Cari Blog Ini

KEMATANGAN ORGAN REPRODUKSI REMAJA

KEMATANGAN ORGAN REPRODUKSI REMAJA
KEMATANGAN ORGAN REPRODUKSI REMAJA
a. REMAJA WANITA
Menjelang akil balig (sekir 13 tahun) bagian dari otak seorang gadis yang disebut hipotalamos merangsang kelenjar buntu / endokrin yang yang dinamakan kelenjar bawak otak / hipofise. Kemungkinan hipofise ini merangsang indng sel telur sehingga indung telur mampu menghasilkan :
Hormon Estrogen : yang dapat menyebabkan seorang anak perempuan menjadi remaja putri dengan tanda – tanda a.1. mulai tubuh rambut diketiak dan daerah kelamin, suaranya berubah merdu, kulitnya bertambah halus, payudaranya membesar, pinggulnya tambah besar, lebih besar dari pada bahunya , mulai tertarik pada lawan jenisnya.
Hormon Progesteron : yang mempengaruhi rahimnya, sehingga lapisan rahim bagian dalam atau endometrium mengalami penebalan sebagai persiapan untuk mengandung.
 Sel Telur : gadis ini mulai memproduksi satu sel telur setiap bulan yang dihasilkan berganti – ganti oleh indung sel telur yang kiri dan kanan. Perstiwa keluar / lepasnya sel telur dari indung telur disebut OVULASI.

Selanjutnya ada 2 kemungkinan :
Kalau masih gadis
Setelah terjadi ovulasi, sel telur yang antara lain dibantu oleh kontraksi otot – otot saluran telur dan gerakan rambut – rambut halus yang ada didalam saluran telur tersebut bergerak melewati salura telur menuju rahim. Karena tidak terjadi pembuahan maka sel telur keluar dari tubuh melalui liang kamaluan bersama – sama dengan lapisan darah yang lepas / mengelupas pada rahim. Peristiwa ini disebut HAID / datang bulan karena terjadi sekali sebulan. Ovulasi sering terjadi 2 minggu sebelum haid yang akan datang.

Kalau sudah bersuami / menikah
Maka sel telur akan buahi oleh sel mani . spermatozoa suamninya sehingga terjadi zigot. Pertumbuhan ini terjadi disaluran telur yang mengalami pelebaran, sambil bergerak menuju rahim zigot terus membelah diri untuk akhirnya menempel pada dinding rahim, disini selanjutnya tumbuh menjadi mudigah, kemudian menajdi janin. Sesudah dikandung dalam rahim selama kira – kira 40 minggu / 280 hari akhirnya bayi dilahirkan.

b. REMAJA PRIA
Mejelang akil balig (sekitar 15 tahun) bagian dari otak seseorang anak laki – laki yang disebut hipotalamus merangsang kelenjar buntu yang dinamakan kelenjar bawah otak / hipofise. Kemudian hipofise ini merangsang buah zakar mampu menghasilkan :
Hormon Testosteron : yang dapat menyebabkan seorang anak laki – laki tumbuh menjadi remaja putra dengan tanda – tanda 1.1. mulai tumbuh kumis dan jenggot, juga tumbuh rambut didada, teriak, daerah kelamin, tangan dan kaki, suara bertambah berat, ototnya tumbuh, bahunya bertambah bidang (lebih besar dari pada pinggulnya) a mulai tertarik pada lawan jenis.
Sel mani : Beda antara lain cairan mani (cairan keputih – putihan seperti susu yang mempunyai bau yang khas dihasilkan oleh kontong mani dan kelenjar prostat) dengan sperma (sel mani dalam cairan mani) sel mani / sperma diproduksi oleh buah zakar jumlahnya berjuta – juta karena banyaknya sehingga berdesak- desakan dan secara pasif didorongh menuju kontong mani dan seterusnya kelenjar prostat. Dikantong mani dan kelenjar prostat inilah sel mani dicampur dengn cairan mani, sehingga sel mani sekarang dapat bergerak sendiri dengan aktif seperti kecebong dalam air.
Pemuda ini mulai membayangkan gadis idamannya dan pada malam harinya bermimpimengadakan hubungan seks/ senggama. Bersama dengan itu otak memerintahkan agar darah dikerahkan menuju ke zakar, karena zakar bagian dalam terusun seperti karet busa maka dapaty menampung banyak darah sehingga zakar yang semula lemas karena terisi darah kini berubah menajdi tegang yang disebut EREKSI. Kalau nafsu syawat terus meningkat, maka tak lama kemudian sperma disemprotkan keluar tubuh malalui zakar dengan lubang kencing sebagai muara kaluarnya yang disebut dengan ejekulasi. Yang diikuti oleh tercapainya puncak kenikmatan seks. Pagi harinya celananya dalam pemuda itu basah oleh sperma itu disebut mimpi basah.
Pada pria baik sperma maupun air mani hanya mempunyai satu muara kelenjar yaitu lubang kencing.
Pada wanita terdapat dua muara keluar yakni lubang kencing yang kecil untuk keluarnya air seni yang terletak disebelah atas dan lubang kemaluan (yang lebih besar dari pada lubang kencing) untuk keluarnya haid, untuk hubunga seks maupun untuk melahirkan bayi yang letaknya disebalah bawah.

MENSTRUASI / HAID SEBAGAI CIRI AKIL BALIG

Haid adalah keluarnya darah dari alat kelamin wanita tepatnya dari rahimnya merupakan peristiwa yang wajar, haid pertama mungkin terjadi pada usia 9 tahun sebagai ciri awal dari akil balig menuju masa dewasa, ada juga yang haid pertama mulai umur 16 tahun, jarang yang labih dari itu kecuali ada kelainan. Diduga karena gizi yang baik saat pertama datang lebih cepat. Keadaan gizi yang baik erat hubungan dengan tingkat sosial ekonomi gadis yang bersangkutan, ada yang jarak haid 1 dan berikutnya 26 ada juga yang 34 hari, umunya antara 28 – 32 hari. Darah haid tidak akan membeku karena mengandung enzym anti pembeku darah.
Pada waktu haid sebaiknya menggunakan pembalut wanita dan gantilah setiap basah.
Pendarahan yang telalu banyak disebut Menorhagie
Pendarahan yang terjadi diantara dua haid disebut Metorenagie.
Tidak haid pada usia subur atau umur reproduksi dalam 2 bulan atau lebih disebut Amenorhae.
Bila terasa sangat sakit pada waktu haid disebut Dysmenorhae

PERTUMBUHAN REMAJA PUBER ( 13 – 27 TAHUN)

Masa pubertas 9 pubis = kemaluan atau daerah kemaluan O pada anak perempuan dimulai sekitar usia 13 tahun dan pada anak laki – laki pada usia sekitar 15 tahun.
97 % perempuan tingginya rata – rata 157 cm
91% laki – laki tingginya rata –rata 160 cm
Laki – laki umumnya ingin lebih diperhatikan oleh perempuan dengan berlaku agresif dan batas oleh perempuan secara agresif pula, misalnya saling meminjam buku bacaan atau alat tulis, mengadakan reaksi bersama. Pada perempuan gejala yang penting adalah berkembangnya payudara dan tumbuhnya bulu disekitar kemaluan. Mula – mula pertumbuhan buah dada terasa sakit seperti bisul, sangat sakit bila di sentuh.
Timbul perasaan senang apabila diperhatikan oleh lawan jenis. Masa perubahan – perubahan besar pula pada perempuan adalah saat datang bulan yang pertama. Ini berarti telah menajdi Ovulasi (lepasnya sel telur dari indung telur ) kira – kira 11 hari sebelumnya.
Masa perubahan pada laki –laki terjadi waktu dia mimpi bersentuhan dengan perempuan. Mungkin hanya bersentuhan tangan atau kaki maupun badan tetapi menimbulkan kenikmatan organisme yakni pemancaran sperma.
Pada waktu haid pertama ada gadis yang mencoba menyembunyikan supaya tidak diketahui oleh ibu atau gurunya. Harus dijelaskan bahwa haid pada perempuan adalah wajar dan tidak perlu ditakuti, sebab akan datang setiap bulan dan hal yang perlu diperhatikan adalah agar ia mencatat dengan teliti dan rapi tanggal datang haid sehingga dapat bersiap – siap datangnya haid yang berikutnya. Dengan demikian dapat memonitor kesehatannya sendiri.
Pada masa remaja gejolak kehidupan yang disebabkan oleh perkembangan pengetahuan hormonal serinh bersifat agresif, sangat berani mengambil resiko tinggi sering pula melakukan kegiatan yang arahnya tidak jelas. Keadaan hiwanya labil, karena sedang mencari jati diri. Pada saat ini lah pendidikan sangat berperan untuk memberi arah kepada jiwa yang sedang goncang.
Agama misalnya dapat memberi pedoman agar peran remaja berjalan mulus melewati masa remaja menuju kedewasaan. Ada perbedaan untuk pada remaja putri dan remaja putra.

