetahuan Ibu Menyusui Tentang Pemberian Makanan Pendamping ASI Pada Bayi 6 – 24 Bulan

Gambaran Pengetahuan dan Sikap Remaja Putri Tentang Menarche

Indonesia menempati urutan nomor 4 di dunia dalam hal jumlah penduduk, dengan remaja sebagai bagian dari penduduk yang ada. Propinsi Lampung pada tahun 2006 dihuni oleh 222.051.298 jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki 110.873.335 jiwa dan penduduk perempuan 111.177.963 jiwa (Hasil Sensus BPS Lampung, 2006).
Masa remaja merupakan salah satu tahap dalam kehidupan manusia yang sering disebut sebagai masa pubertas yaitu masa peralihan dari anak-anak ke masa dewasa. Pada tahap ini remaja akan mengalami suatu perubahan fisik, emosional dan sosial sebagai ciri dalam masa pubertas. Dan dari berbagai ciri pubertas tersebut, menarche merupakan perbedaan yang mendasar antara pubertas pria dan pubertas wanita. Menarche adalah saat haid/menstruasi yang datang pertama kali yang sebenarnya merupakan puncak dari serangkaian perubahan yang terjadi pada seorang remaja putri yang sedang menginjak dewasa dan sebagai tanda bahwa ia sudah mampu hamil.
Usia remaja putri saat mengalami menarche bervariasi lebar, yaitu antara usia 10-16 tahun, tetapi rata-rata pada usia 12,5 tahun. Statistik menunjukkan bahwa usia menarche dipengaruhi faktor keturunan, keadaan gizi dan kesehatan umum
(Sarwono, 2005).
Peristiwa ini menguntungkan pertumbuhan dan perkembangan tanda seks skunder wanita itu. Tanda seks skunder pada wanita meliputi pertumbuhan rambut dengan patrun/pola tertentu pada ketiak, rambut monfeneris (rambut kemaluan), pertumbuhan dan perkembangan buah dada, pertumbuhan distribusi jaringan lemakterutama pada pinggang wanita. Dari sudut perasaan kewanitaan sudah memperhatikan jasmani serta kecantikan, mulai ingin dipuja dan mulai memuja seseorang karena jatuh cinta. Masa pancaroba ini yang memerlukan perhatian orang tua karena sejak masa menstruasi pertama berarti ada kemungkinan menjadi hamil bila berhubungan dengan lawan jenisnya. (Manuaba,1998)
Sebab itu, sosialisasi program kesehatan reproduksi dikalangan remaja harus lebih pada menanamkan kesadaran akan arti pentingnya kesehatan reproduksi. Mengingat masih banyak keluarga atau orang tua yang tidak memberi cukup ruang bagi anak-anaknya untuk bertanya tentang kespro. Juga agar remaja memiliki pemahaman tentang kesehatan reproduksi dari sisi medis tentunya.
Baca Selengkapnya - Gambaran Pengetahuan dan Sikap Remaja Putri Tentang Menarche

Pengetahuan Ibu Menyusui Tentang Alat Kontrasepsi KB Suntik

Kesehatan merupakan salah satu aspek dari kehidupan masyarakat mutu hidup, produktifitas tenaga kerja, angka kesakitan dan kematian yang tinggi pada bayi dan anak-anak, menurunnya daya kerja fisik serta terganggunya perkembangan mental adalah akibat langsung atau tidak langsung dari masalah gizi kurang.
Angka kematian ibu dan angka kematian bayi di Indonesia tertinggi di Asia Tenggara. Karenanya, hal itu menjadi kegiatan prioritas Departemen Kesehatan pada periode 2005-2009. prioritas ini adalah pelayanan kesehatan untuk masyarakat miskin; penanggulangan penyakit menular, gizi buruk, dan krisis kesehatan akibat bencana; serta peningkatan pelayanan kesehatan didaerah terpencil, tertinggal dan daerah perbatasan serta pulau-pulau terluar (Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2002-2003).
Pada tahun 2000 Indonesia menempati urutan kelima di dunia dalam hal jumlah penduduk (Mochtar, 1998). Pada tahun 2003 jumlah penduduk Indonesia diperkirakan sebesar 211.000.598 jiwa dengan tingkat kepadatan 113 jiwa per km2 dan angka pertumbuhan penduduk sebesar 1,59% (jumlah penduduk tahun 2002 dilaporkan sebesar 211.000.598 jiwa) (Depkes RI, 2003)


