Cari Blog Ini

DEMAM TIFOID

DEMAM TIFOID


I. Pengertian

Demam tifoid dan demam paratifoid adalah penyakit infeksi akut usus halus . Demam paratifoid biasanya lebih ringan dan menunjukkan manifestasi klinis yang sama atau menyebabkan enteritis akut . Sinonim demam tifoid dan demam paratifoid adalah typhoid dan paratyphoid fever, enteric fever, thyphus dan paratyphus abdominalis.


II. Epidemiologi

Demam tifoid dan demam paratifoid endemik di Indonesia. Penyakit ini termasuk penyakit menular yang tercantum dalam undang-undang No. 6 tahun 1962 tentang wabah. Kelompok penyakit menular ini merupakan penyakit-penyakit yang mudah menular dan dapat menyerang banyak orang, sehingga dapat menimbulkan wabah. Walaupun demam tifoid tercantum dalam undang-undang wabah dan wajib dilaporkan, namun data yang lengkap belum ada, sehingga gambaran epidemiologisnya belum diketahui secara pasti.

Di Indonesia demam tifoid jarang dijumpai secara epidemik, tetapi lebih sering bersifat sporadik, terpencar-pencar disuatu daerah, dan jarang menimbulkan lebih dari satu kasus pada orang-orang serumah. Sumber penularannya biasanya tidak dapat ditemukan. Ada dua sumber penularan S. typhi : pasien dengan demam tifoid dan yang lebih sering carrier. Orang-orang tersebut mengekskresi 109 sampai 1011 kuman pergram tinja.

Didaerah endemik transmisi terjadi melalui air yang tercemar. Makanan yang tercemar oleh carrier merupakan sumber penularan yang paling sering di daerah nonendemik. Carrier adalah orang yang sembuh dari demam tifoid dan masih terus mengekskresi S. typhi dalam tinja dan air kemih selama lebih dari satu tahun. Disfungsi kandung empedu merupakan predisposisi untuk terjadinya carrier. Kuman-kuman S. typhi berada didalam batu empedu atau dalam dinding kandung empedu yang mengandung jaringan ikat, akibat radang menahun.


III. Etiologi

Etiologi demam tifoid dan demam paratifoid adalah S. typhi, S. paratyphi A, S. paratyphi B dan S. paratyphi C.


IV. Patogenesis dan Patofisiologi

Kuman S. typhi masuk ketubuh manusia melalui mulut dengan makanan dan air yang tercemar. Sebagian kuman dimusnahkan oleh asam lambung. Sebagian lagi masuk ke usus halus dan mencapai jaringan limfoid plaque Peyeri di ileum terminalis yang mengalami hipertropi. Ditempat ini komplikasi perdarahan dan perforasi intestinal dapat terjadi. Kuman S. typhi kemudian menembus ke lamina propina, masuk aliran limfe dan mencapai kelenjar limfe messenterial yang juga mengalami hipertropi. Setelah melewati kelenjar-kelenjar limfe ini S. typhi masuk kealiran darah melalui duktus thoracicus. Kuman-kuman S. typhi lain mencapai hati melalui sirkulasi portal dari usus. S. typhi bersarang di plaque Peyeri, limpa, hati dan bagian-bagian lain system retikuloendotial.

Semula disangka demam dan gejala-gejala toksemia pada demam tifoid disebabkan oleh endotoksemia. Tapi kemudian berdasarkan penelitian-eksperimental disimpulkan bahwa endotoksemia bukan merupakan penyebab utama demam dan gejala-gejala toksemia pada demam tifoid. Endotoksin S. typhi berperan pada patogenesis demam tifoid, karena membantu terjadinya proses inflamasi lokal pada jaringan setempat S. typhi berkembang biak. Demam pada tifoid disebabkan karena S. typhi dan endotoksinnya merangsang sintesis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang.


V. Manifestasi Klinik

Masa tunas demam tifoid berlangsung 10 – 14 hari. Gejala-gejala yang timbul sangat bervariasi. Perbedaan ini tidak saja antara berbagai bagian dunia, tetapi juga di daerah yang sama dari waktu ke waktu. Selain itu gambaran penyakit bervariasi dari penyakit ringan yang tidak terdiagnosis, sampai gambaran penyakit yang khas dengan komplikasi dan kematian. Hal ini menyebabkan bahwa seorang ahli yang sudah sangat berpengalaman pun dapat mengalami kesulitan untuk membuat diagnosis klinis demam tifoid.

Dalam minggu pertama penyakit, keluhan dan gejala serupa dengan penyakit akut pada umumnya. Yaitu demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare, perasaan tidak enak diperut, batuk dan epistaksis. Pada pemeriksaan fisik hanya dijumpai suhu badan meningkat. Dalam minggu kedua gejala-gejala menjadi lebih jelas berupa demam, bradikardi relatif, lidah yang khas (kotor ditengah, tepi dan ujung merah dan tremor), hepatomegali, splenomegali, meteorismus, gangguan mental berupa samnolen, stupor, koma, delirium atau psikosis, roseolae jarang ditemukan pada orang Indonesia.


VI. Komplikasi

Komplikasi demam tifoid dapat dibagi dalam :

1. Komplikasi intestinal :

a.Perdarahan usus

b.Perforasi usus

c.Ileus paralitik

2. Komplikasi ekstra-intestinal :

a.Komplikasi kardiovaskular :

Kegagalan sirkulasi perifer (renjatan sepsis), miokarditis, trombosis dan tromboflebitis.

b.Komplikasi darah :

Anemia hemolitik, trombositopenia dan/atau Disseminated Intravascular Coagulation (DIC) dan sindrom uremia hemolitik.

c.Komplikasi paru :

Pneumonia, empiema dan pleuritis.

d.Komplikasi hepar dan kandung empedu :

Hepatitis dan kolesistisis.

e.Komplikasi ginjal :

Glomerulonefritis, pielonefritis dan perinefritis.

f.Komplikasi tulang :

Osteomielitis, periostitis, spondilitis dan artitis.

g.Komplikasi neuropsikatrik :

Delirium, meningismus, meningitis, polineuritis perifer, SGB, psikosis dan sindrom katatonia.

Pada anak-anak dengan demam paratifoid , komplikasi lebih jarang terjadi. Komplikasi sering terjadi pada keadaan toksemia berat dan kelemahan umum terutama bila perawatan pasien kurang sempurna.


VII. Prognosis

Prognosis demam tifoid tergantung dari umur, keadaan umum, derajat kekebalan tubuh, jumlah dan virulensi Salmonella serta cepat dan tepatnya pengobatan. Angka kematian pada anak-anak 2,6% dan pada orang dewasa 7,4%, rata-rata 5,7%.


VIII. Pemeriksaan Diagnostik

1. Pemeriksaan leukosit

2. Pemeriksaan SGOT dan SGPT

3. Biakan darah

4. Uji widal

Hati-hati adanya postif dan negatif palsu pada hasil pemeriksaan.


IX. Penatalaksanaan

Pengobatan demam tifoid terdiri atas tiga bagian yaitu : Perawatan, Diet dan Obat-obatan.

1. Perawatan

Pasien dengan demam tifoid perlu dirawat di rumah sakit untuk isolasi, observasi dan pengobatan. Pasien harus tirah baring absolut sampai minimal 7 hari bebas demam atau kurang lebih selama 14 hari. Mobilisasi pasien harus dilakukan secara bertahap, sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien.

Pasien dengan kesadaran yang menurun, posisi tubuhnya harus diubah-ubah pada waktu-waktu tertentu untuk menghindari komplikasi pneumonia hipostatik dan dekubitus.

Defekasi dan buang air kecil perlu diperhatikan karena kadang-kadang terjadi obstipasi dan retensi air kemih.

2. D i e t

Dimasa lampau, pasien dengan demam tifoid diberi bubur saring, kemudian bubur kasar dan akhirnya nasi sesuai dengan tingkat kesembuhan pasien. Karena ada pendapat bahwa usus perlu diistirahatkan.

Beberapa peneliti menunjukkan bahwa pemberian makanan padat dini dapat diberikan dengan aman pada pasien demam tifoid.

3. O b a t

Obat-obat antimikroba yang sering dipergunakan ialah :

a.Kloramfenikol

b.Thiamfenikol

c.Ko-trimoksazol

d.Ampisillin dan Amoksisilin


e.Sefalosporin generasi ketiga

f.Fluorokinolon.

Obat-obat simptomatik :

a.Antipiretika (tidak perlu diberikan secara rutin).

b.Kortikosteroid (tapering off Selama 5 hari).

Vitamin B komp. Dan C sangat diperlukan untuk menjaga kesegaran dan kekuatan badan serta berperan dalam kestabilan pembuluh darah kapiler.

X. Asuhan Keperawatan

A. Pengkajian

Dasar data pengkajian klien :

1. Aktivitas/Istirahat

Gejala : Kelemahan, kelelahan, malaise, cepat lelah. Insomnia, tidak tidur semalaman karena diare. Merasa gelisah dan ansietas. Pembatasan aktivitas/kerja s/d efek proses penyakit.

2. S i r k u l a s i

Tanda : Takhikardi (respon terhadap demam, dehidrasi, proses imflamasi dan nyeri). Kemerahan, area ekimosis (kekurangan vitamin K). Hipotensi termasuk postural. Kulit/membran mukosa : turgor buruk, kering, lidah pecah-pecah (dehidrasi/malnutrisi).

3. Integritas Ego

Gejala : Ansietas, ketakutan, emosi kesal, mis. Perasaan tidak berdaya/tidak ada harapan. Faktor stress aku/kronis mis. Hubungan dengan keluarga/pekerjaan, pengobatan yang mahal. Faktor budaya – peningkatan prevalensi.

Tanda : Menolak, perhatian menyempit, depresi.

4. E l i m i n a s i

Gejala : Tekstur feces bervariasi dari bentuk lunak sampai bau atau berair. Episode diare berdarah tidak dapat diperkirakan, hilang timbul, sering tidak dapat dikontrol, perasaan dorongan/kram (tenesmus). Defakasi berdarah/pus/mukosa dengan atau tanpa keluar feces. Peradarahan perektal.

Tanda : Menurunnya bising usus, tidak ada peristaltik atau adanya peristaltik yang dapat dilihat. Haemoroid, oliguria.

5. Makanan/Cairan

Gejala : Anoreksia, mual/muntah. Penurunan BB. Tidak toleran terhadap diet/sensitive mis. Buah segar/sayur, produk susu, makanan berlemak.

Tanda : Penurunan lemak subkutan/massa otot. Kelemahan, tonus otot dan turgor kulit buruk. Membran mukosa pucat, luka, inflamasi rongga mulut.

6. H i g i e n e

Tanda : Ketidakmampuan mempertahankan perawatan diri. Stomatitis menunjukkan kekurangan vitamin. Bau badan.

7. Nyeri/Kenyamanan

Gejala : Nyeri/nyeri tekan pada kuadran kanan bawah (mungkin hilang dengan defakasi). Titik nyeri berpindah, nyeri tekan, nyeri mata, foofobia.

Tanda : Nyeri tekan abdomen/distensi.

8. K e a m a n a n

Gejala : Anemia hemolitik, vaskulitis, arthritis, peningkatan suhu (eksaserbasi akut), penglihatan kabur. Alergi terhadap makanan/produk susu.

Tanda : Lesi kulit mungkin ada, ankilosa spondilitis, uveitis, konjungtivitis/iritis.

9. Seksualitas

Gejala : Frekuensi menurun/menghindari aktivitas seksual.

10. Interaksi Sosial

Gejala : Masalah hubungan/peran s/d kondisi, ketidakmampuan aktif dalam sosial.

11. Penyuluhan Pembelajaran

Gejala : Riwayat keluarga berpenyakit inflamasi usus.

B. Diagnosa Keperawatan, Tujuan, Rasinalisasi Yang Lazim Terjadi

1. Diare b/d inflamasi, iritasi dan malabsorpsi usus, adanya toksin dan penyempitan segemental usus ditandai dengan :

- Peningkatan bunyi usus/peristaltik.

- Defakasi sering dan berair (fase akut)

- Perubahan warna feses.

- Nyeri abdomen tiba-tiba, kram.

Tujuan :

- Klien akan melaporkan penurunan frekuensi defakasi, konsistensi kembali normal.

- Klien akan mampumengidentifikasi/menghindari faktor pemberat.

Intervensi :

1. Observasi dan catat ferkuensi defakasi, karekteristik, jumlah dan faktor pencetus.

R/ : Membantu membedakan penyakit individu dan mengkaji beratnya episode.

2. Tingkatkan tirah baring, berikan alat-alat disamping tempat tidur.

R/ : Istirahat menurunkan motalitas usus juga menurunkan laju metabolisme bila infeksi atau perdarahan sebagai komplikasi. Defakasi tiba-tiba dapat terjadi tanpa tanda dan dapat tidak terkontrol, peningkatan resiko inkontinensia/jatuh bila alat-alat tidak dalam jangkauan tangan.

3. Buang feses dengan cepat dan berikan pengharum ruangan.

R/ : Menurunkan bau tak sedap untuk menghindari rasa malu klien.

4. Identifikasi makanan/cairan yang mencetuskan diare.

R/ : Menghindari iritan dan meningkatkan istirahat usus.


5. Observasi demam, takhikardi, lethargi, leukositosis/leukopeni, penurunan protein serum, ansietas dan kelesuan.

R/ : Tanda toksik megakolon atau perforasi dan peritonitis akan terjadi/telah terjadi memerlukan intervensi medik segera.

6. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian :

Antikolinergik.

R/ : Menurunkan motalitas/peristaltik GI dan menurunkan sekresi digestif untuk menghilangkan kram dan diare.

Steroid

R/ : Diberikan untuk menurunkan proses inflamasi.

Antasida

R/ : Menurunkan iritasi gaster, mencegah inflamasi dan menurunkan resiko infeksi pada kolitis.

Antibiotik

R/ : Mengobati infeksi supuratif lokal.

7. Bantu/siapkan intervensi bedah.

R/ : Mungkin perlu bila perforasi atau obstruksi usus terjadi atau penyakit tidak berespon terhadap pengobatan medik.


2. Risiko kurang volume cairan b/d Kehilangan banyak melalui rute normal (diare berat, muntah), status hipermetabolik dan pemasukan terbatas.

Tujuan :

Klien akan menampakkan volume cairan adekuat/mempertahankan cairan adekuat dibuktikan oleh membran mukosa lembab, turgor kulit baik dan pengisian kapiler baik, TTV stabil, keseimbangan masukan dan haluaran dengan urine normal dalam konsentrasi/jumlah.