MASALAH YANG DIHADAPI REMAJA

1. Godaan seksualitas pada awal kedewasaan
Masa remaja adalah masa yang sulit dan penuh tantangan karena sekarang sedang berada pada masa tansisi. Pada periode seorang anak sedang menuju kedewasaan. Sedang alam / dunia anak – anak belum sepenuhnya ditinggalkan.
Pada masa ini orang tua diharapkan dapat mendekati remaja dengan penuh pengertian, karena masa pubertas / pancaroba ini masa yang paling peka bagi remaja. Keadaan yang umum pada dewasa ini pada remaja biasanya membicarakan masalah seks dengan sesama teman dengan bumbu yang cabul, membaca buku – buku porno, nonton kaser video porno atau film – film porno yang sering berakibat negatif bagi dirinya, orang tuannya dan masa depan di anak. Hal ini semua disebabkan oleh ketidasktahuan mereka tentang seks yang benar.
Tepat sekali pernyataan WHO, bahwa kurang adanya bekal yang benar dan baik dalam pengetahuan tentang seks jelas akan membawa akibat yang negatif bagi remaja.

2. Perilaku Seksual
a. Perilaku Seksual Yang Normal
Dalam arti sempit perilaku seksual adalah hubungan seks antara seorang pria dengan seorang wanita dewasa, baik dorongan seks, pasangan maupun caranya adalah normal ialah hubungan seks yang tidak menimbulkan efek – efek yang merugikan baik diri sendiri maupun bagi pasangan paksaan atau perkosaan.
Perilaku seksual manusia mencakup kepribadian, sikap dan seluruh perilakunya sehari – hari.
b. Perilaku seksual yang normal
Perilaku seksual yang disebut penyimpangan seksual, dibedakan dalam 3 golongan
Dorongan seks yang abnormal misalnya pelacuran, zina, frigiditas, impotensi, dll.
Pasangan yang abnormal, misalnya : onani, pedofilia, lesbian, Homoseksualitas, dll.
Cara – cara yang abnormal misalnya : exhibisionisme, sadisme, dll.

3. Penyakit Hubungan Seksual (PHS)
Persentuhan dpat menularkan berbagai penyakit dari pembawa kuman kepada penerima, penyakit – penyakit tersebut antara lain :
a. Gonorehonea (kencing nanah)
Gejalanya sebagai berikut :
Pada pria : Mula – mula terasa perih disaluran kencing pada waktu kencing, terasa gatal dilubang kencing dan mengeluarkan nanah.
Pada wanita : Biasanya menyerang saluran kencing & leher rahim. Banyak mengeluarkan lendir meskip[un ia tak mengeluh sakit.




b. Sypilis / Lues / Raja Singa
Stadium Primer :
Ada luka kecil bernanah dan sakit pada kepala zakar dan pada wanita luka kecil, dan sakit didlam vagina atas bibir besar / bibir kecil, juaga ada kelenjar (Pembengkakan kelenjar lemfe) dilipat paha.
Stadium Sekunder
Berupa kelainan pada kulit, tampak bintik meah dengan diameter 0,5 – 1 cm pada kulit bahu, dada pinggul dan perut serta pada lengan.
Stadium tertier :
Akan muncul 3 – 10 tahun setelah stadium primer, mungkin pula 10 –1 5 tahun. Gejala berupa bercak – bercak merah yang tidak simetris.
Herpes :
Adalah radang di kulit yang disebabkan oleh virus mungkin menyerang bibir, hidung mulut. Penyakit ini sudah dikenal 200 tahun yang lalu.
AIDS.
AIDS merupakan kumpulan gejala penyakit akibat seseorang mengalami kekurangan sistem kekebalan tubuh akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh virus HIV.
Baca Selengkapnya - KEMATANGAN ORGAN REPRODUKSI REMAJA

Si Adun: Mengantuk Di Kelas

Si Adun: Mengantuk Di Kelas

Adun Ngantuk Seperti biasa, si Adun selalu saja berbuat onar di kelasnya yang membuat Ibu gurunya kesal.


Ditengah pelajaran, si Ibu guru bertanya pada si Adun


“Adun, kenapa kamu selalu memilih duduk di bangku belakang?” tanya seorang guru matematika yang terkenal galaknya.



“Jika duduk di bangku depan, sayah selalu mengantuk, Bu” jawab Adun.


“Memangnya kalau duduk di belakang kamu tidak mengantuk, Adun?” tanya si Ibu guru heran.


“Ya mengantuk Bu, Tapi kan kalau duduk di belakang bisa langsung tidur Bu” jawab Adun enteng.



“Aadduuunnnnnn, kedepan kamu!!”

Baca Selengkapnya - Si Adun: Mengantuk Di Kelas

Askep Chronic Obstructive Pulmonal Disease ( COPD )

Askep Chronic Obstructive Pulmonal Disease ( COPD )
A. Konsep Dasar Chronic Obstructive Pulmonal Disease (COPD)


  1. Pengertian

COPD adalah sekresi mukoid bronchial yang bertambah secara menetap disertai dengan kecenderungan terjadinya infeksi yang berulang dan penyempitan saluran nafas , batuk produktif selama 3 bulan, dalam jangka waktu 2 tahun berturut-turut (Ovedoff, 2002). Sedangkan menurut Price & Wilson (2005), COPD adalah suatu istilah yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit paru-paru yang berlangsung lama dan ditandai dengan obstruksi aliran udara sebagai gambaran patofisiologi utamanya.

  1. Klasifikasi

    Menurut Alsagaff & Mukty (2006), COPD dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
  2. Asma Bronkhial: dikarakteristikan oleh konstruksi yang dapat pulih dari otot halus bronkhial, hipersekresi mukoid, dan inflamasi, cuaca dingin, latihan, obat, kimia dan infeksi.
  3. Bronkitis kronis: ditandai dengan batuk-batuk hampir setiap hari disertai pengeluaran dahak sekurang-kurangnya 3 bulan berturut-turut dalam satu tahun, dan paling sedikit selama 2 tahun. Gejala ini perlu dibedakan dari tuberkulosis paru, bronkiektasis, tumor paru, dan asma bronkial.
  4. Emfisema: suatu perubahan anatomis paru-paru yang ditandai dengan melebarnya secara abnormal saluran udara sebelah distal bronkus terminal, disertai kerusakan dinding alveolus.
  5. Etiologi

    Faktor-faktor yang dapat meningkatkan resiko munculnya COPD (Mansjoer, 1999) adalah :
  6. Kebiasaan merokok
  7. Polusi udara
  8. Paparan debu, asap, dan gas-gas kimiawi akibat kerja.
  9. Riwayat infeksi saluran nafas.
  10. Bersifat genetik yaitu defisiensi -1 antitripsin.
  11. Tanda dan gejala

    Berdasarkan Brunner & Suddarth (2005) adalah sebagai berikut :
  12. Batuk produktif, kronis pada bulan-bulan musim dingin.
  13. Batuk kronik dan pembentukan sputum purulen dalam jumlah yang sangat banyak.
  14. Dispnea.
  15. Nafas pendek dan cepat (Takipnea).
  16. Anoreksia.
  17. Penurunan berat badan dan kelemahan.
  18. Takikardia, berkeringat.
  19. Hipoksia, sesak dalam dada.


  20. Pemeriksaan Diagnostik
  • Anamnesis :
    Riwayat penyakit ditandai 3 gejala klinis diatas dan faktor-faktor penyebab.
  • Pemeriksaan fisik :
    • Pasien biasanya tampak kurus dengan barrel-shapped chest (diameter anteroposterior dada meningkat).
    • Fremitus taktil dada berkurang atau tidak ada.
    • Perkusi pada dada hipersonor, peranjakan hati mengecil, batas paru hati lebih rendah, pekak jantung berkurang.
    • Suara nafas berkurang.
  • Pemeriksaan radiologi
    • Foto thoraks pada bronkitis kronik memperlihatkan tubular shadow berupa bayangan garis-garisyang pararel keluar dari hilus menuju ke apeks paru dan corakan paru yang bertambah.
    • Pada emfisema paru, foto thoraks menunjukkan adanya overinflasi dengan gambaran diafragma yang rendah yang rendah dan datar, penciutan pembuluh darah pulmonal, dan penambahan corakan kedistal.
  • Tes fungsi paru :
    Dilakukan untuk menentukan penyebab dispnea untuk menentukan penyebab dispnea, untuk menentukan apakah fungsi abnormal adalah obstimulasi atau restriksi, untuk memperkirakan derajat disfungsi dan untuk mengevaluasi efek terapi, misalnya bronkodilator.
  • Pemeriksaan gas darah.
  • Pemeriksaan EKG
  • Pemeriksaan Laboratorium darah : hitung sel darah putih.
  1. Komplikasi

    Infeksi yang berulang, pneumotoraks spontan, eritrosit karena keadaan hipoksia kronik, gagal nafas, dan kor pulmonal.


