Cari Blog Ini

Pengetahuan Remaja tentang SADARI

Di dunia, kematian akibat kanker diperkirakan sekitar 4,3 juta pertahun 2,3 juta diantaranya ditemukan dinegara berkembang, sedangkan jumlah penderita baru sekitar 3,9 juta per tahun dan terdapat di negara berkembang sekitar 3 juta (Hidayati, 2001: 195).
Di negara maju insiden kanker payudara 87 per 100.000, angka kematiannya kira-kira 27 per 100.000 (Tambunan 1995 : 26). Di antara tumor ganas ginekologi kanker payudara menduduki tempat nomor 2 dari insiden semua tipe kanker di Indonesia. Data terbaru berdasarkan penelitian pada 13 laboratorium patologi anatomi di Indonesia menempatkan kanker serviks diurutan pertama dengan per evaluasi 18,62% disusul kanker payudara 11,22% dan kanker kulit 8,03% (Hidayati 2001 : 197). Secara statistik di Amerika dan juga di Indonesia 95% dari semua tumor/kanker payudara ditemukan oleh penderita itu sendiri (Ramli, 2000 : 75).
Dewasa ini di Indonesia penyakit kanker dirasakan semakin menonjol, hal ini dapat dilihat dari sebagai laporan rumah sakit yang menyebutkan penyakit kanker cenderung menjadi salah satu penyebab utama kematian pada usia produktif. Survei kesehatan rumah tangga (SKRT) menunjukan proporsi penyebab kematian karena kanker semakin meningkat dari 1,3% pada tahun 1976 menjadi 3,4% pada tahun 1980, 4,3% pada tahun 1986 dan 4,8% pada tahun 1992.
Kira-kira sepertiga dari penyakit kanker dapat ditemukan cukup dini untuk dapat disembuhkan. Di bagian bedah FKUI/RSCM selama tahun 1971 – 1978 dari 735 kasus penderita payudara 267 (40%) masih merupakan kasus yang dapat dioperasi. Selama tahun 1988 sampai dengan 1996 dari 566 kasus kanker payudara 185 (32,6%) masih menunjukan kasus-kasus yang bisa diatasi.
Masa remaja merupakan suatu periode rentan kehidupan manusia yang sangat kritis karena merupakan tahap transisi dari masa kanak-kanak kemasa dewasa. Pada tahap ini sering kali remaja tidak menyadari bahwa suatu tahap perkembangan sudah dimulai, namun yang pasti setiap remaja akan mengalami suatu perubahan baik fisik, emosional maupun sosial (Dianawati, 2003: 25).
Pada masa remaja berlangsung proses-proses perubahan fisik maupun perubahan biologis yang dalam perkembangan selanjutnya berada di bawah kontrol hormon-hormon khusus. Pada wanita, hormon-hormon ini bertanggung jawab atas permulaan proses ovulasi dan menstruasi, juga pertumbuhan payudara. Pada masa ini sudah seharusnya para remaja putri mulai memperhatikan perubahan yang ada pada dirinya, juga halnya dengan payudara dan kesehatannya. Payudara merupakan estetika kaum wanita dan daya tarik seksual yang utama sejak dahulu kala di dalam bermacam-macam masyarakat, payudara wanita merupakan fokus obyek seni. Tetapi di zaman dan kebudayaan beberapa tahun belakangan ini ada sambutan hangat terhadap pemberian ASI dengan segala keuntungannya bagi ibu maupun bayinya. Dengan seluruh aktifitas di dalam payudara sehubungan dengan perkembangan dalam kehidupan seorang wanita dan juga perubahan siklus yang biasa disebabkan oleh periode menstruasi teratur, sebaiknya semua wanita bermawas diri terhadap masalah yang mungkin timbul pada payudara, sebaiknya pemeriksaan dapat dimulai dari waktu remaja dengan pemeriksaan yang rutin dan teratur untuk mendeteksi tanda-tanda dini persoalan payudara merupakan kebiasaan sangat baik yang harus dilakukan sejak dini. Seorang remaja putri dapat memeriksa payudara sendiri (SADARI) pada saat mandi dengan perabaan untuk mengetahui adanya benjolan pada payudara. Bagi banyak wanita saat sebuah benjolan sudah nampak dengan jelas, kemungkinannya  bahwa benjolan tersebut adalah kanker, maka seseorang mungkin telah kehilangan waktu yang berharga untuk memulai pengobatan sedini mungkin. Jadi hal yang  bijaksana adalah memeriksa payudara kita secara teratur pada selang waktu yang tertentu. Dengan cara ini, kelainan yang terkecil sekalipun dapat ditemukan dan langkah-langkah aktif untuk perngobatan dapat dimulai sedini mungkin (Gilbert, 1996: 41).

