Cari Blog Ini

Secsio Caesarea atas Gemelli (Kehamilan Ganda)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah Penulis ucapkan atas petunjuk dan nikmat yang diberikan Allah SWT, sehingga Penulis mampu menyelesaikan makalah ini dengan judul “Sectio Caesarea Atas Indikasi Kehamilan Ganda Di RSUP Dr. M. Djamil Padang”.
Makalah ini merupakan salah satu syarat untuk melengkapi tugas mata kuliah Mulok V.. Dalam penulisan makalah ini Penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pengajar serta sahabat yang selalu memberikan motivasi, teman-teman dan semua pihak yang telah membantu.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan pada makalah ini. Oleh karena itu Penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaannya. Semoga makalah ini bisa dilanjutkan pada penulisan proposal dan Karya Tulis Ilmiah nantinya.


Padang, Januari 2009



Penulis



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kehamilan ganda atau hamil kembar adalah kehamilan dengan dua janin atau lebih (Rustam Mochtar, 1998)
Kehamilan kembar mempengaruhi ibu dan janin, diantaranya adalah kebutuhan akan zat-zat ibu bertambah sehingga dapat menyebabkan anemia dan defisiensi zat-zat lainnya, terhadap janin yaitu usia kehamilan tambah singkat dengan bertambahnya jumlah janin pada kehamilan kembar : 25% pada gemeli, 50% pada triplet, 75% pada quadruplet, yang akan lahir 4 minggu sebelum cukup bulan. Jadi kemungkinan terjadinya beyi premature akan tinggi.
Persalinan dengan kehamilan kembar memiliki risiko lebih tinggi dari pada persalinan dengan janin satu. Semakin banyak jumlah janin yang dikandung ibu, semakin tinggi risiko yang akan ditanggung ibu.
Di RSUP Dr. M. Djamil, terdapat beberapa orang yang melakukan persalinan melalui section caesarea atas indikasi kehamilan kembar ini.
Dengan dilatarbelakangi masalah di atas, maka Penulis tertarik untuk mengangkat judul “Sectio Caesarea Atas Indikasi Kehamilan Ganda” sebagai judul makalah ini.

B. Tujuan
1. Mengetahui pengertian dari kehamilan ganda dan seksio sesarea
2. Mengetahui etiologi dari kehamilan ganda
3. Mengetahui tentang pertumbuhan janin kembar
4. Mengetahui perbedaan cirri, sifat antara kembar monozigotik dan dizigotik
5. Mengetahui cara mendiagnosis kehamilan ganda
6. Mengetahui pengaruh kehamilan ganda terhadap ibu dan janin
7. Mengetahui cara penanganan hamil ganda dalam kehamilan dan persalinan
8. Mengetahui istilah, indikasi, jenis, komplikasi dalam seksio sesarea
9. Mengetahui prosedur keterampilan klinik seksio sesarea


BAB II
TINJAUAN TEORI

KEHAMILAN GANDA
A. Pengertian
Kehamilan ganda atau hamil kembar adalah kehamilan dengan dua janin atau lebih (Rustam Mochtar, 1998)

B. Etiologi
1. factor-faktor yang mempengaruhi adalah; bangsa, umur, dan paritas, sering mempengaruhi kehamilan kembar 2 telur
2. factor obat-obat induksi ovulasi; Profertil, Clomid, dan hormone gonadotropin dapat menyebabkan kehamilan dizigotik dan kembar lebih dari dua
3. factor keturunan
4. factor yang lain belum diketahui
• Factor bangsa mempengaruhi kehamilan ganda : di AS lebih banyak dijumpai pada wanita kulit hitam dibandingkan kulit putih. Angka tertinggi kehamilan ganda dijumpai di Finlandia dan terendah di Jepang
• Factor umur : makin tua, makin tinggi angka kejadian kehamilan kembar dan menurun lagi setelah umur 40 tahun
• Paritas : pada primipara 9,8 per 1000 dan pada multipara (oktipara) naik jadi 18,9 per 1000 persalinan
• Keturunan : keluarga tertentu akan cenderung melahirkan anak kembar yang biasanya diturunkan secara paternal, namun dapat pula secara maternal.

C. Frekuensi
Menurut Hukum Hellin, frekuensi antara kehamilan ganda dan tunggal adalah:
• gemeli (2) : 1 : 80
• triplet (3) : 1 : 802
• quadruplet (4) : 1 : 803
• quintuplet (5) : 1 : 804
• sextuplet (6) : 1 : 805
D. Jenis Gemeli
1. gemeli dizigotik (kembar dua telur, heterolog, biovuler, dan fraternal), kedua telur berasal dari :
• 1 ovarium dan dari 2 folikel de Graff
• 1 ovarium dan dari 1 folikel de Graff
• 1 ovarium kanan dan 1 dari ovarium kiri
2. gemeli monozigotik (kembar 1 telur, homolog, uniovuler, identik), dapat terjadi karena :
• 1 telur dengan 2 inti, hambatan pada tingkat blastula
• Hambatan pada tingkat segmentasi
• Hambatan setelah amnion dibentuk, tetapi sebelum primitive streak

Perbedaan ciri, sifat, dan lain-lainnya antara kembar monozigotik dan dizigotik
Perbedaan Kembar monozigotik Kembar dizigot
Plasenta 1 (70%) 2 (+100%)
2 (30%)

Korion 1 (70%) 2 (+100%)
2 (30%)

Amnion 1 (70%) 2 (+100%)
2 (30%)

Tali pusat 2 2

Sirkulasi darah Janin bersekutu Terpisah

Sekat kedua kantong 2 lapis 4 lapis

Jenis kelamin Sama Sama atau tidak


Rupa dan sifat Sama Agak berlainan

Mata, telinga, gigi, kulit Sama Berbeda
Sama atau tidak
Agak berlainan
Ukuran antropologik Sama Berbeda

Sidik jari Sama Berbeda

Cara pegangan Bisa sama, bisa satu kidal, Sama, bisa keduanya kanan
yang lain kanan


3. Conjoined twins, superfekundasi, dan superfetasi
Conjoined twins/kembar siam adalah kembar dimana janin melekat satu dengan yang lainnya.
Misalnya : torakofagus (dada dengan dada), abdominofagus (perlekatan kedua abdomen), kraniofagus (kedua kepala), dsb.
Superfekundasi adalah pembuahan dua telur yang dikeluarkan pada ovulasi yang sama pada dua kali coitus yang dilakukan pada jarak waktu yang pendek.
Superfetasi adalah kehamilan kedua yang terjadi beberapa minggu atau bulan setelah kehamilan pertama.

E. Pertumbuhan Janin Kembar
1. berat badan satu janin kehamilan kembar rata-rata 1000 gram lebih ringan dari janin tunggal.
2. berat badan baru lahir biasanya pada kembar dua di bawah 2500 gram, triplet di bawah 2000 gram, zuadriplet di bawah 1500 gram, dan quintuplet di bawah 1000 gram.
3. berat badan masing-masing janin dari kehamilan kembar tidak sama, umumnya berselisih antara 50 sampai 1000 gram, dan karena pembagian sirkulasi darah tidak sama, maka yang satu lebih kurang tumbuh dari yang lainnya.
4. pada kehamilan ganda monozigotik:
• pembuluh darah janin yang satu beranastomosis dengan janin yang lain, karena itu setelah bayi satu lahir tali pusat harus diikat untuk menghindari perdarahan
• karena itu janin yang satu dapat terganggu pertumbuhannya dan menjadi monstrum, seperti akardiakus dan kelainan lainnya
• dapat terjadi sindroma transfuse fetal; pada janin yang mendapat darah lebih banyak terjadi hidramnion, polisitemia, oedema, dan pertumbuhan yang baik. Sedangkan janin kedua terlihat kecil, anemis, dehidrasi, oligohidrami, dan mikrokardia, karena kurang mendapat darah.
5. pada kehamilan kembar dizigotik :
• dapat terjadi janin yang satu meninggal dan janin yang lain tumbuh sampai cukup bulan
• janin yang mati bisa diresorbsi (kalau pada kehamilan muda), atau pada kehamilan yang agak tua, janin jadi pipih yang disebut fetus papyraseus atau kompresus.

F. Letak Pada Presentasi Janin
Pada kehamilan kembar sering terjadi kesalahan presentasi dan posisi kedua janin. Begitu pula letak janin kedua, dapat berubah setelah janin pertama lahir, misalnya dari letak lintang dapat berubah menjadi letak sungsang atau letak kepala. Berbagai kombinasi letak, presentasi dan posisi bisa terjadi, yang paling sering dijumpai adalah:
• kedua janin dalam letak membujur, presentasi kepala (44-47%)
• letak membujur, presentasi kepala bokong (37-38%)
• keduanya presentasi bokong (8-10%)
• letak lintang dan presentasi kepala (5-5,3%)
• letak lintang dan presentasi bokong (1,5-2%)
• dua-duanya letak lintang (0,2-0,6%)
• letak dan presentasi “69” adalah letak yang berbahaya, karena dapat terjadi kunci-mengunci (interlocking)

G. Diagnosis Kehamilan Kembar
1. anamnesis
• perut lebih buncit dari semestinya sesuai dengan umur tuanya kehamilan
• gerakan janin lebih banyak dirasakan ibu hamil
• uterus terasa lebih cepat membesar
• pernah hamil kembar atau ada riwayat keturunan kembar
• apakah telah mendapat pengobatan infertilitas
2. inspeksi dan palpasi
• pada pemeriksaan pertama dan ulangan ada kesan uterus lebih besar dan lebih cepat tumbuhnya dari biasa
• gerakan-gerakan janin terasa lebih sering
• bagian-bagian kecil terasa lebih banyak
• teraba ada 3 bagian besar janin
• teraba ada 2 balotement
3. auskultasi
Terdengar 2 denyut jantung janin pada 2 tempat yang agak berjauhan dengan perbedaan kecepatan sedikitnya 10 denyut per menit atau bila dihitung bersamaan terdapat selisih 10
4. rotgen foto abdomen
Tampak gambaran 2 janin
5. ultrasonografi
Bila tampak 2 janin atau 2 jantung yang berdenyut yang telah dapat ditentukan pada triwulan I/pada kehamilan 10 minggu.
6. elektrokardiogram total
Terdapat gambaran 2 EKG yang berbeda dari kedua janin
7. reaksi kehamilan
Karena pada hamil kembar umumnya plasenta besar atau ada 2 plasenta, maka produksi HCG akan tinggi, jadi titrasi reaksi kehamilan bisa positif, kadang-kadang sampai 1/200. Hal ini dapat dikacaukan dengan mola hidatidosa.
Kadangkala diagnosa baru diketahui setelah bayi pertama lahir, uterus masih besar, ternyata masih ada janin satu lagi dalam rahim. Kehamilan kembar sering terjadi bersamaan dengan hidramnion dan toksemia gravidarum.

