Cari Blog Ini

Analisis Faktor yang Memengaruhi Tindakan Ibu dalam Pencarian Pengobatan dan Pemulihan Penyakit Pneumonia Pada Balita

Di Indonesia, penyakit pneumonia masih merupakan salah satu masalah kesehatan di masyarakat. Di Kota Medan, pneumonia merupakan penyakit ketiga dari 10 pola penyakit terbanyak di puskesmas di Provinsi Sumatera Utara dengan jumlah kasus 7.885. Puskesmas Pasar Merah merupakan salah satu puskesmas di Kota Medan yang memiliki angka kasus baru tertinggi terhadap pneumonia di wilayah kerjanya yaitu 16,87%. Pada tahun 2008 penderita pneumonia di Puskesmas Pasar Merah berjumlah 377 balita (13,14%).
Jenis penelitian ini adalah explanatory research, untuk menjelaskan pengaruh faktor predisposisi (pendidikan, pekerjaan, penghasilan keluarga), faktor pendukung (ketersediaan sarana kesehatan, jarak ke sarana kesehatan) dan faktor pendorong (pernah tidaknya memperoleh penyuluhan/informasi tentang pneumonia dari petugas kesehatan) terhadap tindakan ibu dalam pencarian pengobatan dan pemulihan penyakit pneumonia pada balita di wilayah kerja Puskesmas Pasar Merah. Populasi penelitian adalah seluruh ibu yang mempunyai balita dengan pneumonia di wilayah kerja Puskesmas Pasar Merah selama tahun 2008 yang berjumlah 377 orang, dan sampel penelitian berjumlah 79 responden dengan teknik pengambilan sampel secara acak. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan menggunakan uji regresi linear berganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pendidikan berpengaruh terhadap tindakan ibu dalam pencarian pengobatan dan pemulihan penyakit pneumonia pada balita, sedangkan faktor pekerjaan, penghasilan keluarga, ketersediaan sarana kesehatan, jarak ke sarana kesehatan dan pernah tidaknya memperoleh penyuluhan/informasi tentang pneumonia dari petugas kesehatan tidak berpengaruh terhadap tindakan ibu.
Berdasarkan hasil penelitian ini, diharapkan peran serta aktif petugas kesehatan di Puskesmas Pasar Merah dalam meningkatkan penyuluhan atau memberikan informasi untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat terutama pada ibu yang berpendidikan rendah.

Kata kunci : Tindakan Ibu, Pengobatan, Pemulihan, Pneumonia

The pneumonia disease in Indonesia is still one of the main health problems among the people. In Medan, pneumonia is the third of ten most recently diseases in the entire health centers in North Sumatra Province; with the total cases of 7.885 (seven thousand-eight hundred-eighty-five cases). The Pasar Merah health center is one of the health centers in Medan which has the highest incidents rate on pneumonia in its jurisdiction area with the level of 16.87% (sixteen-point-eighty seven percents). In the year of 2008, the number of pneumonia patients in the Pasar Merah health center were 377 babies (13.14%).
The design of this research was the explanatory research and was aimed to explain the influence of predisposing factors (education, employment, family income), enabling factors (the health services provided, the health center access) and reinforcing factors (the record of pneumonia socialization from the health representatives) to the mothers’ medical actions in seeking disease curing and rehabilitative the pneumonia disease to the under-five-year-old babies in the jurisdiction area of the Pasar Merah health center. The population of the research were the entire mothers who had under-five-year old babies that suffered from the pneumonia in the area during the year of 2008; with the total population were 377 mothers and the sampling of the research were 79 respondents with simple random sampling technique. The research instrument was using the questionnaire, and was analyzed by multiple linear regression test.
The result of research showed that the variabel of education had significant influence on the mothers’ medical actions in seeking disease curing and rehabilitative the pneumonia disease to the under-five-year-old babies; while employment, family income, the medical services provided, the health center access, and the absence of the record of pneumonia socialization from the medical representatives factors had no significant influence on the mothers’ medical actions.
Based on the result of the study, it is hoped that the health representatives work in Pasar Merah health center more actively in giving socialization activities to enrich the local people’s knowledge and horizon on health matters, especially to the low-educated mothers.

Keywords: Mothers’action, curative, rehabilitative, pneumonia
Baca Selengkapnya - Analisis Faktor yang Memengaruhi Tindakan Ibu dalam Pencarian Pengobatan dan Pemulihan Penyakit Pneumonia Pada Balita

Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Kelengkapan Pemeriksaan Kehamilan Pada Ibu Yang Memiliki Balita