Dalam pembangunan bangsa, peningkatan kualitas manusia harus dimulai sedini mungkin yaitu sejak dini yaitu sejak masih bayi, salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam peningkatan kualitas manusia adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI). Pemberian ASI semaksimal mungkin merupakan kegiatan penting dalam pemeliharaan anak dan persiapan generasi penerus di masa depan. Akhir-akhir ini sering dibicarakan tentang peningkatan penggunaan ASI. Dukungan politis dari pemerintah terhadap peningkatan penggunaan ASI telah memadai, hal ini terbukti dengan telah dicanangkannya Gerakan Nasional Peningkatan Penggunaan Air Susu Ibu (GNPP-ASI) oleh Bapak Presiden pada hari Ibu tanggal 22 Desember 1990 yang betemakan "Dengan Asi, kaum ibu mempelopori peningkatan kualitas manusia Indonsia". Dalam pidatonya presiden menyatakan juga bahwa ASI sebagai makanan tunggal harus diberikan sampai bayi berusia empat bulan. Pemberian ASI tanpa pemberiaan makanan lain ini disebut dengan menyusui secara ekslusif. Selanjutnya bayi perlu mendapatkan makanan pendamping ASI kemudian pemberian ASI di teruskan sampai anak berusia dua tahun. (GNPP-ASI oleh Bapak Presiden tanggal 22 Desember 1990)
Hasil penelitian yang dilakukan di Biro Konsultasi Anak di Rumah Sakit Sedangkan dari hasil perhitungan data susenas tahun 2004 persentase bayi yang mendapat ASI ekslusif usia 0-6 bulan di Provinsi Lampung sebesar 74,4% (Profil Kesehatan Provinsi Lampung, 2005)
Salah satu kebijakan dalam menanggulangi masalah kependudukan di Indonesia adalah dengan memberikan pengetahuandan pengetahuan tentang kependudukan dan Keluarga Berencana (KB) secara bertahap agar sikap penerimaan keluarga beras akan dapat diubah lalu dihayati menjadi sikap keluarga kecil menuju Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS) (Mochtar, 1998).
Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa manfaat KB bagi keluarga sangat besar terutama bagi ibu. Selain itu, KB dan kontrasepsi juga menjamin bahwa bayi akan mendapat nutrisi yang cukup untuk waktu tertentu dengan cara mencegah kehamilan yang terlampau dini setelah melahirkan. Hal ini sangat penting karena ASI merupakan sumber nutrisi dan imunisasi yang paling baik untuk bayi yang sedang tumbuh berkembang dan laktasi juga dapat menunda ferilitas post partum (Hartanto, 2003)
Baca Selengkapnya - Pengetahuan Ibu Menyusui Tentang Alat Kontrasepsi KB Suntik

Arsip

0-Asuhan Kebidanan (Dokumen Word-doc) 0-KTI Full Keperawatan (Dokumen Word-doc) Anak Anatomi dan Fisiologi aneh lucu unik menarik Antenatal Care (ANC) Artikel Bahasa Inggris Asuhan Kebidanan Asuhan Keperawatan Komunitas Asuransi Kesehatan Berita Hiburan Berita Terkini Kesehatan Berita Tips Twitter Celeb contoh Daftar Pustaka Contoh KTI Contoh KTI Kebidanan Farmakologi (Farmasi) Gadar-kegawatdaruratan Gizi Handphone Hirschsprung Hukum Kesehatan Humor Segar (Selingan) Imunisasi Info Lowongan Kerja Kesehatan Intranatal Care (INC) Jiwa-Psikiatri kamus medis kesehatan online Kebidanan Fisiologis Kebidanan Patologis Keluarga Berencana (KB) Keperawatan Gerontology Kesehatan Anak (UMUM) Kesehatan Bayi (untuk UMUM) Kesehatan Haji Kesehatan Ibu Hamil (untuk UMUM) Kesehatan Ibu Menyusui (untuk UMUM) Kesehatan Pria (untuk UMUM) Kesehatan Remaja Kesehatan Reproduksi (Kespro) Kesehatan Wanita (untuk UMUM) Koleksi Skripsi Umum Konsep Dasar KTI D-3 Kebidanan KTI Skripsi Keperawatan kumpulan askep Laboratorium Lain-lain Makalah Keperawatan Kebidanan Managemen Kesehatan Mikrobiologi Motivasi Diri Napza dan zat Adiktif Neonatus dan Bayi News Penyakit Menular potensi KLB Penyakit Menular Seksual (PMS) Postnatal Care (PNC) Protap-SOP Psikologi-Psikiater (UMUM) Reformasi Kesehatan Sanitasi (Penyehatan Lingkungan) Satuan Acara Penyuluhan (SAP) Sistem Endokrin Sistem Immunologi Sistem Indera Sistem Integumen Sistem Kardiovaskuler Sistem Muskuloskeletal Sistem Neurologis Sistem Pencernaan Sistem Perkemihan Sistem Pernafasan Surveilans Penyakit Teknologi Tips dan Tricks Seks Tips Facebook Tips Karya Tulis Ilmiah (KTI) Tips Kecantikan Tips Kesehatan Umum Tokoh Kesehatan Tutorial Blogging Youtuber