Baca Selengkapnya - Pengetahuan Remaja tentang SADARI

Manajemen Terpadu Balita Sakit

Derajat kesehatan merupakan pecerminan kesehatan perorangan, kelompok, maupun masyarakat yang digambarkan dengan umur harapan hidup, mortalitas, morbiditas, dan status gizi masyarakat. Sehat dapat mencakup pengertian yang sangat luas, yakni bukan saja bebas dari penyakit tetapi juga tercapainya keadaan kesejahteraan baik fisik, sosial dan mental (Profil Kesehatan Propinsi Lampung, 2005).
Derajat kesehatan yang optimal akan dilihat dari unsur kualitas hidup serta unsur-unsur mortalitas yang memengaruhinya, yaitu morbiditas dan status gizi. Untuk kualitas hidup, yang digunakan sebagai indikator adalah angka harapan hidup waktu lahir (Lo). Sedangkan untuk mortalitas telah disepakati lima indikator yaitu angka kematian bayi (AKB) per 1000 kelahiran hidup, angka kematian balita (AKABA) per 1000 kelahiran hidup, angka kematian pneumonia pada balita per 1000 balita, angka kematian diare pada balita per 1000 balita per 1000 balita dan Angka Kematian Ibu melahirkan (AKI) per 1000 kelahiran hidup (Profil Kesehatan Propinsi Lampung, 2005).
Menurut Susenas 2001 Angka Kematian Balita di Indonesia sebesar 68 per 1000 kelahiran hidup, maka 340 ribu anak meninggal pertahun sebelum usia lima tahun dan diantaranya 155 ribu adalah bayi sebelum berusia satu tahun. Dari seluruh kematian tersebut sebagian besar disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan akut, diare dan gangguan perinatal/neonatal (Manajemen Terpadu Balita Sakit Modul-1 Depkes RI, 2004).
Dari data hasil survei dapat digarisbawahi bahwa pneumonia, diare, malaria, campak dan gizi buruk merupakan masalah kesehatan yang membutuhkan penanganan yang intensif. Dewasa ini cara-cara yang cukup efektif untuk menurunkan angka kematian bayi dan balita akibat penyakit tersebut. WHO dan UNICEF memperkenalkan 1 set pedoman terpadu yang menjelaskan secara dini penanganan penyakit-penyakit tersebut. Selanjutnya dikembangkan paket pelatihan untuk melatih proses manajemen terpadu balita sakit kepada tenaga kesehatan yang bertugas menangani anak sakit. Metode ini dikenal dengan Manajemen Terpadu Balita Sakit (Manajemen Terpadu Balita Sakit Modul-1, 2004).
Baca Selengkapnya - Manajemen Terpadu Balita Sakit

Tingkat Kecemasan Ibu dalam Menghadapai Persalinan

Dalam rencana strategi nasional Making Pregnancy Safer (MPS), disebutkan bahwa visi rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010 adalah kehamilan dan persalinan di Indonesia berlangsung aman serta bayi yang akan dilahirkan hidup sehat, dengan misinya menurunkan kesakitan dan kematian maternal dan neonatal melalui pemantapan sistem kesehatan di dalam menghadapi persalinan yang aman.
Perawatan antenatal yang teratur dapat menurunkan secara mendasar mortalitas dan morbiditas Ibu dan anak, perawatan antenatal yang memadai juga dapat mengurangi risiko dalam persalinan.
Risiko dalam persalinan yang sering dijumpai yaitu perpanjangan dari kelahiran bayi, partus lama, hal ini tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi persalinan yaitu : power, passage, passenger, psikis, penolong.
Faktor psikis dalam menghadapi persalinan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi lancar tidaknya proses kelahiran.  Dukungan yang penuh dari anggota keluarga penting artinya bagi seorang Ibu bersalin terutama dukungan dari suami sehingga memberikan support moril terhadap Ibu (Kartini Kartono,  1986 : 192).
Namun demikian faktor psikis selama ini belum mendapatkan perhatian oleh penolong persalinan, hal ini sesuai dengan pendapat (Kartini Kartono) yang menyatakan bahwa para dokter dan bidan hampir-hampir tidak mempunyai waktu untuk memperhatikan kondisi psikis wanita tersebut, sebab mereka biasanya disibukkan oleh faktor-faktor somatis (jasmaniah).  Pada umumnya para dokter dan bidan menganggap tugas mereka telah selesai apabila bayinya sudah lahir dengan selamat dan ibunya tidak menunjukkan tanda-tanda patologis (Kartini Kartono, 1986).
Sejalan dengan hal tersebut, di masyarakat paradigma persalinan masih menganggap persalinan itu merupakan pertaruhan hidup dan mati, sehingga wanita yang akan melahirkan mengalami ketakutan-ketakutan, khususnya takut mati baik bagi dirinya sendiri ataupun bayi yang akan dilahirkannya (Kartini Kartono,  1986:190). 
Melihat fenomena di atas, menunjukkan bahwa proses persalinan selain dipengaruhi oleh faktor passage, passanger, power dan penolong, faktor psikis juga sangat menentukan keberhasilan persalinan.  Dimana kecemasan atau ketegangan, rasa tidak aman dan kekhawatiran yang timbul karena dirasakan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan tapi sumbernya sebagian besar tidak diketahui dan berasal dari dalam (intra psikis) dapat mengakibatkan persalinan menjadi lama/partus lama atau perpanjangan Kala II (Depkes RI Pusdiknakes).
Baca Selengkapnya - Tingkat Kecemasan Ibu dalam Menghadapai Persalinan