Diagnosis pasti:
• secara klinis
- terdapat 2 kepala, 2 bokong, dan 1 atau 2 punggung
- terdengar 2 DJJ di tempat yang berjauhan dengan perbedaan 10 denyut per menit atau lebih
• USG atau foto roentgen : bayangan janin lebih dari 1
Diagnosis differensial:
• Kehamilan tunggal dengan janin besar
• Hidramnion
• Mola hidatidosa
• Kehamilan dengan tumor (mioma/kista ovarium)

H. Pengaruh Terhadap Ibu Dan Janin
1. Terhadap ibu
• kebutuhan akan zat-zat bertambah sehingga dapat menyebabkan anemia dan defisiensi zat-zat lainnya
• kemungkinan terjadinya hidramnion bertambah 10 kali lebih besar
• frekuensi pre-eklamsi eklamsi lebih sering
• karena uterus yang besar ibu mengeluh sesak napas, sering miksi, serta terjadi edema dan varises pada tungkai dan vulva
• dapat terjadi inersia uteri, perdarahan post partum, dan solusio plasenta setelah anak pertama lahir
2. Terhadap janin
• usia kehamilan tambah singkat dengan bertambahnya jumlah janin pada kehamilan kembar : 25% pada gemeli, 50% pada triplet, 75% pada quadruplet, yang akan lahir 4 minggu sebelum cukup bulan. Jadi kemungkinan terjadinya beyi premature akan tinggi.
• Bila sesudah bayi pertama lahir terjadi solusio plasenta, maka angka kematian bayi kedua tinggi
• Sering terjadi kesalahan letak janin, yang juga akan mempertinggi angka kematian janin

I. Penanganan Dalam Kehamilan
1. perawatan prenatal yang baik untuk mengenal kehamilan kembar dan mencegah komplikasi yang timbul, dan bila diagnosis telah ditegakkan pemeriksaan ulangan harus lebih sering (1 x seminggu pada kehamilan > 32 minggu)
2. setelah kehamilan 30 minggu, koitus dan perjalanan jauh sebaiknya dihindari, karena akan merangsang partus prematurus
3. pemakaian korset gurita yang tidak terlalu ketat diperbolehkan, supaya terasa lebih ringan
4. periksa darah lengkap, Hb, dan golongan darah
5. pematangan paru janin bila ada tanda-tanda partus prematurus yang mengancam dengan pemberian betamethason 24 mg/hari

6. rawat inap bila:
• ada kelainan obstetric
• ada his/pembukaan serviks
• adanya hipertensi
• pertumbuhan salah satu janin terganggu
• kondisi social yang tidak baik
• profilaksis/mencegah partus prematurus dengan obat tokolitik

J. Penanganan Dalam Persalinan
1. bila anak pertama letaknya membujur, kala I diawasi seperti biasa, ditolong seperti biasa dengan episiotomi mediolateralis
2. setelah itu baru waspada, lakukan periksa luar, periksa dalam untuk menentukan keadaan anak kedua. Tunggu sambil memeriksa tekanan darah dan lain-lain
3. biasanya dalam 5-10 menit lagi his akan kuat lagi. Bila anak kedua terletak membujur, ketuban dipecahkan pelan-pelan supaya air ketuban tidak mengalir deras keluar. Tunggu dan pimpin persalinan anak kedua seperti biasa
4. waspadalah atas kemungkinan terjadinya perdarahan post partum, maka sebaiknya pasang infuse profilaksis
5. bila ada kelainan letak pada anak kedua, misalnya melintang atau prolaps tali pusat dan solusio pasenta, maka janin dilahirkan dengan cara operatif obstetric :
• pada letak lintang coba versi luar dulu, atau lahirkan dengan cara versi dan ekstraksi
• pada letak kepala, persalinan dipercepat dengan ekstraksi vakum atau forseps
• pada letak bokong/kaki, ekstraksi bokong/kaki
6. indikasi seksio saesaria hanya pada :
• janin pertama letak lintang
• bila terjadi prolaps tali pusat
• plasenta previa
• terjadi interlocking pada letak janin 69, anak pertama letak sungsang dan anak kedua letak kepala
7. kala IV diawasi terhadap kemungkinan terjadinya perdarahan postpartum : berikan suntikan sinto-metrin yaitu 10 satuan sintosinon tambah 0,2 mg methergin IV
Prinsip penanganan kehamilan ganda :
Bayi I
• cek presentasi:
- bila verteks lakukan pertolongan sama dengan presentasi normal dan lakukan monitoring dengan partograf
- bila presentasi bokong berikan pertolongan sama dengan bayi tunggal presentasi bokong
- bila letak lintang lakukan seksio saesaria
• monitor janin dengan auskultasi berkala DJJ
• pada kala II beri oksitosin 2,5 IU dalam 500 ml Dekstrose 5% atau RL/10 tetes/menit)
• jangan melepaskan klem tali pusat dan jangan melahirkan plasenta sampai bayi yang terakhir lahir

Bayi II dan seterusnya
• segera setelah kelahiran bayi I
- lakukan palpasi abdomen untuk menentukan adanya bayi selanjutnya
- bila letak lintang lakukan versi luar
- periksa DJJ
• lakukan pemeriksaan vaginal untuk : adanya prolaps funikuli, ketuban pecah dan intak, presentasi bayi
• bila presentasi verteks
- bila kepala belum masuk, masukkan pada PAP secara manual
- ketuban dipecah
- periksa DJJ
- bila tak timbul kontraksi dalam 10 menit, tetesan oksitosin dipercepat sampai his adekuat
- bila dalam 30 menit bayi belum lahir lakukan tindakan menurut persyaratan yang ada (vakum, forseps, seksio)
• bila presentasi bokong
- lakukan persalinan pervaginam bila pembukaan lengkap dan bayi tersebut tidak lebih besar dari bayi I
- bila tidak ada kontraksi sampai 10 menit, tetesan oksitosin dipercepat sampai his adekuat
- pecahkan ketuban
- periksa DJJ
- bila gawat janin lakukan ekstraksi
- bila tidak mungkin melakukan persalinan pervaginam lakukan SC
• bila letak lintang
- bila ketuban intak, lakukan versi luar
- bila versi luar gagal dan pembukaan lengkap lakukan versi ekstraksi
- bila gagal lakukan SC
• pasca persalinan berikan oksitosin drip 20 IU dalam 1 liter cairan 60 tetes/menit atau berikan ergometrin 0,2 mg IM 1 menit sesudah kelahiran anak yang terakhir dan lakukan manajemen aktif kala III.
• Jangan memberikan ergometrin pada pre eklamsi, eklamsi, dan hipertensi karena dapat menyebabkan resiko kejang dan CVA

K. Prognosis
Prognosis untuk ibu lebih jelek bila dibandingkan pada kehamilan tunggal, karena seringnya terjadi toksemia gravidarum, hidramnion, anemia, pertolongan obstetric operatif, dan perdarahan postpartum.
Angka kematian perinatal tinggi terutama karena premature, prolaps tali pusat, solusio plasenta, dan tindakan obstetric karena kelainan letak janin.


SEKSIO SESAREA
A. Definisi
Istilah secsio caesarea berasal dari perkataan latin caedere yang artinya memotong. Pengertian ini semula dijumpai dalam Roman Law (Lex Regia) dan Emperor’s law (Lex Caesarea) yaitu undang-undang yang menghendaki supaya janin dalam kandungan ibu-ibu yang meninggal harus di keluarkan dari dalam rahim.
Seksio sesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina : atau seksio sesarea adalah suatu histerotomia untuk melahirkan janin dalam rahim (Rustam Mochtar, 1998).
Seksio sesarea adalah suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram (Sarwono Prawirohardjo).

B. Istilah
1. Seksio sesarea primer ( efektif )
Dari semula telah direncankan bahwa janin akan dilahirkan secara seksio sesarea, tidak diharapkan lagi kelahiran biasa, misalnya pada panggul sempit (CV kecil dari 8 cm)
2. Seksio sesarea sekunder
Mencoba menunggu kelahiran biasa (partus percobaan), bila tidak ada kemajuan persalinan atau partus percobaan gagal, baru dilakukan seksio sesarea.
3. Seksio sesarea ulang ( repeat caecarean section )
Ibu pada kehamilan lalu mengalami seksio sesarea (previous caesarean section) dan pada kehamilan selanjutnya dilakukan seksio sesarea ulang.
4. Seksio sesarea histerektomi ( caecarean section hysterectomy )
Suatu operasi dimana setelah dilahirkan dengan seksio sesarea, langsung dilakukan histerektomi oleh karena sesuatu indikasi.