Intervensi :

1. Awasi masukan dan haluaran urine, karakter dan jumlah feces, perkirakan IWL dan hitung SWL.

R/ : Memberikan informasi tentang keseimbangan cairan, fungsi ginjal dan kontrol penyakit usus juga merupakan pedoman untuk penggantian cairan.

2. Observasi TTV.

R/ : Hipotensi (termasuk postural), takikardi, demam dapat menunjukkan respon terhadap dan/atau efek kehilangan cairan.

3. Observasi adanya kulit kering berlebihan dan membran mukosa, penurunan turgor kulit, prngisisan kapiler lambat.

R/ : Menunjukkan kehilangan cairan berlebihan/dehidrasi.

4. Ukur BB tiap hari.

R/ : Indikator cairan dan status nutrisi.

5. Pertahankan pembatasan peroral, tirah baring dan hindari kerja.

R/ : Kolon diistirahatkan untuk penyembuhan dan untuk menurunkan

kehilangan cairan usus.

6. Catat kelemahan otot umum dan disritmia jantung

R/ : Kehilangan cairan berlebihan dapat menyebabkan ketidak seimbangan elektrolit. Gangguan minor pada kadar serum dapat mengakibatkan adanya dan/atau gejala ancaman hidup.

7. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian :

Cairan parenteral, transfusi darah sesuai indikasi.

R/ : Mempertahankan istirahat usus akan memerlukan penggatntian cairan untuk memperbaiki kehilangan/anemia.

Anti diare.

R/ : Menurunkan kehilangan cairan dari usus.


Antiemetik

R/ : Digunakan untuk mengontrol mual/muntah pada eksaserbasi akut.

Antipiretik

R/ : Mengontrol demam. Menurunkan IWL.

Elektrolit tambahan

R/ : Mengganti kehilangan cairan melalui oral dan diare.


3. Konstipasi b/d masukan cairan buruk, diet rendah serat dan kurang latihan, inflamasi, iritasi, ditandai dengan :tidak ada feses.

Tujuan :

Klien akan menampakkan/melaporkan kembali pola fungsi usus yang normal.

Intervensi :

1. Observasi bisisng usus.

R/ : Kembalinya fungsi GI mungkin terlambat oleh inflamasi intraperitoneal, obat-obatan. Adanya bunyi abnormal menunjukkan adanya komplikasi.

2. Amati adanya keluhan nyeri abdomen.

R/ : Mungkin berhubungan adanya distensi gas atau terjadinya komplikasi.

3. Observasi gerakan usus. Amati feses, konsistensi, warna dan jumlah.

R/ : Indikator kembalinya fungsi GI, mengidentifikasi ketepatan intervensi.

4. Anjurkan makanan/cairan yang tidak mengiritasi bila masukan oral diberikan.

R/ : Menurunkan risiko iritasi mukosa.

5. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian pelunak feses, supositoria

gliserin sesuai indikasi.

R/ : Mungkin perlu untuk merangsang peristaltik dengan perlahan/evakuai

feses.

4. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien, status hipermetabolik, secara medik masukan dibatasi ditandai dengan :

- Penurunan BB, penurunan lemak subkutan/massa otot, tonus otot buruk.

- Bunyi usus hiperaktif.

- Konjungtiva dan membran mukosa pucat.

- Menolak untuk makan.

Tujuan :

Klien akan menunjukkan/menampakkan BB stabil atau peningkatan BB sesuai sasaran dan tidak ada tanda-tanda malnutrisi.

Intervensi :

1. Timbang BB setiap hari atau sesuai indikasi.

R/ : Memberikan informasi tentang kebutuhan diet/keefektifan terapi.

2. Dorong tirah baring dan/atau pembatasan aktifitas selama fase sakit akut.


R/ : Menurunkan kebutuhan metabolik untuk mencegah penurunan kalori

dan simpanan energi.

3. Anjurkan istirahat sebelum makan.

R/ : Menenangkan peristaltik dan meningkatkan energi untuk makan.

4. Berikan kebersihan mulut terutama sebelum makan.

R/ : Mulut yang bersih dapat meningkatkan rasa makanan.

5. Ciptakan lingkungan yang nyaman.

R/ : Lingkungan yang nyaman menurunkan stress dan lebih kondusif untuk

makan.

6. Batasi makanan yang dapat menyebabkan kram abdomen, flatus.

R/ : Mencegah serangan akut/eksaserbasi gejala.

7. Dorong klien untuk menyatakan perasaan masalah mulai makanan/diet.

R/ : Keragu-raguan untuk makan mungkin diakibatkan oleh takut makan

akan menyebabkan eksaserbasi gejala.

8. Kolaborasi dengan tim gizi/ahli diet sesuai indikasi, mis : cairan jernih berubah menjadi makanan yang dihancurkan, rendah sisa, protein tinggi, tinggi kalori dan rendah serat.

R/ : Memungkinkan saluran usus untuk mematikan kembali proses pencernaan. Protein perlu untuk penyembuhan integritas jaringan. Rendah serat menurunkan respon peristaltik terhadap makanan.

9. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian :

- Preparat Besi.

R/ : Mencegah/mengobati anemi.

Vitamin B12

R/ : Penggantian mengatasi depresi sumsum tulang karena proses inflamasi lama, Meningkatkan produksi SDM/memperbaiki anemia.

Asam folat.

R/ : Kehilangan folat umum terjadi akibat penurunan masukan/absopsi.

Nutrisi parenteral total, terapi IV sesuai indikasi.

R/ : Program ini mengistirahatkan GI sementara memberikan nutrisi

penting.


5. Nyeri b/d Hiperperistaltik,diare lama, iritasi kulit/jaringan, ekskoriasi fisura perirektal ditandai dengan :

- Laporan nyeri abdomen kolik/kram/nyeri menyebar.

- Perilaku distraksi, gelisah.

- Ekspresi wajah meringis

- Perhatian pada diri sendiri.

Tujuan :

- Klien akan melaporkan nyeri hialng/terkontrol.

- Klien akan menampakkan perilaku rileks dan mampu tidur/istirahat dengan

tepat.

Intervensi :

1. Dorong klien untuk melaporkan nyeri yang dialami.

R/ : Mencoba untuk mentoleransi nyeri daripada meminta analgesik.

2. Observasi laporan kram abdomen atau nyeri, catat lokasi, lamanya, intensitas (skala 0 – 10), selidiki dan laporkan perubahan karakteristik nyeri.

R/ : Nyeri sebelum defakasi sering terjadi dengan tiba-tiba dimana dapat berat dan terus menerus. Perubahan pada karakterisik nyeri dapat menunjukkan penyebaran penyakit/terjadinya komplikasi.

3. Amati adanya petunjuk nonverbal , selidiki perbedaan petunjuk verbal dan nonverbal.

R/ : Bahasa tubuh/petunjuk nonverbal dapat secara psikologis dan fisiologis dapat digunakan pada hubungan petunjuk verbal untuk untuk mengidentifikasi luas/beratnya masalah.

4. Kaji ulang faktor-faktor yang menyebabkan meningkatnya/menghilangnya nyeri.

R/ : Dapat menunjukkan dengan tepat pencetus atau faktor pemberat atau mengidentifikasi terjadinya komplikasi.

5. Berikan tindakan nyaman seperti pijatan punggung, ubah posisi dan aktifitas

senggang.

R/ : Meningkatkan relaksasi, memfokuskan kembali perhatian dan meningkatkan kemampuan koping.

6. Observasi/catat adanya distensi abdomen dan TTV.

R/ : Dapat menunjukkan terjadinya obstruksi usus karena inflamasi, edema dan jaringan parut.

7. Kolaborasi dengan timgizi/ahli diet dalam melakukan modifikasi diet dengan

memberikan cairan dan meningkatkan makanan padat sesuai toleransi.

R/ : Istirahat usus penuh dapat menurunkan nyeri/kram.


8. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian :

- Analgesik

R/ : Nyeri bervariasi dari ringan sampai berat dan perlu penanganan untuk memudahkan istirahat secara adekuat dan prose penyembuhan.

- Antikolinergik

R/ : Menghilangkan spasme saluran GI dan berlanjutnya nyeri kolik.

- Anodin supp.

Merilekskan otot rectal dan menurunkan nyeri spasme.


6. Cemas b/d Faktor psikologi/rangsang simpatis (proses inflamasi), ancaman

konsep diri, ancaman terhadap perubahan/perubahan status kesehatan dan

status sosioekonomi ditandai dengan :

- Eksaserbasi penyakit tahap akut.

- Peningkatan ketegangan, distress, ketakutan.

- Menunjukkan masalah tentang perubahan hidup.

- Perhatian pada diri sendiri.

Tujuan :

- Klien akan menampakkan perilaku rileks dan melaporkan penurunan

kecemasan sampai tingkat mudah ditangani.

- Klien akan menyatakan kesadaran perasaan kecemasan dan cara sehat

menerimanya.

Intervensi :

1. Amati petunjuk perilaku mis : gelisah, peka rangsang, menolak, kurang kontak mata, perilaku menarik perhatian.

R/ : Indikator derajat kecemasan/stress. Hal ini dap terjadi akibat gejala fisik kondisi juga reaksi lain.


2. Dorong klien untuk mengeksplorasi perasaan dan berikan umpan balik.

R/ : Membuat hubungan teraupetik. Membantu klien/orang terdekat dalam mengidentifikasi masalah yang menyebabkan stress. Klien dengan diare berat/konstipasi dapat ragu-ragu untuk meminta bantuan karena takut terhadap staf.

3. Berikan informasi nyata/akurat tentang apa yang dilakukan mis : tirah baring,

pembatasan masukan peroral dan posedur.

R/ : Keterlibatan klien dalam perencanaan perawatan memberikan rasa kontrol dan membantu menurunkan kecemasan.

4. Berikan lingkungan tenang dan istitahat.

R/ : Memindahkan klien dari stress luar meningkatkan relaksasi dan membantu menurunkan kecemasan.

5. Dorong klien/orang terdekat untuk menyatakan perhatian, perilaku perhatian.

R/ : Tindakan dukungan dapat membantu klien merasa stress berkurang, memungkinkan energi dapat ditujukan pada penyembuhan/perbaikan.

6. Bantu klien untuk mengidentifikasi/memerlukan perilaku koping yang

digunakan pada masa lalu.

R/ : Perilaku yang berhasil dapat dikuatkan pada penerimaan masalah/stress saat ini, meningktkan rasa kontrol diri klien.

7. Bantu klien belajar mekanisme koping baru mis : teknik mengatasi stress,

keterampilan organisasi.

R/ : Belajar cara baru untuk mengatasi masalah dapat membantu dalam menurunkan stress dan kecemasan, meningkatkan kontrol penyakit.

8. Kolaborai dengan tim medis dalam pemberian sedatif sesuai indikasi.

R/ : Dapat digunakan untuk menurunkan ansietas dan memudahkan istirahat.


7. Kurang pengetahun (kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognosis dan

kebutuhan pengobatan b/d kesalahaninterpretasi informasi, kurang

mengingat dan tidak mengenal sumber informai ditandai dengan :

- Pertanyaan, meminta informasi, pernyataan salah konsep.

- Tidak akurat mengikuti instruksi.

- Terjadi komplikasi/eksaserbasi yang dapat dicegah.

Tujuan :

- Klien akan menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan pengobatan.

- Klien akan dapat mengidentifikasi situasi stress dan tindakan khusus untuk

menerimanya.

- Klien akan berpartisipai dalam program pengobatan.

- Klien akan melakukan perubahan pola hidup tertentu.

Intervensi :

1. Kaji persepsi klien tentang proses penyakit.

R/ : Membuat pengetahuan dasar dan memberikan kesadran kebutuhan belajar individu.

2. Jelaskan tentan proses penyakit, penyebab/efek hubungan faktor yang

menimbulkan gejala dan mengidentifikasi cara menurunkan faktor penyebab.

Dorong klien untuk mengajukan pertanyaan.

R/ : Pengetahuan dasar yang akurat memberikan klien kesempatan untuk membuat keputusan informasi/pilihan tentang masa depan dan kontrol penyakit kronis. Meskipun kebanyakan klien tahu tentang proses penyakitnya sendiri, merek dapat mengalami informai yang tertinggal atau salah konsep.

3. Jelaskan tentang obat yang diberikan, tujuan, frekuensi, dosis dan

kemungkinan efek samping.

R/ : Meningkatkan pemahaman dan dapat meningkatkan kerjasama dalam program.

4. Tekankan pentingnya perawatan kulit mis : teknik cuci tangan dengan baik

dan perawatan perineal yang baik.

R/ : Menurunkan penyebran bakteri dan risiko iritasi kulit/kerusakan, infeksi.

5. Anjurkan menghentikan merokok.

R/ : Dapat meningkatkan motalitas usus, meningkatkan gejala.

C. Implementasi (Pelaksanaan dari Intervensi)

D. E v a l u a s i

Asuhan keperawatan pada klien dengan masalah utama demam tifoid dikatakan berhasil/efektif jika :

1. Klien mampu mengontrol diare/konstipasi melalui fungsi usus optimal/stabil.

2. Komplikasi minimal/dapat dicegah.

3. Stres mental/emosi minimal/dapat dicegah dengan menerima kondisi dengan positif.

4. Klien mampu mengetahui/memahami/menyebutkan informasi tentang proses penyakit, kebutuhan pengobatan dan aspek jangka panjang/potensial komplikasi

berulangnya penyakit.

Baca Selengkapnya - DEMAM TIFOID

Partus Prematurus

Pengertian

Pada haid yang teratur, persalinan preterm dapat di definisikan sebagai persalinan yang terjadi antara usia kehamilan 20-37 minggu dihitung dari hari pertama haid teraskhir (ACOG,1997). Menurut Wibowo (1997) yang mengutip pendapat Herron,dkk , persalinan prematur adalah kontraksi uterus yang teratur setelah kehamilan 20 minggu dan sebelum 37 minggu , dengan interval kontraksi 5 hingga 8 menit atau kurang dan disertai dengan satu atau lebih tanda berikut : (1) perubahan serviks yang progresif, (2) dilatasi serviks 2 sentimeter atau lebih, (3) penipisan serviks 80 persen atau lebih.