Pengetahuan dan pendidikan Ibu Tentang Balita

Pembangunan kesehatan dilaksanakan berlandaskan pada kemampuan dan kekuatan sendiri suatu bangsa, dalam mengatasi masalah-masalah kesehatannya sehingga setiap upaya kesehatan yang dijalankan harus mampu membangkitkan dan mendorong peran serta masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatannya.  Pada masa otonomi daerah salah satu strategi yang harus dijalankan adalah empowerment atau pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat adalah peningkatan prakarsa dan terbangunnya kemandirian kolektif masyarakat yang bermuara menumbuhkan masyarakat madani (civil society) dan menciptakan peluang untuk ketahanan berlanjut (sustaining capacity) bagi masyarakat (Konsep Pengembangan Posyandu Plus, 1999).
Dengan program pembangunan kesehatan, maka pemerintah mencanangkan Indonesia Sehat 2010, yang salah satu sasaranya adalah menurunkan Angka Kematian Balita (AKABA). Angka Kematian Balita (0-< 5 tahun) adalah  jumlah kematian anak umur 0-< 5 tahun per 1000 kelahiran hidup. AKABA menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan anak dan faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap kesehatan anak balita seperti gizi, sanitasi, penyakit infeksi dan kecelakaan. Estimasi angka kematian balita di Indonesia yang dihitung dari data Badan Pusat Statistik menunjukan penurunan yang cukup berarti pada tahun 1995 angka kematian balita (AKABA) adalah 75 per 1000 kelahiran hidup, pada tahun 1997 angka kematian balita (AKABA) adalah 43 per 1000 kelahiran hidup.  Menurut hasil SDKI 2002-2003 angka kematian balita 64 per 1000 kelahiran hidup. Angka ini belum mencapai target 58 per 1.000 kelahiran hidup (Dinas Kesehatan Propinsi Lampung, 2005).
Pada tahun 1983,  berdasarkan Instruksi bersama Menteri Kesehatan dan Kepala BKKBN No. 06/Menkes/Inst/1981-22/HK010/1981 dan No. 264/MenkesInst/ VI/1983-26/HK-011/E-3/1983, bentuk keterpaduan pelayanan KB-Kesehatan mulai dioperasionalkan. Ditingkat desa, kegiatan keterpaduan KB-Kesehatan diwujudkan dalam bentuk Pos Pelayanan Terpadu atau lebih dikenal dengan Posyandu (Konsep Pengembangan Posyandu Plus, 1999).
Posyandu adalah suatu forum komunitas alih teknologi dan pelayanan kesehatan masyarakat oleh dan untuk masyarakat yang mempunyai nilai strategis dalam mengembangkan sumber daya manusia sejak dini.  Posyandu adalah pusat kegiatan masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan dan Keluarga Berencana  (Nazrul Effendi, 1998).  Posyandu dikembangkan dari pos-pos pelayanan yang telah ada, yang dikelola oleh masyarakat sendiri, seperti pos penimbangan balita, pos KB, dan pos Imunisasi (Konsep Pengembangan Posyandu Plus, 1999).
Menurut Departemen Kesehatan RI tahun 2004, jumlah Posyandu mencapai 242.124 unit, namun hanya 40% yang menjalankan fungsinya dengan baik. Ini mengakibatkan cakupan Posyandu masih rendah, cakupan untuk balita di bawah 50% (www.google.com, Harian Kompas, 8 September 2005). aJumlah Posyandu yang telah berhasil diaktifkan kembali kini mencapai 42.221 unit di seluruh tanah air (www.google.com, Pidato Kenegaraan Presiden RI, Jakarta, 16 Agustus 2006).
Baca Selengkapnya - Pengetahuan dan pendidikan Ibu Tentang Balita