Kematian ibu merupakan masalah
besar bagi negara
berkembang. Pemeriksaan kehamilan yang dilakukan secara teratur dapat menurunkan angka kecacatan dan kematian baik ibu maupun janin. Berdasarkan data dari Puskesmas Pembantu Tanjung Rejo, cakupan K1 di Kelurahan Tanjung Rejo adalah sebesar 90% dan cakupan K4 adalah sebesar 90%. Data ini belum mencapai target nasional yaitu
95%.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan kelengkapan pemeriksaan kehamilan pada ibu yang memiliki balita di Kelurahan Tanjung Rejo Kecamatan Medan Sunggal Tahun 2010. Penelitian ini bersifat analitis dengan desain cross sectional. Populasi adalah ibu yang memiliki balita. Jumlah sampel yang diperlukan yaitu 96 orang.
Dari hasil penelitian didapatkan proporsi pemeriksaan kehamilan yang tidak
lengkap 32,3% dan yang lengkap 67,7%. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat 4 variabel yang mempunyai hubungan yang signifikan dengan kelengkapan pemeriksaan kehamilan yaitu umur ibu (p=0,002), paritas (p=0,023), pengetahuan(p=0,001), dan faktor keterjangkauan(p=0,005). Sementara variabel yang tidak berhubungan dengan kelengkapan pemeriksaan kehamilan adalah pendidikan ibu (p=0,971), pekerjaan ibu (p=0,916), dan dukungan keluarga (p=0,625).
Hasil analisis multivariat di peroleh persamaan Y = -7,908 + 1,595X1 + 1,968
X2 + 1,278 X3. Variabel tersebut adalah umur ibu, pengetahuan ibu dan faktor keterjangkauan.
Diharapkan kepada petugas Puskesmas Pembantu Tanjung rejo agar lebih meningkatkan penyuluhan tentang perlunya pemeriksaan kehamilan baik kepada ibu hamil maupun keluarganya untuk meningkatkan kesadaran ibu dan keluarga. Peneliti lain diharapkan agar dapat melanjutkan penelitian ini di tempat yang berbeda untuk mengetahui faktor mana yang paling dominan berhubungan dengan kelengkapan pemeriksaan kehamilan.

Kata kunci : pemeriksaan kehamilan, cross sectional, analisis faktor
Baca Selengkapnya - Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Kelengkapan Pemeriksaan Kehamilan Pada Ibu Yang Memiliki Balita

Pengetahuan dan tindakan ibu dalam perawatan perianal terhadap pencegahan ruam popok pada neonatus

Ruam popok adalah kelainan kulit berupa bercak kemerahan meradang. Pengetahuan pemakaian popok pada bayi di Indonesia teryata masih rendah. Penelitian di Inggris menemukan, 25 persen dari 12.000 bayi berusia empat minggu mengalami ruam popok. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya ruam popok adalah perawatan perianal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan, tindakan ibu dalam perawatan perianal terhadap pencegahan ruam popok pada neonatus dan angka kejadian ruam popok di Klinik Bersalin Sally Medan 2010. Desain penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan besar sampel sebanyak 66 orang dengan metode pengambilan total sampling. Penelitian ini mulai dari bulan Februari- April 2010 menggunakan instrumen berupa kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan cukup sebanyak 30 orang (45,5%), terdapat tindakan yang salah dalam perawatan perianal terhadap pencegahan ruam popok pada neonatus yaitu sebanyak 30 orang (45,5%). Angka kejadian ruam popok pada neonatus di Klinik Bersalin Sally Medan 2010 yaitu sebanyak 26 orang (39,4%). Dari hasil penelitian diharapkan agar peneliti lanjutan lebih spesifik meneliti variabel yang lebih bervariasi atau dari sisi korelasi, agar dapat dilihat adakah hubungan antara pengetahuan dan tindakan dalam perawatan perianal terhadap pencegahan ruam popok pada neonatus.

Kata Kunci : Pengetahuan, tindakan, ibu yang mempunyai bayi 0-1 bulan,perawatan perianal, ruam popok pada neonatus

DAFTAR ISI:

BAB I. PENDAHULKUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Manfat Penelitian

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengetahuan
B. Tindakan
C. Neonatus
1. Defenisi Neonatus
2. Kulit Neonatus
3. Karakteristik Kulit Neonatus
4. Popok Bayi
5. Cara membuang Pospak yang benar
D. Ruam Popok
1. Defenisi Ruam Popok
2. Etiologi Ruam Popok
3. Gejala Ruam Popok
4. Mencegah Ruam Popok
5. Perawatan perianal
6. Mengatasi Ruam Popok
7. Penanganan Ruam Popok
8. Berbagai Obat Atasi Ruam Popok
E. Karakteristik Responden

BAB. III KERANGKA PENELITIAN
A. Kerangka Konsep
B. Defenisi Operasional

BAB. IV METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
B. Populasi dan Sampel
1. Populasi
2. Sampel
C. Tempat Penelitian
D. Waktu Penelitian
E. Etika Penelitian
F. Instrumen Penelitian
Universitas Sumatera Utara
G. Uji Validitas dan Reliabilitas
H. Pengumpulan Data
I. Pengolahan Data
J. Analisa Data
BAB . V HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Karakteristik Responden
2. Pengetahuan Responden
3. Tindakan Responden
4. Angka Kejadian Ruam Popok
B. Pembahasan

BAB . VI SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Baca Selengkapnya - Pengetahuan dan tindakan ibu dalam perawatan perianal terhadap pencegahan ruam popok pada neonatus

