Cari Blog Ini

Tips Sederhana Mengurangi Global Warming

Tips Sederhana Mengurangi Global Warming

Oleh: Fadil Abidin

Sebenarnya kita tidak memerlukan perubahan yang radikal untuk membantu bumi ini agar menjadi tempat yang nyaman ditempati. Ubahlah beberapa rutinitas yang dapat meninggalkan "jejak karbon" Anda, yang pada akhirnya akan menghemat uang Anda juga.

Tetapi yang terpenting memberikan anak cucu kita tempat yang lebih baik untuk ditinggali. Berikut adalah tips-tips sederhana tetapi sangat bermanfaat jika kita melakukannya secara rutin.

1. Kurangi konsumsi daging. Berdasarkan penelitian, untuk menghasilkan 1 kg daging, sumber daya yang dihabiskan setara dengan 15 kg gandum atau 100 kg rumput. Peternakan juga penyumbang 18 persen "jejak karbon" dunia, yang mana lebih besar dari sektor transportasi (mobil, motor, pesawat, dan lain-lain). Belum ditambah lagi dengan bahaya gas-gas rumah kaca tambahan yang dihasilkan oleh aktivitas peternakan lainnya seperti metana yang notabene 3 kali lebih berbahaya dari CO2 dan gas NO2 yang 300 kali lebih berbahaya dari CO2.

2. Makan dan masaklah dari bahan yang masih segar. Menghindari makanan yang sudah diolah atau dikemas akan menurunkan energi yang terbuang akibat proses dan transportasi yang berulang-ulang. Makanan segar juga lebih sehat bagi tubuh kita.

3. Beli produk lokal, hasil pertanian lokal sangat murah dan juga sangat menghemat energi, terutama jika kita menghitung energi dan biaya transportasinya. Makanan organik lebih ramah lingkungan, tetapi periksa juga asalnya. Jika diimpor dari daerah lain, kemungkinan emisi karbon yang dihasilkan akan lebih besar daripada manfaatnya.

4. Daur ulang aluminium, plastik dan kertas. Akan lebih baik lagi jika Anda bisa menggunakannya berulang-ulang. Energi untuk membuat satu kaleng alumunium untuk minuman setara dengan energi untuk menyalakan TV selama 3 jam non-stop.

5. Beli dalam kemasan besar. Akan jauh lebih murah, juga menghemat sumber daya untuk kemasan. Kemasan yang terbuang juga akan menjadi sampah dan sumber polusi bagi lingkungan. Jika terlalu banyak, ajaklah teman atau saudara Anda untuk berbagi saat membelinya.

6. Hindari fast food. Fast food merupakan penghasil sampah terbesar di dunia dalam industri makanan. Selain itu konsumsi fast food yang berlebihan juga buruk untuk kesehatan Anda.

7. Bawa tas yang bisa dipakai berulang kali. Bawalah sendiri tas belanja Anda, dengan demikian Anda mengurangi jumlah tas plastik/kresek yang diperlukan. Di negara-negara maju, pasar swalayan atau super market tidak lagi menyediakan tas plastik gratis untuk tempat belanjaan yang kita beli. Kalaupun ada disediakan di kasir, bahannya dari kertas daur ulang dan kita harus membelinya dengan harga yang relatif mahal. Belakangan ini beberapa pusat perbelanjaan besar di Indonesia sudah mulai mengedukasi pelanggannya untuk menggunakan sistem seperti ini. Jadi sambutlah itikad baik mereka untuk menyelamatkan lingkungan.

8. Gunakan gelas yang bisa dicuci. Jika Anda terbiasa dengan cara modern yang selalu menyajikan minum bagi tamu dengan air, jus atau soft drink dalam kemasan. Beralihlah ke cara lama kita. Dengan menggunakan gelas kaca, keramik atau plastik food grade yang bisa kita cuci dan dipakai ulang. Kurangi meminum minuman dalam kemasan kaleng, botol atau cangkir plastik sekali pakai.

9. Berbelanjalah di lingkungan sekitar Anda. Akan sangat menghemat biaya transportasi, uang parkir, waktu dan BBM Anda.

10. Tanam pohon setiap ada kesempatan. Baik di lingkungan ataupun dengan berpartisipasi dalam program penanaman pohon. Bisa dengan menyumbang bibit, dana, dan lain-lain. Tergantung kesempatan dan kemampuan Anda masing-masing. Jika tidak ada lahan di pekarangan rumah, bisa menanam aneka tanaman dengan menggunakan pot.

11. Gunakan peralatan hemat energi. Sekarang ini tidak hanya lampu yang mengeluarkan produk hemat energi. Tapi pesawat televisi, oven, microwave, mesin cuci, AC hingga computer bahkan perusahaan otomotif juga mengeluarkan produk hemat energi.

12. Gunakan rumus 5R yaitu recycle (daur ulang), reuse (pakai ulang), refill (isi ulang), reduse (kurangi) dan rethink (pikirkan kembali) terhadap semua produk yang akan kita beli, kita gunakan, kita konsumsi serta memikirkan bagaimana sampah dari produk tersebut kita tangani.

Recycle (daur ulang), kita tentu tidak bisa melaksanakan recycle karena kita tidak punya peralatan atau teknologinya. Untuk itu kita harus memisahkan sampah yang bisa didaur ulang ke dalam wadah tertentu, misalnya kertas, plastik atau logam. Kita bisa menjualnya kepada pemulung atau memberikannya kepada mereka sebagai bentuk solidaritas kepada sesama dan mereka akan menjualnya kepada pabrik-pabrik pengolahan sampah daur ulang.

Reuse (pakai ulang), beberapa wadah plastik bekas minuman atau makanan dalam kemasan (yang bertanda food grade, lambang garpu-sendok ) bisa dipakai ulang kembali dan tidak membahayakan kesehatan. Kaleng cat yang besar atau ember yang bocor bisa dijadikan pot tanaman. Beberapa kerajinan tangan juga berasal dari sisa-sisa bahan yang tidak terpakai, misalnya kain perca atau bekas kaleng susu dan sebagainya.

Refill (isi ulang), saat ini banyak produk yang memakai kemasan refill, mulai dari sampo, sabun cair, pembersih lantai dan sebagainya. Harga dari produk kemasan refill ini lebih murah sampai 20 persen ketimbang membeli dengan kemasan produk bakunya.

Reduse (kurangi), matikan alat-alat listrik yang tidak terpakai dan tidak perlu. Hemat BBM Anda dengan mempergunakan kenderaan bermotor seperlunya saja. Jika selama ini memprint out semua dokumen yang Anda buat, mulai sekarang cukup disimpan dalam disk atau flash disk saja. Kurangi penggunaan kertas dan cetaklah dokumen seperlunya saja. Anda harus tahu bahwa kertas putih yang Anda gunakan berasal dari pohon yang ditebang dan perlu proses panjang sebelum menjadi kertas putih.

Rethink (berpikir ulang), sebelum membeli barang jangan hanya berpatokan pada harga yang murah saja. Tapi harus diperhatikan juga konsumsi energi yang dipakai, umur produk, ketahanan, produk limbah atau sisa yang dihasilkan dan harus ramah lingkungan.

Sumber: http://www.analisadaily.com/

Baca Selengkapnya - Tips Sederhana Mengurangi Global Warming

Belajar dari Kasus Prita dan Rumah Sakit Omni part II

Selasa, 02 Juni 2009 | 17:05 WIB

Omni Internasional Merasa
Dicemarkan Nama Baiknya oleh Prita

TEMPO Interaktif, Jakarta: Rumah Sakit Omni Internasional Alam Sutra merasa dirugikan atas email yang kirim Prita Mulyasari. Alasannya, surat elektronik pengirim atas nama prita.milyasari@yahoo.com yang ditujukan langsung kepada customer_care@banksinarmas.com itu menyudutkan pihak Rumas Sakit Omni. Isi email tersebut berjudul Penipuan RS Omni Internasional Alam Sutra.

Penasehat Hukum Rumah Sakit Omni, Risma Situmorang mengatakan kliennya keberatan dengan adanya kata-kata penipuan. "Intinya ada pencemaran nama baik terhadap RS Omni,"kata Risma melalui sambungan telepon, Selasa (02/06). Prita, lanjut Risma, menyampaikan agar konsumen berhati-hati terhadap dokter-dokter di Rumah Sakit Omni.

Pihak Rumah Sakit langsung melakukan somasi terhadap Prita, setelah menerima salinan email itu. Isi somasi agar Prita mencabut semua tuduhan yang dilayangkan ke Rumah Sakit Omni yang dilayangkan lewat pesan elektroniknya. "Prita tidak bersedia,"kata Risma Situmorang.