Gifted plus

Istilah gifted plus kini banyak digunakan untuk anak-anak gifted yang mempunyai kesulitan ganda (dual exceptional), yaitu yang mempunyai komorbiditas dengan gangguan lainnya. Komorbiditas adalah suatu gangguan (diagnosa) yang menyertai suatu keadaan (diagnosa) lain. Pada anak-anak gifted, gangguan lain yang menyertainya terbanyak adalah gangguan hiperaktivitas dan gangguan konsentrasi (ADD/ADHD) dengan berbagai gangguan ikutan dari diagnosa ADD/ADHD ini seperti tic, ODD (Opposan Deviant Disorder), OCD (Obsessive Compulsive Disorder), Bi-polar, dan sebagainya. 
Komorbiditas pada anak-anak gifted ini sangat sulit diidentifikasi, karena dengan kecerdasannya yang sangat baik itu, ia mampu mengkamuflase (masking) atau menutupi gangguan yang disandangnya (McCoach, 2004). Akibat komorbiditasnya ini, menjadikan prestasinya tidak menetap, di samping itu  si anak yang sangat rentan terhadap berbagai situasi yang mampu menyulut masalah yang disandangnya akan semakin parah. Kesulitan pengidentifikasian dan membedakan antara anak gifted yang memang mempunyai komorbiditas, dengan anak gifted yang giftednessnya tak terlayani sehingga memunculkan masalah seperti penyandang ADD/ADHD (karena reaksinya keluar/ekstrovert dan agresive) atau autisme (karena reaksinya ke dalam/introvert-menarik diri), bisa dirasakan oleh para orang tua dan guru, karena pada umumnya gejala keduanya hampir sama. Umumnya kemudian anak-anak ini lebih sering dikelompokkan sebagai penyandang ADD/ADHD atau autisme dan mendapatkan treatment sebagai ADD/ADHD atau autisme, yang tentu saja kurang tepat.  
Pengalaman mendeteksi dan menangani  anak-anak seperti ini di Indonesia dirasa masih luar biasa langka, bahkan dapat dikatakan tidak bisa mendapatkan ahli kependidikan (orthopedagog) yang mempunyai spesialisasi dalam bidang ini. Terhadap anak-anak ini juga belum ada sekolah yang mampu menanganinya.