Firmansyah (2006) mengatakan partus prematur adalah kelahiran bayi pada saat masa kehamilan kurang dari 259 hari dihitung dari hari terakhir haid ibu. Menurut Mochtar (1998) partus prematurus yaitu persalinan pada kehamilan 28 sampai 37 minggu, berat badan lahir 1000 sampai 2500 gram. Partus prematurus adalah persalinan pada umur kehamilan kurang dari 37 minggu atau berat badan lahir antara 500 sampai 2499 gram (Sastrawinata, 2003). Sedangkan menurut Manuaba (1998) partus prematurus adalah persalinan yang terjadi di bawah umur kehamilan 37 minggu dengan perkiraan berat janin kurang dari 2.500 gram.

Jadi dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa Partus Prematurus adalah persalinan yang terjadi pada saat usia kehamilan ibu 20 sampai 37 minggu dengan berat badan bayi kurang dari 2500 gram.

2. Etiologi

Pada kebanyakan kasus, penyebab pasti persalinan preterm tidak diketahui. Namun menurut Rompas (2004) ada beberapa resiko yang dapat menyebabkan partus prematurus yaitu :

a. Faktor resiko mayor

Kehamilan multiple, hidramnion, anomali uterus, serviks terbuka lebih dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu, serviks mendatar/memendek kurang dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu, riwayat abortus pada trimester II lebih dari 1 kali, riwayat persalinan pretem sebelumnya, operasi abdominal pada kehamilan preterm, riwayat operasi konisasi, dan iritabilitas uterus.

b. Faktor resiko minor

Penyakit yang disertai demam, perdarahan pervaginam setelah kehamilan 12 minggu, riwayat pielonefritis, merokok lebih dari 10 batang perhari, riwayat abortus pada trimester II, riwayat abortus pada trimester I lebih dari 2 kali.

Menurut Manuaba (1998), faktor predisposisi partus prematurus adalah sebagai berikut:

1.
1. Faktor ibu

Gizi saat hamil kurang, umur kurang dari 20 tahun atau diatas 35 tahun, jarak hamil dan bersalin terlalu dekat, penyakit menahun ibu seperti; hipertensi, jantung, ganguan pembuluh darah (perokok), faktor pekerjaan yang terlalu berat.

1.
1. Faktor kehamilan

Hamil dengan hidramnion, hamil ganda, perdarahan antepartum, komplikasi hamil seperti pre eklampsi dan eklampsi, ketuban pecah dini.

1.
1. Faktor janin

Cacat bawaan, infeksi dalam rahim.

3. Penilaian klinik

Menurut Saifuddin (2001), kriteria persalinan prematur antara lain kontraksi yang teratur dengan jarak 7-8 menit atau kurang dan adanya pengeluaraan lendir kemerahan atau cairan pervaginam dan diikuti salah satu berikut ini :

a. Pada periksa dalam, pendataran 50-80 persen atau lebih, pembukaan 2 cm atau lebih.

b. Mengukur panjang serviks dengan vaginal probe USG: panjang servik kurang dari 2 cm pasti akan terjadi persalinan prematur, tujuan utama adalah bagaimana mengetahui dan menghalangi terjadinya persalinan prematur, cara edukasi pasien bahkan dengan monitoring kegiatan di rumah tampaknya tidak memberi perubahan dalam insidensi kelahiran prematur.

Menurut Mansjoer (2000) manifestasi klinik persalinan pretem adalah:

a. Kontraksi uterus yang teratur sedikitnya 3 sampai 5 menit sekali selama 45 detik dalam waktu minimal 2 jam .

b. Pada fase aktif , intensitas dan frekuensi kontraksi meningkat saat pasien melakukan aktivitas.

c. Tanya dan cari gejala yang termasuk faktor risiko mayor dan minor

d. Usia kehamilan antara 20 samapi 37 minggu

e. Taksiran berat janin sesuai dengan usia kehamilan antara 20 sampai 37 minggu.

f. Presentasi janin abnormal lebih sering ditemukan pada persalinan preterm.

4. Pencegahan

a. Melakukan pengawasan hamil dengan seksama dan teratur

b. Melakukan konsultasi terhadap penyakit yang dapat menyebabkan kehamilan dan persalinan preterm.

c. Memberikan nasehat tentang gizi saat kehamilan, meningkatkan pengertian KB-interval, memperhatikan tentang berbagai kelainan yang timbul dan sgera melakukan konsultasi, menganjurkan untuk pemeriksaan tambahan sehingga secara dini penyakit ibu dapat diketahui dan diawasi / diobati.

d. Meningkatakan keadaan sosial – ekonomi keluarga dan kesehatan lingkungan (Manuaba, 1998).

Partus prematurus menurut Mochtar (1998) dapat dicegah dengan mengambil langkah-langkah berikut ini :

a. Jangan kawin terlalu muda dan jangan pula terlalu tua (idealnya 20 sampai 30 tahun).

b. Perbaiki keadaan sosial ekonomi

c. Cegah infeksi saluran kencing

d. Berikan makana ibu yang baik, cukup lemak , dan protein

e. Cuti hamil

f. Prenatal care yang baik dan teratur

g. Pakailah kontrasepsi untuk menjarangkan anak

5. Penanganan Umum

Prinsip penanganan Persalinan preterm lakukan evakuasi keadaan umum ibu , upayakan melakukan konfirmasi umur kehamilan bayi.Adapun hal yang perlu diketahui dalam penanganan umum persalinan preterm adalah :

a. Umur kehamilan, karena lebih bisa dipercaya untuk penentuan prognosis daripada berat janin.

b. Demam atau tidak

c. Kondisi janin (jumlahnya, letak / presentasi, taksiran berat janin, hidup/gawat janin/mati, kelainan kongenital dan sebagainya dengan USG)

d. Letak plasenta perlu diketahui untuk mengantisipasi irisan sectio cesarea

e. Fasilitas dari petugas yang mampu menangani calon bayi terutama adanya seorang neonatologis, bila perlu dirujuk (Saifuddin, 2002).

Kontraindikasi penundaan persalinan yaitu:

a. Mutlak ; Gawat janin, korioamnionitis, perdarahan antepartum yang banyak

b. Relatif ; diabetes mellitus (beta-mimetik), pertumbuhan janin terhambat, pembukaan serviks lebih dari 4 cm (Rompas, 2004).

6. Penanganan di RS

Kemungkinan obat-obat tokolitik hanya berhasil sebentar tapi penting untuk dipakai memberikan kortikosteroid sebagi induksi maturasi paru bila usia gestosis kurang dari 34 minggu. Ibu masuk rumah sakit (rawat inap), lakukan evaluasi terhadap his dan pembukaan dan tindakan sebagai berikut:

a. Berikan kortikosteroid untuk memperbaiki kematangan paru janin

b. Berikan 2 dosis betamethason 12 mg IM selang 12 jam (atau berikan 4 dosis deksamethason 5 mg IM selang 6 jam)

c. Steroid tidak boleh diberikan bila ada infeksi yang jelas.

Pemberian obat-obatan tokolitik(salbutamol,MgSo4,Nifedipin, Nitrat) tidak lebih dari 48 jam.Monitor keadaan janin dan ibu (nadi, tekanan darah, tanda distres nafas, kontraksi uterus, pengeluaran cairan ketuban atau darah pervaginam, DJJ, balance cairan , gula darah) (Saifuddin, 2002).

7. Cara persalinan

Lakukan persalinan pervaginam bila janin presentasi kepala atau dilakukan episiotomi lebar dan lakukan perlindungan forceps terutama pada kehamilan 35 minggu. Lakukan persalinan dengan seksio sesarea bila janin letak sunggsang , gawat janin dengan syarat partus pervaginam tidak terpenuhi , janin letak lintang, placenta previa dan taksiran berat janin 1.500 gram (Mansjoer, 2002).

Pimpinan partus prematurus bertujuan untuk menghindari trauma bagi anak yang masih lemah :

a. Partus tidak boleh berlangsung terlalu lama tapi sebaliknya jangan pula terlalu cepat

b. Jangan memecah ketuban sebelum pembukaan lengkap

c. Buatlah episiotomi medialis

d. Kalau persalinan perlu diselesaikan, pilihlah forceps diatas ekstraksi vakum

e. Jangan menggunakan narcose

f. Tali pusat secepat mungkin digunting untuk menghindarkan ikterus neonatorum yang berat (Sastrawinata , 1984).

8. Prognosis

Pada pusat pelayanan yang maju dengan fasilitas yang optimal, bayi yang lahir dengan berat 2.000 sampai 2.500 gram mempunyai harapan hidup lebih dari 97 persen. 1500 sampai 2.000 gram lebih dari 90 persen dan 1.000 sampai 1.500 gram sebesar 65-80 persen (Mansjoer, 2002).

Prematurnya masa gestasi akan dapat mengakibatkan ketidakmatangan pada semua sistem organ. Baik itu pada sistem pernapasan (organ paru-paru), sistem peredaran darah (jantung), sistem pencernaan dan sistem saraf pusat (otak). Ketidakmatangan pada sistem-sistem organ itulah yang membuat bayi prematur cenderung mengalami kelainan dibandingkan bayi normal. Kelainan itu bisa berupa :

a. Sindroma gangguan pernapasan.

Kelainan ini terjadi karena kurang matangnya paru-paru, sehingga jumlah surfaktan (cairan pelapis paru-paru) kurang dari normal. Ini menyebabkan paru-paru tidak dapat berkembang sempurna.

b. Perdarahan otak

Biasanya terjadi pada minggu pertama kelahiran, terutama pada bayi prematur yang lahir kurang dari 34 minggu. Pendarahan otak ini menyebabkan bayi prematur tumbuh menjadi anak yang relatif kurang cerdas, dibanding anak yang lahir normal.

c. Kelainan jantung

Yang sering terjadi adalah Patent Ductus Arteriosus, yaitu adanya hubungan antara aorta dengan pembuluh darah jantung yang menuju paru-paru.

d. Kelainan usus

Ini disebabkan akibat imaturitas atau kurang mampu dalam menerima nutrisi.

e. Anemia dan infeksi

Belum matangnya fungsi semua organ tubuh, membuat bayi prematur menghadapi berbagai masalah. Seperti mudah dingin, lupa napas, mudah infeksi karena sensor otaknya belum sempurna, pengosongan lambung terhambat (refluks), kuning dan kebutaan (Rinawati, 2007).
Baca Selengkapnya - Partus Prematurus

Ketuban Pecah Dini

Ketuban pecah dini (”early rupture of the membrane”) : ada bermacam-macam batasan / teori / definisi.

Ada teori yang menghitung berapa jam sebelum in partu, misalnya 2 atau 4 atau 6 jam sebelum in partu.
Ada juga yang menyatakan dalam ukuran pembukaan serviks pada kala I, misalnya ketuban yang pecah sebelum pembukaan serviks 3 cm atau 5 cm, dan sebagainya.

Prinsipnya adalah ketuban yang pecah “sebelum waktunya”.

Masalahnya : Kapan selaput ketuban pecah (spontan) pada persalinan normal ?

Normal selaput ketuban pecah pada akhir kala I atau awal kala II persalinan. Bisa juga belum pecah sampai saat mengedan, sehingga kadang perlu dipecahkan (amniotomi).

KETUBAN PECAH DINI BERHUBUNGAN ERAT DENGAN
PERSALINAN PRETERM DAN INFEKSI INTRAPARTUM

Patofisiologi

Banyak teori, mulai dari defek kromosom, kelainan kolagen, sampai infeksi.
Pada sebagian besar kasus ternyata berhubungan dengan infeksi (sampai 65%).
High virulence : bacteroides. Low virulence : lactobacillus.

Kolagen terdapat pada lapisan kompakta amnion, fibroblas, jaringan retikuler korion dan trofoblas.
Sintesis maupun degradasi jaringan kolagen dikontrol oleh sistem aktifitas dan inhibisi interleukin-1 (IL-1) dan prostaglandin.
Jika ada infeksi dan inflamasi, terjadi peningkatan aktifitas IL-1 dan prostaglandin, menghasilkan kolagenase jaringan, sehingga terjadi depolimerisasi kolagen pada selaput korion / amnion, menyebabkan selaput ketuban tipis, lemah dan mudah pecah spontan.

Faktor risiko / predisposisi ketuban pecah dini / persalinan preterm

1. kehamilan multipel : kembar dua (50%), kembar tiga (90%)
2. riwayat persalinan preterm sebelumnya : risiko 2 – 4x
3. tindakan sanggama : TIDAK berpengaruh kepada risiko, KECUALI jika higiene buruk, predisposisi terhadap infeksi
4. perdarahan pervaginam : trimester pertama (risiko 2x), trimester kedua/ketiga (20x)
5. bakteriuria : risiko 2x (prevalensi 7%)
6. pH vagina di atas 4.5 : risiko 32% (vs. 16%)
7. servix tipis / kurang dari 39 mm : risiko 25% (vs. 7%)
8. flora vagina abnormal : risiko 2-3x
9. fibronectin > 50 ng/ml : risiko 83% (vs. 19%)
10. kadar CRH (corticotropin releasing hormone) maternal tinggi misalnya pada stress psikologis, dsb, dapat menjadi stimulasi persalinan preterm

Strategi pada perawatan antenatal

- deteksi faktor risiko
- deteksi infeksi secara dini
- USG : biometri dan funelisasi
Trimester pertama : deteksi faktor risiko, aktifitas seksual, pH vagina, USG, pemeriksaan Gram, darah rutin, urine.
Trimester kedua dan ketiga : hati-hati bila ada keluhan nyeri abdomen, punggung, kram di daerah pelvis seperti sedang haid, perdarahan per vaginam, lendir merah muda, discharge vagina, poliuria, diare, rasa menekan di pelvis.

Jika ketuban pecah : jangan sering periksa dalam !! Awasi tanda-tanda komplikasi.

Komplikasi ketuban pecah dini

1. infeksi intra partum (korioamnionitis) ascendens dari vagina ke intrauterin.
2. persalinan preterm, jika terjadi pada usia kehamilan preterm.
3. prolaps tali pusat, bisa sampai gawat janin dan kematian janin akibat hipoksia (sering terjadi pada presentasi bokong atau letak lintang).
4. oligohidramnion, bahkan sering partus kering (dry labor) karena air ketuban habis.