Selanjutnya, manajemen RS Omni terpaksa membuat surat klarifikasi bantahan melalui dua surat kabar nasional yaitu Kompas dan Media Indonesia. Somasi yang tak digubris tersebut, yang membuat manajemen RS Omni menuntut Prita Mulyasari, yang dianggap telah merugikan dan mencemarkan nama baik rumah sakit.

Hasil putusan perdata pada 11 Mei 2009 lalu di Pengadilan Negeri Tangerang memenangkan gugatan RS Omni. Prita terbukti melakukan perbuatan hukum yang merugikan RS Omni. Hakim memutuskan, Prita untuk membayar kerugian materil sebesar 161 juta sebagai pengganti uang klarifikasi di koran nasional. "Dan 100 juta untuk kerugian imateril," katanya.

Sumber: TEMPO Interaktif
Baca Selengkapnya - Belajar dari Kasus Prita dan Rumah Sakit Omni part II

Belajar dari Kasus Prita dan Rumah Sakit Omni part I

ini sebenarnya berita lama namun efeknya masih terasa sampai sekarang dan bisa menjadi pembelajaran kita di masa yang akan datang.

Prita Mulyasari, 32 tahun, ibu dari balita Khairan Ananta Nugroho--3 tahun dan masih memberikan ASI untuk babynya, Ranarya Puandida Nugroho--1 tahun 3 bulan, harus mendekam dibalik jeruji karena didakwa atas pelanggaran Ps 27 ayat 3 UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Ini semua berawal dari keluhannya dalam sebuah email.....


RS Omni Dapatkan Pasien dari Hasil Lab Fiktif
Prita Mulyasari - suaraPembaca

Jakarta - Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan. Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah. Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien. Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal. Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul. Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali. Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja. Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan. Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi. Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri. dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan. Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif. Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000. Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis. Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya. Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan. Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore. Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista. Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas. Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut. Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah. Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang. Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum. Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami. Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni. Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap. Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik. Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini. Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain. Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan. Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan. Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini. Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

Salam,
Prita Mulyasari
Alam Sutera
prita.mulyasari@yahoo.com
081513100600
sumber: http://suarapembaca.detik.com/


Simpati datang dari berbagai pihak, antara lain melalui beberapa milis dan juga FB--sebuah situs jejaring sosial. Ini adalah pelajaran berharga untuk kita semua........apakah kebenaran berpihak pada yang benar.........mari kita merenung sejenak!!!
Baca Selengkapnya - Belajar dari Kasus Prita dan Rumah Sakit Omni part I

Hati-Hati Maraknya Penculikan Organ

Penculikan Organ Berita Penculikan Organ ini bukan HOAX, karena sudah terjadi dibeberapa daerah termasuk daerah sayah sendiri.
(Jika agan punya blog atau situs, silahkan COPAS aja postingan ini dan tempel di blog/situs agan-agan, agar orang banyak bisa membacanya dan lebih berhati-hati, mohon cantumkan juga URL blog sayah :mrgreen: )

Mungkin agan-agan udah pernah mendengar berita ini sebelumnya. Berita tentang 700 Penculik Organ yang disebar diseluruh Jawa Barat bahkan mungkin di seluruh daerah di Pulau Jawa.

Sayah baru denger berita tentang Penculikan Organ ini dari Bapak dan Ibu sayah seminggu yang lalu. Beliau bilang “Hati-hati sekarang banyak penjahat yang menculik orang-orang trus organ orang itu diambil untuk dijual”. beliau menambahklan, katanya “Sudah ada 4-7 orang yang diculik dan diambil organnya di daerah Plered, kebanyakan anak kecil dan remaja yang jadi korbannya” (Plered = Kecamatan tempat sayah tinggal, Kabupaten Purwakarta).

Waduh makin gila aja nih dunia, sayah pun penasaran dengan berita itu lalu browsing di internet, dan ternyata benar tidak hanya di daerah sayah saja gan, tapi di daerah lain di pulau jawa juga lagi marak-maraknya Penculik Organ. Sayah menulis status tentang Penculikan Organ ini di Facebook, dan ternyata banyak komen dari teman-teman yang mengatakan di daerah mereka juga banyak terjadi kasus Penculikan Organ.

Si penculik biasanya mencari mangsanya yang berjalan sendirian dimalam hari, tapi mereka tidak beroprasi dimalam hari aja gan, soalnya ada 2 orang petani di Jawa Timur yang sedang berangkat ke ladangnya trus diculik selama 2-4 minggu, lalu organ Mata, Ginjal, dan Hatinya diambil, setelah diambil organnya si korban pun ditinggalkan di pinggir jalan bersama bungkusan uang sebesar Rp 10 Juta (mungkin ini duit konpensasi dari si penculik untuk si korban).

Si Penculik biasanya mencari korban yang berumur 17 tahun kebawah tapi tidak berarti mereka tidak menculik orang dewasa, karana di daerah sayah ada Bapak-bapak yang kena culik juga. Modus operandi si penculik biasanya, pertama-tama dia pura-pura menanyakan alamat pada korbannya, saat korbannya lengah mereka langsung menarik si korban ke mobil penculik (mobil yang dicurigai = APV SILVER dengan plat nomber L.1857.GU). Si bapak yang kena culik di daerah sayah itu berbeda caranya, si penculik sengaja mematikan sklar listrik rumahnya (pada saat malam hari), kemudian saat si bapak keluar rumah dan membetulkan saklar, si bapak di bius dari belakang oleh si penculik. Mungkin masih banyak lagi modus operandi si penculik, jadi tetaplah WASPADA.

Spoiler tentang kasus penculikan ini.
- Facebook Page – Penculikan
- Status Rini Edward
”WASPADA! Percobaan penculikan, Rabu 4/8/2010, at 12.00 PM di JL Pandu Raya, Indraprasta 2, Bogor. Plaku 4 pria ,pake Suzuki APV silver. Korban sdg berjalan ke Indomart & dipepet, 1 orang turun & tanya nama org yg dtulis d kertas. Plaku brusaha ajak korban naik APV & terjadi tarik2an tangan. Korban bisa kabur & lari ke Indomart, & APV lgsg kabur. Info from PRT Gw yg jd korbannya. (BR, Welly)”

Tips dari sayah dan teman-teman agar tetap aman:
1. Jika keluar malam-malam (pergi ke warung, toserba, warnet, wartel, dsb) harap minta Bapak atau Kakak untuk menemani, minimal 2 orang atau lebih yang menemani anda pergi atau 1 orang teman yang ahli bela diri.
2. Jika ada orang yang turun dari mobil atau pejalan kaki yang menanyakan alamat, agan harus berhati-hati dan menjauh dari mobil yang ditumpangi Penanya alamat itu. Lebih baik agan punya pikiran bahwa dia adalah penculik, supaya agan lebih waspada.
3. Jika agan punya anak, harap lebih tingkatkan lagi pengawasan terhadap anaknya jika mereka akan main ke luar rumah, dan ingatkan agar tetap hati-hati jika ada orang tak dikenal mengajak ngobrol.
4. Hindari tempat-tempat yang sepi (tempat yang jarang dilalui orang banyak).
5. jika agan melihat keanehan disekitar rumah, orang atau mobil yang mencurigkan. segera lapor ke Pihak Berwajib, tetangga sebelah, atau RT/RW tempat anda tinggal.

Baca Selengkapnya - Hati-Hati Maraknya Penculikan Organ

6 Makanan untuk Perbaiki Mood

Makanan Penambah Mood Bete, bete, bete!!! Kata itu yang sering sayah baca ketika melihat status temen-temen Facebook sayah :P
Bad mood bisa berdampak buruk bagi kegiatan yang kita lakukan, pokonya jadi serba males atau kesel aja bawaannya klo lagi bad mood. Trus gimana dong biar mood kembali baik? :? Tenang aja gan, sayah ada list makanan-makanan yang bisa meningkatkan mood agan. Langsung aja gan baca artikel selengkapnya ;)

Faktor makanan mempengaruhi tingkat mood seseorang seharian. Jika mengalami suasana tidak enak, sebaiknya periksa kembali makanan yang Anda asup. Menurut para ahli nutrisi, makanan membantu meningkatkan mood baik atau sebaliknya, dalam jangka pendek dan jangka panjang.

Menu makanan harian yang baik menjaga gula darah tetap stabil dan kondisi lambung atau gastrointestinal (GI) membantu seseorang tetap energik. Gula darah yang tak stabil, tinggi atau rendah, mempengaruhi mood. Demikian halnya dengan kondisi lambung. Kerja lambung yang terganggu akibat diet keras atau konstipasi menunjukkan perut membutuhkan makanan berserat lebih banyak.