5. Operasi Porro (Porro operation)
Suatu operasi tanpa mengeluarkan janin dari kavum uteri (tentunya janin sudah mati) dan langsung dilakukan histerektomi, misalnnya pada keadaan infeksi rahim yang berat.
6. Seksio sesarea postmortem ( postmortem caesarean section )
adalah seksio sesarea segera pada ibu hamil cukup bulan yang meninggal tiba-tiba sedangkan janin masih hidup.

C. Indikasi
1. Ibu
• Plasenta previa sentralis dan lateralis (posterior)
• Panggul sempit
• Disproporsi kepala panggul (CPD/ FPD)
• Rupture uteri mangancam
• Partus lama (prolonged labor)
• Partus tak maju (obstructed labor)
• Distosia serviks
• Pre-eklamsi dan hipertensi
• Tumor-tumor jalan lahir yang menimbulkan obstruksi
• Distosia jaringan lunak
• Disfungsi uterus
2. Janin
• Malpresentasi janin
a) Letak lintang
Greenhill dan Eastman sama-sama sependapat :
 Bila ada kesempitan panggul, maka seksio sesarea adalah cara yang terbaik dalam segala letak lintang dengan janin hidup dan besar biasa.
 Semua primigravida dengan letak lintang harus ditolong dengan seksio sesarea, walau tidak ada perkiraan panggul sempit.
 Multipara dengan letak lintang dapat lebih dulu ditolong dengan cara-cara lain.
b) Letak bokong
Seksio sesarea dianjurkan pada letak bokong bila ada :
 Panggul sempit
 Primigravida
 Janin besar dan berharga
c) Presentasi dahi dan muka (letak defleksi) bila reposisi dan cara-cara lain tidak berhasil.
d) Presentasi rangkap, bila reposisi tidak berhasil
e) Gemeli, menurut Eastman seksio sesarea dianjurkan :
 Bila janin pertama letak lintang atau presentasi bahu (shoulder presentation)
 Bila terjadi interlock (locking of the twins)
 Distosia oleh karena tumor
 Gawat janin, dsb.
• Gawat janin
• Janin besar

Pada umumnya seksio sesarea tidak dilakukan pada :
• Janin mati
• Syok, anemia berat sebelum diatasi
• Kelainan congenital berat (monster)

D. Jenis-Jenis Operasi Seksio Sesarea
1. Abdomen (Seksio Sesarea Abdominalis)
• Seksio sesarea transperitonealis :
 Seksio sesarea klasik atau corporal dengan insisi memanjang pada korpus uteri
 Seksio sesarea ismika atau profunda atau low cervical dengan insisi pada segmen bawah rahim.
• Seksio sesarea ekstraperitonealis, yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis, dengan demikian tidak membuka kavum abdominal.

2. Vagina (Seksio Sesarea vaginalis)
Menurut arah sayatan pada rahim, seksio sesarea dapat dilakukan sebagai berikut :
1. Sayatan memanjang (longitudinal) menurut Kronig
2. Sayatan melintang (Transversal) menurut kerr
3. Sayatan huruf T (T- incision)
3. Seksio sesarea Klasik (Korporal)
Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira sepanjang 10 cm.
Kelebihan :
 Mengeluarkan janin lebih cepat
 Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik
 Sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal
Kekurangan
 Infeksi mudah menyebar secara intraabdominal karena tidak ada reperitonealisasi yang baik
 Untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan
4. Seksio sesarea Ismika (Profunda)
Dilakukan dengan membuat sayatan melintang-konkaf pada segmen bawah rahim (low cervical transversal) kira-kira 10 cm.
Kelebihan
 Penjahitan luka lebih mudah
 Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik
 Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk Manahan penyebaran isi uterus ke rongga peritoneum
 Perdarahan kurang
 Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan rupture uteri spontan kurang/lebih kecil.
Kekurangan
 Luka dapat melebar ke kiri, kanan dan bawah, sehingga dapat menyebabkan a. uterine putus sehingga mengakibatkan perdarahan yang banyak
 Keluhan paa kandung kemih postoperative tinggi.

E. Komplikasi
1. Infeksi puerpuralis
• Ringan, dengan kenaikan suhu beberapa hari saja
• Sedang, dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi, disertai dehidrasi dan perut sedikit kembung.
• Berat, dengan peritonitis,sepsis dan ileus paralitik. Hal ini sering kita jumpai pada partus terlantar, dimana sebelumnya telah terjadi infeksi intrapartal karena ketuban yang telah pecah terlalu lama.
Penanganannya adalah dengan pemberian cairan, elektrolit dan antibiotic yang adekuat dan tepat.
2. Perdarahan
Disebabkan karena :
• Banyak pembuluh daah terputus dan terbuka
• Atonia uteri
• Perdarahan pada placental bed
3. Luka kandung kemih, emboliu paru dan keluhan kemih bila reperitonialisasi terlalu tinggi.
4. Kemungkinan rupture uteri spontan pada kehamilan mandating

F. Prognosis
Dulu angka morbiditas dan moortalitas untuk ibu dan janin tinggi. Pada madda sekarang, oleh karena kemajuan yang pesat daam teknik operasi, anastesi, penyediaan cairan dan darah, indikasi dan antibiotic angka ini sangat menurun.
Angka kematian ibu pada rumah-rumah sakit dengan fasilitas operasi yang baik dan oleh tenaga-tenaga yang cekatan adalah kurang dari 2 per 1000.
Nasib janin yang dittolong secara seksio sesarea sangat tergantung dari keadaan janin sebelum dilakukan operasi.

G. Nasehat Pasca Operasi
• Dianjurkan jangan hamil selama kurang 1 tahun, dengan memakai kontrasepsi
• Kehamilan berikutnya hendaknya diawasi dengan antenatal yang baik
• Dianjurkan untuk bersalin di RS yang besar
• Apakah untuk persalinan berikutnya harus dengan seksio sesarea bergantung dari indikasi seksio sesarea dan keadaan pada kehamilan berikutnya
• Hampir di seluruh institute di Indonesia tidak di anut dictum “once a cesarean always a cesarean“
• Yang dianut adalah “once a cesarean not always a cesarean “kecuali pada panggul sempit atau disproporsi sefalo-pelvik.


BAB III
TINJAUAN KASUS

PROSEDUR KETERAMPILAN KLINIK SEKSIO SESAREA
Informed Consent
Persetujuan medik
Persetujuan medik (informed concent) harus ditandatangani oleh pasien/keluarganya sebelum memulai tindakan operasi.

Persiapan Pasien
1. Persiapan mental penderita
Memberikan penjelasan pada pasien tentang prosedur operasi yang akan di laluinya. Penderita dan keluarga dapat menolak atau menyetujui tindakan operasi dan menyatakannya dalam surat persetujuan (informed concent)

2. Persiapan fisik penderita
Pemeriksaan fisik dimulai dengan melakukan pemeriksaan dasar
Kesan umum : apakah penderita tampak sakit, anemia, dehidrasi dan terjadi perdarahan
Pemeriksaan fisik umum : tekanan darah, nadi, suhu dan pernafasan
Pemeriksaan fisik khusus : Laboratorium, ultrasonografi, foto roentgen (abdomen, toraks)
Tujuan dari pemeriksaan dasar adalah untuk mengetahui data penderita, sehingga dapat di tetapkan, apakah langsung melakukan tindakan atau keadaan umum penderita diperbaiki :
Dehidrasi : infuse cairan pengganti
Anemia : Transfusi darah
Infeksi : pemberian antibiotic dan antipiretik

Persiapan Pasien
o Di ruang perawatan (pre operasi) pasien telah puasa + 6 jam, pasien darurat yang tidak dapat puasa, harus di pasang pipa lambung (ukuran # 18-20) dan dihisap sampai benar-benar kosong. Setelah kosong, berikan antisida (magnesium trisilikat 20 ml) lalu pipa lambung dicabut. Kalau memungkinkan ada jeda waktu 30 menit antara antisida diberikan dan anatesi dimulai.
o Premedikasi yang harus diberikan adalah atropine, bagi orang dewasa, untuk bedah elektif diberikan 0,5 mg IM 45 menit sebelum anastesi. Untuk bedah darurat, di berikan 0,25 mg IM dan 0,25 mg IV 5 menit sebelum anastesi dimulai.
o Periksa ulang apakah sudah lengkap pemeriksaan yang diperlukan seperti darah rutin, fungsi hati, fungsi ginjal, gula darah (secsio elektif) untuk seksio emergency cukup pemeriksaan Hb, Ht dan golongan darah.
o Baju pasien diganti dengan baju khusus untuk dipakai ke ruang tunggu kamar operasi.
o Pasang infuse, ringer laktat atau NaCl 0,9 %
o Sebelum masuk kamar operasi diganti dengan baju/tutup badan untuk di kamar operasi
o Baringkan pasien pada posisi tidur (pasang tensimeter/stetoskop pre cordial)
o Dipasang folley kateter

3. Persiapan menjelang tindakan operasi
a. Pemasangan infus
Tujuan pemasangan infuse untuk rehidrasi cairan yang hilang dan memudahkan pemberian premedikasi narkosa, transfuse darah dan memasukkan obat yang diperlukan.

b. Persiapan narkosa
Pemilihan narkosa dapat diserahkan pada ahli narkosa untuk keamanan tindakan operasi dengan premedikasi, narkosa dan obat-obatan narkosa diserahkan kepada dokter ahli narkosa.
Persiapan Tempat
Persiapan tempat operasi
Kebersihan dan suci hama di daerah tempat operasi bertujuan untuk menghindari infeksi.
Persiapan Alat Operasi
Persiapan alat operasi kebidanan tergantung dari jenis tindakan dengan memperhitungkan :
- Berdasarkan indikasi
- Berdasarkan keadaan/kondisi penderita
- Tindakan yang paling ringan dan aman
- Pengalaman pelaksana operasi