Keadaan / faktor-faktor yang dihubungkan dengan partus preterm

1. iatrogenik : hygiene kurang (terutama), tindakan traumatik
2. maternal : penyakit sistemik, patologi organ reproduksi atau pelvis, pre-eklampsia, trauma, konsumsi alkohol atau obat2 terlarang, infeksi intraamnion subklinik, korioamnionitis klinik, inkompetensia serviks, servisitis/vaginitis akut, KETUBAN PECAH pada usia kehamilan preterm.
3. fetal : malformasi janin, kehamilan multipel, hidrops fetalis, pertumbuhan janin terhambat, gawat janin, kematian janin.
4. cairan amnion : oligohidramnion dengan selaput ketuban utuh, ketuban pecah pada preterm, infeksi intraamnion, korioamnionitis klinik.
5. placenta : solutio placenta, placenta praevia (kehamilan 35 minggu atau lebih), sinus maginalis, chorioangioma, vasa praevia.
6. uterus : malformasi uterus, overdistensi akut, mioma besar, desiduositis, aktifitas uterus idiopatik.

Persalinan preterm (partus prematurus) : persalinan yang terjadi pada usia kehamilan antara 20-37 minggu.
Tanda : kontraksi dengan interval kurang dari 5-8’, disertai dengan perubahan serviks progresif, dilatasi serviks nyata 2 cm atau lebih, serta penipisan serviks berlanjut sampai lebih dari 80%.
Insidens rata-rata di rumahsakit2 besar di Indonesia : 13.3% (10-15%)

(persalinan preterm – ada kuliahnya sendiri)

INFEKSI INTRAPARTUM

Infeksi intrapartum adalah infeksi yang terjadi dalam masa persalinan / in partu.

Disebut juga korioamnionitis, karena infeksi ini melibatkan selaput jani
Baca Selengkapnya - Ketuban Pecah Dini

Menyiapkan Kelahiran

Menyiapkan Kelahiran

Tujuan menyiapkan kelahiran :

- Menyiapkan ruangan untuk persalinan dan kkelahiran bayi.

- Menyiapkan semua perlengkapan, bahan-bahaan dan obat-obatan esensial.

- Menyiapkan rujukan.

- Memberikan asuhan sayang ibu selama persaalinan.

- Melakukan upaya pencegahan infeksi yang ddirekomendasikan

Menyiapkan Ruangan untuk Persalinan dan Kelahiran Bayi

________________________________________________________

Hal-hal pokok yang perlu diperhatikan :

- Ruangan yang hangat dan bersih, memiliki sirkulasi udara yang baik dan

terlindung dari tiupan angin.

- Sumber air bersih yang mengalir untuk cucci tangan dan mandi ibu sebelum dan

sesudah melahirkan.

- Air disinfeksi tingkat tinggi (air yang ddididihkan dan didinginkan) untuk

membersihkan vulva dan perineum sebelum periksa dalam selama persalinan

dan membersihkan perineum ibu setelah bayi lahir.

- Air bersih dalam jumlah yang cukup, kloriin, deterjen, kain pembersih, kain pel dan

sarung tangan karet untuk membersihkan ruangan, lantai, perabotan,

dekontaminasi dan proses peralatan.

- Kamar mandi yang bersih untuk kebersihan pribadi ibu dan penolong persalinan.

Pastikan bahwa kamar kecil dan kamar mandi telah didekontaminasi dengan

larutan klorin 0,5%, dibersihkan dengan deterjen dan air sebelum persalinan

dimulai (untuk melindungi ibu dari dari resiko infeksi) dan setelah bayi lahir

(melindungi keluarga terhadap resiko infeksi dari darah dan sekret tubuh ibu).

- Tempat yang lapang untuk ibu berjalan-jallan selama persalinan, melahirkan bayi

dan memberikan asuhan bagi ibu dan bayinya setelah persalinan. Pastikan bahwa

ibu mendapatkan privasi.

- Penerangan yang cukup, baik siang maupun malam.

- Tempat tidur yang bersih untuk ibu. Tutuppi kasur dengan plastik atau lembaran

yang mudah dibersihkan jika terkontaminasi selama persalinan atau kelahiran

bayi.

- Tempat yang bersih untuk memberikan asuhaan bayi baru lahir.

- Meja yang bersih atau tempat tertentu unttuk menaruh peralatan persalinan.

Menyiapkan Perlengkapan, Bahan-Bahan dan Obat-Obatan Esensial

_______________________________________________________________

Pada setiap persalinan dan kelahiran bayi :

- Periksa semua peralatan sebelum dan setellah memberikan asuhan. Ganti

peralatan yang rusak atau hilang dengan segera.

- Periksa semua obat-obatan dan bahan-bahann sebelum dan sesudah menolong

ibu bersalin dan melahirkan. Segera ganti obat apapun yang telah digunakan

atau hilang.

- Pastikan bahwa perlengkapan dan bahan-bahhan sudah bersih dan siap pakai.

Partus set, set jahit dan peralatan resusitasi bayi baru lahir sudah dalam kondisi

disinfeksi tingkat tinggi atau steril.

Menyiapkan Rujukan

____________________

Kaji ulang rencana rujukan bersama ibu dan keluarganya. Jika terjadi penyulit, keterlambatan untuk merujuk ke fasilitas kesehatan yang sesuai dapat membahayakan jiwa ibu dan/atau bayinya. Jika perlu dirujuk, siapkan dan sertakan dokumentasi tertulis semua asuhan dan perawatan dan hasil penilaian (termasuk partograf) yang telah dilakukan untuk dibawa ke fasilitas rujukan.

Jika ibu datang untuk asuhan persalinan dan kelahiran bayi dan ia tidak siap dengan rencana rujukan, lakukan konseling terhadap ibu dan keluarganya tentang keperluan rencana rujukan. Bantu mereka membuat rencana rujukan pada saat awal persalinan.

Memberikan Asuhan Sayang Ibu selama Persalinan

________________________________________________

Prinsip-prinsip umum asuhan sayang ibu :

- Sapa ibu dengan ramah dan sopan, bersikapp dan bertindak dengan tenang dan

berikan dukungan penuh selama persalinan dan kelahiran bayi.

- Jawab setiap pertanyaan yang diajukan oleeh ibu atau anggota keluarganya.

- Anjurkan suami dan anggota keluarga ibu uuntuk hadir dan memberikan

dukungannya.

- Waspadai tanda-tanda penyulit selama perssalinan dan lakukan tindakan yang

sesuai jika diperlukan.

- Siap dengan rencana rujukan.

Asuhan sayang ibu selama persalinan termasuk :

- Memberikan dukungan emosional.

- Membantu pengaturan posisi.

- Memberikan cairan dan nutrisi.

- Keleluasaan untuk ke kamar mandi secara tteratur.

- Pencegahan infeksi.

Dukungan Emosional

————————

Bekerjasama dengan anggota keluarga untuk :

- Mengucapkan kata-kata yang membesarkan haati.

- Membantu ibu bernapas pada saat kontraksii.

- Memijat punggung, kaki atau kepala ibu daan tindakan-tindakan bermanfaat

lainnya.

- Menyeka muka ibu dengan lembut, menggunakkan kain yang dibasahi air hangat

atau dingin.

- Menciptakan suasana kekeluargaan dan rasaa aman.

Mengatur Posisi

——————

Anjurkan ibu untuk mencoba posisi-posisi yang nyaman selama persalinan dan kelahiran. Anjurkan pula suami dan pendamping lainnya untuk membantu ibu berganti posisi. Ibu boleh berjalan, berdiri, duduk, jongkok, berbaring miring atau merangkak. Posisi tegak seperti berjalan, berdiri atau jongkok dapat membantu turunnya kepala bayi dan seringkali mempersingkat waktu persalinan. Bantu ibu untuk sering berganti posisi selama persalinan. Jangan membuat ibu dalam posisi terlentang, beritahukan agar ia tidak mengambil posisi tersebut.

Alasan : Jika ibu berbaring terlentang, berat uterus dan isinya (janin, cairan ketuban, plasenta, dll) akan menekan vena kava inferior. Hal ini menyebabkan turunnya aliran darah dari sirkulasi ibu ke plasenta. Kondisi seperti ini akan menyebabkan hipoksia / kekurangan oksigen pada janin. Posisi terlentang juga akan memperlambat kemajuan persalinan (Enkin, et. al, 2000).

Pemberian Cairan & Nutrisi

—————————–

Anjurkan ibu untuk mendapat asupan (makanan ringan dan minun air) selama persalinan dan kelahiran bayi. Sebagian ibu masih ingin makan selama fase laten persalinan tetapi setelah memasuki fase aktif mereka hanya menginginkan cairan saja. Anjurkan anggota keluarga menawarkan ibu minum sesering mungkin dan makanan ringan selama persalinan.

Alasan : Makanan ringan dan cairan yang cukup selama persalinan akan memberikan lebih banyak energi dan mencegah dehidrasi. Dehidrasi bisa memperlambat kontraksi dan/atau membuat kontraksi menjadi tidak teratur dan kurang efektif.

Kamar Mandi

————–

Anjurkan ibu untuk mengosongkan kandung kemihnya secara rutin selama persalinan. Ibu harus berkemih paling sedikit setiap 2 jam atau lebih sering jika terasa ingin berkemih atau jika kandung kemih dirasakan penuh. Periksa kandung kemih pada saat akan memeriksa denyut jantung janin (lihat/palpasi tepat di atas simfisi pubis untuk mengetahui apakah kandung kemih penuh). Anjurkan dan antarkan ibu untuk berkemih di kamar mandi. Jika ibu tidak dapat berjalan ke kamar mandi, berikan wadah penampung urin.

Alasan : Kandung kemih yang penuh akan :

- Memperlambat turunnya bagian terbawah jannin dan mungkin menyebabkan partus macet.

- Menyebabkan ibu tidak nyaman

- Meningkatkan resiko perdarahan pasca perssalinan yang disebabkan atonia uteri.

- Mengganggu penatalaksanaan distosia bahu..

- Meningkatkan resiko infeksi saluran kemihh pasca persalinan.

Selama persalinan berlangsung, tidak dianjurkan untuk melakukan kateterisasi kandung kemih secara rutin.

Kateterisasi kandung kemih hanya dilakukan jika kandung kemih penuh dan ibu tidak dapat berkemih sendiri.

Alasan : Kateterisasi menimbulkan rasa sakit, meningkatkan resiko infeksi dan perlukaan saluran kemih ibu.

Anjurkan ibu untuk buang air besar jika perlu jika ibu merasa ingin buang air besar saat persalinan aktif, lakukan periksa dalam untuk memastikan bahwa apa yang dirasakan ibu bukan disebabkan oleh tekanan kepala bayi pada rektum. Jika ibu belum siap melahirkan, perbolehkan ibu untuk ke kamar mandi.

Jangan melakukan klisma secara rutin selama persalinan. Klisma tidak akan memperpendek waktu persalinan, menurunkan angka infeksi bayi baru lahir atau infeksi luka pasca persalinan, malahan akan meningkatkan jumlah tinja yang keluar selama kala dua persalinan (Enkin, et al, 2000)

Pencegahan Infeksi

———————

Anjurkan ibu untuk mandi pada awaal persalinan dan pastikan bahwa ibu memakai pakaian yang bersih. Mencuci tangan sesering mungkin, menggunakan peralatan steril atau disinfeksi tingkat tinggi dan sarung tangan pada saat diperlukan. Anjurkan anggota keluarga untuk mencuci tangan mereka sebelum dan setelah melakukan kontak dengan ibu dan/atau bayi baru lahir.

Alasan : Pencegahan infeksi sangat penting dalam menurunkan kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir. Upaya dan keterampilan dalam melaksanakan prosedur pencegahan infeksi yang baik, akan melindungi penolong persalinan terhadap resiko infeksi.
Baca Selengkapnya - Menyiapkan Kelahiran

Kardiotokografi dalam Persalinan

Kardiotokografi Persalinan

Kardiotokografi. Adalah suatu metoda elektronik untuk memantau kesejahteraan janin dalam kehamilan dan atau dalam persalinan.

Pemeriksaan KTG biasanya dilakukan pada kehamilan resiko tinggi, dan indikasinya terdiri dari :

1. IBU

a. Pre-eklampsia-eklampsia

b. Ketuban pecah

c. Diabetes melitus

d. Kehamilan ³ 40 minggu

e. Vitium cordis

f. Asthma bronkhiale

g. Inkompatibilitas Rhesus atau ABO

h. Infeksi TORCH

i. Bekas SC

j. Induksi atau akselerasi persalinan

k. Persalinan preterm

l. Hipotensi

m. Perdarahan antepartum

n. Ibu perokok

o. Ibu berusia lanjut

p. Lain-lain : sickle cell, penyakit kolagen, anemia, penyakit ginjal, penyakit paru, penyakit jantung, dan penyakit tiroid.

2. JANIN

a. Pertumbuhan janin terhambat (PJT)

b. Gerakan janin berkurang

c. Suspek lilitan tali pusat

d. Aritmia, bradikardi, atau takikardi janin

e. Hidrops fetalis

f. Kelainan presentasi, termasuk pasca versi luar.

g. Mekoneum dalam cairan ketuban

h. Riwayat lahir mati

i. Kehamilan ganda

j. Dan lain-lain

SYARAT PEMERIKSAAN KTG

1. Usia kehamilan ³ 28 minggu.

2. Ada persetujuan tindak medik dari pasien (secara lisan).

3. Punktum maksimum denyut jantung janin (DJJ) diketahui.

4. Prosedur pemasangan alat dan pengisian data pada komputer (pada KTG terkomputerisasi) sesuai buku petunjuk dari pabrik.

INDIKASI KONTRA KTG

Sampai saat ini belum ditemukan kontra-indikasi pemeriksaan KTG terhadap ibu maupun janin.