Dalam jangka panjang, beberapa minggu dan bulan, makanan sehat menjaga tubuh tetap sehat dan menangkal masuknya penyakit. Makanan sehat bernutrisi berfungsi meningkatkan hormon serotonin, menjadikan tubuh lebih rileks dan tenang. Nutrisi lainnya membantu mencegah terjadinya luka dan sirkulasi darah ke seluruh organ.

Ada beberapa jenis makanan dan minuman yang membantu membentuk mood:

1. Makanan kaya vitamin B12 dan Folat (Folic Acid)
Makanan yang mengandung asam folat dan vitamin B12 berguna mencegah gangguan pada sistem pusat syaraf, gangguan mood dan demensia. Hasil ini berdasar studi yang dilakukan Edwards Reynolds dari Institut Epileptologi, King College London..

Berdasarkan studi lain di Jepang, asupan makanan dengan kandungan folat tinggi juga menurunkan potensi depresi seseorang. Asam folat diperoleh dari berbagai kacang-kacangan dan sayuran hijau. Vitamin B12 banyak terdapat di produk ikan, daging dan susu.

2. Perbanyak Sayuran dan Buah
Buah dan sayuran memiliki berbagai nutrisi dan antioksidan yang menyehatkan dan meningkatkan kualitas hidup. Sebuah studi mengungkapkan, memakan dua porsi buah dan sayuran sehari mempengaruhi perbaikan kesehatan seseorang sebesar 11 persen.

3. Perbanyak Makanan Kaya Selenium
Selenium merupakan antioksidan yang meningkatkan mood seseorang. Para peneliti menemukan stres yang di derita orang dewasa sebagian besar akibat depresi. Riset menemukan tingkat konsumsi selenium penderita depresi hanya 200 mikrogram atau kurang. Semakin besar tingkat sirkulasi selenium dalam darah, gejala depresi menurun secara signifikan.

Sumber Selenium berasal dari makanan berupa kacang kedelai, dan kacang polong. Selain itu selenium diperoleh dari daging ayam tanpa kulit, susu rendah lemak, kacang-kacangan dan makanan laut (udang, kepiting, sardin, ikan).

4. Makan ikan beberapa kali seminggu
Studi terbaru mengungkapkan, orang yang mengalami depresi, sebaiknya meningkatkan konsumsi daging ikan, utamanya ikan salmon yang kaya asam lemak omega-3.

Jay Whelan, Kepala Departemen Nutrisi di Universitas Tennessee dalam sebuat penelitian mengatakan kandungan omega-3 ikan mempengaruhi mood dan tingkat depresi seseorang. Sumber makanan kaya asam lemak omega-3 diantaranya ikan hering, tuna, sardin dan salmon.

5. Asupan Vitamin D
Kekurangan kadar vitamin D meningkatkan potensi gangguan mood, terutama menjelang mentrusasi (PMS), dan gangguan mood secara umum.

Pamela K Murphy dari Pusat Medis Universitas Carolina Selatan menemukan asupan vitamin D sedikitnya mencapai 1.000-2.000 IU perhari. Selain sinar matahari pagi, ada beberapa bahan makanan yang mengandung vitamin D diantaranya ikan salmon, tuna dan makarel, hati, keju, dan kuning telur.

6. Seporsi kecil Cokelat
Memakan satu porsi coklat setiap hari membantu meningkatkan mood dan aktivitas fisik, ungkap Becker dari John Hopkins. Menurut studinya, cokelat hitam memicu produksi endorfin, hormon yang memberi rasa rileks. coklat hitam juga meningkatkan kesehatan jantung dengan efek mencegah pembekuan darah dalam pembuluh.

Sebuah penelitian di Belanda mengungkapkan, makan 1/3 bagian cokelat setiap hari menurunkan tekanan darah dan resiko munculnya penyakit jantung.

Selamat mencoba gan makanannya, semoga mood agan-agan kembali baik :P

Baca Selengkapnya - 6 Makanan untuk Perbaiki Mood

Chatting Menggunakan CMD

Chatting Pengen chatting ma temen kosn tapi komputer agan tidak terpasang koneksi internet!!! :( Tenang aja gan, ada solusinya nih.

Chating tidak hanya bisa dilakukan ketika kita online, kita juga masih bisa chating dengan teman se-kosn ataupun teman sekamar walau komputer kita tidak memiliki akses internet/offline, dengan cara chating menggunakan Command Prompt atau yang lebih kita kenal dengan CMD.

Langsung aja gan nih cara-cara chatting menggunakan CMD :)

1. Jalankan Service Mesengger dengan cara masuk ke:
*run -> ketikan “services.msc” –> pilih mesengger –> setelah itu klik kanan dan pilih properties.

service.msc (fauzikun.wordpress.com)

*untuk masuk ke run. clik tombol start/windows, lalu pilih run, atau tekan tombol window dan huruf “R” di keyboard secara bersamaan (Windows+R)

2. Pilih start up nya secara automatic lalu pilih apply/OKmessenger properties (fauzikun.wordpress.com)

Sekarang services mesengger agan sudah aktif, dan bisa memulai chatting lewat command prompt dengan cara:
1. Masuk ke command Prompt dengan cara: run -> ketikan ”CMD“.
2. Untuk mengenalkan name address pada system maka ketikan perintah “net name” lalu enter.
3. Setelah nama komputer dan workgroupnya muncul maka aplikasi telah berhasil.
(Bila tidak muncul masuk kembali ke service mesengger lalu restart).

cmd net name (fauzikun.wordpress.com)
4. Maka agan bisa mengirim pesan lewat command prompt dengan cara: ketik “net send” “alamat ip/nama komputer yang di tuju” “pesan”. (tidak usah pakai tanda kutip, untuk contoh lihat gambar).
net send 10.0.2.15 HELLO WORLDchatting (fauzikun.wordpress.com)

5. Untuk percobaan sebaiknya mengirim ke komputer sendiri terlebih dahulu.

Chat ini bisa berjalan jika:
* service mesangger sudah aktif
* kedua komputer dalam 1 area network

Baca Selengkapnya - Chatting Menggunakan CMD

Penerapan Ergonomi di Rumah Sakit

Ergonomi berasal dari kata Yunani, Ergos= kerja dan Nomos=aturan/hukum. Jadi ergonomi adalah suatu aturan atau norma yang dalam sistem kerja. Mengapa ergonomi diperlukan? Dari pengalaman para pekerja, setiap aktivitas atau pekerjaan yang tidak dilakukan secara ergonomis akan berakibat tak nyaman, biaya tinggi, kecelakaan dan penyakit akibat kerja meningkat. Akibatnya perfomansi kerja menurun akhirnya terjadi penurunan efisiensi dan daya kerja. Perusahaan mana yang menginginkan hal seperti ini? Pada akhirnya tentu akan berdampak pada penurunan produktivitas dan jelas tujuan perusahaan untuk mendapat keuntungan tidak tercapai.

Sebagai contoh penerapan ergonomi adalah sebagai berikut:
Bila posisi kerja Anda lebih banyak duduk, maka menurut Sanders & Mc. Cormick :
- Jika memungkinkan menyediakan meja yang dapat diatur turun dan naik
- Landasan kerja harus memungkinkan lengan menggantung pada posisi rileks dari bahu, dengan lengan bawah mendekati posisi horizontal atau sedikit menurun. Duduklah dengan posisi bersandar.
- Ketinggian landasan kerja tak memerlukan menekuk tulang belakang yang berlebihan
- Jika pekerjaan Anda menuntut diskriminasi penglihatan dan koordinasi tangan atau mata (contoh: mengetik dengan komputer) maka posisi pekerjaan perlu di dekat daerah mata, sedikit di bawah ketinggian bahu, untuk menstabilkan tangan diberi bantalan siku/pergelangan yang nyaman dengan tujuan mengurangi beban otot bahu
- Sesekali lakukan ‘disguised pauses’, istirahat sekedar untuk mengurangi konsentrasi pada pekerjaan misalnya: merubah posisi duduk, berdiri sebentar dari kursi atau berjalan-jalan sebentar

Bila posisi kerja Anda lebih banyak berdiri maka:
-Bekerjalah dengan posisi tegak ke depan. Usahakan pekerjaan terlihat dengan kepala dan badan tegak, kepala agak ke depan
-Kurangi gerakan yang tidak perlu, gunakan sepatu yang senyaman mungkin
-Manfaatkan waktu istirahat semaksimal mungkin agar kerja dan istirahat seimbang.
-Hindari postur tubuh yang tidak berubah/statis, sesekali regangkan otot-otot Anda
-Apabila Anda memerlukan aktivitas menjangkau barang-barang tertentu, maka letakkan barang-barang tersebut dalam posisi yang minimal atau terdekat dan mudah dijangkau dan mudah terlihat

Bila posisi kerja Anda dinamis (duduk dan berdiri bergantian) maka:
-Usahakan benda yang akan Anda jangkau berada maksimal 15 cm di atas landasan kerja
-Tinggi landasan kerja dengan kisaran antara 90cm-120cm, merupakan ketinggian yang paling tepat dan baik untuk posisi duduk maupun berdiri

Nah, jika Anda menerapkan prinsip kerja ergonomis, diharapkan penyakit akibat kerja dapat dihindari. Jika kondisi pekerjaan Anda belum mengikuti prinsip kerja ergonomis, tidak ada salahnya bila Anda menyarankannya kepada pimpinan perusahaan bukan? Demi tercapainya tujuan perusahaan dan mengurangi kerugian perusahaan.