  2. Penatalaksanaan
  • Pencegahan : Mencegah kebiasaan merokok, infeksi dan polusi udara.
  • Terapi ekserbasi akut dilakukan dengan :
    • Antibiotik, karena eksaserbasi akut biasanya disertai infeksi :
      • Infeksi ini umumnya disebabkan oleh H. Influenza dan S. Pneumonia, maka digunakan ampisilin 4 x 0,25 – 0,5 g/hari atau aritromisin 4 x 0,5 g/hari.
      • Augmentin (amoxilin dan asam klavuralat) dapat diberikan jika kuman penyebab infeksinya adalah H. Influenza dan B. Catarhalis yang memproduksi B. Laktamase. Pemberian antibiotic seperti kotrimoksosal, amoksisilin atau doksisilin pada pasien yang mengalami eksaserbasi akut terbukti mempercepat penyembuhan dan membantu mempererat kenaikan peak flowrate. Namun hanya dalam 7 – 10 hari selama periode eksaserbasi. Bila terdapat infeksi sekunder atau tanda-tanda pneumonia, maka dianjurkan antiobiotik yang lebih kuat.
    • Terapi oksigen diberikan jika terdapat kegagalan pernafasan karena hiperkapnia dan berkurangnya sensitivitas CO2.
    • Fisioterapi membantu pasien untuk mengeluarkan sputum dengan baik.
    • Bronkodilator, untuk mengatasi obstruksi jalan nafas, termsuk didalamnya golongan adrenergic B dan antikolinergik. Pada pasien dapat diberikan sulbutamol g diberikan tiap 6 jam denganm5 mg dan atau protropium bromide 250 rebulizer atau aminofilin 0,25 – 05 g IV secara perlahan.
  • Terapi jangka panjang dilakukan dengan :
    • Antibiotik untuk kemoterapi preventif jangka panjang, ampisilin 4 x 0,25 – 0,5/hari dapat menurunkan ekserbasi akut.
    • Bronkodilator, tergantung tingkat reversibilitas obstruksi saluran nafas tiap pasien, maka sebelum pemberian obat ini dibutuhkan pemeriksaan obyektif fungsi foal paru.
    • Fisioterapi.
    • Latihan fisik untuk meningkatkan toleransi akivitas fisik.
    • Mukolitik dan ekspekteron.
    • Terapi oksigen jangka panjang bagi pasien yang mengalami gagal nafas Tip II dengan PaO2 <>
    • Rehabilitasi, pasien cenderung menemui kesulitan bekerja, merasa sendiri dan terisolasi, untuk itu perlu kegiatna sosialisasi agar terhindar dari depresi. Rehabilitasi untuk pasien PPOK/COPD: a) Fisioterapi b) Rehabilitasi psikis c) Rehabilitasi pekerjaan.




B. Asuhan Keperawatan COPD


A. Pengkajian

  • Identitas klien
    Nama, tempat tanggal lahir, umur, jenis kelamin, agama/suku, warga Negara, bahasa yang digunakan, penanggung jawap meliputi : nama, alamat, hubungan dengan klien.


  • Pola persepsi kesehatan-pemeliharaan kesehatan.
    Kaji status riwayat kesehatan yang pernah dialami klien, apa upaya dan dimana kliwen mendapat pertolongan kesehatan, lalu apa saja yang membuat status kesehatan klien menurun.


  • Pola nutris metabolik.
    Tanyakan kepada klien tentang jenis, frekuensi, dan jumlah klien makan dan minnum klien dalam sehari. Kaji selera makan berlebihan atau berkurang, kaji adanya mual muntah ataupun adanyaterapi intravena, penggunaan selang enteric, timbang juga berat badan, ukur tinggi badan, lingkaran lengan atas serta hitung berat badan ideal klien untuk memperoleh gambaran status nutrisi.


  • Pola eliminasi.
    • Kaji terhadap rekuensi, karakteristik, kesulitan/masalah dan juga pemakaian alat bantu seperti folly kateter, ukur juga intake dan output setiap sift.
    • Eliminasi proses, kaji terhadap prekuensi, karakteristik,
      kesulitan/masalah defekasi dan juga pemakaian alat bantu/intervensi dalam Bab.


  • Pola aktivitas dan latihan
    Kaji kemampuan beraktivitas baik sebelum sakit atau keadaan sekarang dan juga penggunaan alat bantu seperti tongkat, kursi roda dan lain-lain. Tanyakan kepada klien tentang penggunaan waktu senggang. Adakah keluhanpada pernapasan, jantung seperti berdebar, nyeri dada, badan lemah.


  • Pola tidur dan istirahat
    Tanyakan kepada klien kebiasan tidur sehari-hari, jumlah jam tidur, tidur siang. Apakah klien memerlukan penghantar tidur seperti mambaca, minum susu, menulis, memdengarkan musik, menonton televise. Bagaimana suasana tidur klien apaka terang atau gelap. Sering bangun saat tidur dikarenakan oleh nyeri, gatal, berkemih, sesak dan lain-lain.


  • Pola persepsi kogniti
    Tanyakan kepada klien apakah menggunakan alat bantu pengelihatan, pendengaran. Adakah klien kesulitan mengingat sesuatu, bagaimana klien mengatasi tak nyaman : nyeri. Adakah gangguan persepsi sensori seperti pengelihatan kabur, pendengaran terganggu. Kaji tingkat orientasi terhadap tempat waktu dan orang.


  • Pola persepsi dan konsep diri
    Kaji tingkah laku mengenai dirinya, apakah klien pernah mengalami putus asa/frustasi/stress dan bagaimana menurut klien mengenai dirinya.


  • Pola peran hubungan dengan sesama
    Apakah peran klien dimasyarakat dan keluarga, bagaimana hubungan klien di masyarakat dan keluarga dn teman sekerja. Kaji apakah ada gangguan komunikasi verbal dan gangguan dalam interaksi dengan anggota keluarga dan orang lain.


  • Pola produksi seksual
    Tanyakan kepada klien tentang penggunaan kontrasepsi dan permasalahan yang timbul. Berapa jumlah anak klien dan status pernikahan klien.


  • Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stress.
    Kaji faktor yang membuat klien marah dan tidak dapat mengontrol diri, tempat klien bertukar pendapat dan mekanisme koping yang digunakan selama ini. Kaji keadaan klien saat ini terhadap penyesuaian diri, ugkapan, penyangkalan/penolakan terhadap diri sendiri.


  • Pola system kepercayaan
    Kaji apakah klien dsering beribadah, klien menganut agama apa?. Kaji apakah ada nilai-nilai tentang agama yang klien anut bertentangan dengan kesehatan.



B. Diagnosa Keperawatan

  1. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan gangguan peningkatan produksi secret, sekresi tertahan, tebal dan kental.


  2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen berkurang. (obstruksi jalan napas oleh secret, spasme bronkus).


  3. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada selaput paru-paru.




C. Perencanaan Keperawatan.

  1. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan gangguan peningkatan produksi secret, sekresi tertahan, tebal dan kental.

    Tujuan : Ventilasi/oksigenisasi adekuat untuk kebutuhan
    individu.

    Kriteria hasil : Mempertahankan jalan napas paten dan bunyi napas
    bersih/jelas.

    Intervensi
    1. Kaji/pantau frekuensi pernapasan, catat rasio inspirasi/ekspirasi.
      Rasional :
      Takipnea biasanya ada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stress/adanya proses infeksi akut. Pernapasan dapat melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang disbanding inspirasi.


    2. Kaji pasien untuk posisi yang nyaman, misalnya peninggian kepala tempat tidur, duduk dan sandaran tempat tidur.
      Rasional :
      Peninggian kepala tempat tidur mempermudah pernapasan dan menggunakan gravitasi. Namun pasien dengan distress berat akan mencari posisi yang lebih mudah untuk bernapas. Sokongan tangan/kaki dengan meja, bantal dan lain-lain membantu menurunkan kelemahan otot dan dapat sebagai alat ekspansi dada.


    3. Auskultasi bunyi napas, catat adanya bunyi napas misalnya : mengi, krokels dan ronki.
      Rasional :
      Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan napas dan dapat/tidak dimanifestasikan dengan adanya bunyi napas adventisius, misalnya : penyebaran, krekels basah (bronchitis), bunyi napas redup dengan ekspirasi mengi (emfisema), atau tidak adanya bunyi napas (asma berat).


    4. Catat adanya /derajat disepnea, misalnya : keluhan 'lapar udara', gelisah, ansietas, distress pernapasan, dan penggunaan obat bantu.
      Rasional :
      Disfungsi pernapasan adalah variable yang tergantung pada tahap proses kronis selain proses akut yang menimbulkan perawatan di rumah sakit, misalnya infeksi dan reaksi alergi.


    5. Dorong/bantu latihan napas abdomen atau bibir.
      Rasional :
      Memberikan pasien beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol dispnea dan menurunkan jebakan udara.


    6. Observasi karakteristik batuk, misalnya : menetap, batuk pendek, basah, bantu tindakan untuk memperbaiki keefektifan jalan napas.
      Rasional :
      Batuk dapat menetap tetapi tidak efektif, khususnya bila pasien lansia, sakit akut, atau kelemahan. Batuk paling efektif pada posisi duduk paling tinggi atau kepala dibawah setelah perkusi dada.


    7. Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml/hari sesuai toleransi jantung.
      Rasional :
      Hidrasi membantu menurunkan kekentalan secret, mempermudah pengeluaran. Penggunaan air hangat dapat menurunkan spasme bronkus. Cairan selama makan dapat meningkatkan distensi gaster dan tekanan pada diafragma.