Persiapan alat untuk operasi :
 Bowl, berisi :
- baju steril : 4 buah
- duk besar : 3 buah
- duk kecil : 3 buah
 1 set/instrument seksio sesarea, berisi :
- Disinfection forceps : 2
- Needle holder : 2
- Scaple handle : 1
- Plain dissector : 1
- Tooth dissector : 2
- Schiscors : 2
- Small straight kocher artery : 5
- Small straight artery forsep : 5
- Small curved artery forsep : 5
- Retractor : 4
- Towel clips : 5
- Spatula : 1
- Kotak jarum : 1
- Peritoneum klem : 1
- Penster : 3
- Medium curved : 2
 Kom betadine : 1
 Korentang : 1
 Handscoon : 5 pasang
 Slang suction : 1
 Rabersit : 2
 Dramkass : 2
 Handle lamp : 1
 Pisau : 1
 Kasa

Persiapan untuk bayi
 Alat resusitasi pernafasan : alat penghisap lendir, laringoskop
 Pemberian O2
 Obat perangsang pernafasan, jantung, dll
 Alat penghangat bayi
 Tempat tidur bayi khusus
 Tempat plasenta

Pempersiapkan Tim
 Dr. anastesi
 Operator
 Asisten
 Instrumentator
 Runner

Persiapan penolong
o Memakai baju khusus kamar operasi lengkap dengan topi, masker dan sandal
o Mempersiapkan alat-alat/instrument operasi
o Menyiapkan obat-obatan yang diperlukan durante operasionum
o Periksa ulang persediaan darah

Tindakan pembiusan
Tindakan pembiusan dilakukan oleh dokter anestesi
Tindakan operasi
 Penolong cuci tangan secara fuhrbringe
 Penolong memakai baju steril dan handscoon steril
 Pasien pada posisi terlentang keadaan sudah di narkose, dilakukan tindakan aseptic dan antiseptic, oleskan betadin di sekitar area operasi dengan menggunakan desinfektan forceps dan kassa
 Rabersit diletakkan di sekitar mons veneris
 Dipakai duk 4-5 buah di sekitar perut ibu,
 Lakukan insisi mediana dengan pisau secara benar dari kulit sampai fasia
 Darah yang keluar dari bekas sayatan didep dengan menggunakan dramkass yang telah dibasahi dengan menggunakan larutan NaCl steril
 Setelah fasia disayat 2-3 cm, insisi diperluas dengan gunting
 Pisahkan muskulus rektus abdominalis dengan jari atau gunting
 Buka peritoneum dekat umbilicus dengan jari
 Retractor dipasang diatas tulang pubis, selipkan kasa lebar basah melingkupi sisi uterus gravidus untuk menampilkan dinding depan uterus dan menyisihkan usus, ovarium, tuba dan organ intraabdominal lainnya (ujung kasa dikeluarkan dan di jepit dengan kocher ke kain penutup)
 Pakai pinset untuk memegang plika vesiko uterine dan buatlah insisi dengan gunting ke lateral
 Pisahkan vesika urinaria dan dorongan ke bawah secara tumpul dengan jari-jari
 Segmen bawah uterus disayat melintang + 1 cm dibawah plika vesiko uterine dengan skapel + 3 cm
 Insisi doperlebar ke lateral secara tumpul dengan jari tangan
 Selaput ketuban dipecahkan
 Air ketuban yang keluar segera dihisap dengan menggunakan slang suction
 Untuk melahirkan bayi, masukkan 1 tangan ke dalam cavum uteri antara uterus dan kepala bayi
 Kemudian kepala bayi diluksir keluar secara hati-hati abdomen ibu di atas uterus untuk membantu kelahiran kepala
 Jika kepala bayi telah masuk panggul, mintalah seorang asisten untuk mendorong ke atas secara hati-hati
 Sedot mulut dan hidung bayi, kemudian lahirkan badan dan seluruh tubuh
 Berikan oksitosin 10 unit dalam 500 ml cairan IV (garam fisiologik atau ringer laktat) 60 tetes selama 1-2 jam
 Jepit dan potong tali pusat, selanjutnya bayi diserahkan kepada asisten
 Lahirkan bayi kedua sama seperti cara melahirkan bayi pertama tadi. Sedot mulut dan hidung bayi, kemudian lahirkan badan dan seluruh tubuh bayi, potong tali pusat dan berikan kepada asisten
 Bayi ketiga dilahirkan seperti bayi pertama dan kedua, bersihkan mulut dan hidung bayi, lahirkan badan dan seluruh tubuh bayi, potong tali pusat dan berikan pada asisten
 Beri antibiotik profilaksis tunggal intraoperatif, setelah talipusat di potong :
Ampisilin 2 mg IV atau
Sefazdin 19 mg IV
 Plasenta dan selaput dilahirkan dengan tarikan hati-hati pada tali pusat, eksplorasi ke dalam kavum uteri untuk memastikan tidak ada bagian plasenta yang tertinggal
 Menutup insisi uterus
- Jepit tepi luka insisi pada segmen bawah uterus dengan klem fenster, terutama pada kedua ujung luka, perhatikan adanya robekan atau cedera pada vesika urunaris
- Dilakukan jahitan pada kedua ujung robekan uterus dengan menggunakan benang kromik catgut No 0/1/0 dilanjutkan dengan penjahitan segmen secara jelujur terkunci
- Lapisan endometrium bersama miometrium dijahit secara jelujur dengan benang catgut khromik 2
- Lapisan perimetrium saja dijahit secara simpul dengan benang catgut kromik 2/0
- Pastikan tidak adanya perdarahan melalui evaluasi ulang jahitan
- Keluarkan kasa basah, bersihkan rongga abdomen dan lakukan periksa ulang untuk meyakinkan tidak adanya perdarahan dari tempat jahitan atau di tempat lain.

 Menutup perut
- Lapisan peritoneum dijahit dengan menggunakan benang 2/0
- Lapisan otot dijahit dengan menggunakan benang kromik 2/0
- Fasia abdominalis pada ujung proksimal dan distal sayatan dijepit dengan kocher dan dijahit hingga subkutis dengan polyglycolic acid (dexon No 1)
- Subkutikuler dijahit dengan plain 1/0
- Lapisan kulit dijahit dengan menggunakan fiklil
- Luka operasi ditutup dengan kasa dan providon iodine
 Kain penutup abdomen dilepas hati-hati tanpa menyentuh kasa penutup luka operasi
 Vagina dibersihkan dari sisa darah dan bekuan dengan menggunakan kasa yang dijepit pada fenster
 Daerah vulva sampai paha dibersihkan dari sisa darah atau cairan tubuh
 Dekontaminasi
 Cuci tangan pasca tindakan


BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kehamilan ganda atau hamil kembar adalah kehamilan dengan dua janin atau lebih (Rustam Mochtar, 1998). Factor-faktor yang mempengaruhi adalah; bangsa, umur, dan paritas, sering mempengaruhi kehamilan kembar 2 telur, factor obat-obat induksi ovulasi; Profertil, Clomid, dan hormone gonadotropin dapat menyebabkan kehamilan dizigotik dan kembar lebih dari dua, factor keturunan.
Berat badan satu janin kehamilan kembar rata-rata 1000 gram lebih ringan dari janin tunggal. Terdapat beberapa perbedaan ciri, sifat, antara kembar monozigotik dan dizigotik.
Kehamilan kembar mempengaruhi ibu dan janin, diantaranya adalah kebutuhan akan zat-zat ibu bertambah sehingga dapat menyebabkan anemia dan defisiensi zat-zat lainnya, terhadap janin yaitu usia kehamilan tambah singkat dengan bertambahnya jumlah janin pada kehamilan kembar : 25% pada gemeli, 50% pada triplet, 75% pada quadruplet, yang akan lahir 4 minggu sebelum cukup bulan. Jadi kemungkinan terjadinya beyi premature akan tinggi.
Prosedur keterampilan klinik seksio sesarea adalah melalui beberapa langkah yaitu adanya persetujuan medik, persiapan mental penderita, persiapan fisik penderita, persiapan menjelang tindakan operasi, dan pelaksanaan tindakan operasi

B. Saran
Bidan sebagai petugas kesehatan sebaiknya dapat memberikan pelayanan antenatal yang berkualitas agar dapat menegakkan diagnosa secara dini tentang adanya kehamilan kembar/ganda. Dengan demikian, penanganan terhadap kehamilan ganda ini dapat dilakukan sesuai dengan prosedur yang ada.
Dan dalam pelaksanaan seksio sesarea, para dokter hendaknya memperhatikan sterilitet dan standardisasi prosedur dengan sangat teliti untuk menghindari terjadinya komplikasi setelah pelaksanaan seksio sesarea ini.