Prinsip Kesehatan Dan Keselamatan Kerja Di Rumah Sakit

Di era desentralisasi dan globalisasi ini, tuntutan akan pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Rumah Sakit semakin tinggi, karena para pegawai, pengunjung (pasien/klien) maupun masyarakat sekitar Rumah Sakit ingin mendapat perlindungan dari gangguan kesehatan dan kecelakaan di Rumah Sakit, baik akibat pemberian pelayanan maupun karena kondisi sarana dan prasarana yang ada di Rumah Sakit serta dampaknya kepada masyarakat sekitar.
Modul ini sebagai pelengkap bahan pembelajaran yang sudah ada, untuk lebih meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pengelola atau penanggung jawab K-3 di Rumah Sakit
Modul K3RS ini dalam bentuk CD yang dapat dipelajari secara mandiri atau pada setiap ada kesempatan, memandu pengguna untuk memiliki kemampuan dalam :
Menyusun standar dan SOP K3 RS
Menerapkan system manajemen K3 di RS
Menerapkan manajemen risiko K3 di RS
Melakukan audit internal K3 di RS
Menerapkan prinsip-prinsip ergonomi dalam pelaksanaan pekerjaan.
Menyusun rencana tanggap darurat.
Menyosialisasikan K3 RS
Pada setiap akhir bahasan, dilengkapi dengan kiuz untuk menilai sejauhmana pemahaman isi modul telah dicapai.

Tujuan

Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan di bidang K3RS bagi tenaga supervisor atau yang bertanggung jawab di unit K3RS
Sasaran

Para supervisor atau yang bertanggung jawab dalam keselamatan dan kesehatan kerja di Rumah Sakit
Materi

Pokok Bahasan
Sub Pokok Bahasan
Kebijakan Depkes dalam K3RS
Dasar Hukum K3RS
Kebijakan K3RS
Tujuan Kebijakan K3RS
Masalah Penerapan di RS
Strategi penerapan di RS
Kuis
Perundang-undangan K3RS
Peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan K3RS
Undang-Undang Keselamatan K3
Sistem Manajemen K3RS
Pengertian Sistem Manajemen K3RS
Tujuan dan Sasaran Manajemen K3RS
Ketentuan-ketentuan Sistem K3 di RS
Langkah-langkah penerapan Sistem Manajemen K3RS
Pengorganisasian K3RS
Bentuk Organisasi K3RS
Peran dan fungsi panitia K3RS
Strategi penerapan K3 di RS
Tehnik Sosialisasi

Proses penerapan inovasi
Proses komunikasi inovasi
Strategi sosialisasi
Dokumentasi Mutu

Pengertian dan konsep dasar
Cara menyusun dan menyepakati standar.
Cara penulisan standar dan Prosedur bidang K3
Standar Keselamatan Kerja, Kebakaran dan Kewaspadaan Bencana.

Standar administrasi dan pengelolaan K3
Standar staf dan pimpinan
Standar untuk fasilitas dan peralatan
Standar untuk pengembangan staf
Standar untuk pengendalian mutu

Audit Internal


Pengertian, tujuan dan manfaat Audit Mutu Internal K3.
Personil dalam Audit K3.
Tahapan dalam Audit Internal K3.
Rencana Kerja dan Jadual
Daftar Penilaian dan Kriteria Penilaian
Kuis
Ergonomi

Pengertian Ergonomi
Faktor-faktor yang terkait dengan Ergonomi
Penyakit yang ditimbulkan oleh masalah ergonomi
Keuntungan hasil kerja bila sesuai dengan Ergonomi.
Penyakit Akibat Kerja, Penyakit Hubungan Kerja dan Keselamatan Kerja
Pengetian Penyakit Akibat Kerja (PAK), Penyakit Hubungan kerja(PHK) dan Kecelakaan Kerja.
Peraturan Perundangan yang sehubungan dengan PAK, PHK dan KK
Potensial Hazard yang ada di RS
Diteksi Dini Penyakit Akibat Kerja
Kecelakaan Kerja
Manajemen Risiko
Pengertian Manajemen Risiko
Bahaya/Hazard
Tahapan Manajemen Risiko
Perencanaan Tanggap Darurat
Pengertian Perencanaan Tanggap Darurat
Jenis dan Macam Bencana
Penentuan Golongan Penderita
Pengorganisasian bila ada bencana
Disaster Plan untuk Rumah Sakit.
Baca Selengkapnya - Penerapan Ergonomi di Rumah Sakit

Diagnosa Keperawatan Keluarga

PENGERTIAN

Diagnosis Keperawatan merupakan keputusan klinik tentang respon individu, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan aktual atau potensial, dimana berdasarkan pendidikan dan pengalamannya, perawat secara akontabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga, menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah status kesehatan klien (Carpenito, 2000; Gordon, 1976 & NANDA).

Diagnosis keperawatan ditetapkan berdasarkan analisis dan interpretasi data yang diperoleh dari pengkajian keperawatan klien. Diagnosis keperawatan memberikan gambaran tentang masalah atau status kesehatan klien yang nyata (aktual) dan kemungkinan akan terjadi, dimana pemecahannya dapat dilakukan dalam batas wewenang perawat.



KOMPONEN DIAGNOSIS KEPERAWATAN

Rumusan diagnosis keperawatan mengandung tiga komponen utama, yaitu :

1. Problem (P/masalah), merupakan gambaran keadaan klien dimana tindakan keperawatan dapat diberikan. Masalah adalah kesenjangan atau penyimpangan dari keadaan normal yang seharusnya tidak terjadi.

Tujuan : menjelaskan status kesehatan klien atau masalah kesehatan klien secara jelas dan sesingkat mungkin. Diagnosis keperawatan disusun dengan menggunakan standart yang telah disepakati (NANDA, Doengoes, Carpenito, Gordon, dll), supaya :

1. Perawat dapat berkomunikasi dengan istilah yang dimengerti secara umum
2. Memfasilitasi dan mengakses diagnosa keperawatan
3. Sebagai metode untuk mengidentifikasi perbedaan masalah keperawatan dengan masalah medis
4. Meningkatkan kerjasama perawat dalam mendefinisikan diagnosis dari data pengkajian dan intervensi keperawatan, sehingga dapat meningkatkan mutu asuhan keperawatan.

2. Etiologi (E/penyebab), keadaan ini menunjukkan penyebab keadaan atau masalah kesehatan yang memberikan arah terhadap terapi keperawatan. Penyebabnya meliputi : perilaku, lingkungan, interaksi antara perilaku dan lingkungan.

Unsur-unsur dalam identifikasi etiologi :

1. Patofisiologi penyakit : adalah semua proses penyakit, akut atau kronis yang dapat menyebabkan / mendukung masalah.
2. Situasional : personal dan lingkungan (kurang pengetahuan, isolasi sosial, dll)
3. Medikasi (berhubungan dengan program pengobatan/perawatan) : keterbatasan institusi atau rumah sakit, sehingga tidak mampu memberikan perawatan.
4. Maturasional :

Adolesent : ketergantungan dalam kelompok

Young Adult : menikah, hamil, menjadi orang tua

Dewasa : tekanan karier, tanda-tanda pubertas.

3. Sign & symptom (S/tanda & gejala), adalah ciri, tanda atau gejala, yang merupakan informasi yang diperlukan untuk merumuskan diagnosis keperawatan.

Jadi rumus diagnosis keperawatan adalah : PE / PES.