Baca Selengkapnya - Gifted plus

Berat badan Ibu Hamil

Visi Indonesia Sehat 2010 adalah ditetapkannya misi pembangunan kesehatan yang salah satunya adalah mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat, dengan sasaran meningkatkan jumlah penduduk mengkonsumsi makanan dengan gizi yang seimbang sehingga untuk meningkatkan percepatan perbaikan derajat kesehatan masyarakat dengan salah satu program unggulannya yaitu program perbaikan gizi (Dep.Kes RI,1993).
Sebagian besar atau 50% penduduk Indonesia saat ini dapat dikatakan tidak sakit akan tetapi juga tidak sehat, umumnya disebut kekurangan gizi. Kejadian kekurangan gizi pada ibu hamil berdampak pada kemungkinan resiko tinggi untuk melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), meningkatnya kemungkinan pre eklamsi, perdarahan antepartum, dan komplikasi obstetrik lainnya selain meningkatnya angka kematian ibu, angka kematian perinatal, angka kematian bayi, angka kematian balita, serta rendahnya umur harapan hidup (Dep.Kes. RI, 2004). 
Angka kematian ibu maternal berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, waktu melahirkan dan masa nifas. Hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003. Angka kematian ibu sebesar 307 (0,307%) per 100.000 kelahiran hidup. Provinsi Lampung terdapat sebanyak 145 (0,88%) kasus dari 165.347 kelahiran hidup. Jumlah AKI di Kota Metro pada tahun 2005 ini ada sebanyak 2 (0,072%) kasus per 2.801 kelahiran hidup. Kota Metro sebagai wilayah dengan kasus terkecil AKI tetap saja mengalami peningkatan kejadian dibandingkan dengan tahun sebelumnya (Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, 2005). 
Berdasarkan hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) pada periode 2002-2003, tingkat kematian perinatal adalah 24 per 1000 kelahiran (Kodim, 2007). Salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal adalah Berat Badan Lahir Rendah (kurang dari 2500 gram). BBLR dibedakan dalam 2 kategori yaitu : BBLR karena prematur (usia kandungan kurang dari 37 minggu) atau BBLR karena Intrauterine Growth Retardasion (IUGR), yaitu bayi lahir cukup bulan tapi berat badannya kurang. Terdapat BBLR dengan IUGR karena ibu berstatus gizi buruk, anemia, malaria, dan menderita penyakit menular seksual (PMS) sebelum konsepsi atau pada saat hamil di negara berkembang (Dep.Kes. RI, 2003). 
Hasil survey Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) pada tahun 2003 menunjukkan sebesar 16,7% Wanita Usia Subur (WUS) di Indonesia memiliki risiko Kurang Engergi Kronik (KEK). Provinsi Lampung tercatat sebesar 14,43% WUS yang mempunyai resiko KEK (Dep.Kes. RI, 2003).
Kehamilan merupakan masa penyesuaian tubuh terhadap perubahan fungsi tubuh yang menyebabkan peningkatan kebutuhan akan nutrisi. Terdapat berbagai laporan penelitian yang menunjukkan adanya kaitan erat antara status gizi ibu hamil dan anaknya yang dikandung yaitu bahwa status gizi ibu hamil mempengaruhi tumbuh kembang janin yang dikandung. Makanan ibu sangat penting diperhatikan agar kebutuhan nutrisi ibu dan anak dapat terpenuhi secara optimal. Faktor-faktor yang mempengaruhi berat badan ibu hamil dapat dilihat dari Indeks Quetelet (Indeks Q), asupan gizi, dan komplikasi atau penyakit yang menyertai ibu selama kehamilan (Samsudin, 1986). 
Indikator pemenuhan gizi ibu hamil dapat diukur dengan Indeks Quetelet (Indeks Q). Indeks Q menekankan pada keseimbangan berat badan dalam kilogram dibagi dengan dua kali tinggi badan dalam meter. Kenaikan berat badan adalah salah satu indeks yang dapat dipakai sebagai ukuran untuk menentukan status gizi wanita hamil (Rose-Neil, 1991). 
Asupan gizi sangat menentukan kesehatan ibu hamil dan janin yang dikandungnya. Makanan yang dikonsumsi terdiri dari susunan menu seimbang, yaitu yang lengkap dan sesuai kebutuhan. Asupan makanan ibu hamil meningkat seiring dengan bertambahnya usia kehamilan sehingga dapat mempengaruhi pola kenaikan berat bdan ibu selama kehamilan (Huliana, 2001). 

Baca Selengkapnya - Berat badan Ibu Hamil

Pasien Miskin tidak Bisa Identifikasi Jenis Kanker Kulit

INILAH.COM, Jakarta - Pasien kanker kulit yang miskin, kurang terdidik, dan tidak memiliki asuransi kesehatan tampaknya kurang mampu mengidentifikasi dengan tepat jenis keganasan kanker kulit yang mereka miliki.

Temuan ini dapat menempatkan orang tersebut pada risiko lebih tinggi untuk kekambuhan kanker kulit, jika kebingungan bisa membuat menghalangi mereka dalam mengambil sejumlah langkah pencegahan.

"Studi ini menunjukkan bahwa sangat mengherankan bila sebagian besar pasien kanker kulit tidak menyadari apakah mereka didiagnosis dengan melanoma atau kanker nonmelanoma," kata penulis studi Elliot J Coups, seorang ilmuwan perilaku di Institut Kanker dari New Jersey.

"Ini adalah kekhawatiran bahwa individu dengan tingkat pendidikan atau pendapatan lebih rendah, lebih mungkin memiliki pengetahuan yang kurangnya tentang jenis kanker kulit, terutama mereka yang diagnosis memiliki prognosis yang buruk ketika didiagnosis dengan melanoma," tambah Coups.

Coups melaporkan hasil penelitiannya dalam Archives of Dermatology yang dipublikasikan pada 18 Oktober. Studi ini didanai sebagian oleh US National Cancer Institute.

Penulis mencatat bahwa hampir 800.000 orang Amerika memiliki riwayat melanoma, sementara sekitar 13 juta telah menderita kanker kulit non-melanoma yang umumnya kurang mematikan.

Penilaian saat ini berdasarkan hasil penelaahan data mengenai hampir 1.200 orang dewasa dengan kanker kulit yang berpartisipasi dalam survei 2007-2008 yang dilakukan oleh US National Center for Health Statistics.