DAFTAR PUSTAKA

Dewi, Yusmiati. 2007. Operasi Caesar. Jakarta : EDSA Mahkota
Martius, Gerhard. 1997. Bedah Kebidanan Martius. Jakarta : EGC
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid I. Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi. Jakarta: EGC
_______________ 1998. Sinopsis Obstetri Jilid II. Obstetri Operatif, Obstetri Sosial. Jakarta: EGC
Prawirohardjo, Sarwono. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
____________________ 2005. Ilmu Kebidanan . Jakarta : FKUI
____________________ 2005. Ilmu Bsedah Kebidanan. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
http://www.askep-askeb-kita.blogspot.com/
Baca Selengkapnya - Secsio Caesarea atas Gemelli (Kehamilan Ganda)

Hidrosefalus (Hidrocephalus)

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat ALLAH SWT yang telah memberikan rahmat dan karuniaNya pada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ Hidrosefalus “
Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak dan teman-teman yang telah ikut berpartisipasi dalam pembuatan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bangun demi kesempurnaan tugas ini di kemudian hari.
Penulis berharap semoga makalah ini dapat dijadikan sebagai salah satu sumber bacaan yang bermanfaat dan dapat digunakan dengan sebaik-baiknya.
Padang, Februari 2009
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Hidrosefalus  adalah keadaan dimana  terjadi  akumulasi CSS yang berlebihan pada satu atau lebih ventrikel  dan ruang subarakhnoid. Hidrosefalus  adalah kesatuan klinik yang  dibedakan  oleh tiga  faktor: (1) peninggian tekanan  intraventrikuler, (2) penambahan volume CSS, dan (3) dilatasi rongga CS. 
Secara klinis peninggian tekanan intraventrikuler, volume  CSS, dan ukuran ventrikel menimbulkan  kelainan berikut: pembesaran kepala, penonjolan fontanel,  separasi  sutura, tanda MacEwen positif,  fenomena  setting sun,  scalp yang mengkilap, dilatasi vena scalp, strabismus konvergen atau divergen, tangis yang high pitched, postur opistotonik, dan kegagalan untuk berkembang. 
Pada kebanyakan hidrosefalus dini atau  ringan,  hanya  perubahan ringan pada  sutura,  fontanel, scalp, dan gerak bola mata yang dijumpai. Pada hidrosefalus yang berkembang lambat, gejala mungkin tidak tampil  hingga pasien mulai berjalan, dimana  keadaan  ini dibuktikan dengan langkah berdasar, lebar para paresis, hemianopia bitemporal, dan retardasi mental.
Insiden hidrosefalus antara 0,2- 4 setiap 1000 kelahiran. Insiden hidrosefalus konginetal adalah 0,5- 1,8 pada tiap 1000 kelahiran dan 11 % - 43 % disebabkan oleh stenosis aquaductus serebri.
Oleh karena itu , penulis tertarik untuk mengangkat judul yang berkaitan dengan hidrosefalus ini.
 
 
 