PERSYARATAN PENYUSUNAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN

1. Perumusan harus jelas dan singkat dari respon klien terhadap situasi atau keadaan yang dihadapi

2. Spesifi dan akurat (pasti)

3. Dapat merupakan pernyataan dari penyebab

4. Memberikan arahan pada asuhan keperawatan

5. Dapat dilaksanakan oleh perawat

6. Mencerminan keadaan kesehatan klien.



HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MENENTUKAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN

1. Berorientasi kepada klien, keluarga dan masyarakat

2. Bersifat aktual atau potensial

3. Dapat diatasi dengan intervensi keperawatan

4. Menyatakan masalah kesehatan individu, keluarga dan masyarakat, serta faktor-faktor penyebab timbulnya masalah tersebut.



ALASAN PENULISAN DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif

2. Memberikan kesatuan bahasa dalam profesi keperawatan

3. Meningkatkan komunikasi antar sejawat dan profesi kesehatan lainnya

4. Membantu merumuskan hasil yang diharapkan / tujuan yang tepat dalam menjamin mutu asuhan keperawatan, sehingga pemilihan intervensi lebih akurat dan menjadi pedoman dalam melakukan evaluasi

5. Menciptakan standar praktik keperawatan

6. Memberikan dasar peningkatan kualitas pelayanan keperawatan.



PROSES PENYUSUNAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN

1. Klasifikasi & Analisis Data

Pengelompokkan data adalah mengelompokkan data-data klien atau keadaan tertentu dimana klien mengalami permasalahan kesehatan atau keperawatan berdasarkan kriteria permasalahannya. Pengelmpkkan data dapat disusun berdasarkan pola respon manusia (taksonomi NANDA) dan/atau pola fungsi kesehatan (Gordon, 1982);

Respon Manusia (Taksonomi NANDA II) :

1. Pertukaran
2. Komunikasi
3. Berhubungan
4. Nilai-nilai
5. Pilihan
6. Bergerak
7. Penafsiran
8. Pengetahuan
9. Perasaan

Pola Fungsi Kesehatan (Gordon, 1982) :

1. Persepsi kesehatan : pola penatalaksanaan kesehatan
2. Nutrisi : pola metabolisme
3. Pola eliminasi
4. Aktivitas : pola latihan
5. Tidur : pola istirahat
6. Kognitif : pola perseptual
7. Persepsi diri : pola konsep diri
8. Peran : pola hubungan
9. Seksualitas : pola reproduktif
10. Koping : pola toleransi stress
11. Nilai : pola keyakinan

2. Mengindentifikasi masalah klien

Masalah klien merupakan keadaan atau situasi dimana klien perlu bantuan untuk mempertahankan atau meningkatkan status kesehatannya, atau meninggal dengan damai, yang dapat dilakukan oleh perawat sesuai dengan kemampuan dan wewenang yang dimilikinya

Identifikasi masalah klien dibagi menjadi : pasien tidak bermasalah, pasien yang kemungkinan mempunyai masalah, pasien yang mempunyai masalah potensial sehingga kemungkinan besar mempunyai masalah dan pasien yang mempunyai masalah aktual.

1. Menentukan kelebihan klien

Apabila klien memenuhi standar kriteria kesehatan, perawat kemudian menyimpulkan bahwa klien memiliki kelebihan dalam hal tertentu. Kelebihan tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan atau membantu memecahkan masalah yang klien hadapi.

1. Menentukan masalah klien

Jika klien tidak memenuhi standar kriteria, maka klien tersebut mengalami keterbatasan dalam aspek kesehatannya dan memerlukan pertolongan.

1. Menentukan masalah yang pernah dialami oleh klien

Pada tahap ini, penting untuk menentukan masalah potensial klien. Misalnya ditemukan adanya tanda-tanda infeksi pada luka klien, tetapi dari hasil test laboratorium, tidak menunjukkan adanya suatu kelainan. Sesuai dengan teori, maka akan timbul adanya infeksi. Perawat kemudian menyimpulkan bahwa daya tahan tubuh klien tidak mampu melawan infeksi.

1. Penentuan keputusan

- Tidak ada masalah, tetapi perlu peningkatan status dan fungsi (kesejahteraan) : tidak ada indikasi respon keperawatan, meningkatnya status kesehatan dan kebiasaan, serta danya inisiatif promosi kesehatan untuk memastikan ada atau tidaknya masalah yang diduga.

- Masalah kemungkinan (possible problem) : pola mengumpulkan data yang lengkap untuk memastikan ada atau tidaknya masalah yang diduga

- Masalah aktual, resiko, atau sindrom : tidak mampu merawat karena klien menolak masalah dan pengobatan, mulai untuk mendesain perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi untuk mencegah, menurunkan, atau menyelesaikan masalah.

- Masalah kolaboratif : konsultasikan dengan tenaga kesehatan profesional yang ompeten dan bekerja secara kolaboratif pada masalah tersebut. Masalah kolaboratif adalah komplikasi fisiologis yang diakibatkan dari patofisiologi, berhubungan dengan pengobatan dan situasi yang lain. Tugas perawat adalah memonitor, untuk mendeteksi status klien dan kolaboratif dengan tenaga medis guna pengobatan yang tepat.

3. Memvalidasi diagnosis keperawatan

Adalah menghubungkan dengan klasifikasi gejala dan tanda-tanda yang kemudian merujuk kepada kelengkapan dan ketepatan data. Untuk kelengkapan dan ketepatan data, kerja sama dengan klien sangat penting untuk saling percaya, sehingga mendapatkan data yang tepat.

Pada tahap ini, perawat memvalidasi data yang ada secara akurat, yang dilakukan bersama klien/keluarga dan/atau masyarakat. Validasi tersebut dilaksanakan dengan mengajukan pertanyaan atau pernyataan yang reflektif kepada klien/keluarga tentang kejelasan interpretasi data. Begitu diagnosis keperawatan disusun, maka harus dilakukan validasi.

4. Menyusun diagnosis keperawatan sesuai dengan prioritasnya

Setelah perawat mengelompokkan, mengidentifikasi, dan memvalidasi data-data yang signifikan, maka tugas perawat pada tahap ini adalah merumuskan suatu diagnosis keperawatan. Diagnosa keperawatan dapat bersifat aktual, resiko, sindrom, kemungkinan dan wellness.

Menyusun diagnosis keperawatan hendaknya diurutkan menurut kebutuhan yang berlandaskabn hirarki Maslow (kecuali untuk kasus kegawat daruratan — menggunakan prioritas berdasarkan “yang mengancam jiwa”) :

1. Berdasarkan Hirarki Maslow : fisiologis, aman-nyaman-keselamatan, mencintai dan memiliki, harga diri dan aktualisasi diri
2. Griffith-Kenney Christensen : ancaman kehidupan dan kesehatan, sumber daya dan dana yang tersedia, peran serta klien, dan prinsip ilmiah dan praktik keperawatan.



KATEGORI DIAGNOSIS KEPERAWATAN

1. Diagnosis Keperawatan Aktual

Diagnosis keperawatan aktual (NANDA) adalah diagnosis yang menyajikan keadaan klinis yang telah divalidasikan melalui batasan karakteristik mayor yang diidentifikasi. Diagnosis keperawatan mempunyai empat komponen : label, definisi, batasan karakteristik, dan faktor yang berhubungan.

Label merupakan deskripsi tentang definisi diagnosis dan batasan karakteristik. Definisi menekankan pada kejelasan, arti yang tepat untuk diagnosa. Batasan karakteristik adalah karakteristik yang mengacu pada petunjuk klinis, tanda subjektif dan objektif. Batasan ini juga mengacu pada gejala yang ada dalam kelompok dan mengacu pada diagnosis keperawatan, yang teridiri dari batasan mayor dan minor. Faktor yang berhubungan merupakan etiologi atau faktor penunjang. Faktor ini dapat mempengaruhi perubahan status kesehatan. Faktor yang berhubungan terdiri dari empat komponen : patofisiologi, tindakan yang berhubungan, situasional, dan maturasional.

Contoh diagnosis keperawatan aktual : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan transport oksigen, sekunder terhadap tirah baring lama, ditandai dengan nafas pendek, frekuensi nafas 30 x/mnt, nadi 62/mnt-lemah, pucat, sianosis.

2. Diagnosis Keperawatan Resiko

Diagnosis keperawatan resiko adalah keputusan klinis tentang individu, keluarga atau komunitas yang sangat rentan untuk mengalami masalah dibanding individu atau kelompok lain pada situasi yang sama atau hampir sama.

Validasi untuk menunjang diagnosis resiko adalah faktor resiko yang memperlihatkan keadaan dimana kerentanan meningkat terhadap klien atau kelompok dan tidak menggunakan batasan karakteristik. Penulisan rumusan diagnosis ini adalag : PE (problem & etiologi).

Contoh : Resiko penularan TB paru berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang resiko penularan TB Paru, ditandai dengan keluarga klien sering menanyakan penyakit klien itu apa dan tidak ada upaya dari keluarga untuk menghindari resiko penularan (membiarkan klien batuk dihadapannya tanpa menutup mulut dan hidung).