Sedangkan sekitar 20% mengatakan mereka telah mengalamimelanoma, dan lebih dari 60% mengatakan mereka menderita kanker kulit non-melanoma, sekitar 20% mengatakan bahwa mereka tidak tahu apa jenis kanker kulit yang mereka miliki.

Kurangnya pengetahuan lebih umum terjadi (sekitar 30% berpendidikan SMA atau kurang) di antara mereka yang berpendidikan rendah. Itu juga lebih umum di antara mereka yang memiliki pendapatan keluarga yang rendah dan mereka yang tidak memiliki asuransi kesehatan atau berada dalam kesehatan yang buruk. Antara 26% dan 33% individu seperti itu tidak jelas pada diagnosis khusus mereka.

Jenis kelamin, usia dan jumlah waktu sejak didiagnosis kanker itu tidak terkait dengan kebingungan tentang diagnosis kanker.

"Temuan ini menunjukkan bahwa individu mungkin mendapatkan manfaat tertentu dari pendidikan tambahan dari penyedia layanan kesehatan tentang diagnosis kanker kulit dan pengobatan," kata Coups. "Informasi itu juga bisa memiliki dampak positif pada pencegahan dan deteksi dini kasus berikutnya dari kanker kulit." [mor]
Baca Selengkapnya - Pasien Miskin tidak Bisa Identifikasi Jenis Kanker Kulit

Dana CSR Belum Dikelola Optimal

isco
Ilustrasi: Saat ini, hampir di segala bidang membutuhkan dukungan program-program pemberdayaan kemampuan perusahaan melalui CSR, mulai dari kesehatan, lingkungan, hingga pendidikan.

JAKARTA, KOMPAS.com
- Potensi dana corporate social responsibility (CSR) untuk menekan angka kemiskinan per tahun mencapai Rp 20 triliun. Dengan potensi tersebut Indonesia sebenarnya tidak perlu berutang ke luar negeri. Sayangnya dana CSR masih belum sepenuhnya dikelola secara terarah.

Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Sudjana Rojat dalam jumpa pers gelar Karya Pemberdayaan Masyarakat Expo dan Award 2010, di Jakarta Convention Center, Rabu (20/10/2010) mengatakan potensi berasal dari CSR Badan Usaha Milik Negara dan sekitar 700 perusahaan swasta.

"Untuk BUMN sudah kami tetapkan besarnya CSR 5 persen dari keuntungan, sementara untuk swasta persentasenya tidak ditentukan tetapi sudah diwajibkan menyisihkan sebagian laba untuk CSR," katanya.

Selain anggaran pemerintah pusat dan dana CSR sebenarnya masih ada potensi lain yakni peran pemerintah daerah setempat. Peran dana dari pemerintah daerah baru berkisar 12 persen. Angka tersebut seharusnya dinaikkan setidaknya menjadi 20 persen.

Sekretaris Jenderal Corporate Forum for Community Development (CFCD), Iskandar Sembiring mengatakan CFCD berhasil mengumpulkan dana CSR sebesar Rp 7,8 triliun dari lingkungan BUMN dan Rp 4,1 triliun dari sekitar 200 perusahaan swasta.

Baca Selengkapnya - Dana CSR Belum Dikelola Optimal

Dokter Kloter Diharapkan Proaktif dengan Calhaj

example2 Foto:BANJARMASIN POST GROUP/AYA SUGIANTO
Sebanyak 325 calon jamaah haji asal Banjarmasin yang tergabung dalam kloter 2, mulai memasuki Asrama Haji, Landasan Ulin, Banjarbaru, sebelum diberangkatkan menuju Tanah Suci mereka diberi pengarahan oleh petugas keberangkatan, Jumat (15/10)

BANJARMASINPOST.co.id, JEDDAH - Petugas medis harus proaktif untuk menekan angka kematian jemaah haji karena kondisi kesehatan mereka ditentukan oleh peran dokter kloter, sejak keberangkatan, dalam perjalanan dan saat berada di pondokan, kata Waka Daker Jeddah bidang kesehatan, dr Eka Yusuf.

"Keaktifan seorang dokter kloter menentukan layanan kesehatan yang diterima oleh jamaah haji," ujarnya di Jeddah, Rabu (20/10/2010).

Eka menuturkan pengalamannya saat menjadi dokter kloter 98 UPG tahun 2004, dalam penerbangan, dokter kloter harus banyak menganjurkan kepada jemaah agar tak kurang minum, serta rajin berkeliling di pesawat untuk memantau kondisi jamaah, karena perjalanan yang cukup melelahkan.