    8. Bronkodilator, misalnya, β-agonis, efinefrin (adrenalin, vavonefrin), albuterol (proventil, ventolin), terbutalin (brethine, brethaire), isoeetrain (brokosol, bronkometer).
      Rasional :
      Merilekskan otot halus dan menurunkan kongesti local, menurunkan spasme jalan napas, mengi dan produksi mukosa. Obat-obatan mungkin per oral, injeksi atau inhalasi. dapat meningkatkan distensi gaster dan tekanan pada diafragma.
      (Doenges, 1999. hal 156).


  2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen berkurang. (obstruksi jalan napas oleh sekret, spasme bronkus).

    Tujuan : Mempertahankan tingkat oksigen yang adekuat untuk
    keperluan tubuh.

    Kriteria hasil :
  • Tanpa terapi oksigen, SaO2 95 % dank lien tidan mengalami sesak napas.
  • Tanda-tanda vital dalam batas normal
  • Tidak ada tanda-tanda sianosis.


Intervensi :

  1. Kaji frekuensi, kedalaman pernapasan, catat pengguanaan otot aksesorius, napas bibir, ketidakmampuan bicara/berbincang.
    Respon :
    Berguna dalam evaluasi derajat distress pernapasan dan kronisnya proses penyakit.


  2. Kaji/awasi secara rutin kulit dan warna membrane mukosa.
    Rasional :
    Sianosis mungkin perifer (terlihat pada kuku) atau sentral (terlihat sekitar bibir atau danun telinga). Keabu-abuan dan dianosis sentral mengindikasikan beratnya hipoksemia.


  3. Tinggikan kepala tempat tidur, bantu pasien untuk memilih posisi yang mudah untuk bernapas. Dorong napas dalam perlahan atau napas bibir sesuai dengan kebutuhan/toleransi individu.
    Rasional :
    Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi dan laithan napas untuk menurunkan kolaps jalan napas, dispnea dan kerja napas.


  4. Dorong mengeluarkan sputum, pengisapan bila diindikasikan.
    Rasional :
    Kental tebal dan banyak sekresi adalah sumber utama gangguan pertukaran gas pada jalan napas kecil, dan pengisapan dibuthkan bila batuk tak efektif.


  5. Auskultasi bunyi napas, catat area penurunan aliran udara dan/atau bunyi tambahan.
    Rasional :
    Bunyi napas mingkin redup karena penurrunan aliran udara atau area konsolidasi. Adanya mengi mengindikasikan spasme bronkus/ter-tahannya sekret. Krekles basah menyebar menunjukan cairan pada interstisial/dekompensasi jantung.


  6. Awasi tanda-tanda vital dan irama jantung.
    Rasional :
    Takikardi, disiretmia dan perubahan tekanan darah dapat menunjuak efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung.


  7. Berikan oksigen tambahan yang sesuai dengan indikasi hasil GDA dan toleransi pasien.
    Rasional :
    Dapat memperbaiki/mencegah memburuknya hipoksia. Catatan ; emfisema koronis, mengatur pernapasan pasien ditentikan oleh kadar CO2 dan mungkin dikkeluarkan dengan peningkatan PaO2 berlebihan.
    (Doenges, 1999. hal 158).


  1. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada selaput paru-paru.

    Tujuan : Rasa nyeri berkurang sampai hilang.

    Kriteria hasil :
  • Klien mengatakan rasa nyeri berkurang/hilang.
  • Ekspresi wajah rileks.


Intervensi :

  1. Tentukan karakteristik nyeri, miaalnya ; tajam, konsisten, di tusuk, selidiki perubahan karakter/intensitasnyeri/lokasi.
    Respon :
    Nyeri dada biasanya ada dalam beberapa derajat pneumonia, juga dapat timbul komplikasi seperti perikarditis dan endokarditis.


  2. Pantau tanda-tanda vital.
    Rasional :
    Perubahan frekuensi jantung atau TD menunjukan bahwa pasien mengalami nyeri, khususnya bila alasan lain untuk perubahan tanda-tanda vital.


  3. Berikan tindakan nyaman, misalnya ; pijatan punggung, perubahan posisi, musik tenang/perbincangan, relaksasi/latihan napas.
    Rasional :
    Tindakan non-analgetik diberikan dengan sentuhan lembut dapat menghilangkan ketidaknyamanan dan memperbesar efek terapi analgesic.


  4. Tawarkan pembersihan mulut dengan sering.
    Rasional :
    Pernapasan mulut dan terapi oksigen dapat mengiritasi dan mengeringkan memberan mukosa, potensial ketidaknyamanan umum.


  5. Anjurkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama episode batuk.
    Rasional :
    Alat untuk mengontrol ketidaknyamanan dada sementara meningkatkan keefektifan upaya batuk.


  6. Berikan analgesic dan antitusif sesuai indikasi.
    Rasional :
    Obat ini dapat digunakan untuk menekan batuk non produktif/proksimal atau menurunkan mukosa berlebihan, meningkatkan kenyamanan/istirahat umum.
    (Doenges, 1999. hal 171).
    "
Baca Selengkapnya - Askep Chronic Obstructive Pulmonal Disease ( COPD )

Askep Mola Hidatidosa

Askep Mola Hidatidosa"

Askep Mola Hidatidosa

  1. Konsep Dasar Mola Hidatidosa



    A. Pengertian

    Mola hidatidosa adalah chorionic villi (jonjotan/gantungan) yang tumbuh berganda berupa gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur atau mata ikan. Karena itu disebut juga hamil anggur atau mata ikan. (Mochtar, Rustam, dkk, 1998 : 23)

    Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal, dengan ciri-ciri stoma villus korialis langka, vaskularisasi dan edematus. Janin biasanya meninggal akan tetapi villus-villus yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus, gambaran yang diberikan adalah sebagai segugus buah anggur. (Wiknjosastro, Hanifa, dkk, 2002 : 339).

    Mola hidatidosa adalah perubahan abnormal dari villi korionik menjadi sejumlah kista yang menyerupai anggur yang dipenuhi dengan cairan. Embrio mati dan mola tumbuh dengan cepat, membesarnya uterus dan menghasilkan sejumlah besar human chorionic gonadotropin (hCG) (Hamilton, C. Mary, 1995 : 104).


B. Etiologi


Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui secara pasti, namun faktor penyebabnya adalah :

  1. Faktor ovum : ovum memang sudah patologik sehingga mati , tetapi terlambat dikeluarkan.
  2. Imunoselektif dari tropoblast.
  3. Keadaan sosio-ekonomi yang rendah.
  4. Paritas tinggie.Kekurangan proteinf.Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas.

(Mochtar, Rustam ,1998 : 23)




C. Patofisiologi


Mola hidatidosa dapat terbagi menjadi :

  1. Mola hidatidosa komplet (klasik), jika tidak ditemukan janin.


  2. Mola hidatidosa inkomplet (parsial), jika disertai janin atau bagian janin.


Ada beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan patogenesis dari penyakit trofoblast :

  • Teori missed abortion

    Mudigah mati pada kehamilan 3 – 5 minggu karena itu terjadi gangguan peredarah darah sehingga terjadi penimbunan cairan masenkim dari villi dan akhirnya terbentuklah gelembung-gelembung.

  • Teori neoplasma dari Park

    Sel-sel trofoblast adalah abnormal dan memiliki fungsi yang abnormal dimana terjadi reabsorbsi cairan yang berlebihan ke dalam villi sehigga timbul gelembung.


  • Studi dari Hertig

    Studi dari Hertig lebih menegaskan lagi bahwa mola hidatidosa semata-mata akibat akumulasi cairan yang menyertai degenerasi awal atau tiak adanya embrio komplit pada minggu ke tiga dan ke lima. Adanya sirkulasi maternal yang terus menerus dan tidak adanya fetus menyebabkan trofoblast berproliferasi dan melakukan fungsinya selama pembentukan cairan.


    (Silvia, Wilson, 2000 : 467)



D. Tanda dan Gejala


Tanda dan gejala kehamilan dini didapatkan pada mola hidatidosa. Kecurigaaan biasanya terjadi pada minggu ke 14 - 16 dimana ukuran rahim lebih besar dari kehamilan biasa, pembesaran rahim yang terkadang diikuti perdarahan, dan bercak berwarna merah darah beserta keluarnya materi seperti anggur pada pakaian dalam. Tanda dan gejala serta komplikasi mola :

  1. Mual dan muntah yang parah yang menyebabkan 10% pasien masuk RS.
  2. Pembesaran rahim yang tidak sesuai dengan usia kehamilan (lebih besar).
  3. Gejala – gejala hipertitoidisme seperti intoleransi panas, gugup, penurunan BB yang tidak dapat dijelaskan, tangan gemetar dan berkeringat, kulit lembab.
  4. Gejala – gejala pre-eklampsi seperti pembengkakan pada kaki dan tungkai, peningkatan tekanan darah, proteinuria (terdapat protein pada air seni).



E. Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah :

  1. Serum ß-hCG untuk memastikan kehamilan dan pemeriksaan ß-hCG serial (diulang pada interval waktu tertentu).
  2. Ultrasonografi (USG). Melalui pemeriksaan USG kita dapat melihat adakah janin di dalan kantung gestasi (kantung kehamilan) dan kita dapat mendeteksi gerakan maupun detak jantung janin. Apabila semuanya tidak kita temukan di dalam pemeriksaan USG maka kemungkinan kehamilan ini bukanlah kehamilan yang normal.
  3. Foto roentgen dada.