PERSIAPAN PASIEN1

a. Persetujuan tindak medik (Informed Consent) : menjelaskan indikasi, cara pemeriksaan dan kemungkinan hasil yang akan didapat. Persetujuan tindak medik ini dilakukan oleh dokter penanggung jawab pasien (cukup persetujuan lisan).

b. Kosongkan kandung kencing.

c. Periksa kesadaran dan tanda vital ibu.

d. Ibu tidur terlentang, bila ada tanda-tanda insufisiensi utero-plasenter atau gawat janin, ibu tidur miring ke kiri dan diberi oksigen 4 liter / menit.

e. Lakukan pemeriksaan Leopold untuk menentukan letak, presentasi dan punktum maksimum DJJ

f. Hitung DJJ selama satu menit; bila ada his, dihitung sebelum dan segera setelah kontraksi berakhir..

g. Pasang transduser untuk tokometri di daerah fundus uteri dan DJJ di daerah punktum maksimum.

h. Setelah transduser terpasang baik, beri tahu ibu bila janin terasa bergerak, pencet bel yang telah disediakan dan hitung berapa gerakan bayi yang dirasakan oleh ibu selama perekaman KTG.

i. Hidupkan komputer dan Kardiotokograf.

j. Lama perekaman adalah 30 menit (tergantung keadaan janin dan hasil yang ingin dicapai).

k. Lakukan pencetakkan hasil rekaman KTG.

l. Lakukan dokumentasi data pada disket komputer (data untuk rumah sakit).

m. Matikan komputer dan mesin kardiotokograf. Bersihkan dan rapikan kembali alat pada tempatnya.

n. Beri tahu pada pasien bahwa pemeriksaan telah selesai.

o. Berikan hasil rekaman KTG kepada dokter penanggung jawab atau paramedik membantu membacakan hasi interpretasi komputer secara lengkap kepada dokter. PARAMEDIK (BIDAN) DILARANG MEMBERIKAN INTERPRETASI HASIL CTG KEPADA PASIEN
Baca Selengkapnya - Kardiotokografi dalam Persalinan

Kala Satu Persalinan

Kala I Persalinan

Persalinan adalah proses alamiah dimana terjadi dilatasi serviks, lahirnya bayi dan plasenta dari rahim ibu. Artikel ini akan memberikan gambaran mengenai kala satu persalinan dan asuhan bagi ibu selama waktu tersebut dan juga mendefenisikan proses fisiologis persalinan normal. Juga dijelaskan bagaimana cara memberikan asuhan sayang ibu selama persalinan, melakukan anamnesis dan melakukan pemeriksaan fisik pada ibu dalam persalinan. Selain itu, dikaji pula tentang deteksi dini dan penatalaksanaan awal berbagai masalah dan penyulit, kapan dan bagaimana cara merujuk ibu.

Juga akan dijelaskan tentang penggunaan partograf. Partograf adalah alat bantu untuk membuat keputusan klinik, memantau, mengevaluasi dan menatalaksana persalinan dan kewajiban untuk menggunakannya secara rutin pada setiap persalinan. Partograf dapat digunakan untuk deteksi dini masalah dan penyulit untuk sesegera mungkin menatalaksana masalah tersebut atau merujuk ibu dalam kondisi optimal. Partograf tidak digunakan selama fase laten persalinan, instrumen ini merupakan salah satu komponen dari pemantauan dan penatalaksanaan proses persalinan secara lengkap. Pada prinsipnya, setiap penolong persalinan diwajibkan untuk memantau dan mendokumentasikan secara seksama kesehatan dan kenyamanan ibu dan janin dari awal hingga akhir persalinan.

Tujuan

——-

Penolong persalinan akan dapat :

1. Menjelaskan batasan persalinan

2. Menjelaskan batasan kala satu persalinan

3. Membedakan apakah ibu sudah inpartu atau belum

4. Memahami langkah-langkah esensial untuk melakukan anamnesis rutin dan

pemeriksaan fisik pada ibu yang sudah inpartu.

5. Mengidentifikasi kapan ibu berada dalam fase aktif persalinan.

6. Memberikan asuhan sayang ibu selama kala satu persalinan.

7. Penggunaan partograf secara rutin dan tepat untuk mendokumentasikan dan

memantau kemajuan persalinan serta kesehatan dan kenyamanan ibu dan bayi,

penuntun untuk membuat keputusan klinik dan deteksi dini masalah dan

penyulit.

8. Mengambil tindakan secara tepat sasaran dan waktu. Jika terjadi penyulit dan

perlu dirujuk, dapat dilakukan dengan sesegera mungkin.

Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta, dan selaput ketuban keluar dari rahim ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai adanya penyulit.

Persalinan dimulai (inpartu) pada saat uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap. Ibu belum inpartu jika kontraksi uterus tidak mengakibatkan perubahan pada serviks.

Tanda dan gejala inpartu termasuk :

1. Penipisan dan pembukaan serviks.

2. Kontraksi uterus yang mengakibatkan perubahan pada serviks (frekuensi

minimal 2 kali dalam 10 menit).

3. Keluarnya lendir bercampur darah melalui vagina.

Fase-fase Kala Satu

Kala satu persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan pembukaan serviks hingga mencapai pembukaan lengkap (10 cm). Persalinan kala satu dibagi menjadi 2 fase, yaitu fase laten dan fase aktif.

Fase laten persalinan

- Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebaabkan penipisan dan pembukaan

serviks secara bertahap.

- Pembukaan serviks kurang dari 4 cm.

- Biasanya berlangsung dibawah hingga 8 jamm.

Fase aktif persalinan

- Frekuensi dan lama kontraksi uterus umumnnya meningkat (kontraksi dianggap

adekuat / memadai jika terjadi 3 kali atau lebih dalam waktu 10 menit dan

berlangsung selama 40 detik atau lebih).

- Serviks membuka dari 4-10 cm, biasanya deengan kecepatan 1 cm atau lebih per

jam hingga pembukaan lengkap (10 cm).

- Terjadi penurunan bagian terbawah janin.
Baca Selengkapnya - Kala Satu Persalinan

Kamar Ibu Bersalin dan Rawat Gabung

Keberhasilan kehamilan, persalinan, menyusui dan nifas dipengaruhi oleh berbagai faktor :
- fisik (gizi, aktifitas, dsb)
- penyakit tertentu (infeksi, penyakit endokrin / metabolik, dsb)
- lingkungan sosial (sikap dan tingkah laku masyarakat, dsb)
- ekonomi (promosi susu formula yang berlebihan, dsb)
- politik (kebijakan pemerintah, dsb)
- emosional (sikap ibu terhadap kehamilan, persalinan dan menyusui).
Rumah sakit merupakan sebuah lembaga di mana orang sakit (termasuk ibu hamil) membutuhkan perawatan baik fisik maupun emosional untuk kembali sehat seperti semula. Pemeriksaan antenatal selama kehamilan tentu dapat dilakukan di klinik / ruang periksa. Namun kamar bersalin dan kamar perawatan ibu dan anak memerlukan perhatian / pemahaman khusus para penyelenggara pelayanan kesehatan, supaya dapat memberikan pelayanan yang baik dan optimal sesuai kebutuhan ibu dan bayinya.

KAMAR BERSALIN

Sesuai program pemerintah, peningkatan kualitas manusia Indonesia seutuhnya dapat dicapai antara lain dengan peningkatan penggunaan ASI, maka posisi rumah sakit dengan kamar bersalinnya menjadi sangat vital, karena di sinilah pertama kali ibu mengadakan kontak dengan bayinya sesaat setelah dilahirkan. Kalau selama dalam kandungan semua kebutuhan nutrisi janin didapatkan melalui tali pusat, maka di kamar bersalin bayi membutuhkan kontak kembali dengan ibunya, baik untuk kepentingan nutrisi maupun untuk kepentingan lainnya.
Dalam protokol kebidanan, ibu masih harus dirawat di kamar bersalin dua jam setelah melahirkan untuk deteksi dini terjadinya perdarahan post partum yang sangat mengancam jiwa. Pertanyaan yang timbul, ke mana bayi harus diletakkan selama ibu dalam pengawasan intensif untuk menghindari bahaya perdarahan ? Kalau dahulu bayi segera dirawat di kamar bayi, maka sekarang jawabnya adalah bayi diletakkan di samping ibu atau dalam sebuah boks dekat dengan ibu. Dari sinilah sebenarnya rawat gabung mulai dikerjakan.

Struktur dan fungsi kamar bersalin

Kamar bersalin ideal terdiri atas kamar persiapan, kamar bersalin yang sebenarnya dan kamar observasi pasca persalinan (kamar pulih). Di samping itu dapat pula dipisahkan antara kamar untuk kasus septik dan aseptik, kamar tindakan dan non tindakan dan kamar isolasi. Dalam hubungan dengan pengelolaan laktasi, maka adanya tiga ruang yakni kamar persiapan, kamar persalinan dan kamar observasi menduduki peran yang penting.

1. Kamar persiapan
Apabila sebuah rumah sakit telah berfungsi penuh sebagai RS Sayang Bayi, maka hampir semua ibu yang masuk kamar bersalin sudah mendapat penyuluhan manajemen laktasi sejak mereka berada di poliklinik asuhan antenatal. Mereka sudah memperoleh nasihat tentang keunggulan ASI, kerugian susu formula, gizi ibu hamil yang menjamin lancarnya produksi ASI, beberapa cara perawatan payudara dan bagaimana caranya menyusui yang benar. Ibu bersalin yang seperti ini tidak menjadi masalah lagi.
Ada kalanya, kadang cukup banyak, ibu datang langsung ke kamar bersalin tanpa pernah melakukan asuhan antenatal di rumah sakit tersebut. Kalaupun mereka melakukan asuhan antenatal di tempat lain, mungkin petugas di sana juga belum memahami benar pentingnya manajemen laktasi. Ibu yang akan bersalin ini perlu mendapat penyuluhan tentang manajemen laktasi.
Untuk kepentingan ini perlu disiapkan sebuah ruang, di mana ibu hamil yang datang untuk bersalin dapat memperoleh informasi yang jelas tentang penatalaksanaan ASI. Di dalam ruang persiapan ini perlu dipasang beberapa gambar, poster, brosur dan sebagainya, untuk membantu memberi konseling tentang ASI. Di dalam kamar bersalin tidak boleh sama sekali terlihat botol susu, dot atau kempengan, apalagi reklame susu formula yang semuanya akan mengakibatkan gagalnya ibu menyusui. Dalam melakukan rangkaian tugas ini petugas tidak boleh overacting misalnya jangan melakukan konseling pada ibu yang sedang kesakitan. Berilah konseling hanya kepada ibu yang masih kooperatif, yaitu ibu yang belum dalam persalinan atau masih dalam fase laten.

2. Kamar persalinan
Kamar persalinan yang sebenarnya adalah kamar untuk ibu yang sudah dalam kala 1 fase aktif atau kala 2 persalinan. Pada saat ini seorang ibu hamil berada dalam kondisi yang paling tidak menyenangkan, karena berada dalam puncak rasa sakitnya. Tidak banyak yang dapat dilakukan oleh petugas dalam hal konseling manajemen laktasi, karena sulit bagi ibu untuk diajak berkomunikasi, kecuali tentang hal-hal yang menyangkut proses persalinan. Meskipun demikian, gambar atau poster tentang cara menyusui yang baik dan benar, serta menyusui segera sesudah lahir, dapat dipasang di ruangan ini.
Dalam waktu 30 menit setelah lahir, bayi harus segera disusukan. Beberapa pendapat mengatakan bahwa rangsangan putting susu akan mempercepat lahirnya plasenta melalui pelepasan oksitosin, yang dapat mengurangi risiko perdarahan postpartum. Rangsangan putting susu memacu refleks prolaktin dan oksitosin, dua refleks penting yang dibutuhkan dalam proses menyusui. Meskipun ASI belum keluar, kontak fisik bayi dengan ibu tetap harus dikerjakan karena memberikan rasa kepuasan psikologis yang dibutuhkan ibu agar proses menyusui berjalan lancar.
Penyusuan dini dikerjakan pada bayi normal, yaitu bayi lahir dengan nilai Apgar 5 menit di atas 7 dan refleks mengisap baik. Bayi lahir dengan asfiksia dan bayi dengan cacat bawaan sebaiknya tidak segera disusukan kepada ibunya.
Bila ibu mendapat pembiusan umum, misalnya untuk persalinan dengan sectio cesarea, penyusuan dilakukan segera setelah ibu sadar penuh, misalnya 4-6 jam setelah operasi. Pada keadaan ini efek pembiusan pada ibu dan bayi telah berkurang, sehingga refleks mengisap bayi telah timbul kembali. Penyusuan pasca operasi memerlukan pertolongan petugas untuk membantu ibu memegang bayi, membetulkan posisi ibu, dan sebagainya. Bayi yang lahir dengan tindakan vakum atau forcep, sering disertai dengan trauma kepala, sehingga tidak jarang juga mengalami asfiksia. Meskipun demikian penyusuan dapat segera dimulai dengan bantuan petugas.

3. Kamar pulih
Selama dua jam ibu dalam observasi kala 4, ibu ditempatkan dalam suatu kamar pulih. Bayi diletakkan di samping ibu atau dalam sebuah boks yang dapat dilihat ibu. Sebaiknya diusahakan agar di kamar pulih ibu tidak terganggu oleh kegaduhan yang biasanya terjadi di kamar persalinan. Rasa tenteram ibu merupakan modal keberhasilan menyusui selanjutnya.

RAWAT GABUNG

Banyak rumahsakit, puskesmas, klinik dan rumah bersalin yang belum merawat bayi baru lahir berdekatan dengan ibunya. Berbagai alasan diajukan antara lain karena rasa kasihan karena ibu masih capai setelah melahirkan, ibu memerlukan istirahat, atau ibu belum mampu merawat bayinya sendiri. Ada pula kekuatiran bahwa pada jam kunjungan, bayi mudah tertular penyakit yang mungkin dibawa oleh para pengunjung. Alasan lain adalah rumahsakit / klinik ingin memberikan pelayanan sebaik-baiknya sehingga ibu bisa beristirahat selama berada di rumah sakit. Namun setelah menyadari akan keuntungannya, sistem rawat gabung sekarang menjadi kebijakan pemerintah.

Pengertian dan tujuan

Rawat gabung adalah satu cara perawatan di mana ibu dan bayi yang baru dilahirkan tidak dipisahkan, melainkan ditempatkan dalam sebuah ruangan, kamar atau tempat bersama-sama selama 24 jam penuh dalam seharinya.
Istilah rawat gabung parsial yang dulu banyak dianut, yaitu rawat gabung hanya dalam beberapa jam seharinya, misalnya hanya siang hari saja sementara pada malam hari bayi dirawat di kamar bayi, sekarang tidak dibenarkan dan tidak dipakai lagi.

Tujuan rawat gabung adalah :
1. Agar ibu dapat menyusui bayinya sedini mungkin, kapan saja dibutuhkan.
2. Agar ibu dapat melihat dan memahami cara perawatan bayi yang benar seperti yang dilakukan oleh petugas.
3. Agar ibu mempunyai pengalaman dalam merawat bayinya sendiri selagi ibu masih di rumah sakit dan yang lebih penting lagi, ibu memperoleh bekal ketrampilan merawat bayi serta menjalankannya setelah pulang dari rumah sakit.
4. Dalam perawatan gabung, suami dan keluarga dapat dilibatkan secara aktif untuk mendukung dan membantu ibu dalam menyusui dan merawat bayinya secara baik dan benar.
5. Ibu mendapatkan kehangatan emosional karena ibu dapat selalu kontak dengan buah hati yang sangat dicintainya, demikian pula sebaliknya bayi dengan ibunya.