Tindakan Bidan dalam Penerapan Inisiasi Menyusu Dini

Inisiasi menyusu dini yang disingkat dengan IMD merupakan program yang sedang dianjurkan pemerintah. Karena program IMD dpat menurunkan angka kematian bayi pada umur 28 hari sekitar 22%. Inisiasi menyusu dini telah direkomendasikan oleh sebagai tindakan life saving, tetapi dalam penerapannya IMD itu sendiri belum tersosialisaikan dengan sempurna di beberapa Rumah Sakit. Inisiasi menyusu dini dapat meningkatkan kekebalan tubuh bayi sehingga mengurangi tingkat kematian bayi baru lahir, inisiasi menyusu dini juga meningkatkan ikatan batin ibu dan bayi. ada beberapa faktor penghambat inisiasi menyusu dini sehingga pelaksanaannya tidak dapat diterapkan dengan benar sehingga manfaatnya tidak dapat dirasakan secara optimal. Desain dalam penelitian ini adalah deskriftif yang bertujuan untuk menggambarkan Tindakan Bidan dalam Penerapan Inisiasi Menyusu Dini di Wilayah Kerja Puskesmas Padang Bulan Tahun 2010 Medan. Populasi dalam penelitian ini adalah Bidan yang melakukan inisiasi menyusu dini di Wilayah kerja Puskesmas Padang Bulan sebanyak duapuluh orang, pada bulan Januari sampai Mei 2010. Teknik yang dipakai dalam pengambilan sampel adalah total sampling. Instrument yang dipakai dalam penelitian ini yaitu menggunakan lembar observasi yang berisi pertanyaan tentang pelaksanaan inisiasi menyusu dini. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dari duapuluh orang responden didapat tindakan bidan cukup yakni sepuluh orang (50%), sedangkan dua orang (10%) responden memiliki tindakan baik. Dan responden yang memilki tindakan kurang yakni delapan orang (40%). Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam peningkatan ilmu pengetahuan dalam bidang kebidanan khususnya pelayanan kebidanan, pendidikan kebidanan dan penelitian berikutnya.

Kata kunci : Tindakan, Bidan, Penerapan IMD

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Pertanyaan Penelitian
C. Tujuan Penelitian
D. Manfaat Penelitian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Tindakan
B. Inisiasi Menyusu Dini
1. Definisi
2. Tahapan Inisiasi Menyusu Dini
3. Tatalaksana Inisiasi Menyusu Dini
4. Tata Laksana IMD Persalinan Caesar
5. Faktor Penghambat Proses Inisiasi Menyusu Dini
6. Inisiasi Menyusu Dini yang Dianjurkan
7. Pentingnya Skin Contact Pada IMD
a. Bagi Bayi
b. Bagi Ibu
8. Manfaat IMD

BAB III KERANGKA PENELITIAN
A. Kerangka Konsep
B. Definisi Operasional

BAB IV METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
B. Populasi dan Sampel
C. Lokasi dan Waktu Penelitian
D. Pertimbangan Etik Penelitian
E. Alat Pengumpulan Data
1. Instrumen Penelitian
a. Kuesioner Data Demografi
b. Lembar Observasi
Universitas Sumatera Utara
2. Validitas Instrumen
F. Prosedur Pengumpulan Data
G. Analisa Data

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Karakteristik Bidan
2. Tindakan Bidan Dalam Penerapan IMD di Wilayah
Kerja Puskesmas Padang Bulan
B. Pembahasan
1. Tindakan Bidan Dalam Penerapan IMD

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
B. Saran
Baca Selengkapnya - Tindakan Bidan dalam Penerapan Inisiasi Menyusu Dini

Mau Diet, Ini Cara yang Benar

Mau Diet, Ini Cara yang Benar
Untuk diet perlu makanan yang seimbang gizi dan kalorinya

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Diet, diet dan diet. Kata diet boleh dibilang salah satu harapan bagi individu yang mengidamkan tubuh seindah gitar spanyol. Sayangnya, tak sedikit individu yang sudah memasuki level obesesi gemar melalui jalan singkat dengan menerapkan diet yang tidak benar. Hasilnya bukan tubuh indah dan proporsional yang didapat melainkan tubuh penyakitan yang harus disokong infus rumah sakit. Nah berikut, panduan diet yang dikutip dari Yahoohealth, Kamis (4/11):

  1. Perbanyak olah raga dan asupan makanan yang seimbang antara gizi dan kalori. Dari sejumlah kasus, seseorang yang diet kerap mengabaikan komposisi asupan makanan dan rutinitas olahraga. Ada individu yang cenderung rutin berolah raga namun tidak menjaga pola makan. Sebaliknya, ada juga individu yang pandai menjaga komposisi asupan makanan namun malas berolah raga.
  2. Pantau berat badan Anda. Dengan memantau berat badan, individu bisa mengetahui perkembangan diet yang telah dilakukan. Sebagai catatan, berat badan juga menjadi motivasi seorang untuk menjalani diet.
  3. Hindari cemilan. Tahukah Anda, mengemil dalam porsi yang cukup besar sama saja dengan mengkonsumsi makan siang dan makan malam. Solusinya, jika anda yang suka mengemil bisa memilih cemilan yang memiliki komposisi kalori yang tidak mengancam diet yang telah dilakukan. Disamping itu,pilihan cemilan yang kaya serat hingga bersifat mengenyangkan. Kunci keberhasilan seseorang menjalani diet sangat dipengaruhi oleh keberhasilan seseorang dalam menjaga cemilan.
  4. Jaga porsi makan anda. Prinsipnya sama ketika anda mengemil. Perhatikan komposisi gizi. Pakar gizi kebanyakan menyarankan individu untuk menghindari konsumsi makanan berlemak. Konsumsi makanan kaya protein dan serat sangat direkomendasikan.
  5. Jangan lupa sarapan. Sebagian individu menganggap sarapan pagi sama saja merusak diet. Prinsip itu sejatinya salah kaprah. Faktanya, sarapan pagi membantu individu memperoleh energi yang cukup untuk menujang aktivitas selama setengah hari. Secara logis, sarapan membantu Anda tidak banyak mengkonsumsi kalori saat makan siang.
  6. Salad, alternatif makanan penurun berat badan. Salad kaya akan serat yang dibutuhkan individu yang sedang menjalani diet. Memang harus diakui, tidak semua orang menyukai salad. Karena itu, makanan kaya serat lain seperti roti gandum bisa menjadi pilihan.
http://www.republika.co.id/
Baca Selengkapnya - Mau Diet, Ini Cara yang Benar

Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Senam Hamil

Selama kehamilan upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan ibu memerlukan perhatian ekstra. Hal-hal yang memerlukan perhatian itu antara lain nutrisi, persiapan laktasi, pemeriksaan kehamilan yang teratur, peningkatan kebersihan diri dan lingkungan, kehidupan sexual, istirahat dan tidur, menghentikan kebiasaan yang merugikan kesehatan dan berpengaruh terhadap janin (seperti merokok) melaksanakan pergerakan dan senam hamil. Senam hamil adalah program kebugaran yang diperuntukkan bagi ibu hamil. Latihan-latihan pada senam hamil dirancang khusus untuk menyehatkan dan membugarkan ibu hamil, mengurangi keluhan yang timbul selama kehamilan, serta mempersiapkan fisik dan psikis ibu dalam menghadapi persalinan. Dari hasil hasil pra survey dengan melakukan wawancara terhadap 10 ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Pekalongan didapatkan bahwa mereka mengatakan belum memahami tujuan, manfaat, tata cara dan persyaratan yang harus diperhatikan dalam melakukan senam hamil.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tujuan, manfaat, persyaratan, dan tata cara senam hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Pekalongan Lampung Timur Tahun 2006.
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif, subjek penelitiannya yaitu Ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Pekalongan. Sedangkan objek penelitiannya adalah gambaran tingkat pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil. Total populasi pada penelitian ini yaitu 771 ibu hamil, sedangkan sampel yang diambil adalah 42 responden. Alat pengambilan data yang digunakan adalah lembar kuesioner yang terdiri dari 4 sub pertanyaan, yaitu tujuan, manfaat, tata cara dan persyaratan yang harus diperhatikan dalam melakukan senam hamil.
Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Pekalongan Lampung Timur tahun 2006 tentang tujuan senam hamil termasuk dalam kategori baik (52,38%), manfaat senam hamil kategori cukup (45,24%) syarat melakukan senam hamil kategori cukup (57,14%), tata cara senam hamil kategori cukup (64,29%). Kesimpulan secara umum dapat diketahui bahwa pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Pekalongan Lampung Timur tahun 2006 dalam kategori cukup (64,29%).

Kata Kunci : Pengetahuan, Senam hamil

Baca Selengkapnya - Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Senam Hamil

Faktor-faktor yang mempengaruhi Partus Lama

Sebab-sebab terjadinya partus lama adalah multi kompleks dan tentu saja bergantung pengawasan selagi hamil, pertolongan persaiinan yang baik dan penatalaksanaannya (Mochtar, 1998). Faktor terjadinya partus lama di bagi menjadi dua yaitu faktor penyebab dan faktor resiko, faktor penyebab: his, mal presentasi dan mal posisi, janin besar, panggul sempit, kelainan serviks dan vagina, disproporsi fetovelvik, dan ketuban pecah dini, dan faktor resiko: analgesik dan anastesis berlebihan, paritas, usia, wanita dependen, respons stres, pembatasan mobilitas, dan puasa ketat (Oxorn, 1996).

a. His tidak efisien (adekuat)
Keadaan umum penderita biasanya baik, dan rasa nyeri tidak seberapa. Selama ketuban masih utuh umumnya tidak banyak bahaya, baik bagi ibu maupun bagi janin, kecuali jika persalinan berlangsung terlalu lama; dalam hal terakhir ini morbiditas ibu dan mortalitas janin naik. Keadaan ini dinamakan inersia uteri primer atau hypotonic uterine contraction (Wiknjosastro, 2005). Timbulnya his adalah indikasi mulainya persalinan, apabila his yang timbul sifatnya lemah, pendek, dan jarang maka akan mempengaruhi turunnya kepala dan pembukaan serviks atau yang sering disebut dengan inkoordinasi kontraksi otot rahim, dimana keadaan inkoordinasi kontraksi otot rahim ini dapat menyebabkan sulitnya kekuatan otot rahim untuk dapat meningkatkan pembukaan atau pengusiran janin dari dalam rahim, pada akhirnya ibu akan mengalami partus lama karena tidak adanya kemajuan dalam persalinan.