F. Penatalaksanaan Medis


Penanganan yang biasa dilakukan pada mola hidatidosa adalah :

  1. Diagnosis dini akan menguntungkan prognosis.


  2. Pemeriksaan USG sangat membantu diagnosis. Pada fasilitas kesehatan di mana sumber daya sangat terbatas, dapat dilakukan : Evaluasi klinik dengan fokus pada : Riwayat haid terakhir dan kehamilan Perdarahan tidak teratur atau spotting, pembesaran abnormal uterus, pelunakan serviks dan korpus uteri. Kajian uji kehamilan dengan pengenceran urin. Pastikan tidak ada janin (Ballottement) atau DJJ sebelum upaya diagnosis dengan perasat Hanifa Wiknjosastro atau Acosta Sisson.


  3. Lakukan pengosongan jaringan mola dengan segera.


  4. Antisipasi komplikasi (krisis tiroid, perdarahan hebat atau perforasi uterus).


  5. Lakukan pengamatan lanjut hingga minimal 1 tahun. Selain dari penanganan di atas, masih terdapat beberapa penanganan khusus yang dilakukan pada pasien dengan mola hidatidosa, yaitu : Segera lakukan evakuasi jaringan mola dan sementara proses evakuasi berlangsung berikan infus 10 IU oksitosin dalam 500 ml NaCl atau RL dengan kecepatan 40-60 tetes per menit (sebagai tindakan preventif terhadap perdarahan hebat dan efektifitas kontraksi terhadap pengosongan uterus secara tepat). Pengosongan dengan Aspirasi Vakum lebih aman dari kuretase tajam. Bila sumber vakum adalah tabung manual, siapkan peralatan AVM minimal 3 set agar dapat digunakan secara bergantian hingga pengosongan kavum uteri selesai. Kenali dan tangani komplikasi seperti tirotoksikasi atau krisis tiroid baik sebelum, selama dan setelah prosedur evakuasi. Anemia sedang cukup diberikan Sulfas Ferosus 600 mg/hari, untuk anemia berat lakukan transfusi. Kadar hCG diatas 100.000 IU/L praevakuasi menunjukkan masih terdapat trofoblast aktif (diluar uterus atau invasif), berikan kemoterapi MTX dan pantau beta-hCG serta besar uterus secara klinis dan USG tiap 2 minggu. Selama pemantauan, pasien dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi hormonal (apabila masih ingin anak) atau tubektomy apabila ingin menghentikan fertilisasi.


  1. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Mola Hidatidosa



A. Pengkajian


Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi klien.


Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah :

  • Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ; nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, perkawinan ke- , lamanya perkawinan dan alamat.


  • Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan pervaginam berulang.


  • Riwayat kesehatan, yang terdiri atas :
    • Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.
    • Riwayat kesehatan masa lalu
    • Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien, jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung.


  • Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah dialami oleh klien misalnya DM, jantung, hipertensi, masalah ginekologi/urinary, penyakit endokrin, dan penyakit-penyakit lainnya.


  • Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga.


  • Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya.


  • Riwayat kehamilan , persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan anaknya.


  • Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang digunakan serta keluahn yang menyertainya.


  • Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obat-obatankontrasepsi oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya.


  • Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi (BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik sebelum dan saat sakit.


Pemeriksaan Fisik :

  • Inspeksi
    Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya terbatas pada penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan penghidung.

    Hal yang diinspeksi antara lain :

    Mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi terhadap drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan, bahasa tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya keterbatasan fifik, dan seterusnya.

  • Palpasi

    Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan jari.
    • Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus.
    • Tekanan : menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema, memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor.
    • Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnormal.


  • Perkusi

    Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau jaringan yang ada dibawahnya.
    • Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan ada tidaknya cairan , massa atau konsolidasi.
    • Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak.


  • Auskultasi

    Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan stetoskop dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang terdengar. Mendengar : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin.

    (Johnson & Taylor, 2005 : 39)



B. Diagnosa Keperawatan

  1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan.


  2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan.


  3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri.


  4. Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi.


  5. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan



B. Intervensi


DIAGNOSA I


Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan


Tujuan : Klien akan meninjukkan nyeri berkurang/hilang


Kriteria Hasil :

  • Klien mengatakan nyeri berkurang/hilang
  • Ekspresi wajah tenang
  • TTV dalam batas normal


Intervensi :

  • Kaji tingkat nyeri, lokasi dan skala nyeri yang dirasakan klien.

    Rasional : Mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan sehingga dapat membantu menentukan intervensi yang tepat.


  • Observasi tanda-tanda vital tiap 8 jam

    Rasional : Perubahan tanda-tanda vital terutama suhu dan nadi merupakan salah satu indikasi peningkatan nyeri yang dialami oleh klien.


  • Anjurkan klien untuk melakukan teknik relaksasi

    Rasional : Teknik relaksasi dapat membuat klien merasa sedikit nyaman dan distraksi dapat mengalihkan perhatian klien terhadap nyeri sehingga dapat mambantu mengurangi nyeri yang dirasakan.


  • Beri posisi yang nyaman

    Rasional : Posisi yang nyaman dapat menghindarkan penekanan pada area luka/nyeri.


  • Kolaborasi pemberian analgetik

    Rasional : Obat-obatan analgetik akan memblok reseptor nyeri sehingga nyeri tidat dapat dipersepsikan.



DIAGNOSA II


Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan


Tujuan : Klien akan menunjukkan terpenuhinya kebutuhan rawat diri


Kriteria Hasil :

  • Kebutuhan personal hygiene terpenuhi
  • Klien nampak rapi dan bersih.


Intervensi :

  • Kaji kemampuan klien dalam memenuhi rawat diri

    Rasional : Untuk mengetahui tingkat kemampuan/ketergantungan klien dalam merawat diri sehingga dapat membantu klien dalam memenuhi kebutuhan hygienenya.


  • Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari

    Rasional : Kebutuhan hygiene klien terpenuhi tanpa membuat klien ketergantungan pada perawat.


  • Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sesuai kemampuannya

    Rasional : Pelaksanaan aktivitas dapat membantu klien untuk mengembalikan kekuatan secara bertahap dan menambah kemandirian dalam memenuhi kebutuhannya.


  • Anjurkan keluarga klien untuk selalu berada di dekat klien dan membantu memenuhi kebutuhan klien.

    Rasional : Membantu memenuhi kebutuhan klien yang tidak terpenuhi secara mandiri.



DIAGNOSA III


Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri


Tujuan : Klien akan mengungkapkan pola tidurnya tidak terganggu


Kriteria Hasil :

  • Klien dapat tidur 7-8 jam per hari.
  • Konjungtiva tidak anemis.


Intervensi :

  • Kaji pola tidur

    Rasional : Dengan mengetahui pola tidur klien, akan memudahkan dalam menentukan intervensi selanjutnya.

  • Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang

    Rasional :Memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat.

  • Anjurkan klien minum susu hangat sebelum tidur

    Rasional :Susu mengandung protein yang tinggi sehingga dapat merangsang untuk tidur.

  • Batasi jumlah penjaga klien

    Rasional : Dengan jumlah penjaga klien yang dibatasi maka kebisingan di ruangan dapat dikurangi sehingga klien dapat beristirahat.


  • Memberlakukan jam besuk

    Rasional : Memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat.

  • Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat tidur Diazepam

    Rasional : Diazepam berfungsi untuk merelaksasi otot sehingga klien dapat tenang dan mudah tidur.



DIAGNOSA IV


Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi


Tujuan : Klien akan menunjukkan tidak terjadi panas


Kriteria Hasil :

  • Tanda-tanda vital dalam batas normal
  • Klien tidak mengalami komplikasi.


Intervensi :

  • Pantau suhu klien, perhatikan menggigil/diaphoresis

    Rasional : Suhu diatas normal menunjukkan terjadinya proses infeksi, pola demam dapat membantu diagnosa.

  • Pantau suhu lingkungan

    Rasional : Suhu ruangan harus diubah atau dipertahankan, suhu harus mendekati normal.

  • Anjurkan untuk minum air hangat dalam jumlah yang banyak

    Rasional : Minum banyak dapat membantu menurunkan demam.

  • Berikan kompres hangat

    Rasional : Kompres hangat dapat membantu penyerapan panas sehingga dapat menurunkan suhu tubuh.

  • Kolaborasi pemberian obat antipiretik

    Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi pada hipothalamus.



DIAGNOSA V


Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan


Tujuan : Klien akan menunjukkan kecemasan berkurang/hilang


Kriteria Hasil :

  • Ekspresi wajah tenang
  • Klien tidak sering bertanya tentang penyakitnya.


Intervensi :

  • Kaji tingkat kecemasan klien

    Rasional : Mengetahui sejauh mana kecemasan tersebut mengganggu klien.

  • Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya

    Rasional : Ungkapan perasaan dapat memberikan rasa lega sehingga mengurangi kecemasan.