Sasaran dan syarat

Pada prinsipnya kegiatan Peningkatan Penggunaan ASI (PP-ASI) dimulai sejak ibu hamil pertama kali memeriksakan diri di poliklinik asuhan antenatal. Idealnya di poliklinik ini tersedia sebuah klinik laktasi, yang terdiri atas dua ruangan yaitu klinik laktasi asuhan antenatal dan postnatal.
Kegiatan rawat gabung dimulai sejak ibu bersalin di kamar bersalin dan di bangsal perawatan pasca persalinan. Meskipun demikian penyuluhan tentang manfaat dan pentingnya rawat gabung sudah dimulai sejak ibu pertama kali memeriksakan kehamilannya di poliklinik asuhan antenatal.
Tidak semua bayi atau ibu dapat segera dirawat gabung. Bayi dan ibu yang dapat dirawat gabung harus memenuhi syarat / kriteria sebagai berikut :
1. Lahir spontan, baik presentasi kepala maupun bokong.
2. Bila lahir dengan tindakan, maka rawat gabung dilakukan setelah bayi cukup sehat, refleks mengisap baik, tidak ada tanda infeksi dsb.
3. Bayi yang lahir dengan sectio cesarea dengan anestesia umum, rawat gabung dilakukan segera setelah ibu dan bayi sadar penuh (bayi tidak ngantuk), misalnya 4-6 jam setelah operasi selesai. Bayi tetap disusukan meskipun mungkin ibu masih mendapat infus.
4. Bayi tidak asfiksia setelah lima menit pertama (nilai Apgar minimal 7).
5. Umur kehamilan 37 minggu atau lebih.
6. Berat lahir 2000-2500 gram atau lebih.
7. Tidak terdapat tanda-tanda infeksi intrapartum.
8. Bayi dan ibu sehat.
Jika tidak memenuhi kriteria di atas, maka rawat gabung ibu dan bayi TIDAK perlu, atau bahkan tidak boleh dikerjakan, misalnya pada :
1. Bayi yang sangat prematur.
2. Bayi berat lahir kurang dari 2000-2500 gram.
3. Bayi dengan sepsis.
4. Bayi dengan gangguan napas.
5. Bayi dengan cacat bawaan berat, misalnya : hidrosefalus, meningokel, anensefali, atresia ani, labio/palato/gnatoschizis, omfalokel, dsb.);
6. Ibu dengan infeksi berat, misalnya KP terbuka, sepsis, dsb.
Kriteria-kriteria masih ditentukan juga oleh beberapa aspek pertimbangan klinis, misalnya bayi dengan berat badan 2000-2500 gram meskipun keadaan lain-lainnya dalam batas normal, perawatan gabungnya harus dengan pengawasan yang sangat ketat.
Sebaiknya keputusan apakah bayi akan dirawat gabung atau dirawat pisah ditentukan oleh dokter anak bersama dengan dokter kebidanan.

Manfaat rawat gabung

Manfaat dan keuntungan rawat gabung ditinjau dari berbagai aspek sesuai dengan tujuannya, adalah sebagai berikut :
1. Aspek fisik.
Bila ibu dekat dengan bayinya, maka ibu dapat dengan mudah menjangkau bayinya untuk melakukan perawatan sendiri dan menyusui setiap saat, kapan saja bayinya menginginkan (nir-jadwal). Dengan perawatan sendiri dan menyusui sedini mungkin, akan mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi silang dari pasien lain atau petugas kesehatan. Dengan menyusui dini maka ASI jolong atau kolostrum dapat memberikan kekebalan / antibodi yang sangat berharga bagi bayi. Karena ibu setiap saat dapat melihat bayinya, maka ibu dengan mudah dapat mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi pada bayinya yang mungkin berhubungan dengan kesehatannya.
2. Aspek fisiologis.
Bila ibu dekat dengan bayinya, maka bayi akan segera disusui dan frekuensinya lebih sering. Proses ini merupakan proses fisiologis yang alami, di mana bayi mendapat nutrisi alami yang paling sesuai dan baik. Untuk ibu, dengan menyusui maka akan timbul refleks oksitosin yang akan membantu proses fisiologis involusi rahim. Di samping itu akan timbul refleks prolaktin yang akan memacu proses produksi ASI. Efek menyusui dalam usaha menjarangkan kelahiran telah banyak dipelajari di banyak negara berkembang. Secara umum seorang ibu akan terlindung dari kesuburan sepanjang ia masih menyusui dan belum haid, khususnya bila frekuensi menyusui lebih sering dan sama sekali tidak menggunakan pengganti ASI (menyusui secara eksklusif). Berbagai penelitian menunjukkan bahwa daya proteksi menyusui eksklusif terhadap usaha KB tidak kalah dengan alat KB yang lain.
3. Aspek psikologis
Dengan rawat gabung maka antara ibu dan bayi akan segera terjalin proses lekat (early infant-mother bonding) akibat sentuhan badan antara ibu dan bayinya. Hal ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan psikologis bayi selanjutnya, karena kehangatan tubuh ibu merupakan stimulasi mental yang mutlak dibutuhkan oleh bayi. Dengan pemberian ASI kapan saja bayi membutuhkan, akan memberikan kepuasan pada ibu bahwa ia dapat berfungsi sebagaimana seorang ibu memenuhi kebutuhan nutrisi bagi bayinya, di samping merasa dirinya sangat dibutuhkan oleh bayinya dan tidak dapat digantikan oleh orang lain. Keadaan ini akan memperlancar produksi ASI karena seperti telah diketahui, refleks let-down bersifat psikosomatis. Sebaliknya bayi akan mendapatkan rasa aman dan terlindung, merupakan dasar bagi terbentuknya rasa percaya pada diri anak. Ibu akan merasa bangga karena dapat menyusui dan merawat bayinya sendiri dan bila suaminya berkunjung, akan terasa adanya suatu ikatan kesatuan keluarga.
4. Aspek edukatif.
Dengan rawat gabung, ibu (terutama yang baru mempunyai anak pertama) akan mempunyai pengalam yang berguna, sehingga mampu menyusui serta merawat bayinya bila pulang dari rumah sakit. Selama di rumah sakit ibu akan melihat, belajar dan mendapat bimbingan bagaimana cara menyusui secara benar, bagaimana cara merawat payudara, merawat tali pusat, memandikan bayi dsb. Keterampilan ini diharapkan dapat menjadi modal bagi ibu untuk merawat bayi dan dirinya sendiri setelah pulang dari rumah sakit. Di samping pendidikan bagi ibu, dapat juga dipakai sebagai sarana pendidikan bagi keluarga, terutama suami, dengan cara mengajarkan suami dalam membantu istri untuk proses di atas. Suami akan termotivasi untuk memberi dorongan moral bagi istrinya agar mau menyusui bayinya. Jangan sampai terjadi seorang suami melarang istrinya menyusui bayinya karena suami takut payudara istrinya akan menjadi jelek. Bentuk payudara akan berubah karena usia adalah hal alami, meskipun dengan menggunakan kutang penyangga yang baik, ditambah dengan nutrisi yang baik, dan latihan otot-otot dada serta menerapkan posisi yang benar, ketakutan mengendornya payudara dapat dikurangi.
5. Aspek ekonomi
Dengan rawat gabung maka pemberian ASI dapat dilakukan sedini mungkin. Bagi rumah bersalin terutama rumah sakit pemerintah, hal tersebut merupakan suatu penghematan anggaran pengeluaran untuk pembelian susu formula, botol susu, dot serta peralatan lain yang dibutuhkan. Beban perawat menjadi lebih ringan karena ibu berperan besar dalam merawat bayinya sendiri, sehingga waktu terluang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan lain. Lama perawatan ibu menjadi lebih pendek karena involusi rahim terjadi lebih cepat dan memungkinkan tempat tidur digunakan untuk penderita lain. Demikian pula infeksi nosokomial dapat dicegah atau dikurangi, berarti penghematan biaya bagi rumahsakit maupun keluarga ibu. Bagi ibu juga penghematan oleh karena lama perawatan menjadi singkat.
6. Aspek medis
Dengan pelaksanaan rawat gabung maka akan menurunkan terjadinya infeksi nosokomial pada bayi serta menurunkan angka morbiditas dan mortalitas ibu maupun bayi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan rawat gabung

Keberhasilan rawat gabung yang mendukung peningkatan penggunaan ASI dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain sosial-budaya, ekonomi, tatalaksana rumahsakit, sikap petugas, pengetahuan ibu, lingkungan keluarga, adanya kelompok pendukung peningkatan penggunaan ASI (KP-ASI) dan peraturan tentang peningkatan ASI atau pemasaran susu formula.

1. Peranan sosial budaya
Kemajuan teknologi, perkembangan industri, urbanisasi dan pengaruh kebudayaan Barat menyebabkan pergeseran nilai sosial budaya masyarakat. Memberi susu formula dianggap modern karena memberi ibu kedudukan yang sama dengan dengan ibu-ibu golongan atas. Ketakutan akan mengendornya payudara menyebabkan ibu enggan menyusui bayinya.
Bagi ibu yang sibuk dengan urusan di luar rumah, sebagai wanita karir atau isteri seorang pejabat yang selalu dituntun mendampingi kegiatan suami, hal ini dapat menghambat usaha peningkatan penggunaan ASI. Sebagian ibu tersebut pada umumnya berasal dari golongan menengah-atas cenderung untuk memilih susu formula daripada menyusui bayinya. Jika tidak mungkin membagi waktu, seyogyanya hanya ibu yang sudah tidak menyusui saja yang boleh dibebani tugas sampingan di luar rumah. Dalam hal ini peranan suami atau instansi di mana suami bekerja sebaiknya memahami betul peranan ASI bagi perkembangan bayi.
Iklan menarik melalui media massa serta pemasaran susu formula dapat mempengaruhi ibu untuk enggan memberikan ASI nya. Apalagi iklan yang menyesatkan seolah-olah dengan teknologi yang supercanggih dapat membuat susu formula sebaik dan semutu susu ibu, atau bahkan lebih baik daripada susu ibu. Adanya kandungan suatu nutrien yang lebih tinggi dalam susu formula dibanding dalam ASI bukan jaminan bahwa susu tersebut sebaik susu ibu apalagi lebih baik. Komposisi nutrien yang seimbang dan adanya zat antibodi spesifik dalam ASI menjamin ASI tetap lebih unggul dibanding susu formula.

2. Faktor ekonomi.
Seperti disebutkan di atas, beberapa wanita memilih bekerja di luar rumah. Bagi wanita karir, hal ini dilakukan bukan karena tuntutan ekonomi, melainkan karena status, prestise, atau memang dirinya dibutuhkan. Pada sebagian kasus lain, ibu bekerja di luar rumah semata karena tekanan ekonomi, di mana penghasilan suami dirasa belum dapat mencukupi kebutuhan keluarga. Gaji pegawai negeri yang relatif rendah dapat dipakai sebagai alasan utama istri ikut membantu mencari nafkah dengan bekerja di luar rumah. Memang tidak ada yang perlu disalahkan dalam masalah ini.
Dengan bekerja di luar rumah, ibu tidak dapat berhubungan penuh dengan bayinya. Akhirnya ibu cenderung memberikan susu formula dengan botol. Bila bayi telah mengenal dot/botol maka ia akan cenderung memilih botol. Dengan demikian frekuensi penyusuan akan berkurang dan menyebabkan produksi menurun. Keadaan ini selanjutnya mendorong ibu untuk menghentikan pemberian ASI, tidak jarang terjadi sewaktu masa cutinya belum habis. Ibu perlu didukung untuk memberi ASI penuh pada bayinya dan tetap berusaha untuk menyusui ketika ibu telah kembali bekerja.
Motivasi untuk tetap memberikan ASI meskipun ibu harus berpisah dengan bayinya adalah faktor utama dalam keberhasilan ibu untuk mempertahankan penyusuannya. Pendirian tempat penitipan bayi dekat / di tempat ibu bekerja merupakan hal yang sangat penting.

3. Peranan tatalaksana rumahsakit / rumah bersalin.
Peranan tatalaksana atau kebijakan rumah sakit / rumah bersalin sangat penting mengingat kini banyak ibu yang lebih menginginkan melahirkan di pelayanan kesehatan yang lebih baik. Tatalaksana rumah sakit yang tidak menunjang keberhasilan menyusui harus dihindari, seperti :
- bayi dipuasakan beberapa hari, padahal refleks isap bayi paling kuat adalah pada jam-jam pertama sesudah lahir. Rangsangan payudara dini akan mempercepat timbulnya refleks prolaktin dan mempercepat produksi ASI.
- memberikan makanan pre-lakteal, yang membuat hilangnya rasa haus sehingga bayi enggan menetek.
- memisahkan bayi dari ibunya. Tidak adanya sarana rawat gabung menyebabkan ibu tidak dapat menyusui bayinya nir-jadwal.
- menimbang bayi sebelum dan sesudah menyusui, dan jika pertambahan berat badan tidak sesuai dengan harapan maka bayi diberi susu formula. Hal ini dapat menimbulkan rasa kuatir pada ibu yang memperngaruhi produksi ASI.
- penggunaan obat-obatan selama proses persalinan, seperti obat penenang, atau preparat ergot, yang dapat menghambat permulaan laktasi. Rasa sakit akibat episiotomi atau robekan jalan lahir dapat mengganggu pemberian ASI.
- Pemberian sampel susu formula harus dihilangkan karena akan membuat ibu salah sangka dan menganggap bahwa susu formula sama baik bahkan lebih baik daripada ASI.
Dalam hal ini perlu kiranya dibentuk klinik laktasi yang berfungsi sebagai tempat ibu berkonsultasi bila mengalami kesulitan dalam menyusui. Tidak kalah pentingnya ialah sikap dan pengetahuan petugas kesehatan, karena walaupun tatalaksana rumah sakit sudah baik bila sikap dan pengetahuan petugas masih belum optimal maka hasilnya tidak akan memuaskan.