3. Diagnosis Keperawatan Kemungkinan

Merupakan pernyataan tentang masalah yang diduga masih memerlukan data tambahan dengan harapan masih diperlukan untuk memastikan adanya tanda dan gejala utama adanya faktor resiko.

Contoh : Kemungkinan gangguan konsep diri : gambaran diri berhubungan dengan tindakan mastektomi.

4. Diagnosis Keperawatan Sejahtera

Diagnosis keperawatan sejahtera adalah ketentuan klinis mengenai individu, kelompok, atau masyarakat dalam transisi dari tingkat kesehatan khusus ke tingkat kesehatan yang lebih baik. Cara pembuatan diagnsosis ini adalah dengan menggabungkan pernyataan fungsi positif dalam masing-masing pola kesehatan fungsional sebagai alat pengkajian yang disahkan. Dalam menentukan diagnosis keperawatan sejahtera, menunjukkan terjadinya peningkatan fungsi kesehatan menjadi fungsi yang positif.

Sebagai contoh, pasangan muda yang kemudian menjadi orangtua telah melaprkan fungsi positif dalam peran pola hubungan. Perawat dapat memakai informasi dan lahirnya bayi baru sebagai tambahan dalam unit keluarga, untuk membantu keluarga mempertahankan pola hubungan yang efektif.

Contoh : perilaku mencari bantuan kesehatan berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang peran sebagai orangtua baru.

5. Diagnosis Keperawatan Sindrom

Diagnosis keperawatan sindrom merupakan diagnosis keperawatan yang terdiri dari sekelompok diagnosis keperawatan aktual atau resiko, yang diduga akan muncul karena suatu kejadian atau situasi tertentu.

Contoh : sindrom kurang perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik.



MASALAH KOLABORATIF

Masalah kolaboratif adalah masalah yang nyata atau resiko yang mungkin terjadi akibat komplikasi dari penyakit atau dari pemeriksaan atau akibat pengobatan, yang mana masalah tersebut hanya bisa dicegah, diatasi, atau dikurangi dengan tindakan keperawatan yang bersifat kolaboratif. Label yang digunakan adalah : Potensial Komplikasi (PK).



MENCEGAH KESALAHAN DALAM MEMBUAT DIAGNOSIS KEPERAWATAN

1. Tidak menggunakan istilah medis. Jika harus, hanya sebatas memperjelas, dengan diberi pernyataan `sekunder terhadap`.

Ex : mastektomi b.d kanker

2. Tidak merumuskan diagnosis keperawatan sebagai suatu diagnosa medis

Ex : Resiko pneumonia

3. Jangan merumuskan diagnosis keperawatan sebagai suatu intervensi keperawatan

Ex : Menggunakan pispot sesering mungkin b.d dorongan ingin berkemih

4. Jangan menggunakan istilah yang tidak jelas. Gunakan istilah / pernyataan yang lebih spesifik.

Ex : Tidak efektifnya bersihan jalan nafas b.d kesulitan bernafas

5. Jangan menulis diagnosis keperawatan yang mengulangi instruksi dokter

Ex : Instruksi untuk puasa

6. Jangan merumuskan dua masalah pada saat yang sama

Ex : Nyeri dan takut b.d prosedur operasi

7. Jangan menghubungkan masalah dengan situasi yang tidak dapat diubah

Ex : Resiko cedera b.d kebutaan

8. Jangan menuliskan etiologi atau tanda/gejala untuk masalah

Ex : Kongesti paru b.d tirah baring lama

9. Jangan membuat asumsi

Ex : Resiko perubahan peran b.d tidak berpengalaman menjadi ibu baru.

10. Jangan menulis pernyataan yang tidak bijaksana secara hukum

Ex : Kerusakan integritas kulit b.d posisi klien tidak diubah setiap 2 jam.



DOKUMENTASI DIAGNOSIS KEPERAWATAN

1. Gunakan format PES untuk semua masalah aktual dan PE untuk masalah resiko

2. Catat diagnosis keperawtaan resiko ke dalam format diagnosis keperawatan

3. Gunakan istilah diagnosis keperawatan yang ada dalam NANDA ( terbaru : 2007 – 2008 )

4. Mulai pernyataan diagnosis keperawatan dengan mengidentifikasi informasi tentang data untuk diagnosis keperawatan

5. Masukkan pernyataan diagnosis keperawatan ke dalam daftar masalah

6. Hubungkan setiap diagnosis keperawatan ketika menemuan masalah perawatan

7. Gunakan diagnosis keperawatan sebagai pedoman untuk pengkajian, perencanaan, intervensi dan evaluasi.



Tujuan Dokumentasi Diagnosis Keperawatan :

1. Mengkomunikasikan masalah klien pada tim kesehatan

2. Mendemonstrasikan tanggung jawab dalam identifikasi masalah klien

3. Mengidentifikasi masalah utama untuk perkembangan intervensi keperawatan.



Diagnosis keperawatan saat ini dapat mengacu ke NANDA 2007-2008 dengan beberapa revisi diagnosis, contohnya:

“Gangguan pola tidur” (2005-2006) menjadi “Insomnia” (2007-2008).

Selain itu terdapat juga diagnosis keperawatan yang baru, diantaranya untuk peningkatan gula darah.
Baca Selengkapnya - Diagnosa Keperawatan Keluarga

Asuhan Keperawatan HIV AIDS

ASKEP KLIEN DENGAN HIV AIDS

Konsep Dasar
I. Pengertian
Pengertian HIV AIDS adalah sindroma yang menunjukkan defisiensi imun seluler pada seseorang tanpa adanya penyebab yang diketahui untuk dapat menerangkan tejadinya defisiensi, tersebut seperti keganasan, obat-obat supresi imun, penyakit infeksi yang sudah dikenal dan sebagainya.

II. Etiologi
Penyebab adalah golongan virus retro yang disebut human immunodeficiency virus (HIV). HIV pertama kali ditemukan pada tahun 1983 sebagai retrovirus dan disebut HIV-1. Pada tahun 1986 di Afrika ditemukan lagi retrovirus baru yang diberi nama HIV-2. HIV-2 dianggap sebagai virus kurang pathogen dibandingkaan dengan HIV-1. Maka untuk memudahkan keduanya disebut HIV.
Transmisi infeksi HIV dan AIDS terdiri dari lima fase yaitu :
1. Periode jendela. Lamanya 4 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi. Tidak ada gejala.
2. Fase infeksi HIV primer akut. Lamanya 1-2 minggu dengan gejala flu likes illness.
3. Infeksi asimtomatik. Lamanya 1-15 atau lebih tahun dengan gejala tidak ada.
4. Supresi imun simtomatik. Diatas 3 tahun dengan gejala demam, keringat malam hari, B menurun, diare, neuropati, lemah, rash, limfadenopati, lesi mulut.
5. AIDS. Lamanya bervariasi antara 1-5 tahun dari kondisi AIDS pertama kali ditegakkan. Didapatkan infeksi oportunis berat dan tumor pada berbagai system tubuh, dan manifestasi neurologist.
AIDS dapat menyerang semua golongan umur, termasuk bayi, pria maupun wanita. Yang termasuk kelompok resiko tinggi adalah :
1. Lelaki homoseksual atau biseks. 5. Bayi dari ibu/bapak terinfeksi.
2. Orang yang ketagian obat intravena
3. Partner seks dari penderita AIDS
4. Penerima darah atau produk darah (transfusi).
IV. Pemeriksaan Diagnostik
1. Tes untuk diagnosa infeksi HIV :
- ELISA
- Western blot
- P24 antigen test
- Kultur HIV
2. Tes untuk deteksi gangguan system imun.
- Hematokrit.
- LED
- CD4 limfosit
- Rasio CD4/CD limfosit
- Serum mikroglobulin B2
- Hemoglobulin

V. Penatalaksanaan

Asuhan Keperawatan
I. Pengkajian.
1. Riwayat : tes HIV positif, riwayat perilaku beresiko tinggi, menggunakan obat-obat.
2. Penampilan umum : pucat, kelaparan.
3. Gejala subyektif : demam kronik, dengan atau tanpa menggigil, keringat malam hari berulang kali, lemah, lelah, anoreksia, BB menurun, nyeri, sulit tidur.
4. Psikososial : kehilangan pekerjaan dan penghasilan, perubahan pola hidup, ungkapkan perasaan takut, cemas, meringis.
5. Status mental : marah atau pasrah, depresi, ide bunuh diri, apati, withdrawl, hilang interest pada lingkungan sekitar, gangguan prooses piker, hilang memori, gangguan atensi dan konsentrasi, halusinasi dan delusi.
6. HEENT : nyeri periorbital, fotophobia, sakit kepala, edem muka, tinitus, ulser pada bibir atau mulut, mulut kering, suara berubah, disfagia, epsitaksis.
7. Neurologis :gangguan refleks pupil, nystagmus, vertigo, ketidakseimbangan , kaku kuduk, kejang, paraplegia.
8. Muskuloskletal : focal motor deifisit, lemah, tidak mampu melakukan ADL.
9. Kardiovaskuler ; takikardi, sianosis, hipotensi, edem perifer, dizziness.
10. Pernapasan : dyspnea, takipnea, sianosis, SOB, menggunakan otot Bantu pernapasan, batuk produktif atau non produktif.
11. GI : intake makan dan minum menurun, mual, muntah, BB menurun, diare, inkontinensia, perut kram, hepatosplenomegali, kuning.
12. Gu : lesi atau eksudat pada genital,
13. Integument : kering, gatal, rash atau lesi, turgor jelek, petekie positif.