b. Faktor janin (mal presentasi, malposisi, janin besar)
Bayi yang besar merupakan faktor partus lama yang sangat berkaitan dengan terjadinya malposisi dan malpresentasi, janin yang dalam keadaan malpresentasi dan malposisi kemungkinan besar akan menyebabkan partus lama atau partus macet. Malpresentasi adalah semua presentasi janin selain verteks. Sedangkan malposisi merupakan posisi kepala janin relatif terhadap pelvis depan oksiput sebagai titik referensi. Pada kejadian mal presentasi kerja uterus kontraksinya cenderung lelah dan tidak teratur.
Letak janin dalam uterus terjadi pada proses adaptasi janin terhadap ruangan didalam uterus. Pada kehamilan sampai kurang 32 minggu, jumlah air ketuban relatif banyak sehingga memungkinkan janin bergerak dengan leluasa, dengan demikian janin dapat menempati diri dalam presentasi kepala. Faktor-faktor lain yang memegang peranan dalam terjadinya mal posisi di antaranya adalah multiparitas, hamil kembar, hidramnion, placenta previa dan panggul sempit, juga dapat disebabkan oleh kelainan uterus dan kelainan letak uterus (Wiknjosastro, 2002 ).

c. Faktor jalan lahir (pinggul sempit, kelainan serviks, vagina, tumor)
Penyebab partus lama sebagian besar adalah karena panggul ibu yang terlalu sempit, atau gangguan penyakit pada tulang sehingga kepala bayi sulit untuk berdilatasi sewaktu persalinan. Faktor genetik, fisiologis, dan ingkungan termasuk gizi mempengaruhi perawakan seorang ibu. Perbaikan gizi dan kondisi kehidupan juga penting karena dapat membantu mencegah terhambatnya pertumbuhan. Selain itu servik yang terlalu kaku juga dapat berdampak pada lambannya kemajuan persalinan, karena akibat servik yang kaku akan menghambat proses penipisan portio yang nantinya akan berdampak pada lamanya pembukaan. Adanya tumor juga sangat berpengaruh terhadap proses lamanya persalinan. Jika terjadi tumor di organ reproduksi khususnya pada jalan lahir tentunya akan menghalangi proses lahirnya bayi yang kemungkinan besar akan mengakibatkan partus lama.

d. Disproporsi fetovelvik
Disproporsi fetopelfik adalah ketidak mampuan janin untuk melewati panggul. Disproporsi dapat absolut atau relati£ Absolut apabila janin sama sekali tidak akan dengan selamat melewati jalan lahir. Disproporsi relatif terjadi apabila faktor-faktor lain ikut berpengaruh. Panggul yang sedikit sempit dapat diatasi dengan kontraksi uterus yang efisien, keionggaran jaringan lanak, letak, presentasi dan kedudukan janin yang menguntungkan, dan kemampuan kepala janin untuk mengadakan moulage. Sebaliknya kontraksi yang jelek, jaringan lunak yang kaku, kedudukan abnormal, dan ketidak mampuan kepala untuk mengadakan moulage sebagaimana mestinya, semuanya dapat menyebabkan persalinan menjadi lama, bahkan kemungkinan besar persalinan vaginal tidak mungkin.

e. Kerja uterus yang tidak efisien
Kemajuan persalinan yang lambat sering kali disebabkan oieh kontraksi uterus yang tidak efisien. Jika tidak terdapat kontraksi yang efektif, penurunan bagian presentasi janin akan berlangsung lambat. Praktik prestriksi makanan dan cairan pada ibu bersalin dapat memberikan efek yang buruk pada kontraksi karena otot memerlukan suplai energi yang adekuat untuk berkontraksi secara efektif. Ambulasi dapat meningkatkan aktivitas uterus yang lebih efektif.

f. Usia
Usia menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994) adalah lama waktu hidup atau ada (sejak dilahirkan atau diadakan). Berdasarkan pengertian di atas usia ibu dalam penelitian ini adalah lama seorang ibu hidup sampai melahirkan. Jika dilihat dari sisi biologis manusia 20 - 35 merupakan tahun terbaik wanita untuk hamil karena selain di usia ini kematangan organ reproduksi dan hormon telah bekerja dengan baik juga belum ada penyakit-penyakit degenerative seperti hipertensi, diabetes, serta daya tahan tubuh masih kuat. Tidak semua ibu dengan usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun dipastikan mengalami partus lama, akan tetapi pada sebagian wanita dengan usia yang masih muda organ reproduksinya masih belum begitu sempurna dan fungsi hormon-hormon yang berhubungan dengan persalinan juga belum sempurna pula. Ditambah dengan keadaan psikologis, emosional dan pengalaman yang belum pernah dialami sebelumnya dan mempengaruhi kontraksi uterus menjadi tidak aktif, yang nantinya akan mempengaruhi lamanya persalinan. Sedangkan pada ibu dengan usia lebih dari 35 tahun diketahui kerja organ-organ reproduksinya sudah mulai lemah, dan tenaga ibu pun sudah mulai berkurang, hal ini akan membuat ibu kesulitan untuk mengejan yang pada akhirnya apabila ibu terus menerus kehilangan tenaga karena mengejan akan terjadi partus lama (Amuriddin, 2009).