4. Faktor-faktor dalam diri ibu sendiri
Beberapa keadaan ibu yang mempengaruhi laktasi adalah :
- keadaan gizi ibu
Kebutuhan tambahan kalori dan nutrien diperlukan sejak hamil. Sebagian kalori ditimbun untuk persiapan produksi ASI. Seorang ibu hamil dan menyusui perlu mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang cukup dan seimbang agar kuantitas dan kualitas ASI terpenuhi. Dengan demikian diharapkan bayi dapat tumbuh kembang secara optimal selama 4 bulan pertama hanya dengan ASI (menyusui secara eksklusif).
- pengalaman / sikap ibu terhadap menyusui
Ibu yang berhasil menyusui anak sebelumnya, dengan pengetahuan dan pengalaman cara pemberian ASI secara baik dan benar akan menunjang laktasi berikutnya. Sebaliknya, kegagalan menyusui di masa lalu akan mempengaruhi pula sikap seorang ibu terhadap penyusuan sekarang. Dalam hal ini perlu ditumbuhkan motivasi dalam dirinya secara sukarela dan penuh rasa percaya diri mampu menyusui bayinya. Pengalaman masa kanak-kanak, pengetahuan tentang ASI, nasihat, penyuluhan, bacaan, pandangan dan nilai yang berlaku di masyarakat akan membentuk sikap ibu yang positif terhadap masalah menyusui.
- keadaan emosi
Gangguan emosional, kecemasan, stress fisik dan psikis akan mempengaruhi produksii ASI. Seorang ibu yang masih harus menyelesaikan kuliah, ujian, dsb., tidak jarang mengalami ASI nya tidak dapat keluar. Sebaliknya, suasana rumah dan keluarga yang tenang, bahagia, penuh dukungan dari anggota keluarga yang lain (terutama suami), akan membantu menunjang keberhasilan menyusui. Demikian pula lingkungan kerja akan berpengaruh ke arah positif, atau sebaliknya.
- keadaan payudara
Besar kecil dan bentuk payudara TIDAK mempengaruhi produksi ASI. Tidak ada jaminan bahwa payudara besar akan menghasilkan lebih banyak ASI atau payudara kecil menghasilkan lebih sedikit. Produksi ASI lebih banyak ditentukan oleh faktor nutrisi, frekuensi pengisapan putting dan faktor emosi. Sehubungan dengan payudara, yang penting mendapat perhatian adalah keadaan putting. Putting harus disiapkan agar lentur dan menjulur, sehingga mudah ditangkap oleh mulut bayi. Dengan putting yang baik, putting tidak mudah lecet, refleks mengisap menjadi lebih baik, dan produksi ASI menjadi lebih baik juga.
- peran masyarakat dan pemerintah
Keberhasilan laktasi merupakan proses belajar-mengajar. Diperlukan kelompok dalam masyarakat di luar petugas kesehatann yang secara sukarela memberikan bimbingan untuk peningkatan penggunaan ASI. Kelompok ini dapat diberi nama Kelompok Pendukung ASI (KP-ASI), yang dapat memanfaatkan kegiatan posyandu dengan membuat semacam pojok ASI.

5. Kebijakan-kebijakan pemerintah RI sehubungan penggunaan ASI
1. Inpres no.14 / 1975
Menko Kesra selaku koordinator pelaksana menetapkan bahwa salah satu program dalam usaha perbaikan gizi adalah peningkatan penggunaan ASI.
2. Permenkes no.240 / 1985
Melarang produsen susu formula untuk mencantumkan kalimat-kalimat promosi produknya yang memberikan kesan bahwa produk tersebut setara atau lebih baik mutunya daripada ASI.
3. Permenkes no.76 / 1975
Mengharuskan produsen susu kental manis (SKM) untuk mencantumkan pada label produknya bahwa SKM tidak cocok untuk bayi, dengan warna tulisan merah dan cukup mencolok.
4. Melarang promosi susu formula yang dimaksudkan sebagai ASI di semua sarana pelayanan kesehatan.
5. Menganjurkan menyusui secara eksklusif sampai bayi berumur 4-6 bulan dan menganjurkan pemberian ASI sampai anak berusia 2 tahun.
6. Melaksanakan rawat gabung di tempat persalinan milik pemerintah maupun swasta.
7. Meningkatkan kemampuan petugas kesehatan dalam hal PP-ASI sehingga petugas tersebut terampil dalam melaksanakan penyuluhan pada masyarakat luas.
8. Pencanangan Peningkatan Penggunaan ASI oleh Bapak Presiden secara nasional pada peringatan Hari Ibu ke-62 (22 Desember 1990).
9. Upaya penerapan 10 langkah untuk berhasilnya menyusui di semua rumah sakit, rumah bersalin dan puskesmas dengan tempat tidur.

Pelaksanaan rawat gabung dan kegiatan penunjangnya

Dalam rawat gabung bayi ditempatkan bersama ibunya dalam suatu ruangan sedemikian rupa sehingga ibu dapat melihat dan menjangkaunya kapan saja bayi atau ibu membutuhkannya. Bayi dapat diletakkan di tempat tidur bersama ibunya, atau dalam boks di samping tempat tidur ibu. Modifikasi lain dengan membuat sebuah boks yang ditempatkan di atas tempat tidur di sebelah ujung kaki ibu. Yang penting ibu harus bisa melihat dan mengawasi bayinya, apakah ia menangis karena lapar, kencing, digigit nyamuk dsb. Tangis bayi merupakan rangsangan sendiri bagi ibu untuk membantu produksi ASI.
Perawat harus memperhatikan keadaan umum bayi dan dapat mengenali keadaan-keadaan abnormal, kemudian melaporkannya kepada dokter. Bayi kuning sering merupakan masalah bagi ibu meskipun sebenarnya keadaan ini seringkali masih dalam batas fisiologis.
Dokter (terutama dokter anak dan kebidanan) mengadakan kunjungan sekurang-kurangnya sekali dalam sehari. Dokter harus memperhatikan keadaan ibu maupun bayi, terutama yang berhubungan dengan masalah menyusui. Perlu diperhatikan apakah ASI sudah keluar, adakah pembengkakan payudara, bagaimana putingnya, adakah rasa sakit yang mengganggu saat menyusui, dsb. Demikian pula dengan bayinya, apakah sudah dapat mengisap, kuat atau tidak, rewel atau tidak, apakah muntah, mencret dsb.
Ibu menyusui sewaktu-waktu sesuai dengan keinginan bayi. Tidak dikenal lagi penjadwalan dalam memberikan ASI kepada bayi.
Perawat harus membantu ibu untuk merawat payudara, menyusui, menyendawakan dan merawat bayi secara benar. Bila bayi sakit / perlu diobservasi lebih lanjut, bayi dipindah ke ruang rawat bayi baru lahir (neonatologi). Bayi akan memperoleh perawatan lebih intensif, meskipun bukan berarti ASI tidak diberikan. ASI tetap diberikan dengan cara ibu berkunjung, atau ASI diperas dan diberikan dengan sendok.
Bila ibu dan bayi sudah diperbolehkan pulang, diberikan penyuluhan lagi tentang cara merawat bayi, payudara dan cara meneteki yang benar sehingga ibu di rumah terampil melakukan rawat gabung serta cara mempertahankan meneteki sekalipun ibu harus berpisah dengan bayinya. Harus ditekankan bahwa bayi tidak boleh diberi dot / kempengan. Selanjutnya perawat mengumpulkan data ibu dan bayi dalam sebuah lembar catatan medik yang sudah disiapkan.

Praktek rawat gabung

A. Cara memandikan bayi

- siapkan alat-alat
- cuci tangan sebelum dan sesudah memandikan bayi.
- bayi diletakkan telentang di atas tempat tidur / meja dengan alas perlak dan handuk.
- muka dan telinga dibersihkan dengan kain (waslap) basah kemudian dikeringkan dengan handuk.
- seluruh tubuh bayi disabun dengan menggunakan waslap yang telah diolesi sabun (leher, dada, perut, lipatan ketiak, kedua tangan / lengan, kedua kaki / tungkai, bagian belakang bayi).
- bayi dibersihkan dengan menggunakan kain lap (waslap) basah dalam ember mandi bayi.
- bayi diangkat dan dikeringkan dengan handuk.
- tali pusat ditutup dengan kain kasa yang telah direndam dalam alkohol 70%.
- dada, perut dan punggung diolesi minyak telon, tempat lipatan seperti pangkal paha, ketiak dan leher diberi bedak supaya tidak mudah lecet, dan diberi pakaian.

B. Cara menyusui

- cuci tangan sebelum dan sesudah menyusui.
- ibu duduk atau berbaring santai.
- payudara dipijat / massage supaya lemas.
- tekan areola antara ibu jari dan telunjuk sehingga keluar beberapa tetes ASI. Oleskan ASI tersebut pada putting susu dan areola sekitarnya sebelum menyusui.
- bayi diletakkan di pangkuan bila ibu duduk, dan di sebelah ibu bila ibu tiduran.
- ibu harus memegang payudara dengan posisi ibu jari di atas dan keempat jari lainnya di bagian bawah payudara.
- sebagian besar areola payudara harus berada di dalam mulut bayi.
- setiap payudara harus disusui sampai kosong, kurang lebih 10-15 menit.
- bayi menyusu pada dua payudara bergantian, setelah payudara pertama terasa kosong.
- bila akan melepaskan mulut bayi dari putting susu, masukkan jari kelingking antara mulut bayi dan payudara.
- sesudah selesai menyusui, oleskan ASI pada putting susu dan areola sekitarnya serta biarkan kering oleh udara.
- bayi digendong di bahu ibu atau dipangku tengkurap agar dapat bersendawa.
- periksa keadaan payudara, mungkin ada perlukaan / pecah-pecah atau terbendung.
- bayi menyusu setiap kali membutuhkan, sebagian dengan posisi berubah-ubah.
- pakailah bahan penyerap ASI di balik kutang, di luar waktu menyusui.

C. Cara merawat tali pusat

- siapkan alat-alat.
- cuci tangan sebelum dan sesudah merawat tali pusat.
- tali pusat dibersihkan dengan kain kasa yang dibasahi alkohol 70%.
- setelah bersih, tali pusat dikompres alkohol / povidon iodine 10% (betadine) lalu dibungkus dengan kain kasa steril kering.
- setelah tali pusat terlepas / puput, pusar tetap dikompres dengan alkohol / povidon iodine 10% sampai kering.
Baca Selengkapnya - Kamar Ibu Bersalin dan Rawat Gabung

Jika Buah Hati Lahir Lebih Dini

JIKA BUAH HATI LAHIR LEBIH DINI

Bayi prematur sangat rapuh? Ah, enggak juga, kok! Yang penting, lakukan perawatan dengan baik dan jangan lupa konsultasi rutin ke dokter.

Setiap ibu berharap ingin melahirkan “sesuai jadwal”. Meleset-melesetnya, ya,seminggu lebih awal atau lebih lambat. Tapi kadang harapan itu tak sesuai kenyataan. Oleh beberapa sebab, sang jabang bayi lahir sebelum waktunya alias prematur. Bayi prematur umumnya lahir di usia kehamilan (masa gestasi) kurang dari 37 minggu atau kurang dari 259 hari.

Namun karena umumnya para ibu tak ingat hari terakhir haidnya, “Jadi agak susah untuk menentukan masa kehamilannya,” kata Prof. Dr. dr. Nartono Kadri, Sp.A(K). Alhasil, patokan yang kerap dipakai adalah berat badan si bayi. Misalnya, kelompok bayi berat lahir rendah, yaitu kurang dari 2.500 gram. Nah, mereka inilah yang sering dikelompokkan sebagai bayi prematur. “Meski sebenarnya patokan berat ini tak benar karena yang seharusnya jadi patokan, usia kehamilan,” terang Nartono.

Soalnya, jelas Nartono, bayi berat lahir rendah bisa saja lahir di usia kehamilan 40 minggu atau cukup bulan, yaitu yang disebut bayi kecil untuk masa kehamilannya. Penyebabnya? “Antara lain karena pertumbuhan janin di kandungan terganggu. Entah karena nutrisinya yang kurang baik atau ada gangguan plasenta.”

RAGAM PENYEBAB

Kendati para ibu tak mengetahui usia kehamilannya secara pasti dan tepat, masa gestasi masih bisa ditentukan sesudah jabang bayi lahir. Yakni dengan pemeriksaan penampilan bayi (fisik) dan pemeriksaan neurologik. “Jaringan kulit bayi, warna kulit, sikap bayi, dan lainnya akan diperiksa. Dari situ dibuatkan skoring dan grafik sehingga diketahui berapa usia kehamilannya,” terang Nartono.

Tapi kenapa bayi bisa lahir lebih dini? Penyebabnya macam-macam alias multifaktorial. Bisa saja karena faktor ibu dan plasenta, faktor lingkungan, atau faktor bayi itu sendiri. Tapi umumnya, kata staf pengajar Subbagian Perinatologi-Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI ini, disebabkan faktor ibunya.

Karena itu, anjur guru besar Ilmu Kesehatan Anak-Perinatologi FKUI ini, “Untuk mencegah kelahiran prematur, si ibu harus memperhatikan gizi sehingga tak sampai terjadi anemia.” Hal penting lainnya, ibu jangan sampai terkena stres, periksa kehamilan secara rutin, dan menjaga kebersihan. “Terutama bagian vagina agar tak terjadi infeksi.”

RISIKO PENYAKIT

Karena bayi lahir belum cukup waktu, wajar saja jika sejumlah organ tubuhnya masih belum sempurna. Misalnya, kulitnya terlihat bening, tipis (karena kurang lapisan lemak di bawah kulit), daun telinga kadang rata dan terlipat atau menggelantung karena tulang muda yang memberi bentuk telinga belum ada. Karakteristik seksualnya pun belum berkembang secara penuh.

Tapi para ayah dan ibu tak perlu cemas menghadapi semua ini. “Kondisi ini, kan, hanya sementara. Dengan perawatan pascalahir yang cermat, bayi prematur akan menyusul pertumbuhan teman-temannya yang lahir cukup bulan,” terang konsultan Bangsal Bayi Baru Lahir Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo ini.

Kendati demikian, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan masalah kesehatan si bayi. Sebab, dengan kondisi organ tubuh yang belum sempurna, bayi prematur termasuk berisiko tinggi terhadap sejumlah penyakit pascalahir, antara lain:

1. Hipoksia Perinatal (Kekurangan Oksigen)

Hipoksia sering ditemukan pada bayi prematur. Kejadian ini umumnya telah dimulai sejak janin di kandungan, berupa gawat janin atau terjadinya stres janin pada waktu proses kelahirannya. Akibatnya, bayi mengalami asfiksia (kegagalan bernafas spontan dan teratur pada menit-menit pertama setelah lahir).