  • Mendengarkan keluhan klien dengan empati

    Rasional : Dengan mendengarkan keluahan klien secara empati maka klien akan merasa diperhatikan.

  • Jelaskan pada klien tentang proses penyakit dan terapi yang diberikan

    Rasional : menambah pengetahuan klien sehingga klien tahu dan mengerti tentang penyakitnya.

  • Beri dorongan spiritual/support

    Rasional : Menciptakan ketenangan batin sehingga kecemasan dapat berkurang.



Daftar Pustaka


Carpenito, Lynda, (2001), Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta


Hamilton, C. Mary, 1995, Dasar-dasar Keperawatan Maternitas, edisi 6, EGC, Jakarta


Soekojo, Saleh, 1973, Patologi, UI Patologi Anatomik, Jakarta


Mochtar, Rustam, 1998. Sinopsis Obstetri, Jilid I. EGC. Jakarta

Johnson & Taylor, 2005. Buku Ajar Praktik Kebidanan. EGC. Jakarta


Mansjoer, Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I. Media Aesculapius. Jakarta

Baca Selengkapnya - Askep Mola Hidatidosa

PROPOSAL PENYULUHAN DEMAM BERDARAH LEMBAR PENGESAHAN

PROPOSAL PENYULUHAN DEMAM BERDARAH LEMBAR PENGESAHAN
PROPOSAL PENYULUHAN DEMAM BERDARAH
LEMBAR PENGESAHAN

Nama Kegiatan : PENYULUHAN WABAH DEMAM BERDARAH DAN PEKAN LINGKUNGAN BERSIH
Tema Kegiatan : “Kenali, Atasi, Selamatkan Lingkungan dari Demam Berdarah”
Waktu Kegiatan : •Desa Tapaan, Kec. Bugul Kidul Pasuruan
Tahap I (Penyuluhan) Tanggal 5 Juni 2008
Tahap II dan III (Pekan Lingkungan Bersih) tanggal 8 dan 15 Juni 2008
•Desa Bukir, kec. Gadingrejo Pasuruan.
Tahap I (Penyuluhan) tanggal 17 Juni 2008
Tahap II dan III (Pekan Lingkungan Bersih) tanggal 22 dan 29 Juni 2008
•Desa Kebonsari, Kec. Purutrejo Pasuruan.
Tahap I (Penyuluhan) Tanggal 1 Juli 2008
Tahap II dan III (Pekan Lingkungan Bersih) tanggal 6 dan 13 Juli 2008
Tempat Kegiatan : 1. Desa Tapaan Kecamatan Bugulkidul Pasuruan
2. Desa Bukir kecamatan Gadingrejo Pasuruan.
3. Desa Kebonsari kecamatan Purutrejo Pasuruan.
Publik Peserta : Kader Kesehatan, Pemuda Karang Taruna, dan Masyarakat desa Tapaan Kec. Bugul Kidul, Desa Bukir Kec. Gadingrejo dan Desa Kebonsari Kec.Purutrejo Pasuruan.
Penyelenggara Kegiatan : Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa se-Pasuruan (BEM-PAS) bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kota Pasuruan.
Biaya Kegiatan : Rp. 6.340.000, (Enam Juta Tiga Ratus Empat puluh Ribu Rupiah )
Pasuruan, 30 Mei 2008
PANITIA
KETUA PANITIA
Bela Nusa Bangsa SEKRETARIS
Ach. Subadar Fikri
Mengetahui,
KOORDINATOR BEM-PAS
Rahmadi
Project Proposal
PENYULUHAN WABAH DEMAM BERDARAH DAN PEKAN LINGKUNGAN BERSIH
ALIANSI BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA SE- PASURUAN (BEM-PAS)
“Kenali, Atasi, Selamatkan Lingkungan Dari Demam Berdarah”
A. LATAR BELAKANG
Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa wabah demam berdarah bukan saja menjadi masalah di daerah kita saja, akan tetapi sudah menjadi masalah nasional. Di Indonesia di perkirakan sudah tidak ada lagi satupun propinsi yang terbebas dari demam berdarah. Terutama di propinsi Jawa Timur, dimana Surabaya sebagai Ibu Kota Propinsi Jawa Timur adalah kota ditemukan pertama kalinya Demam Berdarah di Indonesia pada tahun 1968.
Di kota Pasuruan sendiri telah ditemukan kasus demam berdarah yang dari tahun ke tahun semakin meningkat. Hal ini menunjukkan begitu besarnya bahaya demam berdarah yang mengancam masyarakat Indonesia terutama warga Pasuruan. Oleh karena itu pencegahan menjadi hal wajib yang musti dilakukan agar ancaman ini tidak berkelanjutan.
Generasi muda sebagai penerus bangsa adalah salah satu element yang tentunya sangat dibutuhkan keikutsertaan dan partisipasinya dalam upaya memerangi bahaya demam berdarah ini. Memberikan Informasi yang benar tentang Demam Berdarah, bagaimana mencegah dan menangulangi serta memberikan motivasi dan penyadaran kepada seluruh element masyarakat untuk bersama-sama mencegah penyebarannya adalah bentuk Peran aktif Generasi muda khususnya di Pasuruan yang mutlak harus dilakuakan. Dengan demikian akan tercipta satu kekuatan besar untuk bersama-sama mencegah, membasmi bahkan membumi hanguskan wabah demam berdarah dari kota Pasuruan yang kita cintai ini. Tidak hanya sampai disitu, gerakan ini diharapkan juga menjadi inspirasi bagi seluruh daerah di Indonesia diluar kota Pasuruan agar tercipta Bangsa Indonesia yang sehat yakni bangsa Indonesia yang bebas demam berdarah.
Melihat realita diatas, tentunya diperlukan kerja dari semua element, baik dari masyarakat umum, pelayan kesehatan, dunia pendidikan, pemerintah, pemuda dan terutama mahasiswa Pasuruan untuk bersama-sama mencegah merambahnya wabah Demam Berdarah. Perlu diadakan satu kegiatan bersama yang mampu menggugah semangat dan motivasi seluruh masyarakat tanpa terkecuali yang dari kegiatan ini diharapkan minimal mampu menurunkan jumlah masyarakat yang terjangkit Demam Berdarah khususnya di Pasuruan.
Bertolak dari pemikiran tersebut di ataslah Aliansi BEM Se-Kota Pasuruan bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kota Pasuruan bermaksud mengadakan serangkaian kegiatan yang dikemas dalam bentuk penyuluhan wabah demam berdarah dan pekan bersih lingkungan dengan mengangkat tema “kenali, atasi, selamatkan lingkungan dari demam berdarah”. Kegiatan ini diharapkan dapat memotivasi masyarakat agar mempunyai inisiatif untuk bersama-sama memberantas wabah Demam Berdarah di lingkungan sekitar mereka demi terciptanya Pasuruan Bebas Demam Bersarah.
B. LANDASAN KEGIATAN
Landan kegiatan ini :
1. Pancasila
2. Undang-undang dasar (UUD) 1945
3. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah tangga BEM PAS
4. Hasil Rapat Kerja BEM-PAS 2008-2009
C. TUJUAN KEGIATAN
Kegiatan ini bertujuan untuk :
1. Untuk memperluas dan menambah informasi kepada masyarakat khususnya generasi muda tentang penjangkitan dan pencegahan wabah Demam Berdarah.
2. Memberdayakan generasi muda dalam menghadapi wabah Demam Berdarah.
3. Mendorong terciptanya partisipasi masyarakat untuk berperan aktif dalam mensosialisasikan wabah Demam Berdarah.
4. Menunjukkan kepada masyarakat umum, bahwa kebersihan lingkungan adalah hal yang utama untuk pencegahan wabah penyakit khususnya Demam Berdarah.
D. BENTUK KEGIATAN
1. Nama dan Tema
a. Nama Kegiatan
Kegiatan yang kami selenggarakan ini bernama Penyuluhan Wabah Demam Berdarah Dan Pekan Lingkungan Bersih
b. Tema Kegiatan
Kegiatan yang kami laksanakan ini mengambil grand tema “kenali, atasi, selamatkan lingkungan dari demam berdarah”
2. Waktu dan Tempat Kegiatan
•Desa Tapaan Kecamatan Bugul Kidul Pasuruan
Tahap I (Penyuluhan) Tanggal 5 Juni 2008
Tahap II dan III (Pekan Lingkungan Bersih) Tanggal 8 dan 15 Juni 2008
•Desa Bukir kecamatan Gadingrejo Pasuruan.
Tahap I (Penyuluhan) tanggal 17 Juni 2008
Tahap II dan III (Pekan Lingkungan Bersih) tanggal 22 dan 29 Juni 2008
•Desa Kebonsari Kecamatan Purutrejo Pasuruan.
Tahap I (Penyuluhan) Tanggal 1 Juli 2008
Tahap II dan III (Pekan Lingkungan Bersih) tanggal 6 dan 13 Juli 2008
Adapun manual kegiatan terlampir
3. Penyelenggara Kegiatan
a. Kegiatan Penyuluhan wabah demam berdarah dan pekan lingkungan bersih ini diselenggarakan oleh Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa se- Pasuruan (BEM-PAS) bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Pasuruan.
b. Adapun susunan kepanitiaan sebagaimana terlampir.
4. Publik Peserta
Peserta kegiatan ini adalah : Mayarakat, Kader Kesehatan, Remaja/ ORMAS di desa Bukir kec. Gadingrejo, desa Kebonsari Kec. Purutrejo Pasuruan, desa Tapaan Kec. Bugulkidul Pasuruan.
E. SUMBER dan ESTIMASI DANA
a. Sumber Dana
Sumber dana dalam penyelenggaraan kegiatan ini diharapkan diperoleh melalui :
1. Swadaya BEM-PAS
2. Instansi-instansi terkait
3. Para Donatur/dermawan yang tidak mengikat
b. Sumber Dana
Adapun anggaran yang diperlukan dalam kegiatan ini sebesar Rp. 6.340.000, (Enam Juta Tiga Ratus Empat puluh Ribu Rupiah ). Dengan rincian estimasi dana terlampir.
F. PENUTUP
Demikian project proposal ini kami susun, dengan harapan dapat menjadi pertimbangan serta memperoleh tanggapan dari berbagai pihak yang turut peduli dan mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Adapun hal-hal yang belum tercantum dalam manual kegiatan ini, terutama yang berhubungan dengan penambahan dan perubahan yang bersifat mendesak akan diatur kemudian sesuai dengan kebutuhan.
Sekian dan terima kasih
—ooo—
Pasuruan, 30 Mei 2008
Lampiran I
SUSUNAN PANITIA
PENYULUHAN WABAH DEMAM BERDARAH DAN PEKAN LINGKUNGAN BERSIH
ALIANSI BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA SE- PASURUAN (BEM-PAS)
Ketua : Bela Nusa Bangsa (Akper Pasuruan)
Sekretaris : Ach. Subadar Sukri (STKIP)
Bendahara : M. Sony (STAIS)
•Devisi Acara :
Syaifuddien Su’adi (UYP)
Irawati (Akbid Gempol)
M. Imam (Akper Gempol)
•Devisi Kesekretariatan
Fuad (STIMIK Yadhika)
M. Zasmito (UNMER)
Ima (STIE Wali Songo)
•Devisi Humas
Abdul Khobir (UYP)
Tutus Anggraeni (STKIP)
Agus Tamrin (UNMER)
•Devisi PLK dan Dokumentasi
Wahyudi (Akper Gempol)
Faiz (STAIPANA)
Heri (UNMER)
•Devisi konsumsi
Zainul Abidin (UYP)
M. Rozak (STAIS)
Ike (Akper Gempol)
Lampiran II
MENUAL KEGIATAN
PENYULUHAN WABAH DEMAM BERDARAH DAN PEKAN LINGKUNGAN BERSIH
ALIANSI BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA SE- PASURUAN (BEM-PAS)
Tahap Waktu Agenda Petugas
I 07.00-08.00 Chek in peserta Panitia
08.00-10.00 Opening ceremony:
Sambutan II
Sambutan III + Do’a Ketua Panitia
Kepala Desa
Tokoh Masyarakat
10.00-13.00 Penyuluhan Dinas Kesehatan Kota Pasuruan
13.00-14.00 ISHOMA All
14.00-16.00 Rencana Tindak Lanjut (RTL) BEM-PAS, Kader Kesehatan, Karang Taruna
16.00…. Selesai
II 07.00-08.00 Chek in peserta Panitia
08.00-12.00 Bersih Lingkungan BEM-PAS, Kader Kesehatan, Karang Taruna
III 07.00-08.00 Chek in peserta Panitia
08.00-11.00 Bersih Lingkungan BEM-PAS, Kader Kesehatan, Karang Taruna
11.00-13.00 Closing ceremony :
Sambutan I
Sambutan I I
Penyerahan cindramata
Do’a Ketua Panitia
Kepala Desa
Panitia
Tokoh Masyarakat
Lampiran III
ESTIMASI DANA KEGIATAN
Devisi Acara
No Jenis kebutuhan Harga satuan Jumlah
1. Pembuatan 15 Vandel (1 Dinkes, 1 Kepanitiaan, 1 BEM-PAS, 3 Karang taruna , 3 Kader kesehatan, 3 kepala desa, 3 Puskesmas) Rp. 25.000 Rp 375.000
Total Rp 375.000
Devisi Kesekretariatan dan Dokomentasi
No Jenis kebutuhan Harga satuan Jumlah
1. 3 Spanduk Kegiatan Rp. 125.000 Rp. 375.000
2. 500 Stiker Kegiatan Rp. 1500 Rp. 750.000
3. 27 Kaos panitia Kegiatan Rp. 25.000 Rp. 675.000
4. Dokumentasi Rp. 250.000 Rp. 250.000
Total Rp. 2.050.000
Devisi Konsumsi
No Jenis kebutuhan Harga satuan Jumlah
1. Konsumsi peserta 40 x 3 kali Penyuluhan Rp. 5.000 Rp. 600.000
2. Konsumsi panitia 25 x 3 kali penyuluhan Rp. 5.000 Rp. 375.000
3. Konsumsi pihak terkait (undangan) 15 x 3 kali penyuluhan Rp. 5.000 Rp.225.000
4. Konsumsi pekan lingkungan bersih :
- panitia 25x 9 kali bersih lingkungan
- Karang taruna + kader kesehatan 30 x 9 kali bersih lingkungan Rp. 5.000 Rp.2.475.000
5. Air mineral 20 kardus Rp. 12.000 Rp.240.000
Total Rp. 3.915.000
Grand total kebutahn dana :
Devisi acara : Rp 375.000
Devisi Kesekretariatan dan dokumentasi : Rp. 2.050.000
Devisi konsumsi : Rp. 3.915.000 +
Rp. 6.340.000
Baca Selengkapnya - PROPOSAL PENYULUHAN DEMAM BERDARAH LEMBAR PENGESAHAN