g. Paritas
Menurut Wiknjosastro salah satu penyebab kelainan his yang dapat menyebabkan partus lama terutama ditemukan pada primigravida khususnya primigravida tua, sedangkan pada multipara ibu banyak ditemukan kelainan yang bersifat inersia uteri. Salah satu penyebab terjadinya partus lama menurut Moechtar (1998) adalah kelainan his, his yang tidak normal baik kekuatan maupun sifatnya ridak menghambat persalinan. Kelainan his dipengaruhinya oleh herediter, emosi, dan ketakutan menghadapi persalinan yang sering dijumpai pada primagravida. Dikatakan bahwa terdapat kecenderungan kesehatan ibu yang berparitas rendah lebih baik dari yang berperitas tinggi.

h. Ketuban pecah dini ketika serviks masih tertutup, keras dan belum mendatar.
Pecahnya ketuban dengan adanya serviks yang matang dan kontraksi yang kuat tidak pernah memperpanjang persalinan. Akan tetapi, apabila kantong ketuban pada saat serviks masih panjang, keras dan menutup, maka sebelum dimulainya proses persalinan sering terdapat periode laten yang lama. Hal ini dipengaruhi dimana ketika terjadi kesempitan pintu atas panggul (PAP) yang akhirnya berpengaruh terhadap persalinan yaitu pembukaan serviks lamban dan seringkali tidak lengkap. Kerja uterus yang tidak efisien mencakup ketidak mampuan serviks untuk membuka secara lancar dan cepat, disamping kontraksi rahim yang tidak efisien pada akhirnya akan terjadi partus lama.

i. Analgesik dan anastesis yang berlebihan dalam fase leten
Kadang-kadang besar gaya yang dihasilkan oleh kontraksi otot abdomen sangat menurun sehingga pelahiran pervaginan spontan tidak terjadi. Sedasi berat atau analgesia epidural yang berlebihan cenderung mengurangi refleks keinginan untuk mengejan terlebih mengingat saat fase laten keadaan portio masih tebal dengan pembukaan kurang dari 4cm. Hai ini akan menyebabkan portio bertambah lama untuk menipis sehingga pembukaan menjadi semakin lamban. Analgesia epigural menurunkan kadar oksitosin alamiah dan merelaksasikan otot dasar pelvis yang normalnya keras. Bentuk penghilangan nyeri ini berhubungan dengan penurunan kontraksi dan peningkatan penggunaan oksitosin intravena (IV). Epidural meningkatkan insiden malrotasi, persalinan lama dan intervensi yang bersangkutan.

j. Wanita yang dependen, cemas dan ketakutan
Wanita yang dependen, cemas dan ketakutan merupakan calon persalinan lama. Tipe wanita lainnya adalah wanita yang maskulin, masochistik yang kelihatannya menikmati rasa nyeri yang dialaminya.

k. Respons stres
Stres psikologis memitiki efek fisik yang kuat pada persalinan. Hormon stres, seperti adrenalin, berinteraksi dengan reseptor-beta di dalam otot uterus dan menghambat kontraksi, memperlambat persalinan. Ini merupakan respons involunter ketika ibu merasa terancam atau tidak aman, persalinannya berhenti baginya untuk mencari tempat yang dirasakannya aman.

l. Pembatasan mobilitas dan postur semi-rekumben
Percobaan cochrane review (Gupta dan Nikodem, 2002) mengemukakan bahwa imobilitas atau posisi terlentang memiliki beberapa efek sampling yaitu sebagai berikut :
1) Penurunan kadar sirkulasi oksitosin alamiah
2) Berefek buruk terhadap kontraksi dan juga kemajuan persalinan mengakibatkan rata-rata persalinan lama.
3) Peningkatan penggunaan oksitosin untuk augmentasi
4) Posisi terlentang dapat berakibat kala dua persalinan memanjang
5) Ibu merasakan kontraksi lebih menyakitkan pada kala dua bila berbaring terlentang.

m. Puasa ketat
Beberapa klinisi merekomendasikan puasa dalam persalinan karena kekhawatiran mereka mengenai bahaya aspirasi lambung. Aspirasi lambung adalah masalah yang berhubungan dengan tekhnik anastesi buruk saat diberikan anastesi umum dan bukan karena adanya makanan dalam lambung. Puasa ketat pada persalinan dapat mengakibatkan persalinan lama, diagnosis distosia, dan sederet interfensi yang berkulminasi pada kelahiran sesar (Leveno, 2009)
Baca Selengkapnya - Faktor-faktor yang mempengaruhi Partus Lama