II. Diagnosa keperawatan
1. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi dan pola hidup yang beresiko.
2. Resiko tinggi infeksi (kontak pasien) berhubungan dengan infeksi HIV, adanya infeksi nonopportunisitik yang dapat ditransmisikan.
3. Intolerans aktivitas berhubungan dengan kelemahan, pertukaran oksigen, malnutrisi, kelelahan.
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang, meningkatnya kebutuhan metabolic, dan menurunnya absorbsi zat gizi.
5. Diare berhubungan dengan infeksi GI
6. Tidak efektif koping keluarga berhubungan dengan cemas tentang keadaan yang orang dicintai.
Daftar Pustaka

Grimes, E.D, Grimes, R.M, and Hamelik, M, 1991, Infectious Diseases, Mosby Year Book, Toronto.

Christine L. Mudge-Grout, 1992, Immunologic Disorders, Mosby Year Book, St. Louis.
Rampengan dan Laurentz, 1995, Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak, cetakan kedua, EGC, Jakarta.

Lab/UPF Ilmu Penyakit Dalam, 1994, Pedoman Diagnosis dan Terapi, RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

indonesiannursing.com
Indonesian Nursing

* Home
* Who I am
* Download
* Nursing Update

* askep
* Bahasa Indonesia
* English
* Indonesian Nurses Vacancies
* Nursing E-Book
* Scholarship

Email Subscription
Comments
Posts
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN HIV-AIDS

Konsep Dasar
I. Pengertian
AIDS adalah sindroma yang menunjukkan defisiensi imun seluler pada seseorang tanpa adanya penyebab yang diketahui untuk dapat menerangkan tejadinya defisiensi, tersebut seperti keganasan, obat-obat supresi imun, penyakit infeksi yang sudah dikenal dan sebagainya.

II. Etiologi
Penyebab adalah golongan virus retro yang disebut human immunodeficiency virus (HIV). HIV pertama kali ditemukan pada tahun 1983 sebagai retrovirus dan disebut HIV-1. Pada tahun 1986 di Afrika ditemukan lagi retrovirus baru yang diberi nama HIV-2. HIV-2 dianggap sebagai virus kurang pathogen dibandingkaan dengan HIV-1. Maka untuk memudahkan keduanya disebut HIV.
Transmisi infeksi HIV dan AIDS terdiri dari lima fase yaitu :
1. Periode jendela. Lamanya 4 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi. Tidak ada gejala.
2. Fase infeksi HIV primer akut. Lamanya 1-2 minggu dengan gejala flu likes illness.
3. Infeksi asimtomatik. Lamanya 1-15 atau lebih tahun dengan gejala tidak ada.
4. Supresi imun simtomatik. Diatas 3 tahun dengan gejala demam, keringat malam hari, B menurun, diare, neuropati, lemah, rash, limfadenopati, lesi mulut.
5. AIDS. Lamanya bervariasi antara 1-5 tahun dari kondisi AIDS pertama kali ditegakkan. Didapatkan infeksi oportunis berat dan tumor pada berbagai system tubuh, dan manifestasi neurologist.
AIDS dapat menyerang semua golongan umur, termasuk bayi, pria maupun wanita. Yang termasuk kelompok resiko tinggi adalah :
1. Lelaki homoseksual atau biseks. 5. Bayi dari ibu/bapak terinfeksi.
2. Orang yang ketagian obat intravena
3. Partner seks dari penderita AIDS
4. Penerima darah atau produk darah (transfusi).
IV. Pemeriksaan Diagnostik
1. Tes untuk diagnosa infeksi HIV :
- ELISA
- Western blot
- P24 antigen test
- Kultur HIV
2. Tes untuk deteksi gangguan system imun.
- Hematokrit.
- LED
- CD4 limfosit
- Rasio CD4/CD limfosit
- Serum mikroglobulin B2
- Hemoglobulin

V. Penatalaksanaan

Asuhan Keperawatan
I. Pengkajian.
1. Riwayat : tes HIV positif, riwayat perilaku beresiko tinggi, menggunakan obat-obat.
2. Penampilan umum : pucat, kelaparan.
3. Gejala subyektif : demam kronik, dengan atau tanpa menggigil, keringat malam hari berulang kali, lemah, lelah, anoreksia, BB menurun, nyeri, sulit tidur.
4. Psikososial : kehilangan pekerjaan dan penghasilan, perubahan pola hidup, ungkapkan perasaan takut, cemas, meringis.
5. Status mental : marah atau pasrah, depresi, ide bunuh diri, apati, withdrawl, hilang interest pada lingkungan sekitar, gangguan prooses piker, hilang memori, gangguan atensi dan konsentrasi, halusinasi dan delusi.
6. HEENT : nyeri periorbital, fotophobia, sakit kepala, edem muka, tinitus, ulser pada bibir atau mulut, mulut kering, suara berubah, disfagia, epsitaksis.
7. Neurologis :gangguan refleks pupil, nystagmus, vertigo, ketidakseimbangan , kaku kuduk, kejang, paraplegia.
8. Muskuloskletal : focal motor deifisit, lemah, tidak mampu melakukan ADL.
9. Kardiovaskuler ; takikardi, sianosis, hipotensi, edem perifer, dizziness.
10. Pernapasan : dyspnea, takipnea, sianosis, SOB, menggunakan otot Bantu pernapasan, batuk produktif atau non produktif.
11. GI : intake makan dan minum menurun, mual, muntah, BB menurun, diare, inkontinensia, perut kram, hepatosplenomegali, kuning.
12. Gu : lesi atau eksudat pada genital,
13. Integument : kering, gatal, rash atau lesi, turgor jelek, petekie positif.

II. Diagnosa keperawatan
1. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi dan pola hidup yang beresiko.
2. Resiko tinggi infeksi (kontak pasien) berhubungan dengan infeksi HIV, adanya infeksi nonopportunisitik yang dapat ditransmisikan.
3. Intolerans aktivitas berhubungan dengan kelemahan, pertukaran oksigen, malnutrisi, kelelahan.
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang, meningkatnya kebutuhan metabolic, dan menurunnya absorbsi zat gizi.
5. Diare berhubungan dengan infeksi GI
6. Tidak efektif koping keluarga berhubungan dengan cemas tentang keadaan yang orang dicintai.
Daftar Pustaka

Grimes, E.D, Grimes, R.M, and Hamelik, M, 1991, Infectious Diseases, Mosby Year Book, Toronto.

Christine L. Mudge-Grout, 1992, Immunologic Disorders, Mosby Year Book, St. Louis.

Rampengan dan Laurentz, 1995, Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak, cetakan kedua, EGC, Jakarta.

Lab/UPF Ilmu Penyakit Dalam, 1994, Pedoman Diagnosis dan Terapi, RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

Lyke, Merchant Evelyn, 1992, Assesing for Nursing Diagnosis ; A Human Needs Approach,J.B. Lippincott Company, London.

Phipps, Wilma. et al, 1991, Medical Surgical Nursing : Concepts and Clinical Practice, 4th edition, Mosby Year Book, Toronto

Doengoes, Marilynn, dkk, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan ; Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3, alih bahasa : I Made Kariasa dan Ni Made S, EGC, Jakarta
Baca Selengkapnya - Asuhan Keperawatan HIV AIDS

Asuhan Keperawatan Bayi Baru Lahir

ASUHAN BAYI BARU LAHIR



By; Siti Fadhilah,S.SiT



Pengkajian pada bayi baru lahir dapat dilakukan segera setelah lahir yaitu untuk mengkaji penyesuaian bayi dari kehidupan intrauterine ke ekstrauterine. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan fisik secara lengkap untuk mengetahui normalitas & mendeteksi adanya penyimpangan



1. Pengkajian segera BBL

a. Penilaian awal

Nilai kondisi bayi :

  • APAKAH BAYI MENANGIS KUAT/BERNAFAS TANPA KESULITAN ?