Spermisida

Spermisida

Pengertian

Spermisida adalah alat kontrasepsi yang mengandung bahan kimia (non oksinol-9) yang digunakan untuk membunuh sperma.


Jenis

Jenis spermisida terbagi menjadi:



  1. Aerosol (busa).

  2. Tablet vagina, suppositoria atau dissolvable film.

  3. Krim.



Cara Kerja

Cara kerja dari spermisida adalah sebagai berikut:



  1. Menyebabkan sel selaput sel sperma pecah.

  2. Memperlambat motilitas sperma.

  3. Menurunkan kemampuan pembuahan sel telur.


Pilihan



  1. Aerosol (busa) akan efektif setelah dimasukkan (insersi).

  2. Aerosol dianjurkan bila spermisida digunakan sebagai pilihan pertama atau metode kontrasepsi lain tidak sesuai dengan kondisi klien.

  3. Tablet vagina, suppositoria dan film sangat mudah dibawa dan disimpan. Penggunaannya dianjurkan menunggu 10-15 menit setelah dimasukkan (insersi) sebelum hubungan seksual.

  4. Jenis spermisida jeli biasanya digunakan bersamaan dengan diafragma.


Manfaat

Alat kontrasepsi spermisida ini memberikan manfaat secara kontrasepsi maupun non kontrasepsi.


Manfaat kontrasepsi



  1. Efektif seketika (busa dan krim).

  2. Tidak mengganggu produksi ASI.

  3. Sebagai pendukung metode lain.

  4. Tidak mengganggu kesehatan klien.

  5. Tidak mempunyai pengaruh sistemik.

  6. Mudah digunakan.

  7. Meningkatkan lubrikasi selama hubungan seksual.

  8. Tidak memerlukan resep ataupun pemeriksaan medik.


Manfaat non kontrasepsi

Memberikan perlindungan terhadap penyakit menular seksual termasuk HBV dan HIV/AIDS.


Keterbatasan



  1. Efektifitas kurang (bila wanita selalu menggunakan sesuai dengan petunjuk, angka kegagalan 15 dari 100 perempuan akan hamil setiap tahun dan bila wanita tidak selalu menggunakan sesuai dengan petunjuk maka angka kegagalan 29 dari 100 perempuan akan hamil setiap tahun).

  2. Spermisida akan jauh lebih efektif, bila menggunakan kontrasepsi lain (misal kondom).

  3. Keefektifan tergantung pada kepatuhan cara penggunaannya.

  4. Tergantung motivasi dari pengguna dan selalu dipakai setiap melakukan hubungan seksual.

  5. Pengguna harus menunggu 10-15 menit setelah spermisida dimasukkan sebelum melakukan hubungan seksual.

  6. Hanya efektif selama 1-2 jam dalam satu kali pemakaian.

  7. Harus selalu tersedia sebelum senggama dilakukan.


Penilaian Klien

Meskipun tidak memerlukan pemeriksaan khusus, namun perlu diperhatikan kondisi pengguna alat kontrasepsi spermisida. Hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:





































Spermisida



Sesuai untuk klien yang:



Tidak sesuai untuk klien yang:


Tidak suka atau tidak boleh menggunakan kontrasepsi hormonal (seperti perokok, wanita di atas 35 tahun)Mempunyai resiko tinggi apabila hamil (berdasar umur, paritas, masalah kesehatan)
Lebih suka memasang sendiri alat kontrasepsinyaTerinfeksi saluran uretra
Menyusui dan memerlukan kontrasepsi pendukungMemerlukan metode kontrasepsi efektif
Tidak ingin hamil dan terlindung dari penyakit menular seksual, tetapi pasangannya tidak mau menggunakan kondomTidak mau repot untuk mengikuti petunjuk pemakaian kontrasepsi dan siap pakai sewaktu akan melakukan hubungan seksual
Memerlukan metode sederhana sambil menunggu metode lainTidak stabil secara psikis atau tidak suka menyentuh alat reproduksinya (vulva dan vagina)
Jarang melakukan hubungan seksualMempunyai riwayat sindrom syok karena keracunan

Penanganan Efek Samping

Pemakaian alat kontrasepsi spermisida juga mempunyai efek samping dan masalah lain. Di bawah ini merupakan penanganan efek samping dan masalah-masalah yang timbul akibat pemakaian spermisida.






