2. TUJUAN
2.1 Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui berbagai hal yang berhubungan dengan hidrosefalus dan dapat merancang berbagai cara untuk mengantisipasi masalah serta dapat melakukan asuhan pada kasus hidrosefalus.
2.2 Tujuan Khusus
a. Melakukan pengkajian anamnesa pada bayi dengan hidrosefalus
b. Menentukan diagnosa, masalah serta kebutuhan dari data yang telah dikumpulkan terhadap bayi dengan hidrosefalus
c. Menentukan antisipasi terhadap diagnosa dan masalah potensial yang ditemukan pada bayi dengan hidrosefalus
d. Melakukan tindakan segera berdasarkan data yang telah dikumpulkan terhadap bayi dengan hidrosefalus
e. Merencanakan tindakan yang akan dilakukan kepada bayi berdasarkan interpretasi data yang yang ditentukan
f. Melaksanakan tindakan yang telah direncanakan secara sistematis kepada bai dengan hidrosefalus
g. Melakukan evaluasi terhadap tindakan yang telah dilakukan kepada bayi dengan hidrosefalus
BAB II
TINJAUAN TEORI
HIDROSEFALUS
1. DEFENISI
Hidrosefalus adalah keadaan dimana terjadi akumulasi CCS yang berlebihan pada satu / lebih ventrikel dan ruang subarakhnoid.
Hidrosefalus adalah kelainan patologis otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan serebrospinal dengan tekanan intrakranial yang meninggi, sehingga terdapat pelebaran ventrikel.
Hidrosefalus merupakan sindroma klinis yang progresif pada system ventrikuler cerebral dan kompresi gabungan dari jaringan-jaringan serebral selama produksi CSF berlangsung yang meningkatkan kecepatan absorbsi oleh vili arackhnoid.
2. EPIDEMIOLOGI
Insiden hidrosefalus antara 0,2- 4 setiap 1000 kelahiran. Insiden hidrosefalus konginetal adalah 0,5- 1,8 pada tiap 1000 kelahiran dan 11 % - 43 % disebabkan oleh stenosis aquaductus serebri. Tidak ada perbedaan bermakna insiden untuk kedua jenis kelamin, juga dalam hal perbedaan ras. Hidrosefalus dapat terjadi pada semua umur.
Pada remaja dan dewasa lebih sering disebakan oleh toksoplasmosis. Hidrosefalus infantil :
· 46 % adalah abnormalitas perkembangan otak
· 50 % karena perdarahan subarakhnoid dan meningitis
· <>
3. FISIOLOGI CAIRAN CEREBRO SPINAL
  1. Pembentukan CSF
Normal CSF diproduksi + 0,35 ml/menit atau 500 ml/hari dengan demikian CSF diperbaharui setiap 8 jam. pada anak dengan hidrosefalus, produksi CSF ternyata berkurang + 0,3 / menit. CSF dibentuk oleh PPA :
    • plexus choroideus ( yang merupakan bagian terbesar )
    • parenchim otak
    • arachknoid
  1. Sirkulasi CSF
Melalui pemeriksaan radio isotop, ternyata CSF mengalir dari tempat pembentukannya ke tempat absorbsinya. CSF mengalir dari ventrikel lateralis melalui sepasang foramen Monro ke dalam ventrikel III, dari sini melalui aquaductus sylvius menuju ventrikel IV. melalui satu pasang foramen luskha CSF mengalir cerebello pentine dan cisterna prepontis. cairan yang keluar dari foramen magindie menuju cisterna magna. dari sini mengalir ke superior rongga subarachnoid spinalis dan ke cranial menuju cisterna infra tentorial. Melalui cisterna di supratentorial dan kedua hemisfere cortex cerebri. sirkulasi berakhir di sinus Doramatis dimana terjadi absorbsi melalui villi arachnoid.
4. ETIOLOGI
Hidrosefalus terjadi bila terdapat penyumbatan aliran CSS pada salah satu tempat antara tempat pembentukan CSS dalam sistem ventrikel dan tempat absorbsi dalam ruang subarackhnoid. akibat penyumbatan, terjadi dilatasi ruangan CSS diatasnya. Penyumbatan aliran CSS sering terdapat pada bayi dan anak ialah :
1) Kelaina bawaan ( kongenital )
· Stenosis aquaductus sylvii
· Spina bifida dan kranium bifida
· Syndrom Dandy-Walker
· Kista arakhnoid dan anomali pembuluh darah
2) Infeksi
Akibat infeksi dapat timbul perlekatan meningen. secara patologis terlihat penebalan jaringan piameter dan arakhnoid sekitar sisterna basalis dan daerah lain. penyebab lain infeksi adalah toksoplasmosis.
3) Neoplasma
Hidrosefalus oleh obstruksi mekanik yang dapat terjadi di setiap tempat aliran CSS. pada anak yang terbanyak menyebabkan penyumbatan ventrikel IV / akuaduktus sylvii bagian terakhir biasanya suatu glioma yang berasal dari cerebelum, penyumbatan bagian depan ventrikel III disebabkan kraniofaringioma.
4) Perdarahan
Perdarahan sebelum dan sesudah lahir dalam otak, dapat menyebabkan fibrosis leptomeningfen terutama pada daerah basal otak, selain penyumbatan yang terjakdi akibat organisasi dari darah itu sendiri.
5. PATOFISIOLOGI DAN FATOGENESISI
CSS yang dibentuk dalam sistem ventrikel oleh pleksus koroidalis kembali ke dalam peredaran darah melalui kapiler dalam piameter dan arakhnoid yang meliputi seluruh Susunan Saraf Pusat ( SSP ). Cairan likuor serebrospinalis terdapat dalam satu sistem, yakni sistem internal dan eksternal.
· Orang dewasa : jumlah normal CSS = 90 – 150 ml
· anak umur 8-10 th : 100-140 ml
· bayi : 40-60 ml
· Neonatus : 20-30 ml
· Prematur kecil : 10-20 ml
Hidrosefalus secara teori terjadi sebagai akibat dari 3 mekanisme, yaitu :
1) produksi likuor yang berlebihan
2) peningkatan resistensi aliran likuor
3) peningkatan tekanan sinus venosa
Konsekuensi 3 mekanisme di atas adalah peningkatan tekanan intrakranial sebagai upaya mempertahankan keseimbangan sekresi dan absorbsi. mekanisme terjadinya dilatasi ventrikel cukup rumit dan berlangsung berbeda-beda tiap saat selama perkembangan hidrosefalus. dilatasi ini sebagai berikut :
1) kompresi sistem serebrovaskuler
2) redistribusi dari likuor serebrospinalis atau cairan ekstraseluler
3) Perubahan mekanis dari otak
4) Efek tekanan denyut likuor serebrospinalis
5) Hilangnya jaringan otak
6) Pembesaran volume tengkorak karena regangan abnormal sutura kranial
Produksi likuor yang berlebihan disebabkan tumor pleksus khoroid. gangguan aliran likuor merupakan awal dari kebanyakan kasus hidrosefalus. Peningkatan resistensi yang disebabkan gangguan aliran akan meningkatkan tekanan likuor secara proporsional dalam upaya mempertahankan resorbsi yang seimbang.
Peningkatan tekanan sinus vena mempunyai 2 konsekuensi, yaitu peningkatan tekanan vena kortikal sehingga menyebabkan volume vaskuler intrakranial bertambah dan peningkatan tekanan intrakranial sampai batas yang dibutuhkan untuk mempertahankan aliran likuor terhadap tekanan sinus vena yang relatiuf tinggi. Konsekuensi klinis dari hipertensi vena ini tergantung dari komplikasi tengkorak.
6. KLASIFIKASI
Klasifikasi hidrosefalus bergantung pada faktor yang berkaitan dengannya, berdasarkan :
a. gambaran klinis, dikenal hidrosefalus manifes ( overt hydrosefalus ) dan hidrosefalus tersembunyi ( occult hydrosefalus )
b. Waktu pembentukan, dikenal hidrosefalus kongenital dan hidrosefalus akuisita.
c. proses terbentuknya, dikenal hidrosefalus akut dan hidrosefalus kronik.
d. sirkulasi CSS, dikenal hidrosefalus komunikans dan hidrosefalus non komunikans.
Hidrosefalus interna menunjukkan adanya dilatasi vertikal, hidrosealus eksternal menunjukkan adanya pelebaran rongga subarakhnoid diatas permukaan korteks. hidrosefalus obstruktif menjabarkan kasus yang mengalami obstruksi pada aliran likuor. Berdasarkan gejala, dibagi menjadi hidrosefalus simptomatik dan asimptomatik. hidrosefalus arrasted menunjukkan keadaan dimana faktor-faktor yang menyebabkan dilatasi ventrikel pada saat tersebut sudah tidak aktif lagi. hidrosefalus ex: vacuo adalah sebutan bagi kasus ventrikulomegali yang diakibatkan atropi otak primer, yang biasanya terdapat pada orang tua.
7. MANIFESTASI KLINIS
Tanda awal dan gejala hidrosefalus tergantung pada awitan dan derajat ketidakseimbangan kapasitas produksi dan resorbsi CSS. gejala yang menonjol merupakan refleks adanya hipertensi intrakranial. manifestasi klinis dari hidrosefalus pada anak dikelompokkan menjadi 2 golongan, yaitu :
a. Awitan hidrosefalus terjadi pada masa neonatus
meliputi pembesaran kepala neonatus biasanya adalah 35-40 cm dan pertumbuhan ukuran lingkar kepala terbesar adalah selama tahuin pertama kehidupan. kranium terdistensi dalan semua arah, tetapi terutama pada daerah frontal. tampak dorsum nasi lebih dari biasa. Fontanella terbuka dan tegang, sutura masih terbuka bebas. tulang-tulang kepala menjadi sangat tipis, vena-vena disis samping kepala tampak melebar dan berkelok.
b. Awitan hidrosefalus terjadi pada akhir masa kanak-kanak
pembesaran kepala tidak bermakna, tetapi nyeri kepala sebagai manifestasi hipertensi intrakranial. Lokasi nyeri kepala tidak khas. Dapat disertai keluhan penglihatan ganda ( diplopia ) dan jarang diikuti penurunan visus. secara umum gejala yang paling umum terjadi pada pasien-pasien hidrosefalus dibawah usia 2 tahun adalah pembsaran normal. makrokrania biasanya disertai empat gejala hipertensi intrakranial lainnya, yaitu :
a) Fontanela yang sangat tegang
b) sutura kranium tampak atau teraba melebar
c) kulit kepala livin mengkilap dan tampak vena-vena superfisial menonjol
d) Fenomena “ matahari tenggelam “ ( sunset phenomenom )
Gejala hipertensi intrakranial lebih menonjol pada anak yang lebih besr dibandingkan denghan bayi. Gejalanya mencakup :
» nyeri kepala
» muntah
» gangguan kesadaran
» pada kasus lanjut : gejala batang otak akibat hernia tonsiler (bradikardini aritmia respirasi)
8. DIAGNOSIS
Disamping dari pemeroksaan fisik, gambaran klinis yang samar-samar maupun yang khas, kepastian daignosis hidrosefalus dapat ditagakkan dengan menggunakan alat-alat radiologik yang canggih. pada neonatus, USG cukup bermanfaat untuk anak yang lebih besar, umumnya diperlukan CT scanning. CT scan dam MRI dapat memastikan diagnosis hidrosefalus dalam waktu yang relatif singkat. CT scan merupakan cara yang aman dan dapat diandalkan untuk membedakan hidrosefalus dan penyakit lain yang juga menyebabkan pembesaran kepala abnormal, serta untuk identifikasi tempat obsttruksi aliran CSS.
DIAGNOSIS BANDING
» Makrosefali
» tumor otak
» Abses otak
» Granuloma intrakranial
» Hematoma subdural perinatal
» hidranensefali
9. TERAPI
Pada dasarnya ada 3 prinsip dalam pengobatan hidrosefalus, yaitu :
a) mengurangi produksi CSS
b) Mempengaruhi hubungan antara tempat produksi CSS dengan tempat absorbsi
c) Pengeluaran likuor ( CSS ) kedalam organ ekstrakranial.
Penanganan hidrosefalus juga dapat dibagi menjadi :
1) Penanganan sementara
Terapi konservatif medikamentosa ditujukan untuk membatasi evolusi hidrosefalus melalui upaya mengurangi sekresi cairan dari pleksus khoroid atau upaya meningkatkan resorbsinya.
2) Penanganan alternatif ( selain shunting )
Misalnya : pengontrolan kasus yang mengalami intoksikasi vitamin A, reseksi radikal lesi massa yang mengganggu aliran likuor atau perbaikan suatu malformasi. saat ini cara terbaik untuk malakukan perforasi dasar ventrikel dasar ventrikel III adalah dengan teknik bedah endoskopik.
3) Operasi pemasangan “ pintas “ ( shunting )
Operasi pintas bertujuan mambuat saluran baru antara aliran likuor dengan kavitas drainase. pada anak-anak lokasi drainase yang terpilih adalah rongga peritoneum. baisanya cairan ceebrospinalis didrainase dari ventrikel, namun kadang ada hidrosefalus komunikans ada yang didrain rongga subarakhnoid lumbar. Ada 2 hal yang perlu diperhatikan pada periode pasca operasi, yaitu pemeliharaan luka kulit terhadap kontaminasi infeksi dan pemantauan. kelancaran dan fungsi alat shunt yang dipasang. infeksi pada shunt meningkatkan resiko akan kerusakan intelektual, lokulasi ventrikel dan bahkan kematian.
10. PROGNOSIS
Hidrosefalus yang tidak diterapi akan menimbulkan gejala sisa, gangguan neurologis serta kecerdasan. Dari kelompok yang tidak diterapi, 50-70 % akan meninggal karena penyakitnya sendiri atau akibat infeksi berulang atau oleh karena aspirasi pneumonia. Namun bila prosesnya berhenti ( arreated hidrosefalus ) sekitar 40 % anak akan mencapai keceradasan yang normal. Pada kelompok ytang dioperasi, angka kematian adalah 7 %. Setelah operasi sekitar 51 % kasus mencapai fungsi normal dan sekitar 16 % mengalami retardasi mental ringan. Adalah penting sekali anak hiodrosefalus mendapat tindak lanjut jangka panjang dengan kelompok multidispliner.
BAB IV
PENUTUP
1. Kesimpulan
Hidrosefalus adalah kelainan patologis otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan serebrospinal dengan tekanan intrakranial yang meninggi, sehingga terdapat pelebaran ventrikel.
Insiden hidrosefalus antara 0,2- 4 setiap 1000 kelahiran. Insiden hidrosefalus konginetal adalah 0,5- 1,8 pada tiap 1000 kelahiran dan 11 % - 43 % disebabkan oleh stenosis aquaductus serebri. Tidak ada perbedaan bermakna insiden untuk kedua jenis kelamin, juga dalam hal perbedaan ras. Hidrosefalus dapat terjadi pada semua umur.
Pada dasarnya ada 3 prinsip dalam pengobatan hidrosefalus, yaitu :
a) mengurangi produksi CSS
b) Mempengaruhi hubungan antara tempat produksi CSS dengan tempat absorbsi
c) Pengeluaran likuor ( CSS ) kedalam organ ekstrakranial.
Hal yang sangat penting dalam penanganan kasus hidrosefalus ini adalaqh kejadian infeksi akibat penatalaksanaan dan asuhan yang diberikan tidak tepat.
2. Saran
Diharapkan kepada orang tua yang mendapatkan anak dengan kasus hidrosefalus untuk tidak berkecil hati karena ada masih ada cara pengobatan yang dapat dilakukan. Pengobatan tersebut dapat membantu anak tersebut untuk proses tumbuh kembangnya dikemudian hari.
Bagi petugas kesehatan diharapkan dapat melakukan penatalaksanaan dan asuhan yang adekuat dan hati-hati untuk mencegah terjadinya infeksi sehingga dapat menurunkan angka kematian pada bayi.
DAFTAR PUSTAKA
Haws, paulette s. 2008.”Asuhan neonatal rujukan cepat”.Jakarta: EGC
Subekti, nike budhi. 2007. “Buku saku managemen masalah BBL”. Jakarta : EGC
Surasmi, asriningsih dkk. 2003. “Perawatan bayi resiko tinggi”. Jakarta : EGC
http://www.askep-askeb-kita.blogspot.com/
Baca Selengkapnya - Hidrosefalus (Hidrocephalus)