Jika ini terjadi, dokter akan segera melakukan resusitasi (usaha bernapas kembali dengan pernapasan buatan atau pijat dan rangsang jantung) agar hipoksia tak menimbulkan kerusakan berbagai organ, khususnya otak.

2. Gangguan Napas

Umumnya terjadi akibat belum matangnya paru-paru. Sering disebut penyakit membran hialin (PMH), yakni penyakit akibat kekurangan bahan surfaktan yang berfungsi mempertahankan mengembangnya gelembung paru. Bayi akan mengalami sesak napas atau sindroma gangguan napas (SGN).

Upaya yang harus dilakukan bergantung dari derajat PMH dan berat ringannya SGN, yaitu dengan memakai alat bantu napas mekanik atau pemberian surfaktan eksternal.

Salah satu upaya untuk menghindari PMH ialah dengan menyuntikkan preparat steroid dosis tinggi pada ibu yang menghadapi persalinan prematur. Dengan demikian kekurangan surfaktan paru bayi dapat dikurangi.

Masalah pernapasan yang sering ditemukan pada bayi prematur adalah apnu (henti napas sementara yang berlangsung lebih dari 20 detik dan dapat disertai penurunan frekuensi denyut jantung). Lebih bahaya lagi jika ada kombinasi aspek belum matangnya paru dan sistem saraf, yang dapat menimbulkan apnu secara berulang.

3. Cedera Kedinginan

Lantaran pengaturan suhu tubuhnya belum sempurna, bayi biasanya dimasukkan ke dalam inkubator. Sebab, suhu lingkungan yang terlalu rendah dapat mengakibatkan cedera kedinginan (cold injury) pada bayi. Sedangkan suhu yang terlalu tinggi atau suhu naik turun dapat menyebabkan apnu.

Bayi prematur tak akan menggigil bila kedinginan. Untuk menambah panas tubuhnya, dipecahkan sumber cadangan dari lemak cokelat. Akibat cedera dingin, kulit bayi akan teraba keras pada tempat tertentu.

Untuk menstabilkan suhu bayi, selain dengan inkubator bisa pula dilakukan dengan cara menggendongnya. Lepaskan seluruh pakaian yang melekat di tubuh bayi, lalu dekapkan ke dada sang ibu yang juga tanpa busana. Dengan demikian, si bayi akan merasa hangat. Cara menggendong model ini disebut metode kanguru. Untuk mencegah bayi kena udara dingin, ibu dapat menutupi keseluruhan belakang dan samping tubuh bayi dengan selimut.

4. Masalah Nutrisi

Pengaturan kebutuhan cairan pada bayi prematur memerlukan kecermatan. Sebab, fungsi pencernaan dan ginjalnya masih belum sempurna, sementara permukaan tubuhnya lebih luas dibandingkan berat badannya sehingga penguapan cairan tubuhnya banyak.

Selain itu, kemampuannya untuk mengisap dan menelan mungkin belum sempurna. Jadi, jika ia belum kuat mengisap, ASI harus diberikan lewat pipet.

Sebaiknya bayi prematur tak dipuasakan terlalu lama karena cadangan makanan di tubuhnya sangat terbatas. Idealnya, dalam 24-72 jam pertama, si bayi sudah mendapat tambahan nutrisi. Bila perlu, memakai cairan infus.

Pada bayi prematur yang mengalami asfiksia (kegagalan nafas spontan), dapat dilakukan penundaan pemberian nutrisi melalui oral (mulut) 3-5 hari. Ini dilakukan demi mencegah terjadinya enterokolotis nekrotikans (kerusakan usus).

5. Pertahanan Tubuh

Bayi prematur sangat rentan terhadap infeksi. Tak ada jalan lain, perhatikan selalu kemungkinan terjadinya kontaminasi oleh mikroorganisme di sekitarnya atau yang disebut sebagai infeksi nosokomial.

6. Masalah Kardiovaskular

Masalah kardiovaskular (sirkulasi darah) yang sering ditemui pada bayi prematur adalah belum menutupnya duktus arteriosus, yaitu saluran yang menghubungkan aorta dan arteri paru-paru kiri.

Saluran/duktus ini mengalirkan darah keluar dari paru yang belum berfungsi dan ia tetap terbuka selama kehamilan.

Saat masih dalam perut ibunya, pembuluh darah ini digunakan untuk bernapas. Ketika lahir, bayi akan bernapas secara normal, sehingga pembuluh darah itu akan menutup. Tapi karena gagal napas maka pembuluh darah ini tak menutup.

7. Kuning

Sebagian besar bayi prematur mengalami kuning pada minggu pertama kehidupannya. Ini karena fungsi hatinya belum sempurna. Terlebih bila selama hamil ibu menderita infeksi, khususnya infeksi plasenta, kemungkinan bayi kuning akan lebih besar.

Tindakan pencegahan yang sering dilakukan adalah terapi sinar biru atau bila berat sekali dilakukan transfusi tukar.

8. Masalah Neurologik

Yang kerap ditemukan adalah gangguan konsumsi oksigen yang berkelanjutan, berupa kekurangan oksigen pada jaringan otak yang masih belum sempurna. Ini dapat menimbulkan perdarahan di otak.

Masalah neurologik harus ditangani secara hati-hati mengingat saraf bayi belum sempurna. Alhasil, perkembangan bayi sejak lahir hingga balita harus diperhatikan secara cermat sehingga jika terjadi penyimpangan dapat cepat diperbaiki.

Itulah mengapa diperlukan follow up clinic atau klinik tumbuh kembang karena jika bayi prematur ditangani dengan baik, perkembangannya akan sama dengan bayi normal.

PERAWATAN PASCA RUMAH SAKIT

Sekeluar dari rumah bersalin, pada minggu-minggu pertama di rumah, usahakan agar suhu kamar bayi lebih hangat dari biasanya. Ingat, mekanisme pengaturan suhu tubuhnya belum sempurna sehingga perlu perlu bantuan dari luar untuk mempertahankan kenyamanan tubuhnya.

Jika ia tampak rewel, periksa suhu ruangan, apakah sudah cukup hangat. Juga rasakan lengan, kaki, dan tengkuknya untuk memastikan ia tak terlalu dingin.

Harus diingat pula, si bayi masih sangat peka terhadap infeksi. Karena itu, hati-hatilah terhadap infeksi lingkungan. Jika si bayi minum melalui botol, jangan lupa untuk selalu mensterilkan perlatan minumnya terlebih dulu. Lakukan hingga beberapa bulan atau sampai dokter memberikan izin untuk menghentikan pensterilan.

Sering-seringlah memberinya minum karena bayi prematur memiliki lambung dan volume yang sangat kecil. Pemberian minuman sebaiknya sedikit-sedikit tetapi sering. Mungkin ia juga belum bisa mengisap dengan sempurna, sehingga perlu menyusu lebih lama untuk minum sampai kenyang. Jadi, jangan memberi makan dengan terburu-buru.

Nutrisi yang paling baik untuk bayi prematur adalah ASI karena hanya ASI yang komposisinya sesuai dengan kebutuhan bayi prematur. Komposisi ASI bervariasi sesuai masa gestasi. Dibandingkan dengan ASI cukup bulan, ASI kurang bulan lebih tinggi kandungan energinya (nitrogen, protein, natrium, klorida, magnesium, seng, zat besi, IgA).

Namun setelah 30 hari, kadar nutrien maupun nutrien mikronya menurun, sehingga setelah bayi berusia 2 minggu-1 bulan, harus diberikan penguat air susu ibu (human milk fortifier for the preterm infant). Ini karena nutrisi pada bayi baru lahir, 60 persen kalorinya dibutuhkan untuk otak. Pada bayi dengan tubuh sangat kecil, diperlukan konsentrasi nutrisi yang lebih tinggi.

Bila kebutuhan ASI tak dapat dipenuhi, dapat diganti dengan susu formula konsentrasi tinggi yang dirancang khusus untuk bayi prematur. Tapi jumlah formula khusus ini harus diamati dengan ketat.

Tanyakan pula pada dokter, perlu tidaknya bayi mendapat tambahan multivitamin. Sebab, bayi prematur berisiko kekurangan vitamin lebih besar daripada bayi yang lahir cukup bulan.

Jangan memberi makanan padat sampai dokter membolehkannya. Karena itu, penting sekali untuk selalu mengkonsultasikan pertumbuhan dan perkembangan si bayi ke klinik tumbuh kembang. Begitupun soal pemberian imunisasi, yang jadwalnya tentu berbeda dengan bayi lain. “Yang jelas, perlakukan bayi prematur seperti bayi cukup bulan. Jika rumah sakit sudah berani melepaskan si bayi pulang, berarti kondisinya sudah stabil.”

Jadi, kata penguji tesis peserta Pendidikan Dokter Spesialis Anak FKUI ini, “Orang tua tak perlu terlalu mengkhawatirkannya, seolah-olah bayinya sangat rapuh. Jangan pula terlalu memanjakan atau over protection, sehingga mengganggu tumbuh kembang selanjutnya.”

Perlakuan istimewa dalam arti terlalu melindungi bayi prematur, hanya akan mengganggu perkembangan normalnya. Antara lain, si bayi akan berkembang menjadi anak yang tergantung, menuntut, dan tak bahagia. Nah, segalanya kini menjadi jelas, bukan?

Indah Mulatsih.Foto:Rohedi(nakita)

Faktor Kelahiran Prematur

1. FAKTOR IBU

Antara lain karena:

Antroprometris

Bila postur ibunya kerdil (short stature) dapat mempengaruhi janin di rahimnya, yaitu tak bisa mengembang dengan sempurna.

Masalah Gizi

Semisal kurang gizi atau anemia pada ibu sehingga menyebabkan pertumbuhan janin terhambat. Pertumbuhan janin terhambat dalam waktu lama akan mempengaruhi kelahiran bayi sebelum waktunya.

Kondisi Servik Uteri

Yaitu leher rahim yang lemah. Misal, setiap bayinya berkembang besar, servik uteri ibunya ingin membuka terus, sehingga bayi terpaksa lahir.

Infeksi

Semisal infeksi vagina yang disebut vaginosis bakterial. Bakteri ini akan naik ke atas menyebabkan ketuban mudah pecah. Akibatnya, bayi lahir cepat. Selain itu, harus diwaspadai juga infeksi TORCH (Toxoplasma, Others Hepatitis B, HIV/AIDS, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes). Infeksi TORCH, selain dapat mempengaruhi pertumbuhan janin dan kelahiran prematur, juga berdampak terhadap tumbuh kembang anak di kemudian hari.

Penyakit

Semisal pre-eklampsia.

Persalinan Spontan

Atau disebut spontaneous preterm labor. Persalinan prematur spontan ini tak dapat diduga sebelumnya, tapi biasanya berhubungan dengan latar belakang ibunya, yaitu umur ibu (terlalu tua atau terlalu muda), anak pertama (nuliparitas) atau banyak anak (multiparitas), adanya riwayat kelahiran prematur atau riwayat abortus, perdarahan pada kehamilan muda, ketuban pecah dini, kenaikan berat badan ibu selama hamil tak sesuai, kehamilan ganda, ibu perokok berat, faktor pekerjaan, dan ibu yang mengalami stres berat.

2. FAKTOR SOSIO EKONOMI

Yaitu menyangkut keadaan sosio-ekonomi keluarga tersebut, tingkat pendidikan, sifat aktivitas pekerjaan ibu, hubungan keluarga, dukungan psikologis suami selama hamil, dan stres lingkungan.

3. FAKTOR LINGKUNGAN HIDUP

Contohnya faktor pemukiman dan kesehatan lingkungan. Konon, wanita hamil yang mengalami paparan timah hitam (asap knalpot) mempunyai risiko melahirkan bayi prematur.

4. FAKTOR PELAYANGAN KESEHATAN

Misalnya, pemeriksaan kehamilan yang masih terbatas atau sarana pelayanan kesehatan yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Baca Selengkapnya - Jika Buah Hati Lahir Lebih Dini

Arsip

0-Asuhan Kebidanan (Dokumen Word-doc) 0-KTI Full Keperawatan (Dokumen Word-doc) Anak Anatomi dan Fisiologi aneh lucu unik menarik Antenatal Care (ANC) Artikel Bahasa Inggris Asuhan Kebidanan Asuhan Keperawatan Komunitas Asuransi Kesehatan Berita Hiburan Berita Terkini Kesehatan Berita Tips Twitter Celeb contoh Daftar Pustaka Contoh KTI Contoh KTI Kebidanan Farmakologi (Farmasi) Gadar-kegawatdaruratan Gizi Handphone Hirschsprung Hukum Kesehatan Humor Segar (Selingan) Imunisasi Info Lowongan Kerja Kesehatan Intranatal Care (INC) Jiwa-Psikiatri kamus medis kesehatan online Kebidanan Fisiologis Kebidanan Patologis Keluarga Berencana (KB) Keperawatan Gerontology Kesehatan Anak (UMUM) Kesehatan Bayi (untuk UMUM) Kesehatan Haji Kesehatan Ibu Hamil (untuk UMUM) Kesehatan Ibu Menyusui (untuk UMUM) Kesehatan Pria (untuk UMUM) Kesehatan Remaja Kesehatan Reproduksi (Kespro) Kesehatan Wanita (untuk UMUM) Koleksi Skripsi Umum Konsep Dasar KTI D-3 Kebidanan KTI Skripsi Keperawatan kumpulan askep Laboratorium Lain-lain Makalah Keperawatan Kebidanan Managemen Kesehatan Mikrobiologi Motivasi Diri Napza dan zat Adiktif Neonatus dan Bayi News Penyakit Menular potensi KLB Penyakit Menular Seksual (PMS) Postnatal Care (PNC) Protap-SOP Psikologi-Psikiater (UMUM) Reformasi Kesehatan Sanitasi (Penyehatan Lingkungan) Satuan Acara Penyuluhan (SAP) Sistem Endokrin Sistem Immunologi Sistem Indera Sistem Integumen Sistem Kardiovaskuler Sistem Muskuloskeletal Sistem Neurologis Sistem Pencernaan Sistem Perkemihan Sistem Pernafasan Surveilans Penyakit Teknologi Tips dan Tricks Seks Tips Facebook Tips Karya Tulis Ilmiah (KTI) Tips Kecantikan Tips Kesehatan Umum Tokoh Kesehatan Tutorial Blogging Youtuber