Faktor faktor Penghambat Ibu Dalam Pemberian ASI Eksklusif

ASI eksklusif merupakan nutrisi yang terbaik bagi bayi dan terpenting untuk mencapai tumbuh kembang yang optimal. Pemberian ASI eksklusif akan membantu pertumbuhan yang adekuat dalam 6 bulan pertama untuk mencapai status gizi yang baik. Adapun beberapa faktor yang menjadi penghambat pemberian ASI eksklusif adalah faktor kesehatan bayi, faktor kesehatan ibu, faktor pengetahuan ibu, faktor pekerjaan, faktor estetika, faktor petugas kesehatan, faktor iklan dan faktor budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penghambat Ibu Dalam Pemberian ASI Eksklusif Di Kelurahan Tanjung Selamat Kecamatan Medan Tuntungan. Penelitian ini menggunakan desain statistik deskriptif. Populasi pada penelitian ini adalah semua ibu-ibu yang memiliki bayi usia 0-6 bulan di Kelurahan Tanjung Selamat Kecamatan Medan Tuntungan yaitu sebanyak 30 orang selama tahun 2008, pengambilan sampel menggunakan tehnik total sampling yaitu seluruh ibu-ibu yang tinggal di Kelurahan Tanjung Selamat Kecamatan Medan Tuntungan yang memiliki bayi usia 0 – 6 bulan. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Mei sampai Juni 2009 dengan wawancara terstruktur menggunakan kuesioner yang terdiri dari 2 bagian yaitu data demografi dan faktor-faktor penghambat ibu dalam pemberian ASI eksklusif. Data yang telah terkumpul diolah dengan menggunakan statistik deskriptif dan untuk menentukan faktor yang paling dominan yang menjadi penghambat pemberian ASI eksklusif dengan metode regresi berganda melalui program komputerisasi. Hasil analisa menunjukkan bahwa faktor-faktor penghambat ibu dalam pemberian ASI eksklusif yang paling dominan adalah faktor iklan dengan nilai koefisien (B) sebesar 3,090, faktor budaya sebesar 2,675, dan faktor pengetahuan sebesar 2, 176.

Kata Kunci : Faktor- Faktor Penghambat ASI Eksklusif
Baca Selengkapnya - Faktor faktor Penghambat Ibu Dalam Pemberian ASI Eksklusif

Obama Mengaku Terkena Imbas Politik UU Kesehatan

 Obama Mengaku Terkena Imbas Politik UU Kesehatan
Presiden AS Barack Obama

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON--Dalam wawancara perdananya setelah kekalahan Partai Demokrat di pemilu legislatif, Presiden AS Barack Obama mengakui ia mendapat pukulan politik yang lebih besar dari yang ia perkirakan karena meloloskan Undang-undang Kesehatan di Kongres.

"Ada alasan mengapa sistem perlindungan kesehatan kita tidak pernah berubah selama beberapa dasawarsa. Mengapa setiap presiden selalu berbicara mengenai hal itu namun tidak pernah berhasil. Persoalan tersebut memang sulit, suatu sistem yang besar dan sangat rumit," kata Obama dalam wawacara di acara '60 Minutes' di CBN.

"Saya memutuskan untuk maju terus dan terbukti bahwa hal tersebut meminta ongkos politik yang lebih besar dibanding yang diperkirakan. Ongkos tersebut mungkin sedikit lebih besar dari yang diperkirakan, secara politik." Presiden berbicara pasca pemilu legislatif pada Selasa pekan lalu yang memperlihatkan partai Republik mengambil alih kendali di parlemen (DPR) dan hampir menyapu mayoritas Demokrat di Senat (DPD).

"Saya kira Republik mampu mengubah filosofi pemerintahan saya menjadi sesuatu yang klasik, tradisional, dan liberal. Dan hal tersebut bukanlah hal yang diinginkan rakyat Amerika," kata Obama dalam wawancara yang direkam sebelum ia berangkat ke India untuk kunjungan 10 hari.

Presiden pada Maret menandatangani UU bersejarah yang memberikan akses perlindungan kesehatan kepada hampir seluruh rakyat Amerika dan merealisasikan mimpi dari para pemimpin AS generasi ke generasi. Dana talangan sebesar 940 miliar dolar AS itu akan memperluas cakupan bagi 32 juta warga Amerika yang saat ini tidak memiliki asuransi kesehatan, memastikan 95 persen warga AS di bawah usia 65 tahun dapat memiliki asuransi tersebut.

Namun Republik mengambil alih cerita dan menggambarkan Obama membahayakan "Pemerintahan besar" dengan menalangi urusan perlindungan kesehatan, dan berulang kali menanyakan mengapa Obama tidak fokus menangani pengangguran di AS yang melonjak drastis.

Obama menolak untuk mengakui bahwa ia bersikap naif, namun menerima bahwa ia sebenarnya dapat melakukan lebih banyak untuk meyakinkan publik Amerika tentang manfaat argumennya dengan mengatakan, "kita tahu bahwa hal itu mungkin bukan suatu tindakan politik yang hebat."

"Saya pikir ada waktunya ketika kita mengatakan 'mari selesaikan hal ini segera' dari pada harus khawatir mengenai bagaimana kita dapat melakukannya. Dan saya pikir hal itu adalah masalah. Saya membayar harga politik untuk hal tersebut." Republik bertekad untuk membatalkan UU yang disahkan Obama sebelumnya, meski secara realita hal itu tidak mungkin karena presiden masih memiliki kekuasaan untuk memveto rencana pembatalan itu.

Republik mungkin akan lebih berhasil di pengadilan karena beberapa hakim di bebarapa negara bagian telah mengatakan mereka akan mempertimbangkan keberatan terkait posisi konstitusional UU tersebut yang memerintahkan agar semua warga Amerika memiliki asuransi atau bila tidak mereka harus membayar denda.