Servisitis dan Adnexitis

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia Nya penulis akhirnya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ Servisitis dan Adnexitis “ sebagai salah satu tugas kelompok mata kuliah Asuhan Kebidanan IV tahun ajaran 2008/2009.
Dalam penulisan makalah ini penulis banyak mendapatkan kendala dan hambatan baik dalam memperoleh sumber yang relevan maupun dari segi penulisan. Namun berkat bantuan dari berbagai pihak akhirnya penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih pada :
1. ibu Elda Yusefni, M.Keb sebagai dosen pembimnbing mata kuliah Askeb IV
2. Teman-teman dan berbagai pihak yang ikut membantu yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari dalam makalah ini banyak terdapat kekurangan. Untuk itu , penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kemajuan dimasa mendatang.
Penulis berharap agar makalah ini dapat dijadikan sebagai salah satu sumber bacaan dan dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.
Padang , November 2008
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Serviks uteri adalah penghalang penting bagi masuknya kuman-kuman kedalam genitalia interna, dalam hubungan ini seorang nullipara dalam keadaan normal kanalis servikalis bebas kuman. Pada multipara dengan ostium uteri eksternum sudah lebih terbuka, batas keatas dari daerah bebas kuman ialah ostium uteri internum sehingga lebih rentan terjadinya infeksi oleh berbagai kuman yang masuk dari luar ataupun oleh kuman endogen itu sendiri. Jika serviks sudah terinfeksi maka akan mempermudah pula tetjadinya infeksi pada alat genitalia yang lebih tinggi lagi seperti, uterus, tuba atau bahkan sampai ke ovarium dan karena itu fungsi genitalia sebagai alat reproduksi bisa terganggu atau bahkan tidak bisa difungsikan.
Begitu juga adnexitis, yaitu peradangan pada tuba dan ovarium secara bersamaan. Dimana jika itu terjadi fungsi ovarium untuk menghasilkan sel telur dan tuba sebagai saluran untuk lewatnya sel telur bisa terganggu sehingga fungsi wanita untuk melanjutkan keturunan pun bisa terganggu.
Oleh karena itu diharapkan mahasiswa AKBID Poltekkes mampu memahami apa itu peradangan pada alat genitalia wanita. Dan pada makalah ini penulis membahas mengenai servisitis dan adnexitis.
1.2. Tujuan
1.2.1 Tujuan umum
Adapun tujuan umum penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Askeb IV dan untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa mengenai peradangan pada genitalia wanita pada umumnya dan servisitis atau adnexitis pada khususnya.
1.2.2 Tujuan khusus
1. Mahasiswa dapat memahami apa itu yang dimaksud servisitis dan adnexitis
2. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami apa itu penyebab servisitis dan adnexitis
3. Mahasiswa mampu mengetahui gejala servisitis maupun adnexitis
4. Mahasiswa dapat mengetahui klasifikasi dari servisitis dan adnexitis
5. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami bagaimana cara mengenali servisitis maupun adnexitis
6. mahasiswa mengetahui dan mampu mengaplikasikan bagaimana penatalaksanaan maupun rencana asuhan yang dapat diberikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. SERVICITIS
Serviks uteri adalah penghalang penting bagi masuknya kuman-kuman kedalam genitalia interna, dalam hubungan ini seorang nullipara dalam keadaan normal kanalis servikalis bebas kuman. Pada multipara dengan ostium uteri eksternum sudah lebih terbuka, batas keatas dari daerah bebas kuman ialah ostium uteri internum.
Radang pada serviks uteri bisa terdapt pada portio uteri diluar ostium uteri eksternum dan atau pada endoserviks uteri.
Pada beberapa penyakit kelamin, seperti gonoroe, sifilis, ulkus mole, dan granuloma inguinale serta pada tuberculosis dapat ditemukan radang pada serviks.
1. DEFENISI
Servisitis adalah peradangan dari selaput lendir dari kanalis servikalis. karena epitel selaput lendir kanalis servikalis hanya terdiri dari satu lapisan sel selindris sehingga lebih mudah terinfeksi disbanding selaput lendir vagina. ( gynekologi . FK UNPAD, 1998 ). Juga merupakan :
§ Infeksi non spesifik dari serviks
§ Erosi ringan ( permukaan licin ), erosi kapiler ( permukaan kasar ), erosi folikuler ( kistik )
§ Biasanya terjadi pada serviks bagian posterior
2. ETIOLOGI
Servisitis disebabkan oleh kuman-kuman seperti : trikomonas vaginalis, kandida dan mikoplasma atau mikroorganisme aerob dan anaerob endogen vagina seperti streptococcus, enterococus, e.coli, dan stapilococus . kuman-kuman ini menyebabkan deskuamasi pada epitel gepeng dan perubahan inflamasi kromik dalam jaringan serviks yang mengalami trauma.
Dapat juga disebabkan oleh robekan serviks terutama yang menyebabkan ectropion, alat-alat atau alat kontrasepsi, tindakan intrauterine seprti dilatasi, dan lain-lain.
3. GEJALA KLINIS
§ Flour hebat, biasanya kental atau purulent dan biasanya berbau
§ Sering menimbulkan erusio ( erythroplaki ) pada portio yang tampak seperti daerah merah menyala.
§ Pada pemeriksaan inspekulo kadang-kadang dapat dilihat flour yang purulent keluar dari kanalis servikalis. Kalau portio normal tidak ada ectropion, maka harus diingat kemungkinan gonorroe
§ Sekunder dapat terjadi kolpitis dan vulvitis
§ Pada servisitis kroniks kadang dapat dilihat bintik putih dalam daerah selaput lendir yang merah karena infeksi. Bintik-bintik ini disebabkan oleh ovulonobothi dan akibat retensi kelenjer-kelenjer serviks karena saluran keluarnya tertutup oleh pengisutan dari luka serviks atau karena peradangan.
§ Gejala-gejala non spesifik seperti dispareuni, nyeri punggung, dan gangguan kemih
§ Perdarahan saat melakukan hubungan seks
4. KLASIFIKASI
a) Servisitis Akuta
Infeksi yang diawali di endoserviks dan ditemukan pada gonorroe, infeksi postabortum, postpartum, yang disebakan oleh streptococcus, sthapilococus, dan lain-lain. Dalam hal ini streptococcus merah dan membengkak dan mengeluarkan cairan mukopurulent, akan tetapi gejala-gejala pada serviks biasanya tidak seberapa tampak ditengah-tengah gejala lain dari infeksi yang bersangkutan.
Pengobatan diberikan dalam rangka pengobatan infeksi tersebut. Penyakitnya dapat sembuh tanpa bekas atau dapat menjadi kronika.
b) Servisitis Kronika
Penyakit ini dijumpai pada sebagisn wanita yang pernah melahirkan. Luka-luka kecil atau besar pada servik karena partus atau abortus memudahkan masuknya kuman-kuman kedalam endoserviks serta keleenjer-kelenjernya sehingga menyebabkan infeksi menahun.
Beberapa gambaran patologis dapat ditemukan :
1) Serviks kelihatan normal, hanya pada pemeriksaan mikroskopis ditemukan infiltrasi leukosit dalam stroma endoserviks. Servicitis ini menimbulkan gejala, kecuali pengeluaran secret yang agak putih-kuning.
2) Di sini ada portio uteri disekitar ostium uteri eksternum, tampak daerah kemerah-merahan yang tidak dipisahkan secara jelas dari epitel porsio disekitarnya, secret yang dikeluarkan terdiri atas mucus bercampur nanah.
3) Sobeknya pada serviks uteri disini lebih luas dan mukosa endoserviks lebih kelihatan dari luar (ekstropion). Mukosa dalam keadaan demikian mudah terkena infeksi dari vagina. Karena radang menahun, serviks bisa menjadi hipertropis dan mengeras, secret mukopurulent bertambah banyak.
5. DIAGNOSA BANDING
§ Karsinoma
§ Lesi tuberculosis
§ Herpes progenitalis
6. PEMERIKSAAN KHUSUS:
1) Pemeriksaan dengan speculum
2) Sediaan hapus untuk biakan dan tes kepekaan
3) Pap smear
4) Biakan damedia
5) Biopsy
7. PENATALAKSANAAN
2) Antibiotika terutama kalau dapat ditemukan gonococcus dalam secret
3) Kalau cervicitis tidak spesifik dapat diobati dengan rendaman dalam AgNO3 10 % dan irigasi.
4) Cervicis yang tak mau sembuh ditolong operatif dengan melakukan konisasi, kalau sebabnya ekstropion dapat dilakukan lastik atau amputasi.
5) Erosion dapat disembuhkan dengan obat keras seperti, AgNO3 10 % atau Albothyl yang menyebabkan nekrose epitel silindris dengan harapan bahwa kemudian diganti dengan epitel gepeng berlapis banyak
6) Servisitis kronika pengobatannya lebih baik dilakukan dengan jalan kauterisasi-radial dengan termokauter atau dengan krioterapi.
8. PROGNOSIS:
§ Biasanya baik
§ Dapat kambuh
B. ADNEXITIS ( SALPINGO-OOPORITIS )
1. DEFENISI
Adnexitis adalah suatu radang pada tuba fallopi dan radang ovarium yang biasanya terjadi bersamaan. Radang ini kebanyakan akibat infeksi yang menjalar keatas dari uterus, walaupun infeksi ini bisa datang dari tempat ekstra vaginal lewat jalan darah atau menjalar dari jaringan sekitarnya.
2. ETIOLOGI
Sebab yang paling banyak terdapat adalah infeksi gonorroe dan infeksi puerperal dan postabortum. Kira-kira 10% infeksi disebabkan oleh tuberculosis. Selanjutnya bisa timbul radang adnexa sebagai akibat tindakan kerokan, laparotomi, pemasangan IUD serta perluasan radang dari alat yang letaknya tidak jauh seperti appendiks.
3. KLASIFIKASI
Adnexa atau salpingo-ooporitis tebagi atas :
a. Salpingo ooporitis akuta
Salpingo ooporitis akuta yang disebabkan oleh gonorroe sampai ke tuba dari uterus sampai ke mukosa. Pada gonoroe ada kecendrungan perlekatan fimbria pada ostium tuba abdominalis yang menyebabkan penutupan ostium itu. Nanah yang terkumpul dalam tuba menyebabkan terjadi piosalping.
Pada salpingitis gonoroika ada kecendrungan bahwa gonokokus menghilang dalam waktu yang singkat, biasanya 10 hari sehingga pembiakan negative.
Salpingitis akut banyak ditemukan pada infeksi puerperal atau pada abortus septic ada juga disebabkan oleh berbagai tierti kerokan. Infeksi dapat disebabkan oleh bermacam kuman seperti streptokokus ( aerobic dan ana aerobic ), stafilokokus, e. choli, clostridium wechii, dan lain-lain.
Infeksi ini menjalar dari servik uteri atau kavum uteri dengan jalan darah atau limfe ke parametrium terus ke tuba dan dapat pula ke peritoneum pelvic. Disisni timbul salpingitis interstitial akuta ; mesosalping dan dinding tuba menebal dan menunjukkan infiltrasi leukosit, tetapi mukosa sering kali normal. Hal ini merupakan perbedaan yang nyata dengan salpingitis gonoroika, dimana radang terutama terdapat pada mukosa dengan sering terjadi penyumbatan lumen tuba.
Gejal-gejala yang sering terjadi :
§ Suhu tinggi
§ Leukosit tinggi
§ Nyeri disebelah kanan atau kiri uterus
§ Setelah beberapa hari dijumpai tumor dengna batas yang tidak jelas dan nyeri tekan.
Diagnosa Differensial :
§ Appendicitis akut
§ Pielitis akut
§ Torsi adnexa
§ KET
Penanganan :
§ Istirahat baring
§ Perawatan umum
§ Pemberian antibiotic dan analgetik
b. Salpingo ooporitis kronika
Terbagi atas :
§ Hidrosalping
Hidrosalping terdapat pentupan ostium tuba abdominalis. Hidrosalping dapat berupa hidrosalping simpleks dan hidrosalping follikularis. Pada hidrosalpin simpleks terdapat satu ruangan berdinding tipis, pada hidrosalping folikularis terbagi dalam ruangan kecil
§ Piosalping
Piosalping dalam stadium menahun merupakan kantong dengan dinding tebal yang berisi nanah, dan terdapat perlekatan pada daerha sekitarnya.
§ Salpingits interstitial tuba
Salpingitis interstitial kronika dinding tuba menebal dan tampak fibrosis dan dapat ditemukan penumpukan nanah ditengah jaringan otot.
§ Kista tuba ovarial
Pada kista tuba ovarial, hidrosalping bersatu dengan kista folikel ovarium.
§ Abses tuba ovarial
Piosalping bersatu dengan abses ovarium.
§ Salpingitis tuberkulosa
4. TANDA DAN GEJALA
Gejala-gejala adnexitis tidak selalu jelas, namun bisa didahului oleh gejala :
§ Panas
§ Nyeri perut bagian bawah sebelah kiri atau kanan
§ Nyeri bertambah pada pekerjaan berat disertai penyakit pinggang
§ Leukorea
§ Haid lebih banyak dari biasa, dan siklus tidak teratur
§ Penderita sering mengeluh dispareuni
§ Infertilitas
§ Disminorroe
6. PENANGANAN
§ Antibiotic dengan spectrum yang luas
§ Terapi diatermi
§ Penderita tidak boleh melakukan pekerjaan berat
§ Operasi radikal ( histerektomi dan salpingo ooforektomi bilateral ) pada wanita yang suda hamper menopause. Pada wanita yang lebih muda hanya adnexia dengan kelainan yang nyata ynag diangkat.
7. PENCEGAHAN
a. Selama kehamilan
Diet yang baik, karena anemia anemia merupakan factor predisposisi infeksi nifas. Koitus pada akhir kehamilan sebaiknya dilarang karena memicu pecahnya ketuban dan terjadi infeksi.
b. Selama persalinan
Petugas dalam kamar bersalin harus memakai masker, bagi yang menderita infeksi pernafasan tidak boleh masuk ke kamar bersalin, alat yang dipakai harus suci hama. Pemeriksaan dalam atas indikasi, dan cegah perdarahan. Usaha pencegahan untuk masuknya kuman dalam jalan lahir cegah terjadinya persalinan lama dan menyelesaikan persalinan dengan trauma sedikit mungkin.
c. Selama nifas
Penderita dengan tanda infeksi jangan dirawat bersama wanita yang sehat, pengunjun pada hari pertama dibatasi, dan semua alat yang berhubungan dengan genitalia harus suci hama.
.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Servisitis adalah peradangan dari selaput lendir dari kanalis servikalis dan juga merupakan infeksi non spesifik dari serviks, erosi ringan ( permukaan licin ), erosi kapiler ( permukaan kasar ), erosi folikuler ( kistik ) dan biasanya terjadi pada serviks bagian posterior. Disebabkan oleh kuman-kuman seperti : trikomonas vaginalis, kandida dan mikoplasma atau mikroorganisme aerob dan anaerob endogen vagina seperti streptococcus, enterococus, e.coli, dan stapilococus . kuman-kuman ini menyebabkan deskuamasi pada epitel gepeng dan perubahan inflamasi kromik dalam jaringan serviks yang mengalami trauma dan dapat juga disebabkan oleh robekan serviks terutama yang menyebabkan ectropion, alat-alat atau alat kontrasepsi, tindakan intrauterine seprti dilatasi, dan lain-lain. Servisitis terbagi atas :
§ Servisitis Akuta
§ Servisitis kronika
Sedangkan Adnexitis adalah suatu radang pada tuba fallopi dan radang ovarium yang biasanya terjadi bersamaan. Radang ini kebanyakan akibat infeksi yang menjalar keatas dari uterus, walaupun infeksi ini bisa datang dari tempat ekstra vaginal lewat jalan darah atau menjalar dari jaringan sekitarnya. Dan adnexitis juga terbagi atas :
§ Salpingo ooporitis akuta
Salpingo ooporitis akuta yang disebabkan oleh gonorroe sampai ke tuba dari uterus sampai ke mukosa.
§ Salpingo ooporitis kronika
Terbagi atas :
ü Hidrosalping
ü Piosalping
ü Salpingits interstitial tuba
ü Kista tuba ovarial
ü Abses tuba ovarial
ü Salpingitis tuberkulosa
Prognosis keduanya ada yang bisa sembuh tanpa bekas atau bisa kambuh.
3.2 Saran
3.2.1 Diharapkan wanita terutama yang beresiko tinggi terkena penyakit tersebut memahami dan mengerti mengenai penyakit tersebut sehingga bisa dilakukan penanganan lebih awal dan menghindar terjadinya kegawatan. Wanita yang tidak beresiko juga menghindari terjangkitnya penyakit ini.
3.2.2 Bidan harus memberikan asuhan yang berkualitas untuk menghindari angka kesakitan.
DAFTAR PUSTAKA
David, Ovedoff. 1995. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Bina Pura Aksara
Taber, Benzion. 1995. Kapita Selekta Kedaruratan Obstetri dan Gynekologi. Jakarta : EGC
Manuaba. 1998. Ilmu Kebidanan. Penyakit Kandungan Dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC
Prawirohardjo. 2005. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sastrawinata, sulaiman. 1981. Ginekologi. Bandung : Elstar offset
Robin, Cotran, Humar. 1999. Buku Saku Robbins, Dasar Patologi Penyakit. Jakarta : EGC
Baca Selengkapnya - Servisitis dan Adnexitis