  • APAKAH BAYI BERGERAK DG AKTIF/LEMAS?

  • APAKAH WARNA KULIT BAYI MERAH MUDA, PUCAT/BIRU?

APGAR SCORE

  • Merupakan alat untuk mengkaji kondisi bayi sesaat setelah lahir meliputi 5 variabel (pernafasan, frek. Jantung, warna, tonus otot & iritabilitas reflek)

  • Ditemukan oleh Dr. Virginia Apgar (1950)



Dilakukan pada :

  • 1 menit kelahiran

yaitu untuk memberi kesempatan pd bayi untuk memulai perubahan

  • Menit ke-5

  • Menit ke-10

penilaian dapat dilakukan lebih sering jika ada nilai yg rendah & perlu tindakan resusitasi. Penilaian menit ke-10 memberikan indikasi morbiditas pada masa mendatang, nilai yg rendah berhubungan dg kondisi neurologis

SKOR APGAR

TANDA

0

1

2

Appearance

Biru,pucat

Badan pucat,tungkai biru

Semuanya merah muda

Pulse

Tidak teraba

<>

> 100

Grimace

Tidak ada

Lambat

Menangis kuat

Activity

Lemas/lumpuh

Gerakan sedikit/fleksi tungkai

Aktif/fleksi tungkai baik/reaksi melawan

Respiratory

Tidak ada

Lambat, tidak teratur

Baik, menangis kuat



Preosedur penilaian APGAR



  • Pastikan pencahayaan baik

  • Catat waktu kelahiran, nilai APGAR pada 1 menit pertama dg cepat & simultan. Jumlahkan hasilnya

  • Lakukan tindakan dg cepat & tepat sesuai dg hasilnya

  • Ulangi pada menit kelima

  • Ulangi pada menit kesepuluh

  • Dokumentasikan hasil & lakukan tindakan yg sesuai



Penilaian



Setiap variabel dinilai : 0, 1 dan 2

Nilai tertinggi adalah 10

  • Nilai 7-10 menunjukkan bahwa by dlm keadaan baik

  • Nilai 4 - 6 menunjukkan bayi mengalami depresi sedang & membutuhkan tindakan resusitasi

  • Nilai 0 – 3 menunjukkan bayi mengalami depresi serius & membutuhkan resusitasi segera sampai ventilasi







2. Asuhan segera Bayi Baru Lahir



  • Adalah asuhan yang diberikan pada bayi baru lahir selama satu jam pertama setelah kelahiran.

  • Sebagian besar BBL akan menunjukkan usaha pernafasan spontan dg sedikit bantuan/gangguan

  • Oleh karena itu PENTING diperhatikan dlm memberikan asuhan SEGERA, yaitu jaga bayi tetap kering & hangat, kotak antara kulit bayi dg kulit ibu sesegera mungkin



a. Membersihkan jalan nafas

1). Sambil menilai pernafasan secara cepat, letakkan bayi dg handuk di atas perut ibu

2). Bersihkan darah/lendir dr wajah bayi dg kain bersih & kering/ kassa

3). Periksa ulang pernafasan

4). Bayi akan segera menagis dlm waktu 30 detik pertama setelah lahir



jika tdk dpt menangis spontan dallakukan :

1). letakkkan by pd posisi terlentang di t4 yg keras & hangat

2). gulung sepotong kain & letakkan di bwh bahu shg leher bayi ekstensi

3). bersihkan hidung, rongga mulut, & tenggorokan by dg jari tangan yg dibungkus kassa steril

4). tepuk telapak kaki by sebanyak 2-3x/ gosok kulit by dg kain kering & kasar





Gb. Posisi ekstensi



Kebiasaan yang harus dihindari



LANGKAH-LANGKAH

ALASAN TIDAK DIANJURKAN

Menepuk pantat bayi

Trauma/cedera

Menekan dada

Patah, pneumothorax, gawat nafas, kematian

Menekan kaki bayi ke bagian perutnya

Merusak pembuluh darah dan kelenjar pada hati/limpa, perdarahan

Membuka sphincter anusnya

Merusak /melukai sphincter ani

Menggunakan bungkusan panas/dingin

Membakar/hipotermi

Meniupkan oksigen/udara dingin pada tubuh/wajah bayi

hipotermi

Memberi minuman air bawang

Membuang waktu, karena tindakan resusitasi yang tidak efektif pada saat kritis





Penghisapan lendir

  • Gunakan alat penghisap lendir mulut (De Lee)/ alat lain yg steril, sediakan juga tabung oksigen & selangnya

  • Segera lakukan usaha menghisap mulut & hidung

  • Memantau mencatat usaha nafas yg pertama

  • Warna kulit, adanya cairan / mekonium dlm hidung / mulut hrs diperhatikan





b. Perawatan tali pusat

setelah plasenta lahir & kondisi ibu stabil, ikat atau jepit tali pusat

Cara :

  • celupkan tangan yg masih mggnakan sarung tangan ke dlm klorin 0,5% untuk membersihkan darah & sekresi tubuh lainnya

  • bilas tangan dengan air matang /DTT

  • keringkan tangan (bersarung tangan)

  • letakkan bayi yang terbungkus diatas permukaan yang bersih dan hangat

  • ikat ujung tali pusat sekitar 1 cm dr pusat dengan menggunakan benang DTT. Lakukan simpul kunci/ jepitkan

  • Jika menggunakan benang tali pusat, lingkarkan benang sekeliling ujung tali pusat & lakukan pengikatan kedua dg simpul kunci dibagian TP pd sisi yg berlawanan

  • Lepaskan klem penjepit & letakkan di dlm larutan klorin 0,5%

  • Selimuti bayi dg kain bersih & kering, pastikan bahwa bagian kepala bayi tertutup

























Gb. Pemotongan tali pusat Gb. Bayi yang telah diikat tali pusatnya





















Baca Selengkapnya - Asuhan Keperawatan Bayi Baru Lahir

Arsip

0-Asuhan Kebidanan (Dokumen Word-doc) 0-KTI Full Keperawatan (Dokumen Word-doc) Anak Anatomi dan Fisiologi aneh lucu unik menarik Antenatal Care (ANC) Artikel Bahasa Inggris Asuhan Kebidanan Asuhan Keperawatan Komunitas Asuransi Kesehatan Berita Hiburan Berita Terkini Kesehatan Berita Tips Twitter Celeb contoh Daftar Pustaka Contoh KTI Contoh KTI Kebidanan Farmakologi (Farmasi) Gadar-kegawatdaruratan Gizi Handphone Hirschsprung Hukum Kesehatan Humor Segar (Selingan) Imunisasi Info Lowongan Kerja Kesehatan Intranatal Care (INC) Jiwa-Psikiatri kamus medis kesehatan online Kebidanan Fisiologis Kebidanan Patologis Keluarga Berencana (KB) Keperawatan Gerontology Kesehatan Anak (UMUM) Kesehatan Bayi (untuk UMUM) Kesehatan Haji Kesehatan Ibu Hamil (untuk UMUM) Kesehatan Ibu Menyusui (untuk UMUM) Kesehatan Pria (untuk UMUM) Kesehatan Remaja Kesehatan Reproduksi (Kespro) Kesehatan Wanita (untuk UMUM) Koleksi Skripsi Umum Konsep Dasar KTI D-3 Kebidanan KTI Skripsi Keperawatan kumpulan askep Laboratorium Lain-lain Makalah Keperawatan Kebidanan Managemen Kesehatan Mikrobiologi Motivasi Diri Napza dan zat Adiktif Neonatus dan Bayi News Penyakit Menular potensi KLB Penyakit Menular Seksual (PMS) Postnatal Care (PNC) Protap-SOP Psikologi-Psikiater (UMUM) Reformasi Kesehatan Sanitasi (Penyehatan Lingkungan) Satuan Acara Penyuluhan (SAP) Sistem Endokrin Sistem Immunologi Sistem Indera Sistem Integumen Sistem Kardiovaskuler Sistem Muskuloskeletal Sistem Neurologis Sistem Pencernaan Sistem Perkemihan Sistem Pernafasan Surveilans Penyakit Teknologi Tips dan Tricks Seks Tips Facebook Tips Karya Tulis Ilmiah (KTI) Tips Kecantikan Tips Kesehatan Umum Tokoh Kesehatan Tutorial Blogging Youtuber