"Saat Anda berkampanye, saya pikir Anda bebas untuk mengatakan apapun tanpa harus berpikir 'Bagaimana cara saya untuk mengimplementasikan hal ini'," kata Obama dalam acara itu. Seakan ingin mengonfirmasi hal tersebut, ia kemudian berbicara lebih lunak terkait kerja sama dengan perusahaan asuransi dibanding saat ia menyatakan perusahaan-perusahaan asuransi itu sebagai musuh nomor satu ketika masa kampanye.

"Saat berbicara mengenai perlindungan kesehatan, kita harus juga berkonsultasi dengan industri asuransi, memastikan mereka tahu bagaimana aturan kerjanya," katanya.

Red: Djibril Muhammad
Sumber: ant/AFP

http://www.republika.co.id/
Baca Selengkapnya - Obama Mengaku Terkena Imbas Politik UU Kesehatan

ABU VULKANIK, Makin Halus Makin Berbahaya


ABU vulkanik akibat letusan Gunung Merapi yang menghujani kawasan Yogyakarta dan sekitarnya semakin menebal. Ini jelas menjadi ancaman serius bagi warga yang bermukim di sana.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), paparan abu vulkanik sangat membahayakan warga yang menghirupnya. Ancaman paling umum adalah gangguan pernapasan.

Berdasar paparan WHO saat terjadi letusan Gunung Eyjafjallajökull di Islandia lalu, abu vulkanik gunung berapi umumnya terdiri dari partikel fragmen batuan halus, mineral, dan kaca dengan karakter keras, kasar, korosif dan tidak larut dalam air.

Partikel abu sangat kecil sehingga mudah tertiup angin hingga ribuan kilometer. Yang paling berpotensi merusak tubuh adalah partikel abu terkecil yang mencapai kurang dari 1/100 milimeter. Ini berbahaya karena mudah menembus masker kain dan masuk ke paru-paru.

Seseorang dengan bronkhitis, emfisema dan asma disarankan mengurangi aktivitas di luar ruang karena paparan abu vulkanik bisa memperparah gangguan kesehatan.

WHO mengatakan, konsentrasi abu vulkanik setiap gunung berapi berbeda, tergantung kondisi alam seperti suhu udara dan angin. "Saran kami adalah mendengarkan insruksi kesehatan pejabat setempat," kata Dr Maria Neira, Direktur Department Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan WHO.

"Jika mengalami iritasi atau sakit di tenggorokan dan paru-paru, pilek, atau mata gatal, sebaiknya segera kembali rumah dan membatasi kegiatan di luar ruang," Neira menambahkan.

Selain partikel berbahaya, abu vulkanik juga berpotensi mengandung gas belerang dioksida dalam kadar rendah. Itulah mengapa ketika mulai mencium aroma belerang, sangat disarankan segera menjauh dari kawasan tersebut. (int)

http://metronews.fajar.co.id/
Baca Selengkapnya - ABU VULKANIK, Makin Halus Makin Berbahaya

Arsip

0-Asuhan Kebidanan (Dokumen Word-doc) 0-KTI Full Keperawatan (Dokumen Word-doc) Anak Anatomi dan Fisiologi aneh lucu unik menarik Antenatal Care (ANC) Artikel Bahasa Inggris Asuhan Kebidanan Asuhan Keperawatan Komunitas Asuransi Kesehatan Berita Hiburan Berita Terkini Kesehatan Berita Tips Twitter Celeb contoh Daftar Pustaka Contoh KTI Contoh KTI Kebidanan Farmakologi (Farmasi) Gadar-kegawatdaruratan Gizi Handphone Hirschsprung Hukum Kesehatan Humor Segar (Selingan) Imunisasi Info Lowongan Kerja Kesehatan Intranatal Care (INC) Jiwa-Psikiatri kamus medis kesehatan online Kebidanan Fisiologis Kebidanan Patologis Keluarga Berencana (KB) Keperawatan Gerontology Kesehatan Anak (UMUM) Kesehatan Bayi (untuk UMUM) Kesehatan Haji Kesehatan Ibu Hamil (untuk UMUM) Kesehatan Ibu Menyusui (untuk UMUM) Kesehatan Pria (untuk UMUM) Kesehatan Remaja Kesehatan Reproduksi (Kespro) Kesehatan Wanita (untuk UMUM) Koleksi Skripsi Umum Konsep Dasar KTI D-3 Kebidanan KTI Skripsi Keperawatan kumpulan askep Laboratorium Lain-lain Makalah Keperawatan Kebidanan Managemen Kesehatan Mikrobiologi Motivasi Diri Napza dan zat Adiktif Neonatus dan Bayi News Penyakit Menular potensi KLB Penyakit Menular Seksual (PMS) Postnatal Care (PNC) Protap-SOP Psikologi-Psikiater (UMUM) Reformasi Kesehatan Sanitasi (Penyehatan Lingkungan) Satuan Acara Penyuluhan (SAP) Sistem Endokrin Sistem Immunologi Sistem Indera Sistem Integumen Sistem Kardiovaskuler Sistem Muskuloskeletal Sistem Neurologis Sistem Pencernaan Sistem Perkemihan Sistem Pernafasan Surveilans Penyakit Teknologi Tips dan Tricks Seks Tips Facebook Tips Karya Tulis Ilmiah (KTI) Tips Kecantikan Tips Kesehatan Umum Tokoh Kesehatan Tutorial Blogging Youtuber