Arsip

0-Asuhan Kebidanan (Dokumen Word-doc) 0-KTI Full Keperawatan (Dokumen Word-doc) Anak Anatomi dan Fisiologi aneh lucu unik menarik Antenatal Care (ANC) Artikel Bahasa Inggris Asuhan Kebidanan Asuhan Keperawatan Komunitas Asuransi Kesehatan Berita Hiburan Berita Terkini Kesehatan Berita Tips Twitter Celeb contoh Daftar Pustaka Contoh KTI Contoh KTI Kebidanan Farmakologi (Farmasi) Gadar-kegawatdaruratan Gizi Handphone Hirschsprung Hukum Kesehatan Humor Segar (Selingan) Imunisasi Info Lowongan Kerja Kesehatan Intranatal Care (INC) Jiwa-Psikiatri kamus medis kesehatan online Kebidanan Fisiologis Kebidanan Patologis Keluarga Berencana (KB) Keperawatan Gerontology Kesehatan Anak (UMUM) Kesehatan Bayi (untuk UMUM) Kesehatan Haji Kesehatan Ibu Hamil (untuk UMUM) Kesehatan Ibu Menyusui (untuk UMUM) Kesehatan Pria (untuk UMUM) Kesehatan Remaja Kesehatan Reproduksi (Kespro) Kesehatan Wanita (untuk UMUM) Koleksi Skripsi Umum Konsep Dasar KTI D-3 Kebidanan KTI Skripsi Keperawatan kumpulan askep Laboratorium Lain-lain Makalah Keperawatan Kebidanan Managemen Kesehatan Mikrobiologi Motivasi Diri Napza dan zat Adiktif Neonatus dan Bayi News Penyakit Menular potensi KLB Penyakit Menular Seksual (PMS) Postnatal Care (PNC) Protap-SOP Psikologi-Psikiater (UMUM) Reformasi Kesehatan Sanitasi (Penyehatan Lingkungan) Satuan Acara Penyuluhan (SAP) Sistem Endokrin Sistem Immunologi Sistem Indera Sistem Integumen Sistem Kardiovaskuler Sistem Muskuloskeletal Sistem Neurologis Sistem Pencernaan Sistem Perkemihan Sistem Pernafasan Surveilans Penyakit Teknologi Tips dan Tricks Seks Tips Facebook Tips Karya Tulis Ilmiah (KTI) Tips Kecantikan Tips Kesehatan Umum Tokoh Kesehatan Tutorial Blogging Youtuber