"Anjurkan agar jemaah jangan sampai kekurangan minum," ujarnya.

Saat kloter tiba di Bandara King Abdul Aziz, kata dr Eka Yusuf, dokter kloter segera melaporkan kepada dokter BPHI yang bertugas di bandara tentang kondisi kesehatan jemaahnya. "Apalagi jika ada jamaah yang sakit serta memerlukan tindakan medis lanjutan," jelasnya.

Eka menambahkan, saat jamaah berada di pondokan, dokter kloter harus aktif memeriksa dari pintu ke pintu kondisi jemaahnya. "Saya tiap hari masuk dari kamar ke kamar untuk mengetahui kondisi kesehatan jamaah. Ini penting untuk menjalin komunikasi dengan jamaah," ujar dr. Eka menuturkan pengalamannya.

Resikonya memang ada, kata dr.Eka, saat kita memeriksa calon haji yang sakit, banyak juga jemaah yang sehat minta diperiksa dan ditensi, tapi kita tetap memprioritaskan yang sakit.

"Kuncinya komunikasi dengan jemaah harus terjalin, agar kita dapat melaksanakan tugas dengan baik," ucapnya.

Ia menganjurkan kepada jemaah untuk tidak kekurangan minum selama menunaikan ibadah haji, karena dehidrasi akan menyebabkan kelelahan, dan akan memicu timbulnya penyakit.

Baca Selengkapnya - Dokter Kloter Diharapkan Proaktif dengan Calhaj

CPNS DEPTAN 2010

PENGADAAN CPNS KEMTAN FORMASI TAHUN ANGGARAN (T.A.) 2010

Kementerian Pertanian membuka pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) guna mengisi lowongan formasi Kementerian Pertanian Tahun Anggaran 2010 untuk ditempatkan pada Kantor Pusat dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup Kementerian Pertanian di seluruh Indonesia.

Tujuan dari rekrutmen ini adalah mencari tenaga-tenaga yang berkompeten di bidangnya, berwawasan luas, bermoral dan berdedikasi tinggi untuk bergabung menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kementerian Pertanian untuk membangun pertanian Indonesia yang berkelanjutan. Kualifikasi pendidikan yang dibutuhkan guna mengisi formasi PNS di Kementerian Pertanian dapat dilihat pada menu Pengumuman.

Pada pengadaan CPNS T.A. 2010 ini Kementerian Pertanian membuat situs web yang dikhususkan untuk pengadaan CPNS, situs web ini dilengkapi dengan sistem Pendaftaran Online dan merupakan satu-satunya cara dan alat yang digunakan untuk mengajukan lamaran. Pelamar dapat mengisikan seluruh data pada formulir yang telah disediakan. Tujuan pengembangan sistem ini adalah agar seluruh proses dapat dilakukan secara online, mudah dan transparan bagi seluruh masyarakat.

Dalam situs web ini tersedia berbagai fasilitas seperti :

  • Pengumuman : Menampilkan pengumuman secara lengkap yang menginformasikan : kualifikasi pendidikan, persyaratan umum dan khusus, ketentuan pendaftaran, pelaksanaan seleksi dan penetapan CPNS, persiapan sebelum mengajukan lamaran serta keterangan lainnya;

  • Data Formasi dan Pelamar : Menampilkan data formasi dan jumlah pelamar yang sudah mendaftar per pendidikan dan per propinsi.

  • Kuota dan Sebaran Formasi : Menampilkan data kuota dan formasi per pendidikan per propinsi berdasarkan kebutuhan Kementerian Pertanian T.A 2010

  • Form Pendaftaran : Elektronik form yang dapat digunakan pelamar dalam mengisikan data-data secara lengkap, mulai dari data pribadi, data alamat, data pendidikan serta data pendukung secara online. Fasilitas ini akan di non-aktifkan pada tanggal 21 Oktober 2010 pada pukul 10.00 wib (lihat agenda kegiatan);

  • Unit Kerja Lingkup Kemtan (Pusat & UPT) : Menampilkan daftar unit kerja Eselon I lingkup Kementerian Pertanian di Pusat dan daftar Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Pertanian diseluruh Indonesia

  • Rencana Agenda Kegiatan : Menampilkan jadwal kegiatan selama proses pengadaan CPNS;

  • Cetak Kartu Tes : Fasilitas ini dapat digunakan untuk mencetak kartu tes setelah mengisi form pendaftaran secara baik dan benar.