Efek Samping Atau Masalah



Penanganan


Iritasi vagina atau iritasi penis dan tidak nyamanPeriksa adanya vaginitis dan penyakit menular seksual. Bila penyebabnya spermisida, sarankan memakai spermisida dengan bahan kimia lain atau bantu memilih metode kontrasepsi lain.
Gangguan rasa panas di vaginaPeriksa reaksi alergi atau terbakar. Yakinkan bahwa rasa hangat adalah normal. Bila tidak ada perubahan, sarankan menggunakan spermisida jenis lain atau bantu memilih metode kontrasepsi lain.
Tablet busa vaginal tidak larut dengan baikPilih spermisida lain dengan komposisi bahan kimia berbeda atau bantu memilih metode kontrasepsi lain.

Referensi

americanpregnancy.org/preventingpregnancy/spermicide.html

diunduh 8 Maret 2010, 05:42 PM.

birth-control-comparison.info/spermicide.htm diunduh 8 Maret 2010, 05:56 PM.

emedicinehealth.com/birth_control_spermicides/article_em.htm diunduh 9 Maret 2010, 12:21 PM.

health.alberta.ca/documents/Birth-control-Spermicide.pdf diunduh 10 Maret 2010, 7:32 PM.

hu-berlin.de/sexology/ATLAS_EN/html/methods_of_contraception.html diunduh 10 Maret 2010, 7:24 PM.

mayoclinic.com/health/spermicide/MY01005/DSECTION diunduh 8 Maret 2010, 05:30 PM.

plannedparenthood.org/health-topics/birth-control/spermicide-4225.htm diunduh 5 Maret 2010, 07:51 AM.

Saifuddin, BA. 2008. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka. (Bagian Kedua MK 24- MK 27).

http://askep-askeb.cz.cc/

Baca Selengkapnya - Spermisida

Yang Dirindukan Wanita tentang Jomblo

Yang Dirindukan Wanita tentang Jomblo
SEORANG wanita, ia tengah mencari pria yang tepat dan Anda datang dalam hidupnya untuk memenuhi keinginannya. Namun, kadang muncul kerinduan dengan kebiasaan yang biasa dilakoninya saat single.



Merindukan hal selama jomblo, bukan berarti ia tidak bahagia menjalin cinta dengan Anda. Tak perlu dipungkiri, Anda juga kerap merindukan momen ketika lajang kan?

Cari tahu apa dia rindukan dan bagaimana Anda sebagai kekasihnya yang sempurna, harus berurusan dengan hal itu. Jika Anda berdua bisa sedikit lebih akomodatif mengatasinya, pada akhirnya hal ini akan memperkuat hubungan. Berikut kerinduannya saat jomblo, seperti dikutip Askmen.

Flirting

Sebelum Anda datang, sah-sah saja baginya untuk “main mata” dengan banyak pria. Sekarang, dia harus menyadari status saat ingin melempar senyum ataupun memilin rambut untuk menarik perhatian seorang pria.

Tak perlu cemburu berlebihan dan beri ia sedikit ruang. Ambil tindakan tepat jika memang diperlukan. Kalau ia ramah dengan pria penjaga toko, biarkan saja, tapi jika ia terus menggoda pria lain di depan Anda, seraya tidak paham perasaan Anda, inilah saatnya bertindak.

Diet sehat

Banyak wanita merasakan, ketika memasuki suatu hubungan, mereka harus beradaptasi dengan aspek-aspek tertentu pasangannya, termasuk apa yang mereka makan. Masalahnya, pria umumnya tidak menyenangi pola hidup sehat, dan sebagai wanita penganut hidup sehat, dia mungkin merindukan saat di mana kulkasnya berisi sayuran segar.

Hal ini bisa Anda manfaatkan dengan kencan masak bersama. Carilah menu favorit yang mengakomodir keinginan masing-masing.

Waktu untuk diri sendiri

Kerinduan ini bukan berarti dia tidak suka menghabiskan waktu bersama Anda. Tapi sebelum Anda masuk ke hidupnya, dia punya lebih banyak waktu untuk sendiri. Memberinya sedikit waktu untuk diri sendiri tidaklah sulit. Melewatkan beberapa aktivitas sendiri-sendiri, membuat Anda berdua lebih menghargai waktu.

Waktu tidak terencana bersama teman-teman

Bersama Anda sebagai kekasihnya, ia senang telah melalui masa sedih, kecewa, kesal, dan bahagia bersama, tapi ia juga rindu waktu bersama teman-teman. Bersama mereka, ia bisa senang-senang kapanpun dan dimanapun.

Spontanitas kumpul-kumpul inilah yang mungkin hilang saat ia sudah bersama Anda. Kompromikan waktu yang pas untuk ia bisa menghabiskan waktu bersama teman-teman, dan rasakan manfaat saat Anda ingin hang out dengan teman-teman.

Menjawab hanya untuk dirinya sendiri

Sebagai wanita lajang, satu-satunya orang yang harus menjawab pertanyaan apapun adalah dirinya sendiri. Sekarang, dia harus mempertimbangkan pendapat dan perasaan Anda sebelum membuat keputusan besar. Baginya, pendapat Anda sama pentingnya dengan pendapatnya, terutama ketika datang hal-hal yang memengaruhi hubungan.

Dalam kasus pilihan hidup serius, seperti memutuskan apakah akan menerima tawaran pekerjaan baru di luar negeri, Anda harus terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Tapi, jika pilihan tersebut terlalu sederhana, biarkan dia mengambil kendali dan bertanggung jawab atas pilihannya.

Tentu saja, ada beberapa aspek single yang cukup menarik, tapi tidak ada yang lebih menyenangkan daripada terlibat hubungan. Penting bagi Anda berdua untuk mempertahankan kemerdekaan masing-masing, selain memikirkan kepentingan hubungan
Baca Selengkapnya - Yang Dirindukan Wanita tentang Jomblo

Arsip

0-Asuhan Kebidanan (Dokumen Word-doc) 0-KTI Full Keperawatan (Dokumen Word-doc) Anak Anatomi dan Fisiologi aneh lucu unik menarik Antenatal Care (ANC) Artikel Bahasa Inggris Asuhan Kebidanan Asuhan Keperawatan Komunitas Asuransi Kesehatan Berita Hiburan Berita Terkini Kesehatan Berita Tips Twitter Celeb contoh Daftar Pustaka Contoh KTI Contoh KTI Kebidanan Farmakologi (Farmasi) Gadar-kegawatdaruratan Gizi Handphone Hirschsprung Hukum Kesehatan Humor Segar (Selingan) Imunisasi Info Lowongan Kerja Kesehatan Intranatal Care (INC) Jiwa-Psikiatri kamus medis kesehatan online Kebidanan Fisiologis Kebidanan Patologis Keluarga Berencana (KB) Keperawatan Gerontology Kesehatan Anak (UMUM) Kesehatan Bayi (untuk UMUM) Kesehatan Haji Kesehatan Ibu Hamil (untuk UMUM) Kesehatan Ibu Menyusui (untuk UMUM) Kesehatan Pria (untuk UMUM) Kesehatan Remaja Kesehatan Reproduksi (Kespro) Kesehatan Wanita (untuk UMUM) Koleksi Skripsi Umum Konsep Dasar KTI D-3 Kebidanan KTI Skripsi Keperawatan kumpulan askep Laboratorium Lain-lain Makalah Keperawatan Kebidanan Managemen Kesehatan Mikrobiologi Motivasi Diri Napza dan zat Adiktif Neonatus dan Bayi News Penyakit Menular potensi KLB Penyakit Menular Seksual (PMS) Postnatal Care (PNC) Protap-SOP Psikologi-Psikiater (UMUM) Reformasi Kesehatan Sanitasi (Penyehatan Lingkungan) Satuan Acara Penyuluhan (SAP) Sistem Endokrin Sistem Immunologi Sistem Indera Sistem Integumen Sistem Kardiovaskuler Sistem Muskuloskeletal Sistem Neurologis Sistem Pencernaan Sistem Perkemihan Sistem Pernafasan Surveilans Penyakit Teknologi Tips dan Tricks Seks Tips Facebook Tips Karya Tulis Ilmiah (KTI) Tips Kecantikan Tips Kesehatan Umum Tokoh Kesehatan Tutorial Blogging Youtuber