  • Diagram Alur : Menampilkan tahapan yang dilalui dalam proses pengadaan CPNS Kementerian Pertanian T.A. 2010

  • Hasil Tes CPNS T.A. 2010 : Mengumumkan pelamar yang berhasil lolos tes tertulis untuk selanjutnya ditetapkan sebagai CPNS Kemtan formasi tahun anggaran 2010. Menu ini akan di aktifkan pada tanggal yang telah ditentukan.

Untuk mempermudah layanan kepada masyarakat, maka seluruh informasi yang terkait dengan pengadaan CPNS T.A. 2010 ini akan dipublikasikan melalui media cetak nasional, Tabloid Sinar Tani, situs resmi Kementerian Pertanian, situs resmi Eselon I lingkup Kementerian Pertanian serta beberapa situs resmi Unit Pelayanan Teknis (UPT) lingkup Kementerian Pertanian.

Apabila ada pihak-pihak yang mengatasnamakan pejabat Kementerian Pertanian dan atau panitia pengadaan CPNS Kemtan T.A. 2010 yang menjanjikan dapat membantu meluluskan dengan meminta imbalan sejumlah uang dengan melalui telpon, fax atau lisan agar tidak ditanggapi dan panitia pengadaan CPNS Kemtan T.A. 2010 tidak bertanggung jawab. Apabila dalam penyelenggaraan seleksi ditemukan pelanggaran, agar segera dilaporkan disertai bukti-bukti otentik yang dapat dipertanggung jawabkan baik secara yuridis maupun administratif kepada Menteri Pertanian C.q. Biro Organisasi dan Kepegawaian melalui telpon 021-7804166 dan fax 021-7816180 021-7816780 e-mail : panitia_cpns2010@deptan.go.id

Jakarta, 14 Oktober 2010
Panitia Pengadaan CPNS
Kementerian Pertanian T.A. 2010

INFO LENGKAP KLIK DISINI http://cpns.deptan.go.id/

Baca Selengkapnya - CPNS DEPTAN 2010

Arsip

0-Asuhan Kebidanan (Dokumen Word-doc) 0-KTI Full Keperawatan (Dokumen Word-doc) Anak Anatomi dan Fisiologi aneh lucu unik menarik Antenatal Care (ANC) Artikel Bahasa Inggris Asuhan Kebidanan Asuhan Keperawatan Komunitas Asuransi Kesehatan Berita Hiburan Berita Terkini Kesehatan Berita Tips Twitter Celeb contoh Daftar Pustaka Contoh KTI Contoh KTI Kebidanan Farmakologi (Farmasi) Gadar-kegawatdaruratan Gizi Handphone Hirschsprung Hukum Kesehatan Humor Segar (Selingan) Imunisasi Info Lowongan Kerja Kesehatan Intranatal Care (INC) Jiwa-Psikiatri kamus medis kesehatan online Kebidanan Fisiologis Kebidanan Patologis Keluarga Berencana (KB) Keperawatan Gerontology Kesehatan Anak (UMUM) Kesehatan Bayi (untuk UMUM) Kesehatan Haji Kesehatan Ibu Hamil (untuk UMUM) Kesehatan Ibu Menyusui (untuk UMUM) Kesehatan Pria (untuk UMUM) Kesehatan Remaja Kesehatan Reproduksi (Kespro) Kesehatan Wanita (untuk UMUM) Koleksi Skripsi Umum Konsep Dasar KTI D-3 Kebidanan KTI Skripsi Keperawatan kumpulan askep Laboratorium Lain-lain Makalah Keperawatan Kebidanan Managemen Kesehatan Mikrobiologi Motivasi Diri Napza dan zat Adiktif Neonatus dan Bayi News Penyakit Menular potensi KLB Penyakit Menular Seksual (PMS) Postnatal Care (PNC) Protap-SOP Psikologi-Psikiater (UMUM) Reformasi Kesehatan Sanitasi (Penyehatan Lingkungan) Satuan Acara Penyuluhan (SAP) Sistem Endokrin Sistem Immunologi Sistem Indera Sistem Integumen Sistem Kardiovaskuler Sistem Muskuloskeletal Sistem Neurologis Sistem Pencernaan Sistem Perkemihan Sistem Pernafasan Surveilans Penyakit Teknologi Tips dan Tricks Seks Tips Facebook Tips Karya Tulis Ilmiah (KTI) Tips Kecantikan Tips Kesehatan Umum Tokoh Kesehatan Tutorial Blogging Youtuber